Transmigrasi Twins Antagonist

Transmigrasi Twins Antagonist
Dimas


__ADS_3

Sedangkan yang sedang dipikirkan Glora sedang bedua di dalam uks dalam keadaan sunyi. Nanda yang dia penuh dengan pikirannya sedangkan Glora yang sedang mengobati luka nya sendiri di sebelah Nanda.


Glora terlihat sangat telaten membersihkan lukanyta, hidungnya merah ia plasterkan karena ada luka ditengah tulang, lalu sudut bibir biru dan setengah Wajahnya merah akibat bola yang menimpanya tadi. Jika begini Nanda semakin kasihan dan merasa bersalah sudah menyalahkan Glora tadi. Benar Glora sangat menyedihkan.


Tadi Nanda melihat semuanya, dimana Glory merekam dan memperhatikan semua permainan. Oke sekarang Nanda jadi bingung.


Kenapa Glory bisa tau peristiwa ini terjadi, Iya kenapa bisa glory memvideokan seakan akan sudah tau ini sudah terencana kan untuk dijalan kan.


Nanda melebar kan matanya. Bukankah ini mencurigakan?


...----------------...


Sepulang sekolah Glory berjalan menuju motornya, sore ini hujan, sangat deras membuat Glory sangat gugup dan juga takut, glory takut gelap semenjak kejadian menimpanya saat itu, dimana ia dirampok dan hampir dibunuh. Glory menghela nafas melepaskan rasa gugupnya. Ia tidak boleh lemah.


“Dor..”


Glory hampir berteriak karena seseorang mengangetkannya dari belakang. Dimas tergelak melihat wajah Glory yang ketakutan di hadapannya. Glory mendatarkan wajah menatap Dimas disana yang tertawa melihat wajah ketakutannya. Memang beda yah psikopat. Melihat orang ketakutan malah menjadi senang. Jantung Glory semakin maraton dibuat Dimas.


Dimas menghela nafas.”muka loe lucu banget pas ketakutan. Jadi gemes.” Ujar Dimas mengusap kepala Glory. Glory melirik Dimas tidak senang, dirinya dibilang menggemaskan saat ketakutan. Bukankah ia benar benar psikopat aneh.


Dimas yang ditatap begitu menghentikan tawanya.”Loe juga marah sama gue? maaf deh. Gue kan Cuma jail dikit.” Ujar dumas dengan polos. Polos minta di gampar.


Gloy mengibaskan tangannya menatap lain arah, kembali melanjutkan jalan menuju parkiran untuk menunggu hujan redah. Dimas yang di acuhkan mendekati Glory.” Glory gue nggak ada salah loh sama loe, tapi kenapa gue juga di jauhin? Jangan jauhin gue dong. Kitakan teman.” Ujar dimas mendekati dan mengikuti Glory seperti anak ayam mengikuti induknya.


Glory mendengus.” Udah Dimas, gue mau pulang, loe nggak mau pulang?”Tanya Glory kesal.


Dimas menatap Glory tersenyum lebar” jadi loe enggak marah sama gue kan??” Tanya Dimas tidak menanggapi pertanyaan Glory.


“Kalo gue marah kenapa dan kalo nggak kenapa?”Tanya Glory kepadanya.

__ADS_1


Dimas mengerjab polos.”yah kalo loe juga marah sama gue gue jadi sedih.” ujarDimnas sendu dna polos.


Glory mendelik, tau jika lelaki di hadapannya ini adalah penjahat ulung. Wajahnya tidak bisa dipercaya. Glory menggeleng sejenak. “yaudah.” Gumam Glpory memilih menjauh. Tidak ada alasan untuk membencinya.


Dimas tersenyum miring menatap Glory menjauh. Glory duduk di salah satu halte yang cukup sepi dekat parkiran sekolah, sebab rata rata anak disini menggunakan mobil atau dijemput, jadi hahya beberapa siswa yang bawa motor, itupun rata rata lelaki semua, hanya satu atau dua perempuan saja.


Mereka kawananan anak jalanan atau geng motor. Dimas duduk di sebela Glory.


Glory kesal.”loe ngapain duduk deket gue? mending jauh jauh deh.”ketus Glory kesal.,


“Loe tu imut nggak boleh marah marah, soalnya kalo marah marah jadi tambah imut. Kan jadinya pengen gue karungin, atau gue kurung dikamar.” Ujat dimas terkekeh,.


Perkataan Dimas itu manis bagi siapa yang mendengarkannya tapi tidak di telinganya Glory. Andai yang bicara Regan, Aksa atau bisa jadi Dika yang bicara maka Glory mungkin akan biasa saja. Tapi ini Dinas. Lelaki yang berbahaya di dalam novel.


Ucapan Dimas seperti peringatam di otaknya. Perkataan dimas itu adalah kenyataan bukan kiasan. Bisa jadi dimas itu mengincar dirinya untuk ia koleksi. dimulai dari tangan, bola mata atau bahkan kakinya.


Glory merinding mengingat itu semua. Yatuhan Dimas mengapa kamu sangat mengerikan.


Glory tersentak. Mengerjabkan matanya, menatap dimas yang juga menatap bola matanya berbinar. Psikopat gila.


” Bola mata loe juga bagus. Tapi kalo gue congkel gimana? Soalnya gue nggak suka di tatap kayak gitu, bikin gue mau mukul kepala loe.” Ujar Glory menekan kata katanya. Glory pin menekan dirinya agar tidak terlihat takut.


