Transmigrasi Twins Antagonist

Transmigrasi Twins Antagonist
55


__ADS_3

Bagaimana keadaan anak saya dok?”Tanya Lia cepat saat melihat dokter keluar dari ruangan Aksa.


Terlihat dokter tersenyum sebentar dan menatap Lia. Di samping Lia ada Doni yang juga tak kalah khawatir terhadap keadaan anaknya. orang tua mana yang tidak khawatir menemukan anak sudah terkapar bersimbah darah karena aksi bunuh diri yang ia lakukan?


Deni dan Lia sama-sama menyayangkan sikap anak mereka yang kelewatan, tak ayal juga menyalahkan diri sendiri. Mereka juga ikut salah karena hal ini. mereka juga orang yang membuat anaknya merasa semakin bersalah.


“ Anak bapak ibu sepertinya dehidrasi berat dan juga kurang nutrisi, sehingga tubuhnya sangat lemah. Sedangkan luka dari anak bapak dan ibu syukurnya tidak mengenai urat nadi korban, jadi anak bapak dan ibu baik-baik saja. Kita hanya tunggu kepulihan dari beliau pak bu. Mohon kedepannya kita memberikan perhatian kepada sang anak supaya tidak melakukan hal senekat ini. “ Ujar dari dokter pelan menatap miris pada kedua orang tua sang korban.,


Beliau tak tau apa yang terjadi sesungguhnya, tetapi sebagai orang tua, orang tua sangat berpengaruh terjadap emosi anak, anak sangat ,membutuhkan orang tua sebagai rumah. Mau sebesar apapun masalah masalah itu tak akan menggigit seorang anak sampai ingin bunuh diri atau mengakhiri hidup, tekanan batin dan rasa takut yang terlalu besar sehingga memilih mati.


Lia dan Deni mengangguk samar.”Iya dok. ini terjadi karena kelalaian kami menjadi orang tua, lalai mendidik dan menjaga anak-anak kami.” Lia menangis memeluk Deni yang diam tak menjawab apapun. Lia dan Deni sama-sama merasa gagal menjaga kedua anaknya. Glory hilang, Aksa bunuh diri. Dan sekarang entah bagaimana keadaan putri angkat kesayangan mereka.


Dokter mengangguk.” Tidak perlu bersedih hati pak bu, sekarang jangan sampai lengah dan beri waktu kalian semaksimal mungkin untuk menjaga sang anak, biasanya kasus bunuh diri ini akan terulang lagi jika waktu luang yang ada dimiliki korban, merasa tertekan. Jadi jangan biarkan anak bapak ibu kembali melakukan hal nekat ini. jika begitu saya pamit dulu yah pak..” Deno dan Lia mengangguk duduk di kursi tunggu didepan ruangan milik Dika.


“ Keluarga pasien boleh masuk tetapi tolong jangan berisik yah pak bu, jika butuh bantuan bapak ibu bisa memenbet bel yang ada di sebelah sisi kiri ranjang pasien. Permisi!” asisten dokter pun undur diri meninggalkan kedua suami istri itu untuk merenungi kesalahan yang ada.


...----------------...


POV Glory


Di dunia ini manusia ditakdirkan memiliki banyak emosi, sama halnya dengan diriku, aku memiliki banyak emosi, emosional, sedih, senang dan juga gugup, takut.. tapi aku orang yang selalu memendamnya sendirian, melakukan apa yang aku anggap benar. Kadang aku berfikir berteriak mengatakan aku marah kepada orang yang bersalah itu adalah hal yang tak berguna bagiku.

__ADS_1


Yah ini aku Glory, aku sudah bangun dua jam yang lalu, dibantu oleh suster memberikan aku minum, sekarang aku tidur di kamar sendirian, tak ada yang menemaniku, aku tak banyak bicara tapi yang pasti pikiranku berkelana kemana-mana. Sampai pada titik ingatanku tentang Aksa yang tak membantuku saat dirumah. Itu hal yang membuatku kecewa, marah dan sedih. aku bahkan masih bertahan didekatnya karena ingin membantunya supaya tak terjerumus didunia gelap. Tapi sepertinya kembali lagi pada fakta nyatanya.


Aku hanya figuran yang tidak memiliki peran kan? dan Aruna tetap menjadi tokoh utama dan pemenang nya. Mau aku menolak fakta itu sekalipun itu tak bisa. jadi mari kita buat hidup baru didunia ini, jangan terus memikirkan nasib orang lain. Karena sekarang nasibku tak ada jaminan.


Baik sekarang kita buat planing baru, apa masih tetap merubah takdir atau menjadi penyimak saja?


“ Nona apa butuh bantuan?”


