Transmigrasi Twins Antagonist

Transmigrasi Twins Antagonist
Tragedi


__ADS_3

Glory memasuki kelasnya semangat, tapi belum sampai amsuk tubuhnya terhenti oleh Nanda yang menahannya di depan pintu.” Eh Ry. Kekantin yuk, gue ngak sempet sarapan tadi. Mak gue lagi pergi periksa gudang tokoh sejak kemaren belum pulang.” Ujarnya memegang lengan Glory semangat dan menariknya untuk ikut.


Glory menahan tubuhnya dan memegang pinggiran pintu.” Benar Cok, baru Sampek belum duduk gue. Gue taro tas dulu." Ujar Glory, nanda menghela nafas. Glory melepaskan diri dan menaruh tasnya segera pergi kekantin. Jadilah Nanda dan Glory kekantin bersama. Di jalan Glory berhenti menatap Dava yang berjalan berbarengan dengan Glora dibelakangnya. Mereka berpapasan. Glory


Dava diam menatap Glory dingin, mereka saling melewat tak saling menyapa, begitu juga Glora kepada Glory., Glory diam dan melanjutkan jalannya yang tadinya memelan.


Nanda menoel tangan Glory, glory menoleh.”Loe kenapa ngelirik Dava gitu? Loe ngak suka dia kan Ry?”tanyanya Nanda bingung. Tatapan Glory sangat intens jadi Nanda curiga.


Glory mendelik tidak senang dengan ucapan Nanfa.” Ngak lah, “ ujarnya. Yakali dia suka sama Dava, kayak tidak ada lelaki lain saja! He glory mending suka sama lelaki biasa saja dibandingkan menyukai lelaki buruk hati macam Dava.


Dava sudah masuk daftar hitam dalam percintaan Glory, Glory sudah lebih dulu mengklaim Dava adalah manusia yang ia Hindari.


Glory bergidik ngeri mengingat Dava, siapa juga yang mau dengan psikopat? Orang gila kali, jika nanti Dava kehilangan mainannya maka dirinya yang akan menjadi pelampiasannya. Cinta itu gila, dan Glory tidak mau mencintai Dava. Bisa bisa gilanya bertambah kali lipat jika cinta itu salah dimana ia meletakkannya.


Nanda mengangguk paham, yakin tak yakin dengan ucapan Glory, mereka memasuki kantin dan memilih membeli somai. Glory tidak membeli somai, ia hanya membeli bakso goreng dua tusuk yang ia taro saus pedas manis. Tapi ditengah makannya. Bel berbunyi. Keduanya buru buru menyelesaikan makan agar tidak telat. Nanda dan Glory segera berlari menuju kelas mereka berdua. .


" Nanda jangan tinggalin gue Woy..! Gara gara loe ye gue telat..." Teriak Glory tidak suka Nanda meninggalkan ia dijalan


Nanda menghentikan laju kakinya. " Loe lari kek siput. Cepetan nanti kita nggak boleh masuk woy. " Teriak Nanda geregetan. Glory mendengus dan melewati Nanda. Nanda mendelik. " Oy gue nungguin loe yeh. Malah di tinggalin, anak azuu emang " Gumam Nanda ikut berlari lagi.


Saat keduanya masuk kedalam kelas... bam.. keduanya benar benar telat. Glory menghela nafas kesal melirik nanda.,”Ini gara gara loe yah kita telat.. “ Ujar Glory malas.


Nanda mendelik tidak suka.” kan gue nggak maksa, loe juga mau mau aja tadi, ngak nolak tu.” Ujarnya malas. Glory mendesah kesal melirik pak Fadil yang sudah memasuki ruangan kelas.


“ TokTok.. permisi pak.” Gloryu dan Nanda mengetuk pintu sopan.


Pak Fadil menghentikan pelajarannya,. Menatap Glory dan Nanda yang baru datang, dengan kresek merah ditangan glory. “ wah wah... kalian baru datang sudah kekantin yah. niat ke sekolah mau makan apa mau belajar?”Tanya Fadil dengan dingin kepada keduanya.

__ADS_1


Glory mengeleng.” Mau belajar pak.” Jawab Glory. Nanda ikut mengangguk polos kepada Fadil. " Maafin kami pak. " Gumam Nanda ikut bicara kepada Fadil sebagai guru.


“Jika begitu kenapa langsung makan? Kenapa tidak ke kelas? Kalian tau kan jika jam sekarang kalian sudah terlambat lima belas menit di kelas saya dan saya juga punya aturan sendiri..!!” Tegas Fadil mendekati Glory dan Nanda yang masih di depan pintu.


Semua mata anak kelas tertuju ke keduanya, ada yang mentorak dan ada yang tertawa. Nando salah satunya tertawa melihat keduanya.


Glory menggaruk tengkuknya.” Nanda tadi mau ke kantin pak, saya nemenin aja.” Ujar Gliry melirik Nanda. Nanda melotot.


“ loe juga makan yah tadi, mesen bakso dua tusuk tapi habisnya lima tusuk, terus es jeruk satu.” Nanda tidka terima disalahkan sendiri.


“ Huu... nggak sekalian nasi Padang?”Tanya salah satu wanita di kelas Glory menyoraki. Semua tertawa. Glory mendelik dan menandai wanita yang berani mencari gara gara dengannya. sedangkan sang wanita terlihat terbahak menatap glory dan Nanda yang sedang di marahi guru.


“ Makan besar kitu dia pak.. nggak mau belajar, hukum aja pak hukum..!!” sorak heboh Nando dibelakang kepada Nanda dan Glory. Semua teman kelas tertawa mendengar ucapan Nando. Glory semakin mendengus melirik nando melotot.


Fadil menggelengkan kepala.”Glory, mata kamu hampir jatuh itu.” ujarnya epada Glory.


