
Glory membasahi bibir bawahnya. Merasa darah kembali berdesir merasakan dada yang merasakan sakit tambah mendera. Suara Aksa yang langsung mematikan HPnya seusai mengatakan itu.
Glory merasakan nyeri lebih nyeri dari tusukan yang diterima. Glory menangis dalam rasa sakit yang ada, rasa sakit yang lebih mendominasi. Glory mencoba bangkit tapi ia terlalu lemah sampai ia pingsan...
...----------------...
Diseberang Aksa menatap teleponnya ringan seusai mengatakan hal itu pada sang adik.. mengangkat bahu acuh, tadi saat Glory menelpon ia sibuk membersihkan diri.” Siapa Sa?”Tanya Aruna lemah.
Aksa tersneyum mengusap kepala Aruna.” Biasa Glory, dia pasti nelpon karena gue belum pulang hehe. Gue udah kabarin kalo gue nggak pulang buat jagain loe malam ini.!!” Ujar Aksa lembut..
Aruna terlihat tersenyum lembut pada Aksa.”Tapi Nana kan sendirian? Kamu pulang saja tidak apa kok Sa. Kan masih ada Dava, Jay dan Rangga jagain aku di sini.” Ujar Aruna pelan, merasa tak enak pada Glory yang harus sendirian karena Aksa menemani dirinya.
Aksa menggeleng pelan.” Gue tau kalo Dava selalu nyakitin loe Ru kalo kalian sedang berdua, kalo nggak lengan loe yang biru yah kaki loe yang bengkak, kadang gue juga suka liat luka sayatan dilengan loe. Itu pasti karena dia kan? mangkanya gue selalu jaga in loe dan nggak percaya sama dia, Jay dan Rangga gue rasa nggak ada yang tahu, dan gue nggak percaya sama mereka. Masalah Glory, dia nggak apa-apa kok. Dia nggak ada yang dikhawatirkan kayak loe..!!!!” Tekan Aksa.
Aruna terlihat menatap Aksa berkaca-kaca. Aksa mengusap kepala Aru.”Yaudah tidur, gue tidur di sofa buat jagain loe yah..!” Aru mengangguk pelan menatap langit.
Memang benar Dava sangat kasar padanya, melakukan kekerasan fisik maupun mental.sedangkan Aksa? Ia sedikit merasa tak nyaman dihatinya,, tetapi ia abaikan, mungkin karena merasa tak enak meninggalkan Glory dirumah sendiri. Padahal Glory pasti juga membutuhkan Aksa.
Aksa menghela nafas menatap langit kamar. Mengabaikan rasa yang entah kenapa kurang mengenakkan.
Aksa juga tak perlu khawatir dengan Glory, sebab Glory tidak dalam bahaya seperti Aruna.
“Boss.... ada yang nelpon loe dari tadi..!!!!” Dika menaikan satu alisnya menerima HPnya. Suara memekakkan telinga diClub membuat ia tak tau apapun, tadi ia pergi ke toilet menitip Hp nya sejenak untuk menuntaskan hajatnya. Dika menatap Regan memberikan HPnya.
Regan ikut mengintip nama yang menelpon. “Glory... sejak kapan kalian saling kontekan gini?? Kalian pacaran yah?”Tanya Regan menggoda tersenyum menatap Dika.
Dika menatap Regan melotot.”Mana ada... gue nggak tau kenapa dia nelpon malam-malam gini, dia bahkan nggak pernah chat atau liat snap gue setelah kami satu kontak padahal.” Ujar Dika pelan dan heran.
Regan mendengarnya mengernyitkan dahi.”Serius? doi nggak ada chat nanya loe dimana atau lagi apa gitu? “Tanya Regan lagi.
Dika menggeleng serius.” Serius nggak pernah, dia cuek, malah kemarin gue ada komen snap dia yang bikin snap foto es krim gitu terus gue komentar alay dia nggak bales... “Ujar Dika pelan bercerita.
Regan menatap Dika “Telpon balik aja, dia nelpon loe tiga kali tadi, takutnya dia mau sesuatu.”Ujar Regan.
Dika menelpon lagi Glory, “Kenapa loe nggak angkat tadi?”Tanya Dika pada regan tajam.
Regan menatap Dika serius.”Yah mana berani gue terakhir ditelpon sama Oma loe, gue yang kena semprot, Lagian loe juga yang nggak nyuruh gue angkat telepon siapapun di HP loe Dik.” Gumam Regan serius.
Tut.... Dika tak menyahut merasa telepon diangkat.” Halooo Cill... ngapain nelpon gue?” Tanya Dika pelan.. tak ada sahutan dari sana..
Regan menaikan dagu isyarat bertanya. Dika menggeleng pelan sebagai tanda jika tak diangkat. Regan mendekatkan telinganya didekat telinga Dika." Loe beg0k jauh-jauh azuu..." Ujar Dika tak nyaman mendorong kepala Regan tapi Regan tetap diposisi nya. Dika memutar bola mata malas kembali mendorong, tapi tak mebuahkan hasil.
