Transmigrasi Twins Antagonist

Transmigrasi Twins Antagonist
54


__ADS_3

Komala semakin menangis. Bahunya bergetar melirik Glory. “Pi liat air liurnya ngalir gitu hiks hiks. “ia mengeluarkan tisu miliknya dan hendak membersihkannya. Regan menggeleng pelan membuat Komala menatap anaknya polos.


“Nggak boleh disentuh Mi. karena katanya itu nanti dijadikan bahan untuk pemeriksaan dari dokter apakah otak pasien sudah bereaksi atau belum, karena air lir itu menandakan otak dari pasien sedikit meradang dan gangguan. Benturan dikepalanya sangat kencang saat itu jadi beberapa syaraf dan urat terganggu bahkan terputus. Jadi biar nanti perawat saja yang membersihkan.”Ujar Regan jujur.


Komala menatap anaknya menangis.”Kurang ajar banget yang rampok dia. Udah tau yatim piatu. Sekarang kalo gini gimana? Udah terluka, hiks hiks. B4jingan. Semoga yang ngelakuin ini mati-mati, semoga mandul....”Bisik Komala lirih mengusap pipinya dnegan tisu yang tadinya ingin mengelap liur milik Glory.


Regan menghela nafas lagi merasa berdosa banyak sekali berbohong pada ibu.”Kakaknya atau saudara lain ada nggak?”Tanya Panji pada Regan.


Regan mengangguk.” Ada tapi pas itu kakaknya main dan nggak pulang. Regan nggak kasih tau. Biarin aja dia ngerasain sakit kehilangan adiknya. Siapa suruh dia ninggalin adiknya gitu aja demi temen-temennya. Regan kesel.”Ujarnya pelan jujur.


Komala mendengarnya menatap Regan mengangguk.” Is kurang ajar banget abangnya.” Regan mengangguk.


Komala duduk di sisinya Glory. Menatap wajah Glory,. Membuka sedikit kain yang dibahu Glory menatap luka yang ada diatas dada kiri tertutup. Komala semakin menangis menatap lukaluka kecil lain dipipi Glory.” Dia gini aja cantik banget. Udah ileran,. Pucet, kok bisa yah?”Tanyanya melirik Regan. Panji menahan diri untuk tidak tertawa.


Regan mengangguk polos.” Iya cantik banget mi. kayak boneka.” Bisiknya.


Komnala mengangguk.,”Jadi ingin jadiin anak.” Bisiknya meliri panji. Regan melotot mendengarnya, tak ayal ia menggeleng sebab ia juga ingin Glory menjadi adiknya.


...POV Glory....


Aku merasakan kepala yang pening. Tidur atas awang-awang. Kalian tau awang-awang? Itu adalah dimana posisi kita yang tak bisa merasakan pijakan atau tenpat dimana tidur. Tetapi posisi ini sangat nyaman,. Posisi yang membuat aku tak ingin bangun. Aku tidak tau ini dimana tetapi yang pasti aku belum mati. Aku yakin itu.


Berusaha membuka mata tapi selalu tak bisa, sampai pada aku merasa terjatuh dari posisikku, membuat aku berusaha menahan tubuhku kaget. Disaat itu aku bisa mengerakkan tanganku dan mataku sedikit merasa silau.


“Do-dia bangun..!”


Suara itu membuatku terusik, membuka mata terasa silau dan perih. Aku menahan diri untuk tak membuka mata, menetralkan cahaya.


“Panggil dokter dan suster...”


Ada lagi suara asing itu, aku membuka mata menatap samar dan buram siapa yang mengatakan hal itu, kepalaku sangat pusing, rasanya semuanya berputar, aku memegang kepalaku terasa sakit. Semua terasa sangat sakit, tangan, kaki. Baiklah katakan semua bagian tubuh ku rasanya patah.


Suara kaki yang tersentak mendekatiku, tanganku ditahan, kepalaku dipegang. Aku diucek oleh dokter aku mengerang merasakan sakit di kepalaku. Ini rasanya sangat sakit seperti ditimpa batu besar.

__ADS_1


“jangan dipegang Nanti infusnya rusak... tolong ambilkan bius. pasien kesakitan..”


Aku merasakan suntikan lagi di bagian tubuhku di urat nadi tanganku,. Aku diam merasakan sakit mendera semakin menghilang senyap digantikan rasa kebal di bagian lengan dan kepala. Membuka mata samar menatap sekeliling buram beberapa kali mengerjab untuk menetralkan penglihatan.


” Alhamdulillah pasien sudah melewati masa kritis dan koma..!!!!”


Mereka berseru senang. Aku diam tak menjawab, terlalu lemah. Seseorang lelaki mendekatiku melambaikan tangan.


