Transmigrasi Twins Antagonist

Transmigrasi Twins Antagonist
38


__ADS_3

Glory bangun dengan wajah yang bisa dibilang tidak baik, matanya bengkak akibat menangis. Glory bukan sosok yang kuat, bisa menangis hanya saja ia jarang menangis didepan orang lain, jika menangis itu artinya memang tidak bisa ditahan.


Glory bukan sosok tomboy yang seperti laki-laki atau soso dingin. ia sosok biasa saja yang bisa menangis, sakit hati dan juga marah.


Glory mengusap wajahnya yang memerah, mata bengkak, Glory menguap Karena masih mengantuk, semalam dirinya susah tidur sampai jam 2 malam baru bisa tidur.


Glory bersiap mandi, bersiap kesekolah hari ini. tak lupa dirinya menggunakan cedai rambut dengan asal menutupi keningnya yang luka dengan poni, menggunakan soflen berwarna coklat. memolesi kulitnya yang putih menjadi toun lebih gelap. Meksi begitu kulitnya tetap saja masih putih dan pucat. Menggunakan suncren dan lipstick natural.


Glory pergi ke sekolah lebih awal hari ini. untuk menghindari bertemu dengan Aksa. Beda dengan Glory, Aksa semakin ketar ketir saat tau Glory sudah pergi lebih awal hari ini meninggalkan dirinya.


“Na..!!!” Teriak dari belakang. Glory berhentiberbalik menatap sang pelaku. Pelau tersenyum lebar kepadanya, mendekati Glory santai mengusap kepala Glory tetapi Glory sudah mundur lebih dulu membuat sang empu canggung.


”Mata loe kenapa? Habis nangis yah?”Tanya Dimas khawatir menatap mata Glory yang sembab.


Glory melirik Dimas tak minat. Menggeleng melangkah. " Nggak.."


”Na siapa yang bikin loe nangis? Bilang sama gue biar gue ancurin tu orang..!!!!” Tegas Dimas menahan Glory dingin.


Glorry melirik Dimas tak minat.” Gue lagi nggak mood bahas ini. lagian loe pasti sudah tau ini karena siapa..!” Tegas Glory memilih pergi meninggalkan Dimas.


Semakin berhubungan dengan para tokoh Glory merasa hidupnya semakin tidak tenang.


Dimas menatap Glory menjauh dalam diam, tangannya terkepal lalu berbalik melawan arah dari Glory, tapi saat berbalik wajahnya kembali ramah daams sekejap mata, melangkah bagai tak ada beban. Yah Dimas manusia yang memiliki seribu wajah dalam beberapa detik saja.


Glory menaruh tas diatas meja mengusap hidung memerah. Menguap pelan memilih tidur diatas meja. “Woy baru sampek dah mau molor aja loe..!!” Tegur Nanda yang baru sampai, duduk di samping Glory. Nando terlihat menyusul dibelakang Nanda.


Glory melirik Nanda sejenak lalu memilih tidur saja, Nanda melirik Glory heran, terlihat Glory memiliki banyak masalah. Mata Glory tertutup tapi percayalah jika kepalanya saat ini memiliki banyak pikiran yang rumit dan bercabang.


Merangkai semua tujuan dan pilihan kedepan, meninggalkan Aksa atau tetap melindunginya. Melindungi Glora atau tetap diposisinya. Melindungi Aruna atau tidak, sebab dirinya semakin lama semakin tidak memilih Aruna yang diluar akalnya. Aruna terlalu tidak bisa ditebak. Jauh dari novel yang dirinya ingat. Semua tokoh memiliki watak lain yang tak bisa diprediksi.


“Glory..!!! Glory hidung loe berdarah..!!!” Bahu Glory ditarik paksa oleh Nanda.

__ADS_1


Glory yang berfikir sampai hendak terlelap kaget membuka mata, tetapi kepalanya terasa berat dan tubuhnya terlalu lemah. Nanda yang melihat kaget segera menarik Tubuh oleng Glory.


“ Nana kenapa Nan?”Tanya Nando panik mendekat bersama anak kelas menggerumbunoi Nanda dan Glory.


Nanda menggeleng tak tau.”Tadi pas sampek dia keliatan pucet dan nggak baik-baik aja langsung tidur. Gue yang kepo mau nanya sama dia dan dia nggak jawab. Pas gue buka poni dia eh ternyata jidatnya luka dan berdarah.. gue mau nanya dong luka kenapa eh gue liat hidungnya udah darah semua—“ Ujar Nanda panic memegang bahu Gloy yang lemas. Glory pingsan.


“Bawa UKS woy jangan diem aja..!!” Teeriak Azka yang baru sampai melihat Glory. Nanda gemetar menggendong Glory menuju UKS.


Glory tak lagi sadarkan diri. Azka melirik Vani sebagai sekretaris.”Loe ikutin Nanda. Loe cewek bantuin dia...!! loe PMR kan..!!” tarik Azka cepat. Vani gadis dingin nan tomboy itu ditarik paksa. Vani sendiri yang ditarik kaget hanya ikut saja karena memang tugasnya sebagai PMR.


