Transmigrasi Twins Antagonist

Transmigrasi Twins Antagonist
26


__ADS_3

Pagi ini Glory merasa tubuhnya lebih baik dari sebelumnya, ia bangun saat sudah jam setengah enam. Ia meringis masih sangat khawatir dengan Aksa, ia diam sejenak menatap ruangan yang ia tempati, sangat besar.


Wajar saja sebab ia orang kaya batinnya Glory.


Ia melangkah memegang kepalanya yang diperban, turun membuka pintu rumah. Ia menyipitkan mata merasa cahaya asing ruangan lain, ia diam merasa sedikit familiar dengan rumah ini, ia diam bingung meliriknya.


Ia menatap kelain arah dan ternyata ada banyak pelayan dan juga penjaga disini. Hendak bertanya tapi Glory bukan sosok yang mudah bersosialisasi duluan. Ia memilih mengambil langkah kearah lain mencari pemilik rumah.


Tapi ia merasa salah tempat. Saat ia membuka gorden ia melihat sekelompok keluarga yang sedang sarapan menatapnya kaget juga..


“Eh Nona sudah bangun, kenapa bangun? Barusnya anda istirahat, masalah sarapan biar pelayan yang ambilkan.” Haris yang ikut sarapan menatap Glory kaget. Tapi Glory diam merasa tak mendengarnya, ia menatap wajah familiar lelaki paru baya yang menatapnya dengan dingin, lalu melirik wanita baya yang di sisinya ikut menatapnya dengan mata yang gemetar menahan sesuatu. Matanya kembali melirik paru baya dengan kerinduan. Ayah kandung pemilik tubuh ini.


“Eh Nona sudah bangun, kenapa bangun? Harusnya anda istirahat, masalah sarapan biar pelayan yang ambilkan.” Haris yang ikut sarapan menatap Glory kaget.


Tapi Glory diam merasa tak mendengarnya, ia menatap wajah familiar lelaki paru baya yang menatapnya dengan dingin, lalu melirik wanita baya yang di sisinya ikut menatapnya gemetar. Matanya kembali melirik paru baya dengan kerinduan. Ayah kandung pemilik tubuh ini.


Keluarga Ming...


“ Nana... kamu adiknya Aksa kan?” Pertanyaan dari sisi kanan menyadarkan Glory.


Glory melirik orang yang baru sampai, ternyata Rangga. Ia menatap Rangga lamban, ia tau.. rasa tubuhnya menjadi jelly karena sadar jika ini keluarganya. Wajar saja ia merasa familiar dengan rumah ini.


“Woy..!” Bahu Glory di guncang Rangga.


Glory menatap Rangga diam mengangguk.” Gue udah bilang sama abang loe selamem loe dirumah gue, dengan alasan loe nggak berani pulang kemalaman dan gue ajak loe nginep dirumah gue. jadi loe punya hutang sama gue.!” Rangga menunduk bahu Glory yang tingginya tak jauh dibawahnya.


Glory diam mendengarnya. Ia tak bisa berucap apapun. tia mendongak menatap Rangga “Gue nggak minta dibantu, jadi itu bukan urusan gue.” Jawabnya pelan.

__ADS_1


Rangga melotot tak terima mendorong Glory reflek.”Loe nggak tau terimakasih jadi manusia yah..!!” Ketus Rangga tak terima,.


Glory menahan diri dengan memegang pilar pintu menatap Rangga dengan kesal dan juga melotot garang.” Emang, jadi kesalahan terbesar buat loe berharap balas budi dari gue."


Rangga menatapnya melotot. Kenapa Glory saat marah terlihat sangat gemas? Rangga menarik pipi Glory kencang karena tak tahan.”Gue gigit juga loe yah..!!!”


Glory merasa pipinya ditarik hendak menjambak rambut Rangga.


”Kau sudah bangun??” Tapi aksinya terhenti saat sosok Angga yang dari tadi diam angkat biara. Keduanya melirik Angga.”Mari duduk sarapan bersama.” Ujarnya Angga pelan.


Glory menatapnya menggeleng.” Saya mau pulang.. mana mobil saya?” Tanya Glory pelan, jika terlalu lama disini, identitasnya akan terbongkar nanti. Ia tak mau.


Angga menatapnya datar.”Dan saya tak menerima penolakan.”


Glory terkekeh.”Klasik ekali jawabannya. “Gumamnya pelan. ini kalimat di novel sering ia baca, tapi ingat ini memang dunia novel membuat ia diam melirik Angga.