Glory melirik suster yang dari tadi beberapa kali masuk kedalam ruangan ku, terlihat membawa bubur cair itu. aku berdecap sejenak karena malas, menatap lain arah dan menatap dingin semua yang ada.


Perawat itu tersenyum.”Mari makan dulu nona, saya bantu untuk menyuapi anda.” Ujar pelayan itu duduk di sisiku.


Aku menatapnya dan menggeleng.” Tidak perlu, aku boleh meminjam hanphone milikmu?”Tanya Aku terus terang, tak mau banyak basa-basi, aku sangat membutuhkan benda pipi itu untuk menghubungi ayahku. Yah sudah ku katakana kan aku akan melakukan sesuatu yang menjamin hidupku, jika begini terus maka aku akan kehilangan jaminan umur. lagi pula sepertinya Aksa tidak mau aku bantu?


“Terimakasih.”Ujar ku pada perawat, perawat perempuan itu tersenyum menerima Hpnya. Aku diam meliriknya yang terus berusaha menyuapiku makan, makanan ini sangat-sangat tidak enak, seperti makanan bayi.. akh tepatnya makanan bayi jauh lebih enak dibandingkan makanan ini.


...----------------...


Bugh... Dava menendang pintu kuat, meremas kepalanya keras merasa marah, sedih saat mengetahui informasi jika sosok gadis menarik perhatiannya hilang, tak jauh darinya Aruna memilin ujung bajunya gugup, tak tau mau apa, sudah dua hari ini Dava menghancurkan semua bagian rumahnya tanpa alasan.


“ Sialan....”

__ADS_1


Dava duduk di kursi mengusap kepalanya lelah, dua hari tak tidur mencari dimana gadis itu hilang, padahal dia sudah satu minggu menghilangkan diri dari gadis itu, dan berfikir jika gadis itu tak berpengaruh apapun pada dirinya, tapi lihat sekarang? hatinya tiba-tina merasa gundah, sedih dan khawatir secara berlebihan, tidur tak lagi nyenyak, makan terasa sulit.


“Diamana dia.. jika aku bertemu dengannya nanti akan ku pastikan dia mati supaya tak membuatku seperti ini.”Bisik Dava mengerang marah. Tak senang hidup tenang di usik begini.


Aruna yang drai tadi berdiri tak jauh dari sana mendekati Dava pelan mencoba mengintip menatap mimic wajah dava. “ Emm.. kam-kamu ba-baik saja?”Tanya Aruna gugup. Aruna sudah tiga hari ini di apartemen milik Dava, hendak pulang tapi terlalu takut bertemu kepada ayah dan ibunya yang gila.


Apalagi sudah tiga hari ini jadi pelampiasan amarah Dava yang entah karena apa, Aruna dikurung untuk menjadi pelampiasan saja.... Aruna hanya diam dan menerima sebab tak tau pulang kemana.


Biasanya ada Aksa sebagai tameng nya, tapi sekarang bahkan Aksa hampir gila.


Dava melirik Aruna sebentar. Aruna sosok gadis yang menarik perhatiannya dulu terlihat gugup, gadis yang sudah ia rusak dan sudah ia gamah secara tak manusiawi, katakana dirinya b4jingan ia tak peduli, sebab dilahirkan drai b4jingan memang membuat bibit b4jingan juga kan?


Dava mendektai Aruna, meletakkan tangan kananya kepipi Aruna, menangkupnya keras. Aruna tersentak menatap Dava takut. Dava menekannya keras. Hendak berteriak’ gara-gara kau sialan gadis ku hilang’ tapi suara itu tercekat.


“Shh sakit Dava. Akh maaf kan aku akh maafkan aku.” Aruna gemetar menahan tubuhnya. takut Dava melakukan kekerasan pisik padanya lagi.


Prak.. akh Aruna berteriak merasakan kepalanya dibenturkan di meja. Aruna terpekik nyaring merasakan sakit. Dava menarik rambutnya kencang dan beralih mencekiknya kuat.”Wanita si4lan kau..!” Decih Dava kuat. Aruna tak bisa bernafas, tenggorokannya terasa perih dan sesak,


Melirik Dava terlihat sangat marah padanya. ‘ apa salahku’ itu selalu saja ia tanyakan pada dirinya, mengapa Dava terlalu jahat padanya.


Brak.. Dava melepaskan cekikannya melihat wajah Aruna yang sudah pucat, melemparnya hingga tubuh ringkih menabrak dinding. Dava berteriak lagi menendang kursi. Emosinya tak stabil.

__ADS_1


Aruna gemetar dalam diam menatap Dava yang menggila lagi, tubuhnya terasa remuk redam merasa sesak didada. sampai kapan penderitaan ini berakhir?


__ADS_2