
Glora berjalan terlatih dan juga lemas. Tubuh Glora sangat lemas seperti tidak bertulang, langkah pelan keluar dari ruangan kantor ayahnya, memegang tangan kiri yang sudah tidak bisa bergerak. Tangannya bengkak tidak lagi bisa di sentuh, ada kebiru biruan di sekeliling pergelangan tangannya.
Diperkirakan tangannya patah kali ini.
Para pelayan melihat Glora yang melangkah iba, tapi tidak ada yang berani membantu, Glora terlatih berjalan menyanggah tubuhnya sendiri. “ Nona..” glora mendongak menatap sosok yang sudah dua hari tidak terlihat. David. Glora bergetar, matanya berkaca kaca menatap David.
David disana menatap Glora dengan tatapan sendu dan juga hendak menangis. Glora mendekati David dan juga memeluknya erat.” Hiks hiks... paman.. sakit..” ia mengadu, mengadu merasakan sakit yang berlebihan.
David mendongak agar air matanya tidak jatuh, david memeluk Glora dan juga memejamkan matanya. bahu Glora bergetar karena menangis terisak, tidak tega. David tidak tega melihat Glora menangis begitu sakitnya. Air mata dan isakan Glora seperti menyayat hati David.
David mengendong Glora ala koala dan segera menaiki tangga, ia membawa Glora menuju kamarnya yang ada di sebela kamar Glory. Tapi langkah david terhenti sebab kamar Glory yang banyak orang, Glora pun menghentikan tangisannya dan menatap kearah pintu terbuka. Disana terlihat Glory yang tertidur dan Faris mengusap kepalanya sayang dan lembut.
Glora menggigit bibir bawahnya. Embun mata tidak tertahan, meskipun tidak terisak sakit yang ia rasakan tetap sama, sama sama menyakitkan dan juga melukai dirinya. Glora memejamkan mata dan mengeratkan pelukan pada David.
Dirinya terluka dan itu karena mereka., tapi mereka tidak merasa bersalah sama sekali, bahkan mereka menjadikan dirinya manusia tidka berhati. Tapi lihat? Kembarannya yang tertidur di sayang dan di tenangkan. Glora merasa sesak. Glora merasa skait. Sakit batin dan juga fisik.
David segera pergi dari sana karena tidka tega melihat Glora menangis, lebih dari tadi, sekarang ia menangis dalam diam, air matanya jatuh dan bahunya bergetar. Tapi isakannya tidak terdengar. David tau ini sangat skait,. Tangisan ini sulit di tahan.
David melirik glory ang sakit lagi. ada rasa khawatir di hatinya. “ paman jika mau lihat glory nggak apa apa kok. Biar Glora masuk kamar sendiri.” Ujar Glora paham. Glora memejamkan mata dan mengepalkan tanganya di pundak david.
David menggeleng dan segera membawa Glora ke kamarnya, menyangkal rasa khawatirnya pada Glory. Glora menghela nafas menatap david yang memasuki kamarnya dan menduduki dirinya di atas kasur. Glora bisa lihat jika dabid tidka focus. Ia terlihat linglung menatap Glora glora tersenyum masam menatap David yang terlihat khawatir.” Paman khawatir dengan Glory yah?”Tanya Glora menahan sesak.
David menggeleng kaku, mengusapnya kepoala Glora.” Paman khawatir dengan kamu Glora. Lain kali jangan terluka lagi yah.” ujar David pelan. Glora menatap David nanar dan sayu. David menghela nafa segera mengambil alat alat untuk membersihkan luka glora.
David menyuruh pelayan iuntuk membersihkan dan membantu Glora mengganti baju. Tapi satupun pelayan tidak ada yang mau membantunya. David mau tak mau turun tangan dan membantu Glora.
“ paman tidka usah. Aku bisa sendiri kok.” Ujar Glora canggung.
David menghela nafas.” tanganya terlihat bengkak, sepertinya terinfeksi. Akan sulit ganti baju sendiri. Biar aku bantu. Aku janji tidak akan melakukan hal lebih.” David mendekati Glora dan membantunya. Glora terlihat canggung dan mengangguk. Tidak ada pilihan lain.
__ADS_1
David membantu Glora mengganti baju lebih nyaman seusai Glora membersihkan diri menggunakan air hangat. David mengambil air dingin mengompres tangan Glora. Ia tersenyum kecut menatap tangan Glora.” Kamu harus kedokter, sepertinya ini patah.” Ujar David jujut dan prihatin.
