
Kejadian tadi menimbulkan banyak pertanyaan oleh orang-orang, sebab Dika sangat jarang, bahkan tidak pernah dekat dengan perempuan di sekolah ini. tetapi terlihat sudah kenal lama dengan Glory sebagai anak baru.
Sosok yang di bicarakan hanya berjalan menuju parkiran, sebab ia akan pulang bersama Aksa. Keadaan sangat sepi, beberapa siswi yang masih ada itu karena menunggu jemputan, angkot ada juga yang Karena ekskul.
Sampai di parkiran Glory melirik motor sang abang masih ada memilih duduk, klarena Aksa masih belum terlihat ia membuka HPnya melihat apa yang bisa mengusir bosannya beserta mengirimkan pesan pada Aksa, tiga puluh menit menunggu membuat ia kesal.
Ia berbalik menatap ke lobi, dan tepat disana ada abangnya yang menggandeng seseorang yang ia kenal.. Ia diam menatap abangnya dengan tatapan tajam dan tak senang.
Aksa diam menggandeng sosok di sampingnya yang terlihat lemah dan juga berantakan.
Glory diam menatap sang kakak mendekatinya. “ Aru kenapa bang?” Tanya Glory heran.
Tubuhnya basah kuyup tertutup jaket Aksa. Glory mengernyit mencium bau busuk dari Aru.
Hueek.. ia berbalik hendak muntah, ia menjauh menatap Aru dalam pandangan beda.
Aksa menatap Glory.” Dek abang antar Aru duluan yah, kamu naik bus saja..”Ia meronggo saku di celananya memberikan uang dua lembar berwarna biru.”Sisanya buat kamu jajan..” Ia membawa Aru yang terlihat lemas duduk di jok motor belakang.
Glory diam menatap tangannya yang diberi dua lembar uang. Lalu menatap Aksa yang pergi membawa Aruna. Aruna menatapnya sayu dan sendu. “Bang.. tap- tapi bang. "
“Duh Na, abang harus pergi. Lihat Aruna dia udah lemes banget ini, abang duluan..”
Glory diam menatap abangnya menjauh sulit di artikan. “Tapi ini udah mau malem bang, bus mana ada lagi jam segini.” Gumamnya lirih menatap uamg ditangannya sendu.
Ia memegang tali ransel nya menatap sekeliling yang sudah sangat sepi. Memilih berjalan keluar parkiran dengan perasaan sedikit sakit. Ia menggeleng. Akh mungkin Aru memang lebih membutuhkan saat ini.
Ia membuka aplikasi Gocar, duduk di halte bus, saat hendak memesan hpnya terlihat mati, ia memejamkan mata hendak melemparkan HP, ia tadi pagi mengcarger HP, tetapi ternyata charger nya tidak ia colok.. Ia diam menenangkan diri mendongak menatap tukang mie ayam didepan sekolah.
“Tapi kalo makan nanti nggak ada taksi lagi, mana makin malem.”Gumam Glory. Glory menghela nafas melirik kesana mengusap perutnya, ia diam menatap malam semakin larut sampai turun hujan, ia diam menatap hujan semakin deras, percikan hujan membasahi bajunya, ia menyingkir mencari tempat paling aman supaya tak basah. Ia diam menghela nafas semakin sulit untuk ia pulang jika begini.
Ia mengeratkan pegangan di tasnya, beberapa siswa dan siswi bermotor keluar membuat Glory mendongak, itu pasti anak osis atau anak ekskul. Ia hendak minta tolong tapi ia tak kenal. Glory diam ditempat menatap jalanan yang basah nanar, menatap jam tangan sudah menunjukan pukul 9 malam. Ia memilih berjalan menuju jalan besar didepan, berjalan saja sebab hujan sudah mulai rendah
Jarak rumah kesekolah cukup jauh, memakan waktu 20menit jika naik motor, jika jalan kaki? Ia harus menghabiskan waktu berapa jam? Dijalan Glory mengusap pipinya yang mendadak basah akibat lelah, tubuhnya lemah semakin memucat gemetar, ia memilih duduk dipinggir jalan menangis memeluk tubuhnya.
