Transmigrasi Twins Antagonist

Transmigrasi Twins Antagonist
Pulang


__ADS_3

Glory dengan senang memasuki rumahnya. Hari ini ia sudah kembali ke rumahnya.” Glory jangan lari lari.” Teriak Faris melihat Glory yang berjalan cepat..


Glory malah terkekeh melihat ayahnya yang over thingking.” Iya papi tampan.” Ujar Glory memelankan langkahnya. Faris menghela nafas menggeleng melihat Glory yang hyperaktif.


Glory melirik faris dan Tasya.” Glory ke kamar yah pi mi.” ujar Glory. Tasya dan Faris mengangguk.


Rangga dan angga yang diacuhkan menatap Glory tidak senang.” Ada manusia lain loh di sini kalo lupa.” Ujar Rangga dengan menyindir.


Glory meliriknya dengan alis terangkat satu.” Oh ada orang? nggak keliatan soalnya.” Jawab Glory pura pura polos.


Rangga menatap Glory tajam dan Glory malah terbahak-bahak melihatnya.” Canda. Baybay bang serangga.” Ujarnya segera menaiki lift.


“ JANGAN LARI LARI..!!” suara dari mereka menggema membuat Glory terkikik. Akh senangnya sudah pulang kerumah. jika beginikan bisa nyaman dan tenang.


Glory memasuki kamarnya tenang. Tapi hanya sesaat. Matanya memerah dan hidung kembang kempis melihat keadaan kamarnya.” NANDA... NANDO.... REGAN..!!!” Teriaknya tertahan. bayangkan pulang pulang mendapatkan kamarnya yang super berantakan, banyak bekas sampah makanan dimana mana, botol minuman. Bahkan sisa ramen yang sudah lama masih di sana. Glory mengepalkan tangannya dan memejamkan matanya. salah besar sudah mempercayai mereka masuk kekamarnya. Tolong ingatkan dirinya jika ketemu kelak ia akan memukul kepala mereka bolak balik. Ingat itu.


Sedangkan Nanda yang sedang sarapan merasakan telingamnya berdenging. Nando pun merasakan hal yang sama. keduanya menggusuk telinganya serentak dan saling lirik.” Pasti ada yang sednag ngomongin kita.’ gumam Nando. Nanda mengangguk pelan menyetujui ucapan saudara kembarnya. Keduanya menghela nafas dan kembali melahap makanan nya.


Glory turun dari kamarnya, mengangguk pelayan membersihkan kamarnya. Dengan berat hati ia ke dapur dan mencari makanan, tapi di sana ia menemukan Glora yang sedang melakukan sesuatu. Glory segera mendekat. “ wah... sedang apa Glora?” Tanya glory tenang.


Glora terlihat kaget mendapati Glory ada di sini. Ia menghentikan pekerjaannya sejenak dan menatap Glory tersenyum.” Eh udah pulang?” Tanya Glora masam. Mereka liburan yah tidak mengajaknya? Hehe.


Glory mengangguk.” Iya soalnya pemeriksaan keadaan aku ke dokter... Alhamdulillah baik baik aja.” Ujar Glory paham maksud Glora. Jadi mau atau tidak mau Glora penjelasan ia akan menjelaskan agar Glora tidak salah paham.


Glora tersnetak memnatap Glory. “ kamu sakit?” tanyanya dengan kaget. Ia baru tau.


Glory menggeleng.” Kemaren, sekarang Udah enggak kok hehe. Tenang saja.” Ujar Glory dengan menenangkan Glora. Glora tersenyum masam, padahal dia sudah berprasangka buruk mengenai Glory. Ia pikir Glory dan keluarganya liburan tanpa mengajaknya.


“ sorry yah Ry aku nggak tau kalo kamu sakit. Aku piikir kamu sama keluarga jalan jalan,” ujar Glora jujur dan meringis seusai mengatakannya.


Glory malah terkekeh.” Yah kalo jalan jalan kamu pasti di ajak dong. “ tegasnya. Glora tersenyumlah lembut mendengarnya. Glory menatap apa yang dimasak Glora.” Kamu masak apa?” Tanya Glory tenang dan penasaran.


Glora melirik masakannya, karena tangannya patah tulang bagian kiri, cukup sulit masak masakan yang sulit dan ribet., ia tersenyum.” Kebab. Kamu mau?” tanyanya. Sedari pagi pelayan tidak ada yang membuatkan dirinya makan atau sarapan, jadi jika dirinya mau makan yah buat sendiri. Yah Glora harus masak dan juga makan sendiri tampa dibantu siapapun. Miris dirinya seperti orang asing di rumah ini,

__ADS_1


Glory mengangguk semangat.” Mau mau. Aku mau yang pedes dua yah. banyakin dagingnya.” Ujar Glory, Glora terkekeh pelan dan mengangguk.