”Nona liat saya.. “ aku diam tak berniat menjawab. Dia tersenyum menunjukan angka dua jari di tanganya.”Ini berapa? Tolong jawab demi kesehatan nona..!!!”


Aku diam menatap nya tak ingin menjawab, sangat lemah tubuh ini. memberi isyarat dibibirku. “Alhamdudliah sepertinya penglihatanya juga baik-baik saja. Coba kita cek lagi.” Ia maju memeriksa mataku. Terasa silau tapi aku diam saja.


“syukurlah..” ia undur dan aku memejamkan mata. Terdengar samar jika mereka mengatakan kondisiku pada orang lain.


Tunggu tapi itu siapa? Rasanya hendak ku buka lagi mataku tapi ini sangat berat, mataku seakan terkunci membuatku tertidur lagi.. yahhh aku mengantuk, apa ini efek dari obat yang disuntik diinfus milikku? Jangan berfikir ini tambah membuatku pening.


“Bagaimana keadaan dia dok? Komala terlihat panic diluar ruangan, tadi menatap lengan Glory yang bergerak membuat panic Regan, Komala dan Panji. Segera memencet panggilan.


Komala mendengarnya tersenyum.” Hem kaish ruang VIP dok.. saya tidak mau dia terganggu.” Ujar Komala polos.


“Mi VIP Mahal,” isik Regan pada sang ibu.


Komala mendengus.”Ya nggak apaapa, lagian kan kita punya uang. Nanti Umi mau jenguk dia, nggak maaiu Umi dia keganggu sama pasien lain. Di sini tu pasien lain kalo dicampir pasti ada yang dijenguk keluarga, berisik. Sedangkan dia harus punya ketenangan banyak istirahat. Apalagi dia pasti sedih nggak ada keluarganya. Nanti Umi juga mau jenguk dia.” Komala menyerocos penuh.


Regan diam melirik Panji, panji mengangguk saja setuju apa kata istri,


Dokter mengangguk.” Nyonya tenang saja, sebab pasien sudah ada penangung jawabnya kok, ruangannya juga sudah disediakan. Jadi jika begitu mari nyonya tuan, saya permisi duluan, jika butuh bantuan kalian bisa meminta bantuan kepada petugas yang ada.


“Makasih dok..!” Ujar Komala dan Panji. Dkter tersenyum mengangguk meninggalkan keluarga., komala tersenyum mengintip ruang Glory meski tak terlihat.


...----------------...


Dua hari dalam pemncarian sang adik. Aksa tak sekolah, diam dikamar murung tak mau keluar, ia tinggal bersama kedua orang tuanya. Doni dan istri melihat anaknya terpuruk khawatir sebab sudah dua hari menolak makan dan keluar kamar.

__ADS_1


“Mas bagaimana ini," Lirih istri pada suami. Sebagaimana buruk sang anak itu tetap anaknya. anak tetap lah anak mau sesalah apapun sebagai orang tua ia tak tega.


Doni menghela nafas.”Bawa makananya biar kita paksa makan.” Lia mengangguk pelan membaa nampan berisi makanan.


Doni mengambil kunci serap karena sang anak tak mau keluar keluar itu. Saat terbuka kamar sang anak. Mereka dikagetkan oleh kamar yang berantakan, semuanya pecah seperti badai menerpa didalamnya. Lia panic melirik setiap sudut ruangan,


“Angkasa..!!!!!” nampan jatuh dari tangannya melangkah kedalam yang gelap.


Doni menghidupkan saklar lampu menampakan kekacauan lebih parah. Tak ada anaknya. lia dan Doni segera berlari ke toilt mencari anaknya.”Angkasa.,.!!!!!”


brak... dan mereka dikagetkan oleh seseorang yang basah kuyup dibawah sower yang masih menyalah, tubuh yang menggigil, tangan yang penuh darah banyak.


Lia mencelos melompat menatap anaknya nanar.” Angkasa.. apa yang kamu lakukan?” Lia memegang kepala anaknya nanar bergetar menangis tanpa diminta.


Terlihat angkasa yang pucat menggigil melirik ibunya.”Maa.. hiks hiks maafin aksa ma..” Aksa berbicara lirih membuat Lia memeluk anaknya.


ini salahnya terlalu memaksa sang anak, menyalahkan keadaan pada sang anak. Dia ikut menyalahkan sang anak. Lia dan Doni tak pernah berfikir jika anaknya akan melakukan hal senekat ini.


Aksa bunuh diri.


” Papa angkat Angkasa pa bawa kerumah sakit.” Teriak Lia panic. Doni mengangguk membawa tubuh sang anak yang basah kuyup sangat dingin. Entah berapa lama anaknya mandi dan mengiris tanganya sendiri. Doni juga merasa bersalah sebab sudah menyalahkan anaknya begini.


.


.


.


.


.


Tinggal jejak yah!

__ADS_1


__ADS_2