Glora mengangguk.” nanti kita ke dokter paman, tapi bantu Glora menutupi luka luka diwajah Glora yah. glora tidak mau dilihat orang lain dalam ke adaan seperti ini.” ujar Glora. Mata Glora benar benar merah dan hidungnya yang juga merah. Bibirnya pucat dan suaranya serak.
Terlalu banyak menangis dan juga kedinginan. david tidka tahan untuk tidak menangis dan memeluk Glora. Glora memejamkan mata merasa hangat dalam hati. David, sudah seperti ayahnya, selalu ada di sisinya dan juga menyayanginya. Glora bersyukur akan hal ini.
Faris mengusap kepala Glory sayang, sudah sejak semalam Glory tidak sadarkan diri, tadi ia mengeluarkan Glora karena ia tau kedua anak ini terhubung, bisa jadi Glory demam karena anak itu sakit atau terluka karenanya.
Faris merasa sangat menyesal karena sudah membuat anak kesayanganya menjadi sakit begini.” Maaf yah sayang. Kamu harus bangun, ayok sayang.” Ia mengusap air matanya yang jatuh. Tubuh Glory sangat pucat apalagi bagian wajahnya.
Glory mengerjabkan mata. Faris melihat pergerakan mata sang anak bergerak cepat. Rangga dan Tasya yang ada disana juga mendekati Glory dan menatap Glory kaget.
Glory membuka matanya yang terasa panas. Tasya segera menyentuh tangan anaknya yang hendak menyentu kepalanya. Tangan Glory ada infus. Rangga pun duduk di dekat kaki Glory cemas. Glory meringis karena tenggorokanya sakit. “ sayang hiks hiks. Kamu sudha bangun nak? Kamu nggak apa apa sayang? Dimana yang sakit?”Tanya tasya nanar dan juga sendu.
Glory menatap Tasya linglung, kepala Glory sangat berat dna juga tubuh yang lemas. Glory menunjuk tangan dan juga kepalanya.” Tangan Glory sakit, semua tubuh Glory sakit kayak dibanting.” Ujar Glory pelan dan juga parau.
Mereka mendengar Glory terdiam meneguk Saliva kering. Glory menghela nafas, dadanya sangat sesak.” Dan dada Glory sesak.. sesak dan sakit.” Bisiknya pelan dan memejamkan mata,.
Tasya segera mendekat dan berdiri di mana posisi Faris tadi. Tangan Tasya mengusap kepala anaknya. sangat panas.” Sayang jangan sakit., mami khawatirkan kalo kamu sakit.” Bisik Tasya nanar dan juga sayu.
Gliry malah terkekeh dan berkata.” Sakit itu wajar mami., kalo nggak sakit namanya mati. Glory kan masih hidup mangkanya sakit, kalo Glory mati Glory nggak akan ngerasain sakit lagi.” ujar Glory sayu.
Tasya mendengarnya semakin menjatuhkan air mata.” Kamu kok ngomong gitu? Nggak boleh gitu. Kamu pasti sembuh. Mami nggak mau kehilangan kamu.” Ujar Tasya nanar. Rangga pun menatap tajam sang adik yang bicara.
Glory membuka matanya sayu menatap tasya.” Kalo Glora yang mati, apakah mami akan sedih?”Tanya Glory pelan.
Tasya terdiam. Bahklan mengingat ia punya putri selain Glory saja tidak. Glory yang melihat ibunya yang terdiam saja dan tidak menjawab menghela nafas.” iya pasti dong. Kan mami sayang kalian, kalian harus semua semua.” Tegas Tasya menjawab gelagapan sebelum Glory angkat suara. Glory tersenyum lebar dan mengangguk. Tasya menghela nafas. syukurlah.
Seusai pemeriksaan kembali. Keadaan Glory sudah membaik, dan jhanya didiagnosa demam biasa. Glory percaya percaya saja sesuai yang ia ketahui dirinya memang lemah dan sering sakit. Apalagi sakit kepala Glory sering merasakannya. Glory juga sudah kan bilang jika ia pernah diperiksa dibeberapa tempat dan rumah sakit yang memeriksanya tapi tidak ada yang mengetahui dirinya memiliki sakit apa.