Glora menatap Glory yang duduk di kursi meja makan dna tersenyum. Glory yang dilirik tersenyum lebar. Glora memejamkan matanya, mengapa Glory terlihat sangat baik dan sulit di sakiti?


" Mau dibantu???" Glory sekilas melihat wajah Glora yang menekan rasa sakit, apakah tangan Glora masih sakit dan belum bisa. bergerak?


Glora tersenyum menggeleng. " Nggak kok hehe. tadi terkena bawang merah aja. " Jawabnya berbohong, kau bagaimanapun agak sulit menggunakan satu tangan dalam memasak. Glory hanya bisa mengangguk saja.


Glora menaruh beberapa daging yang sudah di masak, sayur tomat dan keju d dalam kebab mereka. Ia memasak lima kebab dan segera ia taro di atas meja. Glory bersorak heboh. “ wah Glora hebat yah bisa masak.” Ujar Glory senang dan memuji penuh keceriaan.


“Emang kamu nggak bisa masak?” Tanya Glora terkekeh.


Glory mengangguk dan terkekeh.” Bisa masak mie instan.” Ujarnya. Glora malah terbahak mendengarnya. Glora dan Glory mulai memakan kebab buatan Glora. Glory tidak berhenti henyti memuji makanan buatan Glora.


Sampai Glora tidak bisa tidak tersenyum bahagia” wah Glora memang keren, udah cantik, pinter. Juara satu dan jago masak. Glory iri sama Glora.” Ujar Glory semangat dan terkekeh.


Glora meremas kebabnya dan melirik Glory. Hehe iri yah? justru dirinya yang iri kepada glory. Mau apapun yang Glory lakukan, dimanapun dia berpijak, dia akan selalu di sayang dan dilindungi. Glora dan Glory bak elemen yang berbeda. Glora hidup penuh kebencian dan Glory hidup penuh kasih sayang.


salah tidak sih jika dirinya iri?


Runa meremas tespacknya kuat. dua garis merah.. Runa hamil. Runa gugup dan juga takut, takut orang tuanya tau, takut teman temannya tau. Runa takut Dava tidka ingin tanggung jawab. Runa meremas Hp miliknya dan menghubungi nomor Dava. Saat ini ia maish berada di toilet rumahnya. Ia sudah telat lebih dari stau bulan, itu Allahabad mengapa ia bisa tau jika dirinya hamil.


Tut.... halo..” Runa tertegun sejenak, ia tetap meremas tespack itu kuat.” Dava... kita harus ketemu.” Ujarnya gugp dan takut.


Runa memejamkan matanya kuat, sekarang ia tidak punya pilihan lain selain meminta pertanggung jawaban dari Dava. Jika ini diketahui orang lain maka tamatlah riwayatnya. “ ada apa?” Tanya dava di seberang tenang. Terdengar Dava menghela nafas seakan sedang merokok.


Runa meremas kuat Hp yang baru saja Dava belikan untuknya.” Penting. Kamu dateng yah di café biasanya kita ketemu.” Ujar Runa pelan.


Dava belum menjawab selama satu menit.” Gimana kalo di apartemen gue aja? Soalnya gue lagi males keluar rumah.” Ujar Dava pelan lagi. terdengar sangat santai.


Runa mengangguk pelan.” iy yya. Aku ke sana sekarang.” ujar Runa. Tidak dijawab di seberang, tapi malah dimatikan oleh dava.


Runa segera berdiiri dari duduk jongkoknya. Segera kekamar dan merapilkan pakaiannya. Ia menyimpan tespack itu ke dalam sakunya dan mengambil jaket. Runa mengambil tas dan dompetnya sebelum pergi.

__ADS_1


” Mau kemana loe? Ngelounthea malam malam gini?” Tanya Icha dengan sinis melirik Runa yang keluar di jam malam.


Runa melirkknya dan memilin tasnya sendiri.” Bukan urusan loe.” Ujar Runa.


Icha mendelik dan mendengus.” Gue aduin ibuk bapak. Biar tau rasak.” Ujarnya sinis sebelum pergi.


