
Tangan Aksa sudah gemetar, tambah gemetar menatap gelindangan darah di lantai dapur, Aksa menggigit bibir bawahnya, darah sudah membeku dan sedikit menghitam.. Suara Aksa tercekat. Gemetar menyentuh darah tersebut, mencium bau amis melirik sekeliling.
Memikirkan itu darah sang adik membuat ia terduduk. Merasa susah bernafas. Melirik sekeliling, sudah banyak pecahan kaca disana... “na...” menggeleng pelan menenangkan pikiran memohon agar itu bukan sang adik.
Mata Aksa berhenti dibawa meja, disana ada HP milik Glory. Dengan gemetar Aksa mengambilnya menatap pelan layar hp yang sudah retak layarnya. Ia tau kata sandi milik Glory.
Kembali bergetar saat HP tersebut penuh darah yang menghitam. “Hiks hiks. Naa hiks hiks ..” Aksa menangis gemetar memegang HP Sang adik. “Na.. loe hiks.” Aksa mencoba duduk memegang HP Sang adik.
“Jangan-jangan.. hiks hiks.”
Jangan-jangan Glory menelponnya semalam ingin meminta tolong padanya tetapi ia malah mengabaikannya dan memotong perkataannya, menutup Telepon. Aksa merasa takut, hancur secara bersamaan..
Didepan kediaman Aksa sudah banyak beberapa orang yang mendengar Aksa yang tadi berteriak menjadi menangis.
Aksa bangkit “Na..! loe dimana Na.. hiks hiks..!” Aksa keluar meminta bantuan. Tapi pas dia keluar ia sudah melihat tetangga yang mendatanginya dnegan raut bertanya.
”Hiks hiks Tolong,. Dimana adik saya tolong hiks hiks..!” Aksa menangis terduduk memegang kepalanya. Khawatir tapi tak bisa berbuat apa-apa.
“Kenapa???!!” Tanya salah stau bapak di sisi rumahnya yang baru saja hendak berangkat kerja, di sampingnya ada sang istri.
Aksa menunjuk rumahnya.”Rumah hiks hiks rumah saya dirampok pak.. .." semua orang kaget mendengarnya segera masuk mengecek rumah. semua bertambah kaget menatap betapa hancur rumah Saka bersamaan dengan darah darah yang menyatu dengan serpihan kaca di ruang tamu, ada beberapa menenangkan Aksa dan membantunya berdiri.
Aksa duduk menangis, merasa lemas.”Adik saya nggak ada pak hiks hiks. Di dapur banyak darah hiks hiks. Adik- adik saya dimana pak..” Aksa menangis, meraung dengan lemas. Semua menatapnya ikut kasihan apalagi melihat Aksa yang sangat mengenaskan terlihat sangat hancur. Aksa berkali-kali memukul kepalanya sendiri ditahan orang lain, memukul pintu rumah dan menendangnya keras. semua panik mengira jika dirinya Gila.
Beberapa warga menatap kebelakang dan terkejut,. Disana terlihat darah yang memang sangat banyak, bahkan beberapa masih belum mengering menandakan darah itu sangat tebal, bercak darah dimana-mana, didepan ruang TV pun disana juga ada bercak darah berhamburan meski tidak terlihat karena bercampur kaca. Semua menatap kaget disana menenangkan Aksa.
Aksa berteriak kesetanan menatap warga.”Kalian nggak bantu adik saya hiks hiks. Dimana adik saya hiks hiks itu darah siapa..!!!” Teriak Aksa kesetanan.
__ADS_1
Beberapa warga memenangkannya.” Kami nggak tau apa-apa.,.. tenang.. kita lapor polisi..!!!”
Aksa berteriak menggila menangis mencari Glory yang entah dimana. Aksa memukul dada sendiri karena merasa gagal dalam. lebih menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa menjaga adiknya, tak mendengarkan sang adik yang meminta bantuan.
Andaiii ia menanyakan kabar adiknya, andai tak memotong telepon sang adik... dan andai ia pulang semalam pasti tidak akan begini.
...----------------...
Kabar rumah Aksa yang di bobol perampok sampai ke telinga ibu dan ayahnya dikampung. Ibu dan ayah sampai di Jakarta sorenya menggunakan pesawat, bersyukurnya ada pesawat yang memang terbang sore itu, dan ada kursi kosong. Saat tau rumah sang anak dibobol perampok dan sang anak bungsu tak ditemukan hanya ditemukan darah sang anak membuat mereka sangat marah dan kecewa pada sang anak lelaki. Sang anak tak bisa menjaga adik perempuannya.
Glory memang bukan anak kandung mereka tetapi cinta mereka melebihi cinta kepada anak kandung.