Nanda membaringkan tubuh Glory diatas brangkar. Meminta Vani untuk mengobati Glory.” Pannggil dokter cepet biar Glory ada yang atasin. Kalo nggak kita kerumah sakit aja..!!!” Tegas Nando nanar.


Vani mengangguk ragu.”Iya, soalnya dokter belum datang sampek sekarang tapi badan Glory dingin banget kayak es..!!” Gumamnya ikut khawatir.


Nnado dan Nanda kaget mendengarnya segera membopong Glorry menuju mobil Mereka bersama Vani dan Azka. Semua menatap dalam diam tak tau siapa yang dibawa oleh Nando. Jay baru datang menatap Nando yang berlari panik.


”Woy kenapa?!!”


Jay yang mendengar Nando mengerjab pelan.” Glory adik Aksa?” Tanyanya pelan memilih masuk cepat menyampaikan hal ini pada sang teman.


Tapi saat dijalan ia menabrak Glora. Ia terteghun menatap Glora yang terlihat lebam diwajahnya dan juga muka yang sembab. “Loe kenapa?” Tanya Jayy polos lagi.


Glora terlihat memalingkan wajah memilih pergi tanpa menjawab pertanyaan Jay.,


Jay menggarik kepala gatal.”Sialan berani-beraninya gue dua kali di abaikan hari ini.” Gumamnya tak senang.


Jay melangkah memasuki kelasnya, menaruh kasar tas miliknya diatas meja, mendekati Aksa yang duduk di samping Dava. Disana juga ada Dimas yang sedang memainkan HP miliknya.”Woy sob... gue liat adek loe digotong sama temen-temennya tadi kerumah sakit..!!!” Ujar Jay pada Aksa cepat.


Aksa mendengarnya menaikan satu alisnya .”Glory? loe ngomong sama gue?” Tanya Aksa heran.


Jay berdecap malas.”Cekkkkk, lah emang di sini siapa lagi yang punya adek selain loe?? Dia diibawa sama temen-remennya. Gue liat tadi jidatnya luka, sama hidungnya berdarah banyak gitu..”Ujar Jay mengingat keadaan Glory tadi, Aksa mendengar nya tak dapat mengendalikan kekagetan.

__ADS_1


Srek... kursi Dava bergeser cepat mendengar Jay. Dava menatap Jay dengan dingin.”Loe yakin?”Tanya Dava tak senang.


Jay melirik Dava kaget mengangguk ragu.”Yakinlah gue liat mukanya, Lah emang ada yang mirip Glory yah di sekolah ini?”Tanya Jay pelan melirik Aksa yang diam tak bergeming.”Loe abangnya nggak tau?”Tanya Jay pelan pada Aksa.


Aksa menggeserkan bangkunya mengambil tasnya gemetar, melangkah hendak pergi meninggal ketiga temannya. Dimas yang tadi main hp mematikan HP menatap Jay dan Aksa bergantian.


Saat Aksa melangkah kera baju belakangnya ditarik Dava dari belakang membuat Aksa kaget. Dava menarik kencang dan memukul wajah Aksa yang baru berbalik. “Loe apain Glory bangs4t?!!!!” Tanya Dava menggema dikelas. Semua teman kelas terdiam menatap Dava.


Aksa mundur menabrak kursi lain memegang pipinya. “ Dav..!!” Dimas menahan Dava yang hendak menyerang Aksa lagi. Dava tertahan menatap Aksa yang memegang hidung miliknya yang berdarah.


“Gue nggak ngapa-ngapain dia. !” Teriak Aksa bangkit menatap Dava..


Dava menatap Aksa mendengus hendak memukul Aksa tertahan oleh Dimas dan Jay. Aksa menghela nafas memilih pergi meninggalkan Dava dan teman-temannya. Aksa terlalu khawatir paa Glory. Aksa terlalu kalut sampai lupa bertanya mengapa Dava memukulnya begitu keras.


Di sisi lain Dava mengepalkan tangan.”Si4lan, kenapa rasanya gue gini pas tau dia sakit gara-gara Aksa. Padahalkan ini yang gue mau.”Batin Dava mengepalkan tangan.


Tangannya bergetar karena rasa amarah membelendung. Kepala Dava terasa pening saat kembali mengingat Glory.


“Loe nggak apa-apa Dav? Muka loe bonyok kenapa?”Tanya Jay yang melihat Dava duduk memijit pelipisnya.


Dava menatap Jay menggeleng. Dava mengambil atsnya dan berkata.”Kita kerumah sakit sekarang.,”


Jay mendengus.”oy mak gue bayar sekolah buat gue bayar Ilmu bukan buat jadi babu loe..!!!” Tapiitu teriakan dalam batin saja. Selebihnya Jay hanya mengangguk pasrah.


Hey Jay takut jatuh miskin jika membantah! bukan kalah mental..


.


.


.

__ADS_1


Hay guys hehe maaf yah baru UP. Mau up lagi? Tinggalkan jejak yah!


__ADS_2