“Mau pulang hiks.”Gumamnya lirih.
“Na..!!!”
__ADS_1
Glory yang menangis mendongak, ia mnatap motor merah Scoopy didepannya beserta lelaki yang ia kenal menggunakan helm tanpa kaca. Ia segera berdiri memeluk lelaki tersebut menangis memeluknya. Lelaki tersbeut kaget mendapatkan Glorry memeluknya.
“Na loe nggak apa-apa Na?” Tanyanya. Glory menangis kembali menatap lelaki tersebut.
“Nanda anterin Nana pulang.”Gumam Glory llirih masih menjatuhkan air matanya.
Nanda yang melihatnya pun menjadi iba. “Muka loe pucet banget Na. loe udah makan?”Tanya Nanda mengusap pipi Glory.
Glory menggeleng.”belum, Nana kedinginan. tadi hujan nggak ada taksi.” Ujar Glory mengadu. Hidungnya memerah pipinya ikut memerah, itu membuat Nanda menatapnya sangat khawatir.
" Aksa mana Nak? kenapa belum pulang Sampek Sekarang???" Tanya nya lirih. Tapi Glory hanya diam yak menjawab. Nanda menghela nafas pelan.
Nanda membuka baju yang ia kenakan menampilkan kaos oblong berwarna putih saja. Ia memakaikan ditubuh Glory.”Na pakekk ini biar ngggak dingin."
Glory menatap baju kota-kotak Itu mengangguk,”Nanti Nanda sakit. Kan dingin.” Ujar Glory.
Nanda menggeleng mengusap kepala Glory, melepaskan kuciran rambutnya supaya hangat, ia memeluk Glory merasa cemas.”Na ayok kita cari makan dulu yok. Nanti loe sakit.”Ujarnya lirih. Glory mengangguk menaiki motor Nanda.
Setelahnya Nanda membawa Glory makan terlebih dahulu di restoran terdekat.. Beberapa kali Glory merasakan kepalanya sakit dan Nanda terus menepuk kepalanya menyadarkannya. Beberapa kali mimisan dan Nanda dengan telaten membantunya membersihkannya. Nanda bahkan hampir menangis melihat Glory sampai didepan rumah Glory ia tak menemukan Aksa.
Aksa tak ada di rumah, Syukurlah. Jika ada sudah pasti habis wajah Aksa dipukul oleh Nanda malam ini.
Pagi ini Glory bangun dalam keadaan kepala terasa berat, ia diam mengingat semalam, ia kecewa kepada kakaknya tak mencarinya atau bahkan mementingkan perempuan lain. Glory kapok , ia menghela nafas memilih meminum obat pereda nyeri dan sakit. Mencarger Hpnya beberapa kali mengeceknya. Baru mandi.
Sesudah mandi ia bersiap mengenakan jaket hitam oversize., jaga-jaga supaya jika ditinggal ia tak kedinginan, ia mengambil topi juga dan memakainya, melangkah keluar menuju kedepan, tepat saat ada Aksa yang menyiapan roti untuknya. Saat Glory turun mata Aksa menatap Glory dan tersenyum.”Makan Na..” Ujar Aksa pada Glory seperti biasa,
Glory menggeleng masih tak ingin melihat kakaknya. Melangkah pergi meninggalkan rumah. Aksa melihat adiknya tak seperti biasa diam mengernyitkan dahinya. Lalu mengedikkan bahunya, entah siapa tau kan adiknya sedang bad mood saja.. ia memilih menaruh makanan didalam kotak bekal untuk ia beri pada Aruna saja nanti. Pasti gadis itu belum makan karena tidak ada beras dirumahnya.
...----------------...
Glory berjalan menyusuri jalan menuju kelasnya di lantai dua, ia memilih menaiki bus tadi saat berangkat. Di jalan ia bertemu dengan Aru bersama dengan Dava yang di sisinya terlihat baru sampai. Ia menghela nafas entah kenapa rasanya ia kurang suka. “ Nana..” senyum Aruna terlihat sangat lebar, sampai ke telinga.