“Mau makan apa? Biar saya ambilkan.”Haris angkat bicara kepada Glory yang diam terlihat tak berani mengambil makanan.


Gloy melirik Haris diam tak mau makan tapi ia lapar. “Nasi Go--”Haris menuangkan nasi goreng di piring Glory.


“Ehhhh dok..!” Tangan Dokter terhenti karena Glory menggeleng melarang.


Haris menatapnya bingung.”Oh iya kamu kan sakit harusnya makan bubur hehe.. aduh maaf saya lupa, tapi nggak apa-apa kok soalnya kan kamu tidak apa-apa dalam kecelakaan tersebut. Hanya saja benturan dikepalamu cukup keras.. untungnya mobil kamu sudah stafly menimbulkan sporty menjaga kepala kamu jadi tidak apa-apa. “ Haris kembali hendak menuangkan nasi goreng di piring Glory.


“Tapi saya tidak makan nasi goreng di pagi hari. “ Ting..


Faris menatap Glory nanar. Tasya ikut menatap Glory dalam diam. Glory diam menelan saliva keringnya merasa keringat ditubuhnya bercucuran padahal masih pagi. “Iya om, soalnya dia dari kampung jadi nggak kebiasaan makan orang kaya, biasanya pagi-pagi dia makannya gorengan kalo nggak nasi putih langsung sama sayur berat. Biasa orang kampung beda sama kita.”Rangga menyahut meledek Glory. Melihat Wajah Glory yang masam dan melotot garang padanya menimbulkan rasa senang diidadanya, tanpa bisa mengendalikan diri untuk tak tersenyum.

__ADS_1


Glory ditatap oleh orang-orang pun mengangguk.”Hehe iya om, tante, saya kebiasaan makan makanan berat kalo pagi-pagi, tapi meskipun begitu Bubun eh maksudnya Ibu nya saya membuat gorengan dengan variasi yang sehat, semacam sayur Brokoli yang sop, perkedel kentang atau jagung, perkedel jamur dan semacamnya. Itu pun biasanya bu- eh Ibu memasaknya dengan minyak rendah kolestrol untuk kesehatan atau menggunakan beberapa peralatan masak yang tidak lengket supaya bisa mengontrol minyaknya.” Jawab Glory santai.


Intinya Glory menegaskan Meksi mereka orang kampung dan miskin, masakan mereka juga sehat dan juga mahal... Hey Glory tidak suka di rendahkan!


Haris mengangguk pelan menaruh nasi putih lalu telor ceplok dua buah diatas piring Glory pelan." Ini saja? soalnya tidak ada yang lain.." Glory mengangguk menerima saja.


“Hem kamu punya penyakit emang?”Ia heran juga sebenarnya.


Glory menatap Haris menggeleng.”Saya sudah cek berkali-kali, di USG sampai luar negeri tapi saya tidak punya penyakit apapun. tetapi memang tubuh saya lemah.”Ingatan Glory pada Faris dan Tasya yang dulu panic melihat ia pingsan beberapa kali akibat terlalu sering bermain membuat ia di periksa di Negara luar beberapa kali sampai mereka berkelahi, tapi hasilnya tetap nihil. Belum lagi orang tuanya dikampung juga hampir sama, hanya saja Glory cek diluar negeri dua kali, rak pernah dalam negeri sebab orang tuanya terlalu takut menyuruh Glory memasuki rumah sakit dalam negeri.


Faris diam menatap makannya. “Siapa namamu?” Baru bersuara namun suaranya terdengar jauh lebih berat dari biasanya. Semua menatapnya diam lalu menatap Glory penuh tuntutan.


Glory menatapnya dan tersenyum lirih. “ Nona Glory.” Jawabnya pelan.


“ Kenapa bisa?? itu nama an----“ Tangan Tasya ditahan oleh Faris. Tasya meringis merasa perih ditangannya.


" Tapi Faris itu nama Dia... Hanya beda --" Faris semakin menekan tangan Tasya. Tasya diam merasakan tangannya sakit. Glory meneguk Saliva kering ditatap keduanya tajam.


Rasanya kenapa sesak sekali melihat ibu dan ayah nya begini. Glory jadi ragu jika keluarga nya hidup baik baik saja selama ini tanpa adanya dirinya....


.


.


.


...Hay.. maaf yah disini sinyal jelek banget. jadi kalo Up pas ada sinyal, pas mau Up lagi eh sinyal hilang.... Nanti kalo ada sinyal lagi aku Up yah.. Jangan lupa dukungan nya....

__ADS_1


__ADS_2