Transmigrasi Twins Antagonist

Transmigrasi Twins Antagonist
Kenyataan


__ADS_3

Glory pagi ini melangkah dengan santai memasuki rumah milik Regan, saat mengetok pintu ia bertemu dengan Komala yang sedang menyapu rumah. Ia pulang pagi pagi seusai ia bermalam di apartemen bersama kedua orang tuanya semalam.


saat masuk rumah masih sepi, tak ada Panji. ia segera memasuki kamarnya dan mengenakan baju sekolah. Hari ini ia harus sekolah. Ia sudah mandi di apartemen milik keluarga nya tadi. ia lupa bawa baju ganti jadi ia harus pulang sebelum ke sekolah.


Saat turun ia sudah melihat Regan, Panji yang sudah sarapan bersama. Regan yang duduk dengan nasi goreng menggunung dan susu putih sedangkan Panji yang sarapan dengan kopi dan juga roti.


" Morning semua..." Glory datang mengecup pipi Panji dan juga Komala yang baru datang membawa susu untuk Glory.


Regan melotot melihat Glory sudah pulang. " Heyyyy kau pulang juga ternyata, ku pikir kau tak akan kembali lagi..." Ujarnya sinis.


Glory duduk di depannya di samping Komala, " Iya kau lama sekali pulangnya, kau tau Regan marah sekali kau pergi tanpa pamit kepadanya." Ujar Panji terkekeh geli mengingat bagaimana Regan berwajah masam saat tau jika Glory pergi ke keluarga angkatnya.


Glory mengambil nasi goreng melirik Regan mendelik. " Kau merindukanku kah?" Tanyanya sedikit menggoda.


" Mimpimu ketinggian. Bangun wahai anak manusia!!!!' Ketus Regan sembari mengunyah.


Tatapan Glory jadi berpusat di tangan Regan yang memegang sendok. " Tanganmu kenapa diperban???"


Regan melirik Glory malas. " Ini gaya bukan perban. Dasar idiot...!!!"


Glory melotot. " Kan cuma nanya, dasar macam bencong." Ketus Glory.


" Hey kau. Mulut mu mau ku tak hi hi deh..." pekik Regan tak senang.


Glory mendengus. Regan menatap Glory yang tidak lagi menjawab menghela nafas. tangannya terluka karena memukul Dava. Tapi ia Malu mengakuinya.


Komala dan Panji terbahak mendengar apa yang di ucapkan oleh putranya. Sangat berbanding dengan apa yang ia katakan. Regan bahkan sempat mengutuk orang tua angkat Glory yang menahan Glory selama dua hari.


" Kau menyebalkan sekali Glory!!!" Maki Regan saat Glory menambah kalah nasi di piringnya.


" Menyebalkan tapi di cari selama dua hari ini!!!" Celetuk Komala santai sembari menikmati teh miliknya. Matanya menggerling melirik anaknya menggoda.

__ADS_1


" Mana ada. Umi mengada Ngada ih..." Tekan Regan tak senang.


" Iya kah Tante? " Tanya Glory menggoda melirik Regan yang gugup.


" Jika rindu bilang saja. aku memang begitu orangnya hehe..." Ujar Glory sok malu malu.


Regan menatap Glory geli. " Najis...."


Glory melunturkan senyum Malu-malu nya dan melemparkan Regan dengan kerupuk. " Jahat banget sih. " Gumamnya pelan.


Panji terkekeh pelan melihat keduanya berkelahi. " Udah udah. sarapan cepet nanti kian telah loh." Ujar Komala tenang kepada kedua anak yang ribut terus.


Glory berdehem malas makan makanannya damai, Regan terlihat makan acuh tak acuh Juga, berdiri saat Glory usai makan. " Bun, BI Regan mau pergi berangkat yah. " Ia mengalami tangan Panji dan Komala.


Panji hanya berdehem dan Komala yang memeluknya. Glory masih menyantap makannya kaget saat Regan menarik tas miliknya yang ia kenakan di punggung. " Yok cepet nanti telat kita..."


" Woy apa-apaan nih? gue pergi sendiri aja nanti. Masih mau makan ini laper...." Pekik Glory mundur memberontak tak terim.


Regan abai. ia malah berkata " Diam kelinci kecil.... Loe nyusahin tau nggak, kalo telat bakal jual nama gue ke guru agar loe nggak di hukum." Bisik Regan. Glory berdecak malas bersedekah Dafa membiarkan Regan menarik belakang bajunya agar terseret. malas ia berjalan.


Komala dan Panji terkekeh pelan melihat hal itu. Panji pun menggeleng " Andai yah pa rahim mama nggak di angkat karena masalah. Pasti rumah nggak bakal rame kayak gini trus sebelum glory Dateng " Ujar Komala masam.