Glorry mengernyit menatapnya mengangguk. Di sisi Aru yang tersenyum ada Dava yang menatapnya dingin.
“ Nana makasih yah udah biarin aku pulang bareng Aksa semalam, aku habis dibully soalnya sama Glora sama temen-temennya. Semalam aku demam mangkanya Aksa nggak pulang, dia nemenin aku.” Ujar Aru pelan meremas ujung bajunya.
Glory menatapnya mengangguk pelan, baru tau kenapa abangnya tidak mencarinya atau mengetahui dirinya pulang larut semalam. Ia membasahi bibirnya pelan menenangkan diri.” Yah.” Jawabnya singkat, memilih melangkah meninggalkan dua tokoh utama. Ia malas terlibat.
__ADS_1
“Nana udah makan? Aru udah masakin buat Nana.” Glory kembali melirik Aru yang melangkah di sisinya sembari mengambil kotak nasi.
Namun Pluk.. Glory diam melirik kotak yang terjatuh beserta isi yang bercerai akibat Aru yang tak sengaja menjatuhkannya.
Aru terlihat syok “Yaampun jatuh.” Gumamnya berjongkok mengambil kotak nasi yang berisikan nasi goreng dengan telor dadar diatasnya.
Glory menatapnya diam. Tak berselang ia merasa Dava menatapnya tajam.” Lain kali hargain orang yang mau ngasih makanan.” Ujarnya berjongkok menarik tangan Aru yang hendak mengambil kotak makan.
Glory menaikan satu alisnya. Ia perasaan hanya diam saja, kenapa disalahkan?
“Loh Na ada apa nih?” Berselang beberapa saat Aksa datang menatap semua yang disana mnatap Glory minta penjelasan.
“Adik loe dikasih makanan sama Aru eh malah lanjut jalan sampek makanannya jatuh.” Ujar Dava melirik Glory. Aruna menatap Dava hendak bicara.
“Beneran Na?” tapi Aksa sudah terlanjur memotong menatap adiknya.
Glory diam menatap abangnya dan semua yang ada disana bergantian. “ Salah gue?”
Aksa menatap adiknya tak terima.” Loe siapa yang ngajarin nggak bertatakrama gitu?? Minta maaf sekarang..!!!” Aksa menatap Glory tegas.
“Kak ini bukan salah Nana, salah Aru yang tadi nggak sengaja ngejatuhinnya sendiri.” Aru menahan lengan Aksa.
“Ini bukan masalah makanya Ru.” Aksa melirik Gloty menahan tangan Aru yang memegang tangannya. “Tapi ini masalah tatakrama,. Dia salah seharusnya dia bisa menghargai loe, kenapa nerima aja, tunggu aja atau ngggak tolak aja sekalian.. kami nggak ada ngajar dia kurang ajar dan sombong kayak gitu.” Lanjut Aksa menaiki satu okta nada suaranya.
Glory mengerjab pelan menatap Aksa, ia merapatkan topinya merasa sakit. Pertama kali dibentak oleh abangnya, ia maju selangkah menaruh telunjuknya tepat di dada kiri Aksa membuat Aksa diam.
”Dan sejak kapan abang bisa bentak Nana??” Tanya Glory sinis menatap abangnya kecewa. Seusai berkata seperti itu ia mundur pergi dari sana.
Aksa menatap Glory kaget, apalagi tatapan kecewa adiknya, ia baru sadar. Ia terdiam sesaat merasa dadanya sakit menatap bayang bayang Gloty kecewa.
” Na.. maksud abang bukan gitu..!!!” Ia berteriak tetapi Glory sudah menjauh dari sana tanpa melihat kebelakang.
Aksa diam ditempat merasa sulit dalam perasaannya. Sedangkan Dava? Ia tersenyum menyeringai dalam batinnya. Okeh kita lihat jika ia tidak bisa memiliki apa yang ia suka, maka biarkan ia hancur bukankah lebih baik??
.
.
__ADS_1
.
sepi banget ye....