Plak.... Aksa terduduk di lantai diam merasakan tamparan dari sang ibu yang baru datang dari kampung kesekian kali, ia masih dikantor polisi saat ini, ditemani beberapa warga yang membantunya.
Terlihat ibunya menatap Aksa bengis. “Kamu dimana Angkasa sampai tidak bisa menjaga adik kamu ha? Kamu dimana..!!!!! kamu membiarkan adik kamu sendirian dirumah sedangkan kamu tau jika disini dia tidak punya siapa-siapa selain kamu?!!!!” Teriak marah sang ibu pada anaknya.
” Kamu benar-benar Aksa..!!!! dimana anak saya dimana..!!” Teriak ibu Aksa kuat menatap anaknya bengis, dari tadi tangisnya tak terhenti mendengar kabar anak yang hilang bersamaan semua barang yang dirampok, menyisakan darah milik Glory.
“Tenang ma... “ ujar Doni sang suami menenangkan istrinya. " Biar aku saja...." Menatap Aksa gemas Bugh. BUgbugh..
” Memang nggak berguna, menjaga adiknya saja tidak bisa. kemana kamu ha??” teriak Doni menendang sang anak kuat karena geram. Ingin rasanya membunuh anak sendiri.
“Pak.. Bu tenang...” para polisi menenangkan dua orang tersebut dengan Aksa yang tak bangkit dari posisinya. Menangis sembari mengusap kepalanya yang terasa sakit dipukul, ditendang oleh ayah dan ibu.
itu tak lebih sakit dan lebih takut dari mengingat darah tadi. Aksa tetap menangis dengan gemetar memeluk diri sendiri.
Doni menangis mengusap kepalanya. "Kamu benar-benar mengecewakan papa Angkasa..!!!! bagaimana bisa kamu tidak menjaga adik kamu dengan benar.. padahal kamu dulu bahkan tak pernah pisah satu menit darinya, kamu tak akan membiarkan dia terluka sedikitpun. Tapi sekarang apa? Kamu bahkan meninggalkan dia tidur sendirian dirumah tanpa siapapun yang menemaninya. Atau jangan-jangan ini sudah biasa selama Glory tinggal di sini. Apa kamu memang tidak menyukai adik kamu mangkanya kamu selalu meninggalkan dia tidur dirumah sendirian?” teriak ibu Aksa kuat.
__ADS_1
Aksa menggeleng tapi menangis.” Engg- “
"Diam kamu. Mama dengar tadi kamu bilang sama polisi jika kamu tidur dan menginap dirumah teman mu itu selama tiga hari ini, pulang larut malam setiap harinya.. saya dengar..” Teriak ibu menangis lagi tak tahan.
Aksa diam menunduk menangis dalam. Aksa pasrah terduduk lemas. “Maa.. hiks hiks maafin Aksa ma... Nana.. maafin abang.” Aksa tak menolak apapun, jika dibunuh sekalipun ia tak akan marah. Ia pasrah.. Merunduk mengusap air mata miliknya pelan. ia sangat terpukul.
“Ini hasil dari autopsi darah yang kita dapat di rumah anda pak, ibu..!” Aksa melirik lemas pada kedua orang tua dan polisi. Kedua orang tua Aksa mengangguk menatap polisi. Polisi membuka map laporan dan menatap kedua orang tua sang korban.
“Darah yang didapatkan dibagian dapat itu 99% sangat cocok dengan darah anak kalian.”Keduanya terduduk lemas, suaminya memeluk istrinya yang hendak pingsan.
Polisi diam membuka lembar demi lembar.” Darah yang kami dapatkan dibagian ruang tamu bukan milik anak kalian. Kemungkinan besar kami simpulkan saat itu anak kalian membela diri hingga melakukan pertarungan dan beberapa aksi menyelamatkan diri, tetapi dia kalah jumlah, perampokan dilakukan oleh beberapa orang. dan anak kalian terluka parah akhirnya kalah. Karena tak mau meninggalkan jejak para perampok membawa semua korban dalam insiden ini termasuk anak kalian.” Ujarnya, sang ibu pingsan ditempat menyisakan sang suami yang menatap Aksa l diam memejamkan mata geram. Ingin membunuh sang anak tapi itu anaknya. Doni menangis memeluk istrinya.
”Kami masih melakukan penyelidikan. Mohon bantuannya bapak, ibu.”
Kejadian itu membuat Aksa menjadi terpuruk, kedua orang tuanya memilih tinggal sementara di sini membeli satu apartemen di Jakarta untuk mencari jejak sang anak. Mereka sama-sama terpuruk dan juga berharap jika Glory ditemukan.
.
.
.
.
.
...Jangan lupa tinggalkan jejak yah,...
__ADS_1