
“ Kenapa bisa?? itu nama an----“ Tangan Tasya ditahan oleh Faris. Tasya meringis merasa perih ditangannya.
" Tapi Faris itu nama Dia... Hanya beda --" Faris semakin menekan tangan Tasya. Tasya diam merasakan tangannya sakit. Glory meneguk Saliva kering ditatap keduanya tajam.
Rasanya kenapa sesak sekali melihat ibu dan ayah nya begini. Glory jadi ragu jika keluarga nya hidup baik baik saja selama ini tanpa adanya dirinya....
***
Glory menatap mereka polos seakan tak mengetahui apapun.” Iya sebab ayah saya dulu suka main game yang disana ada namanya Glory mangkanya dia buat namaku jadi Glory, dan lagi nama Nona mereka membuat tersebut karena berharap suatu saat kelak aku bisa menjadi nona besar dan dihormati sebab kami dulu orang susah.” Jawab Glory ringan tersenyum.
‘Dady.. maaf. Maaf aku berbohong.”Batin Glory lirih menatap Faris.
Ia tak tau seburuk apa hidup kedainya. Tapi Glory yakin kepergian dirinya tidak merubah apapun dikeluarga ini. contohnya saja kan seperti sekarang??? Dan ia harap kepergian dirinya kembaran ia Glora bisa dianggap. Eh ngomong-ngomong dimana ia?? Tidak mungkinkan masih ditempatnya dulu?
“Mimpi orang tua loe terlalu tiinggi. Kampungan. Sekolah aja loe dapat biasiswa. Gue yakin kalo kalian pasti ngutang sana sini buat beli mobil.” Glory melirik Rangga yang angkat bicara ketus.
Glory melirik Rangga malas.”Lagi pula kalo kami Ngutang uang nggak ada masalah tu sama loe, soalnya kan kita nggak minjam duit loe. Beras rumah loe juga nggak berkurang kan.“ Jawab Glory.
Rangga mendengar menatap Glory remeh. Saat hendak menjawab mulutnya sudah terhenti oleh fakta lain.
“ Oh iya satu lagi, nggak usah sombong kalo misal masih minta sama orang tua, sesama beban orang tua nggak usah sok berkuasa. Kayak jablay.” Lanjut Glory dengan ketus.. Rangga mendengarnya melotot tak terima.
Sedangkan Tasya? Ia tak tahan, ia memilih pergi meninggalkan tempat tersebut. Sedangkan Faris? Ia tersenyum lirih melihat Glory. Ia yakin jika Glory anaknya masih hidup akan sebesar gadis didepannya, pasti suasana ruang makan akan seceria ini tidak sesuram biasanya.
Angga? Ia menghela nafas malas mendengar keduanya, hal yang ia tutupi adalah kekaguman pada Glory yang bisa melawan. Glory diam makan dalam diam, ia melirik telor dadar lain melirik Faris.
”Hemm boleh minta lagi telor nya nggak soalnya Nana laper.”Ujarnya pelan menatap perutnya yang terasa masih koosng.
“Loe udah makan dua telor yah.! Nggak boleh” Rangga menatap Glory tak terima.
” Telor disini premium dari jepang, wajar si enak Cuma mikir lah anjing.” Ketusnya tak terima.
__ADS_1
" Rangga...!" Angga melotot pada sang adik Malah dibalas dengusan tak terima.
Faris menatap Glory mengelus rambutnya pelan.”Boleh.” Jawabnya. Rangga dan Angga melotot menatap sang ayah mengusap kepala Glory. Bahkan dengan keduanya saja tidak pernah...
Glory menatap Faris binar mengambil satu telur dan menaruh dua telur diatas piring Faris.”Terimakasih.. Om juga harus makan banyak hehe, kata Rangga ini telur mahal dan Premium pasti sangat baik untuk kesehatan.” Ujarnya makan lagi tersenyum cerah.
Faris diam menatap telur diberi Glory. Mati-matian ia tahan air matanya ingat sang anak, ini kebiasaan anaknya dulu, selalu meminta sesuatu tetapi juga memberikannya dalam jumlah sama. Ia bangkit meninggalkan tempat makan membuat Glory diam menatap Faris dengan kening berkeruo. Apa ia melakukan kesalahan?