Dimas terbahak mendengarnya, padahal ucapan Glory tidak ada yang lucu, Glory semakin tidak nyaman di buat oleh Dimas.” Glory bisa saja. Kan aku jadi takut loh ." ujar dimas dengan takut di buat buat. Lalu terkikik lagi.


Glory diam mengerjab pelan, disini sudah sepi dan hanya ada ia dan Dimas, dirinya jadi takut dan berfikir buruk. Glory menghela nafasnya dan menatap sekitar dimana paling ramai, disana, ada sekelompok lelaki yang tidak ia kenal.


Glory tersenyum.” Renal..” Glory memanggil dengan keras ditengah hujan, tidak ada yang mendengar karena memang itu ada di seberang.


Dimas melirik ke mana arah Glory melambai tangan dan memanggil. Alisnya naik satu dan mengerjab menatap Glory. Glory tersenyum dan bangkit.” Sorry gue mau ke tempat temen kelas gue dulu yah.” ujar Glory cepat.

__ADS_1


Glory tak banyak bicara atau melihat mimic wajah dimas. Ia menerobos hujan yang cukup deras agar bisa ke halte seberang. Tidak ia pikirkan ia basah, yang ia pikirkan menjauh dari wanita gila ini. sedangkan Dimas yang ditinggal tersenyum menyeringai.” Lucu yah. kayak kucing ketakutaan. Dia takut kan ?”Tanyanya Dimas heran dan juga gemas. Heran mengapa Glory bergetar ketakutan begitu padanya padahal ia selalu bersikap baik pada Glory.


Sedangkan Glory menghela nafas menghilangkan rasa cemas pada dirinya mendekati gerombolan lelaki yang tidak ia kenal sama sekali, disini hanya ada satu perempuan tomboi yang. Ini namanya nekat, tubuh Glory basah sampai disana. mereka menatap Glory kaget sebab Glory berlari sampai ditengah mereka, mereka menatap Glory bingung sekaligus kagum.


Glory menatap mereka gugup.” Gue gabung yah.” biskk Glory melirik kebelakang.


Takut dimas menatapnya, ternyata benar dimas menatap arah sini. Glotry sangat takut,


Mereka mengangguk.” Sini. Loe basah tu.” Ujarnya menyuruh Glory duduk di tempatnya dna ia memilih berdiri.


Glory mengangguk dan mengusap tubuhnya yang basah, untung ia pakek hodie kebanggaan nya. Glory duduk tidak tenang dan cemas. Wajahnya sangat pucat akibatnya.” Loe kenapa?kayak dikejar penjahat tau nggak?”Tanya lelaki di samping Glory.


Gloy melirik ke arahnya. Glory tidak kenal dia siapa tapi dia sangat keren dengan rambut yang dikucir kebelakang dan ada helaian rambut yang keluar dna menjuntai. Tampan dan juga col. Glory menggeleng.” Gue takut hujan dan gelap. Soalnya gue pernah hampir mati karena gelap.” Jawab Glory.


Mereka menatap Glory paham dan kasihan.” nih jaket pakek, jaket loe basah. Nanti loe sakit. Gue pesenein taksi aja yah,. hari udah mau malem nanti loe dicariin sama orang tua loe. Loe bawa kendraan ngak?”Tanya lagi lelaki yang memberi tempat duduk tadi.


Glory menatap namanya. Hendri, lelaki berkulit hitam tapi sangat tinggi bicara padanya. Glory menggeleng.” Tadii gue udah nelpon supir, katanya masih dijalan, kasihan kalo dia sampek gue udah pulang. Btw nggak usah jaket gue ga nembus ko basahnya.” Ujar Glory sopan.


" Loe yakin dalamnya ga nembus???" Tanya lagi oleh salah satu dari mereka.


Glory berdehem melirik perempuan tomboi yang hanya diam menatapnya tajam sejak tadi. Glory jadi tidak enak dan memaksa tersenyum.


Mereka mengangguk paham dan menatap Glory kasihan. glory terlihat sangat cemas dan juga takut.,. lelaki di sebelahnya menatap Glory tidak nyaman.ia mengusap bahu Glory pelan dan juga kepala Glory. Glory mendongak menatap llaki tersebut. Ia menatap nama lelaki itu. ia bernama azam, azam tersenyumlah tipis.” Biar rileks, santai aja kita jagain loe kok.” Ujarnya menenangkan. Glory mengangguk sendu.


" Makasih yah. kalian baik banget. " Ujarnya dengan nanar. Nyaman glory rasakan. Sedangkan azam masih melakukan tugasnya menenangkan Glory.


Salah satu dari mereka menghidupkan flasnya dna berkata.” Udah terang nih jangan takut lagi. kalo takut nanti kita tinggalin.”


“nih gue juga hidupin senter.” Sahut yang lain, diikuti yang lain. Glory jadi tergelak melihat mereka yang malah menyenterinya. Mereka pun ikut terkekeh melihat Glory yang sudah sedikit tenang. Ha padahal wajah mereka itu brandalan tulen, ternyata baik baik yah.

__ADS_1


ternyata dirinya salah besar, Glory melirik lagi dimana Dimas tadi berada. Disana ia masih ada, sedang duduk dan menatapnya terus menerus yang dibatasi oleh hujan badai. Glory bisa lihat ia sedang memainkan cutter. Glory semakin merinding takut.


__ADS_2