
Aruna terbatuk-batuk memegang lehernya yang memerah, menatap Dava. Dava menatap sosok Aruna menatapnya.” Wanita sialan... mati kau..!” Teriak dava kesetanan lalu pergi meninggalkan Aruna. Aruna terdiam menatap Dava menjauh, menahan diri untuk tidak menangis, tetapi bulir bening itu tetap jatuh., menangis merasakan sesak. Kenapa dia tak bisa keluar dan pergi dari dunia busuk Dava. Ia ingin bebas, main dan memiliki dunia sendiri, bukan begini.
Sudah satu minggu Glory dirumah sakit, keadaannya sudah cukup baik, Glory sudah tau siapa yang menjenguknya saat pertama kali bangun. Itu adalah ibu dan ayahnya Regan, mereka orang tua yang sangat baik, satu atau dua kali dalam sehari mereka selalu menjenguk Glorry, membawakan Glory makanan dari luar yang sehat, buah-buahan. Minuman jus dan juga sesekali mengajak Glory untuk duduk dan mengajak Glory mengobrol.
Hari demi hari Glory lewati sangat damai, sesekali juga Dika menjenguknya membawa parsel buah. Glory tidak tau jika orang yang membantuhnya adalah orang asing baginya bukan orang yang ia percaya atau orang yang ia sayangi.
Jika dipikirpikir lagi apa si hubungan Glory dengan Regan dan keluarga? Atau Dika? Glory yakin jika ia tak memiliki hubungan dekat dengan mereka, mereka bahkan tak segan menghabisi ratusan juta uang untuk mengobnati dirinya sakit.
Sakit sekali rasanya....
Hidup memang tak pernah tau apa yang akan dilewati. Gloruy tersneyum miris mengingat terakkhir kali menelpon Aksa tetapi malah dipotong olehnya, lantas mengatakan jika ia memilih menjaga Aruna sedangkan itu saat dimana nyawa taruhannya.
Tidak... Glory tau ini alay, tetapi wajar kan jika sakit hati?
“ Woy bengong aja loh..!!” Glory kaget saat tiba-tiba di sampingnya sudah ada Regan yang menyenggol lengannya kuat.
Ini dirinya masih sakit loh. Ini orang punya otak tidak sih?
Glory meliriknya lalu menatap ke arah pintu. memaksa Tersenyum.”Loh tante, om.. kalian kok kesini lagi???” Tanya Glory mengabaikan Regan, karena memang kedua orang tua Regan tu baru pulang dari sini, mangkanya heran kok keisni lagi padahal baru lima jam yang lalu mereka kesini.
Panji melirik Komala.” Biasa mak-mak rempong, katanya tadi dia masak banyak buat kamu, jadi kalo dibawa nanti malam makananya udah nggak enak. Lagi pula om sama tante free terus hehe.” Panji terkekeh duduk di sisinya Glory.”Tadi ngelamun apa hem?”Kepala Glory dielus pelan oleh Panji, takut menyakiti luka jahitan milik Glory.
Glory menatap Panji dan Komala secara bergantian. “ Nggak juga si, lagian kan kalo dirumah kita nggak ada kerjaan, hari ini tu tanggal merah kariyawan pada nggak kerja, dibandingkan nganggur kan mending jagain kamu.” Komala mengamit dagu Glory. Glory terkekeh hangat dibuatnya.
Regan memutar bola mata malas.” Duh jadi nyamuk gede keknya agak gerah juga yah.” Regan mengipasi wajahnya.
Komala dan Panji saling lirik.”Duh kalian dengar nggak kalo ada yang ngomong?? Kok jadi merinding yah.” Ujar Paji pura-pura tak melihat Regan.
__ADS_1
“Bi..!! ih.."’
Glory beserta yang lain tertawa melihat Regan yang merengek layaknya anak kecil karena diabaikan. Glory bisa merasakan keluarga hangat dari Regan. Tak iri sebab ia selama ini memiliki keluarga yang juga harmonis, hanya rindu saja saat dimana Aksa selalu berada di sisinya. Bunny dan Pipi yang selalu memeluknya apalagi saat skait begini.
Hemm rindu juga masa kecil bersama keluarga kandung tubuh ini.
Hemm apa kabar mereka yah?
“Kok ngelamun?? Ada apa hemm. Ada yang ganggu pikiran kamu?” Glorry tersadar menatap Komala.
Komala gemas melihat Glory yang mengerjab mencubit pipi Glorry pelan.”Yaanmpun kamu kok imut banget si, boleh nggak yah Umi kurung dikamnar terus peluk sampek Umi bosen. Eh kayaknya nggak bakal bosen deh. Yaampun Nana..!” Komala sangat geregetan sampai mencubit lembut pipi Glory dengan ekspresi menahan gemas lagi dan lagi.
“Mi melar tu pipi Glory, astaga..!!!! nanti kita bikin juga yah..!” Panji menahan tangan Komala.
Glorry terkekeh.” Emang bisa bikin kayak Glory?” Tanya Glory polos.
Komala tergelak.”Sadar muka dia tu Na. mau anak secantik kamu tapi mukanya pas-pasan kan jadi malu..!” Komala mengeluarkan kotak dalam bag yang dibawanya.