Panji menggeleng " Ada kamu dan Regan di sini adalah anugrah terindah bagi aku. Nggak butuh apapun lagi selain kami... Dan sekarang ada Glory membuat aku semakin bertambah bersyukur. Terimakasih sudah hadir dalam hidupku Komala." Panji memeluk istrinya yang hendak menangis.


benar, dulu saat Komala melahirkan Regan,ia terinfeksi di bagian rahimnya seusai satu Minggu menjalankan persalinan. Saat itu katanya ada jamur mengerikan di rahimnya yang jika tidak di angkat bisa mengakibatkan ia kena kanker rahim. Mau tak mau ia harus mengangkat rahimnya dan juga merelakan gak bisa punya anak lagi.


Padahal dulu ia berencana punya anak minimal 3, tapi Tuhan berkehendak lain.


....


" Gue liat liat udah lama Dika nggak ketemu sama kita, trakhir pas nganter gue. dia sibuk banget yah???" Glory memeluk Regan sembari menaruh kepala di bagian pundak nya. mereka menaiki motor Scoopy Regan ke sekolah.

__ADS_1


Regan menoleh Melirik sepoin agar bisa melihat wajah Glory. Ia mengangguk. " Dia sibuk cari duit buat bayar SPP. Sebentar lagi bakal ujian Na, jadi SPP yang menunggak harus bayar kalo nggak, nggak dapat kartu ujian dan nggak bisa ikut ujian." Jawab Regan berteriak.


Glory mengangguk paham. " Tapikan dia orang kaya. ngapain nyari duit lagi..." Jawab Glory heran.


" Mana ada dia kaya. Kaya si cuma ya itu orang tua dua nggak ngasih duit setau gue yah. Dia tu harus kerja keras buat sekolah Na..."


Tapi bukannya kemarin ia bahkan dengan mudah kasih dia cafe cuma cuma sebagai persembahan barter foto. Kenapa rasanya Glory resah yah. karena kemaren kan Fika hilang selama beberapa Minggu buat dapetin cafe itu.


berselang beberapa menit mereka sampai di sekolah, Regan memarkir kan motornya dk sebelah kanan tempat motor biasa. Glory turun memberikan helm Doraemon yang ia punya pada Regan.


Saat memasuki sekolah hendak ke kelas ia mendapatkan Aksa yang berdiri di depannya. Glory menoleh pada sisi Aksa ada Dava juga. tapi kenapa wajah Dava terlihat mengerikan? Bagaimana tidak. wajah tampannya memiliki banyak lebam di beberapa bagian.


" Na kita butuh bicara berdua." Ujar Aksa kepada Glory pelan. Wajahnya terlihat tidak baik-baik saja. Kantung mata mengendur dan juga hitam.


Belum Glory menjawab bel pun hidup. Glory merasa bahunya di tepuk. Ia menoleh melihat Regan yang menatap mereka semua tersenyum. " Nanti aja yah. udah bel, nanti kena omel pak Goboks."


Pak Goboks adalah guru yang katanya bisa membaca fikiran orang lain. Lebih parahnya lagi ia juga sering di sebut guru paling mengerihkan, matanya yang tajam itu selalu melototi siswa.


Aksa diam enggan untuk menyetujui tapi kenyataannya memang begitu. Glory mengangguk sejenak. " Boleh. Nanti pulang saja aku tunggu di cafe depan yah." Jawabnya pelan.


Aksa mengangguk. " Janji???"


Glory mengedikkan bahu acuh menarik Regan pergi. Tatapan Regan terkunci dengan Dava yang dari tadi menatapnya datar. Regan tau jika di mata itu ada dendam.


Aksa ditinggal menatap adiknya dengan sedih x adiknya menjauhinya... Aksa menghela nafaa menenangkan dadanya yang menyesakkan. Bahunya di usap.


Aksa menoleh menatap sang pelaku ada Aruna yang mengusap bahunya, pipi Aruna terlihat menghitam dengan pipi yang bengkak. " Jangan sedih, Aku akan bantu menjelaskan kepada Glory nanti agar dia tak lagi marah padamu." Ujarnya sendu.


Aksa mengangguk. Tapi ia kepo menatap luka Aruna. " Pipimu? apakah ayah dan ibumu kbali berulah lagi??" Tanyanya pelan. Merasa kasihan.


Aruna diam menggeleng. Tersenyum sejenak. Semenjak Aksa jauh darinya, ia sudah tak punya pelindung.... bahkan sekalipun ia memiliki Dava.

__ADS_1


__ADS_2