Glory menggaruk pipinya yang tiba-tiba gatal .” Duh pak, masuk yah pak, kaki saya pegel.” Ujar Glory polos kepada Fadil. Glory memijit pelan betisnya akibat terlalu lama berlari dan berdiri. he dia harus berlari menaiki tangga dari lantai satu ke lantai dua untuk masuk. Iya sebab kantin hanya ada di lantai satu dan lantai Tiga.


Fadil menggeleng.”nggak bisa, kalo kamu mau masuk, tutup pintunya dari luar yah.” ujar Fadil melangkah menjauhi Glory.


Glory dan Nanda saling lirik. Itu artinya mustahil mereka bisa masuk pagi ini.” Yaudah. Nanda loe tutup pintu gue di dalam. Ketutup deh pinru dari luar.” Ujar Glory melangkah masuk riang.


Tapi belum amsuk kera belakang baju Glory tertahan oleh nanda. Nanda melotot kepada Glory.” Eh k4ncut, loe enak yah ngomong gitu, nggak ngak. Satu nggak masuk, nggak masuk semua.” Nanda menatap fadil santai.


”pak kami bolos aja. Samlekom.” Ia menarik kera baju Glory dan Glory pun berjalan mundur akibat ulah nanda.


“ Woy gue mau masuk. Astaga. Tolongin gue.” teriak Glory dengan memberontak. Tapi nanda diam saja masih melangkah menarik Glory menjauh meninggalkan fadil yang menatap tajam kedua siswa yang meninggalkan kelasnya dan kelas mereka yang heboh mentoraki keduanya.

__ADS_1


Glory mendenggus memilih duduk di tribun tempat bertmain basket. Nanda melihat Glory yang cemberut saja hanya terkekeh dan mengeluarkan HPnya, mending main game disbanding melihat wajah masam milik Glory.


Glory menggaruk pipi kesal melihat tingkahnya Nanda yang sangat acuh tidak berperasaan sekali padanya. Padahalkan dirinya sedang merajuk. Gara gara Nanda ia telat!


"Wohhh..!!” suara sorak anak anak disana mengalihkan atensi Gloty, glory mengerjab Menatap kedepan, disana ada kelas Dava, aksa, rangga yang berolahraga basket. Id sana juga ada satu kelompok kelas lain yang ikut olahraga bersama. Glory mengerjab sejenak, ia merasa dejavu dengan scen ini. aduh itu ada Glola dan juga Aruna. Glory berdehem sejenak menginat cerita. Tapi Glory sangat lupa, Glory ah glory ingat jika nanti akan nada tragei seusia ini.


...----------------...


Bahu Aksa ditepuk oleh orang sebelahnya. Itu dimas. Aksa melirik dimas, dimas menunjuk tribun penonton. Aksa menyipitkan mata, dan ternyata Glory dan temannya. Aksa mengerjab pelan.”ngapain mereka disana? Kelasnya nggak ada guru?”gumam Aksa heran melihat keduanya. Dimas mengangkat bahu acuh disana dna melambaikan tangan kepada Glory. Ia melebarkans seyumnya yang hanya dibalas oleh Glory melambai tangan juga tapi senyum hambar.


Aksa menatap dimas iri, ia juga mau menyapa Glory, tapi jika ia menyapa apakah Glory akan membalasnya?


“ aksa ayo baris, kamu ikut tim kamu.. permainan akan segera di mulai..!!!!” teriak dari guru kepada aksa. Aksa mengangguks egera berbaris di barisan kelompoknya, sekali lagi melirik Glory, kali ini tatapan keduanya beradu tapi Glory lebih cepat membuang mukanya ke samping. Aksa yang tadinya hendak tersenyum manis berubah senyum masam. Menadangnya saja Glory tidak mau.


Aksa, Dimas dan dua orang dari kelasnya satu tim, dava glora satu tim dan aruna stau tim dengan Rangga. Kedua kelas di gabungkan menjadi satu saja. Dan Glora terlihat senang menempeli dava, dava sangat tertekan satu tim dengan Glora.


” Pak saya nggak mau satu tim sama dia, dia gatel, jadi saya ikutan nggak nyaman sama dia.” Teriak Dava.


Glora mendengar ucapan Dava menatap Dava nanar dan tidak senang. " Kamu kok ngomong gitu si??" Tanya Glora tidak suka.


Dava mendelik. " Yah emang low ganggu tau ngga! mending deh gue kena ulat bulu ketimbang di sentuh sama loe. haram!!" Tukasnya garang dan tak berperasaan. Glora diam merasakan hatinya nyaris tak berfungsi.


Guru berdecak pinggang menatap Dava.” Kamu yah. dia itu perempuan.. jaga bicara kamu,.” Tegas guru dengan kesal mendengar ucapan dari dava. Ia menghella nafas menatap Glora yang tiba tiba murung dan menatap guru yang membelanya berkaca kaca. Gru menghela nafas.” Glora kamu jangan ganggu dava. Silahkan main, saya males rubah lagi kelompok kalian.” Tegasnya sebelum pergi menuju tempat duduk pelatih.


glora tersenyum tipis, bagi Glora jika ada yang membelanya meski hanya sedikit itu adalah hal yang berharga. Sebab Glora jarang bahkan tidak pernah mendapatkan pembelaan dari siapapun, biasanya semua orang akan menyalahkan dirinya, mengatakan jika ia memang pantas di pukul dan di usir.


Sedangkan Dava malah berdecap malas melirik Glora yang menempel padanya.. entah kenapa Dava sangat tidak suka dengan Glora.

__ADS_1


Glora itu baginya pengganggu, perusak suasana. Glora itu adalah hama yang harus ia basmi!


__ADS_2