Glory terkekeh mendengar ucapan Komala yang tak salah dna tak juga benar, ayah Regan itu hemmm definisi bahagia sesungguhnya, tubuh besar, perut buncit, wajah putih dan bersih., apa lagi yah? jenggot yang keriting agak panjang dan rambut dibela dua. Duhhh hemm dia tampan Cuma kan sudah menikah jadi tidak tampan juga.
Panji menceikkan bibirnya.. “ Aku ganteng yah pas bujang, buktinya aja kamu suka aku...!! kamu mau nikah sama aku.!” Tolak Panji dikatakan wajah standar, siapa yang suka dihina dna direndahkan?
Komala memainkan bibirnya mengejek.”Dulu kamu pelet aku mangkanya aku suka kamu.. untung-untung muka Regan mirip aku jadi ganteng deh. “ Jawan Komala. Panji semkain cemberut dna memilih diam merasa di ulti.
Regan tergelak menatap ayahnya terasingkan.”Udahlah pi, terima kenyataan kalo muka abi setandar. Untung-untung masih di sukain Umi.”Sahut Regan.
“Siapa yah yang ngomong tadi????” ujar Panji sok tak mendengar.
__ADS_1
Dan Regan menatap Panji geram.” Dasar bangkotan.” Gumamnya. Glory tersenyum merasa asing ditengah keluarga harmonis ini.
“ Duuh ini sayang Umi buatkan jus wortel campir apel, ini rasanya beh mantul, terus ada ini juga bubur ikan tuna, enak banget tadi udah mami coba kamu pasti bosen makan bubur itu itu mulu, ini juga ada sob ikan apa yah namanya. Ikan gabus kalo kata memang ikannya tadi, ini cocok buat yang baru udah oprasi supaya lukanya cepet kering. Dimakan yah sayang” ujar Komala tersenyum.
“Ini tuh enak banget loh Ri bubur ikannya, tadi abi juga udah coba. Sini Abi suapin, kamu pasti ketagihan, “ Glory hendak menolak saat Panji menyuyapinya tapi Panji sudah menyuapinya ,membuat Glory mau tak mau menerimanya pelan. mengunyanya dan tersenyum.”Emm iya enak hehe.” Glory tak bohong, ini memang enak sekali.
“Tuh kan lagi dong, sub nya juga dimakan yah. ini enak banget cocok buat kamu yang luka, nanti abi beli in juga sub Iga deh katanya juga bagus----“ semua cerocosan Panji memenuhi pendengaran Glory yang disuapinya makan.
Glory hanya sesekali tersenyum menerima suapan hingga tetesan terakhir. Panji mewarnai hari hari dimana Glory yang ditengah mereka kadang disahut aregan dan Komala. Glory bersyukur karena keduanya sangat baik. Jadi dirinya tak berlarut dalam rasa sakit.
Di sisi lain Faris diam menatap Glory bersama keluarga Regan di layar monitor ya, menghela nafas di smaping istrinya.Keduanya menatap dingin hal tersebut.”Harusnya kita yang disana merawat anka kita, bukan mereka..!!!!” Ujar Tasya tak terima, iya Tasya sudah tau Glory anaknya karena diberitahu suaminya Faris. Tetapi mereka belum ada niat untuk menjemput Glory.
Faris mengangguk.”Kamu tenang dulu, biarkan Glory bersama mereka. Karena dengan begitu dia bisa aman, tidak seperti didekat kita,,, jika kita membawanya kerumah pasti awak media akan banyak menyorotnya dan dia dalam keadaan jauh lebih berbahaya. Aku tidak ingin kehilangan dia lagi untuk kedua kalinya.. aku ingin dia bahagia.” Bisik Faris. Tasya diam mengepalkan tangan memalingkan wajah tak senang,
Faris tersenyum menatap senyum anaknya, bukan tak ingin Glory kembali, tapi rasa sakit kehilangan anaknya itu membuat ia tak lagi ingin mengecap rasa itu, tak ingin kehilangan lagi membuat ia berfikir jalan satu-satunya tak ada orang yang tahu jika Glory adalah anak kandungnya. Biarkan semua orang berfikir begitu sampai waktu tak terbatas. Sampai waktu yang menentukan... Dengan begini ia bebas bertemu anaknya, anaknya bebas dalam kebahagiaan diluar sana.
“ Tapi aku mau dia dipelukanku hiks hiks.”Tasya menangis pelan, mengingat putri kesayangan juah dari jangkawan malah hangat bersama keluarga lain membuat hatinya hancur, sangat sakit dan teriris. Padahal selama ini ia hidup dalam kerinduan mendalam, saat mengetahui kebenarannya sekalipun ia tetap dalam kerinduan miliknya tanpa mampu bangkit dan keluar dalam pelosok kelam ini. Entah sampai kapan.
Faris mengusap bahu Tasya pelan menghela nafas.” Glory berhak bahagia, jika dia ditengah kita dia takakan bahagia, aku tak mau dia kita kurung seperti saat dia kecil. Aku tak mau.... biarkan begini saja dulu. Nanti kita bisa bersama nya untuk mengatur waktu, aku sudah membicarakan ini pada Lili kecil. Kamu jangan bersedih.” Tasya hanya bisa menangis sendu.. yah salahnya juga mengapa banyak musuh.
.
.
.
.
__ADS_1
jangan lupa jejak ya yah...