“Mampus loe... mangkanya jangan so akrab sama bokap gue. “ Rangga berbisik ditelinga Glory. Glory melirik Rangga yang menyeringai padanya.
Glory menatap Rangga sendu dan lirih. Apa Faris tak menyukainya? Ia tetap Glory kecil menyayangi ayahnya. Ayah kandung tubuh ini memberikan apapun untuk dirinya dulu.
Rangga menatap wajah sendu nan sedih Glory jadi tak tega. Rangga benci wajah Glory yang murung, ia merasa hatinya ikut sakit.
Hendak ia tarik tubuh Glory kedalam dekapannya tapi ia kalah cepat oleh kakaknya.. Angga mengusap kepalanya dan menepuk pundak Glory” Dady memang orangnya begitu. Tak perlu dipikirkan..!”
Rangga diam menghela nafas. rasanya menyesal membuat Glory bersedih. Glory? Ia mengangguk tak lagi makan, mencoba tenang dan meminta diantarkan pulang saja. Rasanya ia kenyang sebelum makan.
Duh Glory menghela nafas menatap kamarnya. Kamarnya terlihat sangat sunyi dan sepi, kakaknya sekolah, ia melangkah mendekati cermin, ia menyipitkan matanya merasa nanar. Kenapa dirinya terlihat semakin pucat?? Ia mengerjab merasa bayangannya juga memudar di kaca. Ia memegang cermin didepannya namun terlihat tangannya ikut menghilang. Ia menggeleng kepalanya tak ingin berfikir.
“Nana..!!!!” Tubuh Glory limbung karena diserang oleh Aksa yang baru pulang.
Aksa memeluk Gloty sangat erat, tapi melihat mobilnya ada didepan rumah, Aksa segera berlati memasuki kamar sang adik. Ia kelewatan cemas dengan keadaan adiknya.
Glory menepuk pundak abangnya mengusap rambut abangnya, aksa melepaskan pelukannya menatap wajah adiknya yang pucat dan diperban. Aksa sudah diceritakan oleh Rangga semalam jika sang adik dibegal.
Aksa mengusap klepala adiknya nanar.”Maafin abang yah dek nggak bisa jagain adek.” Gumamnya sangat lirih.
Aksa kembali memeluk Glory merasa sangat takut. Andai semalam ia tidak mengejar gadis itu lagi. mungkin adiknya tidak akan begini.” Abang janji akan merhatiin Nana lebih baik lagi.” Lirihnya. Glory diam menghela nafas. ia tau jika kakaknya semalam pergi, pergi kerumah sakit.. dan ia sangat yau pujaan hati sang kakaknya siapa..
Aruna.
__ADS_1
" Nggak apa apa bang...."
*****
Setelah kejadian kemarin, Aksa lebih memperhatikan adiknya. Glorry menutupi wajah pucatnya dengan make up miliknya, menggunakan lipstick tipis. Hari ini ia memilih berangkat sekolah bersama Aksa. Aksa awalnya keberatan tak mampu menolak ketika Glory merengek memohon padanya.
Glory duduk di kursi miliknya melirik kesisi kaca sisinya, ia tak bisa melihat bayangannya, ia diam melambaikan tangannya tapi tak juga ada, memang si kaca ini kaca biasa tapikan biasanya ada bayangan. “Loh dada sama siapa si Na?”
Glory kaget saat Nanda didekatnya. Ia terkekeh menggaruk pipinya.” Nggak si tapi Cuma belajar jadi Miss Indonesia.” Ujarnya abrsut.
Nanda menggeleng mendengarnya.”Loe udah tugas belom?”Tanyanya mengeluarkan buku miliknya.
Gloy mengangguk.”Udah.” keduanya diam sampai guru masuk. Glory kembali melirik kaca, ternyata ada. Ia menghela nafas, mungkin tadi kurang pantulan matahari.
Pelajaran selesai, Glory dan Nando pergi ke kantin, memilih memesan makanan. “Na loe tau nggak si Rina hamil.” Kata Nanda membawa minum sembarri menunggu makanan mereka sampai.
Glory melotot sambil mengya rioti tawar.” Beneran? Si cupu itu?” Tanya Glory.
Nanda mengangguk.”Parahnya di perkaos sama bapaknya sendiri.” Lanjut Nanda.
.
.
.
.
.
Hyy jangan lupa tinggalkan jejak yah!
__ADS_1