__ADS_1
Tasya sedari tadi tidak absen kekamarnya, jika dihitung sudah sepulih kali dalam dua jam ini. Glory hanya diam sebab kepalanya terlalu sakit, Tasya menghela nafas menatap Glory.” Makan dikit aja lagi yah sayang. Kamu baru minum sedikit loh.” Ujar Tasya membujuk Glory.,
Gloryt memnggeleng lemas, kepalanya benar benar berat. “ pahit mi.” gumam Glory. Tasya mendengarnya menghela nafas dan mengangguk. Tidak bisa memaksakan Glory, tadi ia sudah makan lima sendok, itu sudah lebih dari cukup.” mama beresin ini bentar yah sayang. Kamu bisa kan minum obatnya?” taanya tasya pada Glory.
Glory berdehem, Tasya meninggalkan kamar Glory. Glory memijit pelipsnya berat. Tak lama setelahnya kamar Glory terbuka lagi. menampilkan Rangga yang masuk. Glory meliriknya lewat ekor mata yang terpejam berat. Rangga masuk dengan diam diam dan menaruh makanan di dekat brangkas. Ia menatap Glory yang memejakmkan mata, tak tau jika Glory tidak tertidur. Rangga menghela nafas dan menaruh beberapa makanan di dekat brangkar. Segera Rangga mencium pelipis Glory dan keluar dari kamar.
Glory kaget, ia membuka mata kaget menatap pintu kamar yang sudah di tutup, menatap Rnagga yang sudah tidak ada. Glory tersenyum tipis. Rupanya Rangga masih tetap menyayanginya dan juga memperhatikannya. Meski tidak bicara langsung tapi ini sudah membuktikan jika dia masih mempedulikan dan memperhatikannya.
...----------------...
Di belahan dunia lain dengan keadaan yang berbeda. Glora di rumah skait bersama Dvaid, tangan kiri yang diperban oleh dokter, tangannya benar benar patah dan juga pindah tulangnya. Sangat parah keadananya, belu,m lagi lebam dan juga beberapa luka di kepala dan juga lehernya. David tidak lagi mengerti bagaimana kedua orang tua Glory ini memperlakukan anaknya, benar benar tidak paham dengan tingkah laku mereka. Dibilang tidak berpendidikan keduanya bahkan sudah hampir professor, dibilang tidak tau tata karma mereka kaya raya masa tata karma saja tidak mampu dipelajari.
Bahkan binatang saja memperlakukan anak ya sebaik mungkin, akan kelaparan asalkan anak mereka kenyang, mempertaruhkan dirinya agar anak anaknya tetap selamat.
sesayang itu Binatang-binatang kepada anaknya. Tapi mengapa ada manusia sekejam ini pada anaknya?
Ini anak kandungnya bukan anak angkat atau anak orang lain loh.
“ Untuk tangan kamu, tangan kamu pernah patah sebelumnya membuat ia sangat rentan kembali patah. Lain kali hati hati yah.” ujar dokter perempuan kepada Glora tersenyumlah. Glora tidak bilang ini ulah ayahnya, ia bilang jika ia kemarin bermain volley tetapi tiba tiba tidak bisa menahan serangan dan terjatuh. Itulah yang membuat dirinya berkeadaan seperti ini. dokter mengangguk percaya dan tidak mau ambil urusan jika Glora tidak mau jujur.
Glora mengangguk pelan kepada dokter.” Ini paling cepat pemulihannya 3bulan dan paling lamban 10bulan, itu jika cepat yah. kamu harus lebih berhati hati lagi kedepannya, jangan sampai tanganmu tersenggol kembali atau terbentur yah. takutnya jika nanti kembali tersenggol pemulihan akan semakin lama dan semakin sulit, “ ujar Dokter lagi.
Glora mengangguk lagi. David melihat Glora yang tidak menjawab tersenyum.” Terimakasih yah dok. suara nona saya memang sedikit bermasalah. Jadi sulit untuk bicara. Terimakasih.” Ujar David.
Suara Glora tidak bermasalah, hanya saja akan terasa sakit jika terlalu banyak bicara, mungkin karena dicekik atau radang tenggorokan. Syukurlah David memahami Glora dengan baik.
Dokter mengangguk dan tersenyum.” Kalo begitu jaga pola makannya agar tidak makan pedas atau yang berminyak terlebih dahulu yah, rentan membuat tenggorokan semakin sakit. Jika begitu saya permisi yah pak.” Ujar dokter tenang sebelum pergi
David mengangguk paham. " Terimakasih pak dokter." Ujarnya.
__ADS_1
Dokter tersenyum mengangguk melirik Glora sejenak yang juga tersenyum tipis. Ia pergi meninggalkan kedua orang tersebut.