Runa menghela nafas enggan menyahut ucapan adiknya lai. Ia memilih untuk segera pergi dari rumah dan memesan ojek online. Dava tidak mungkin ingin menjemptnya kan? iya sebab Dava tidak pernah menjemputnya di depan ruumah, jika dijemput kadang pun itu di depan gang komplek. Katanya rumah Runa ini rumah kumu dan juga banyak kumannya mangkanya ia tidak mau masuk atau lebih lama disini. Runa hanya bisa mengangguk pasrah. Yang dikatakan dava ada benarnya. Rumah Runa tidak jauh dari pembuangan sampah. Memang sedikit bau.


Berselang empat pulih lima menit Runa sudha berdiri di depan apartemenya Dava. Tangannya memencet kode apartemen sebab memang ia sudah sering ke sini dan bermalam bersaa Dava. Runa memasuki apartemen. Sata masuk ia sudah disambut dengan kepulan asap dari rokoknya Dava.


Runa terbatuk pelan menatap Dava memelas. Dava meliriknya tajam dan juga dingin.


Dava tidak berhenti merokok, semua ruangan juga terkunci. Runa meremas ujung bajunya dan menatap Dava memohon untuk menghentikan aksi merokoknya. Runa tidak tahan bau aspa rokok.” Hay Runa. Apa kau butuh kehangatan?” Tanya Dava mengedipkan satu matanya.


Runa meremas tangannya sendiri mendengarnya. Apakah ia semurah itu dimata Dava?? Runa tidak pernah meminta duluan, tapi Dava yang terus memaksanya. “ Dava aku mau ngomong penting. Bisa berhenti ngerokok dulu nggak? Aku nggak tahan bauknya,” ujar Runa memberanikan diri bicara mengungkapkan isi hatinya.


Dava terkekeh mendengar ucapan Runa. Ia menjatuhkan rokoknya dan menginjaknya pelan.” wah wah... apa yang begitu penting?” Tanya Dava mendekati Runa. Ia memegang rambut Runa dan memainkannya dengan gaya sensual.


Runa mengindar dan melirik Dava nanar. Dava diam menatap Runa tajam, Runa mengeluarkan tespack dari sakunya dan memberikanya pada Dava.,” Dava aku hamil.” Ujarnya memelas dna juga gugup. Matanya sudah berkaca kaca melihatnya,


Dava menatapnya dan juga tespack yang diberi oleh Runa. Ia menaiki satu alisnya dan menatap Runa remeh.” Wah wah... apakah ini anakku?” tanyanya dengan temeh. Runa menatap Dava tersakiti. Seakan akan dirinya bisa tidur dengan siapapun dan dimanapun. Memang dirinya terlihat semurah itu yah dimatanya Dava? “ kamu pikir aku pernah tidur sama siapa selain sama kamu?” Tanya Runa bergetar hendak menangis.


Dava mengangkat bahu acuh.” Mana aku tau, kalo sama aku aja kamu mau mau aja, siapa tau kan diluar kamu juga gitu sama cowo lain.” Ujarnya santai.


Runa mengepalkan tangannya menatap Dava nanar.” aku nggak semurahan itu yah Dava. Aku tidur Cuma sama kamu dan itupun karena kamu perkaos dan kamu paksa aku. Kamu ancem aku kalo aku nggak nurutin kamu kamu sebar foto dan video aku.,” ujar Runa berteriak.


Dava terkekeh pelan mendnegar Runa.” Kan aku bilang siapa tau bukan nuduh. Jadi kalo nggak yah santai aja nggak usah teriak juga” ujar Dava terkekeh. Runa memejamkan matanya mendengar ucapan Dava.


Dava membuang tespack itu asal dan bilang.” Gugurin aja. Soalnya gue belum siap jadi bapak bapak juga” ujar Dava santai,


Runa mendengarnya tersentak kaget menatap Dava dengan tatapan nanar dan tidak terbaca. Dava tidak ingin anak ini dan malah ingin menggugurkan anak ini? Dava yang melihat wajah Runa yang seakan akan tidak percaya menaiki alisnya.” Kenapa? Mikir kalo gue jahat? Gue emang jahat, kalo gue nggak jahat gue nggak mungkin perkaos loe kalo loe lupa.” Ujar Dava dengan sinis dan malas.


Runa terdiam sejenak. Benar, jika Dava baik dia tidak mungkin melakukan hal keji ini kepadanya, bahkan sejauh ini. tapi tidak bisa dirinya bayangkan. Dava malah hendak menggugurkan atau membunuh anaknya sendiri. Bukankah itu sudah kelewatan???

__ADS_1


Runa menggeleng.” Nggak, aku nggak mau gugurin anak ini. aku nggak mau Dava.” Ujar Runa dengan tegas.,” ini anak kamu Dav.” Suara Runa penuh keputus asaan.


__ADS_2