__ADS_1
” Halooo Na.. haloo kenapa?”Tanya Dika cukup serius.
“ To. Hiks hiks Tolo g..”Suara putus putus Glory menangis pun terdengar membuat Dika dan Regan melotot.”Loe dimana sekarang? Loe kenapa? Loe enggak diperk0sa kan Na?”Tanya Dika panik.
Regan melotot.” Na hallo loe kenapa?”Potong Regan ikut khawatir. Tapi tak ada sahutan dari sana.. Dika segera mematikan teleponnya menatap Regan melotot.”anjir jangan-jangan dia diperk0sa lagi. Kita harus cepet tolongin..!” Ujar Dika serius.
“perk0sa-perk0sa... loe tau nggak dia dimana? omongan loe sembarangan banget ngomong siapa tau kalo dia di lecehin....”Tanya Regan melotot.
" Ye sama aja begok...." Ujar Dika menjulak kepala Regan.
Regan menatap Dika malas. " Terus gimana nih?"
Dika menggeleng,.” Gue takut dia Kenapa kepada, kita harus bantu dia. soal alamat, HP dia masih aktif pakek GPS aja..!” Ujarnya Dika.
Regan mengangguk mulai keluar bersama Dika. “Woy loe mau kemana?”Tanya dari belakang.
Suara dari beberapa kawan Dika yang lain. “Kita duluan..” teriak Regan. Yang lain mencebik masih meminum minuman keras bersama beberapa perempuan seksi disana.
“Pakek mobil gue aja cok...!” Teriak Regan saat Dika hendak naik motor. Dika mengangguk memasuki mobil milik Regan.”Loe lacak GPS nya gue bawa mobil..” ujar Regan.
Dika mengangguk mulai membawa mobil secara pesat. Jalanan ditengah malam sangat lenggang sehingga mereka bisa menembus jalanan secara cepat.
Berselang lebih dari satu jam mereka baru dapat menemukan alamat Glory. Disana segera Dika dan Regan menatap rumah minimalis didepannya.” Gila aja nih? Kok gelap?” Lirih Regan.
Regan mengangguk menerangkan sekitar dengan flass HP. Tag.. saklar dihidupkan rumah kembali terang., regan dan Dika segera membuka pintu tapi terkunci. “Gila-gila jangan-jangan dia dirampok cok..” Ujar Regan panik.
Dika ikut panik mengintip di jendela yang tercela.” Yaampun di dalem hancur banget.. cepet-cepet kayaknya memang dimaling ini..!” Teriak Dika tambah panik.
Regan dan Dika mulai menatap sekeliling”lewat belakang... cari jalan, ini kayu jati, hancur engsel tangan gue kalo di tabrak..!” Tekan Dika.
Regan melotot tapi tangannya ditarik Dika. segera melangkah ke dapur lewat belakang. Benar pintu dapur terbuka. Dika dan Regan segera masuk.”Jangan berisik.”Gumam Regan.
Dika memasuki dapur dan menatap kaget keadaan sekitar sudah sangat berantakan... menatap kedepan Dika memasuki rumah cepat tanpa melihat sekeliling. Dika menatap ruang tamu yang sudah berhamburan, pecah. Tv yang sudah hilang, pernak-pernik yang berhamburan.
Di sisi lain Regan yang menatap ruang makan berhamburan pun tertegun menatap warna merah mengalir disela-sela marmer. Tangan Regan sudah gemetar mendekati asal warna merah itu..
Dugh.... tubuhnya tersentak menatap tubuh yang tergeletak dengan HP ditangan kanannya. Kepala yang sudhapenuh darah, bahkan sekeliling sudah basah dengan darah.”Dik.. dika... ada mayat Dik..!!!” Teriak hebohnya menatap tubuh Glory yang sudah berlumburan darah.
Dika yang di ruang tamu kaet mendengar suara Regan berlari kedapur.. regan menatap Dika menunjuk tubuh Glory yang sudah terkapar. Dika melotot merasa kaget, mendekati Glory.”Dik jangan dipegang. Nanti loe jadi tersangka b4ngke..!!!”
Dika mendengar ucapan Regan pun tak mengindahkan., ia menyentuh hidung Glory, masih sedikit bernafas? Ia segera membopong tubuh Glory.
__ADS_1
“Ya Tuhan Dik nanti lo-“
“Diem b4ngsat, dia masih hidup, jadi bantuin gue bawa dia kerumah sakit kalo nggak dia bisa mati..!!!!” Teriak Dika sembari menahan berat tubuh Glory.
" Tapi kita jadi tersangka nanti Dik..." lirih Regan panik.
Dika melotot. " Loe masih mikir gitu? Ini nyawa orang loh..."
" Ini juga masalah masa depan Dik..." Regan masih tetap panik.
Dika menghela nafas pelan." Terus loe mau gimana? ninggalin Xia sendiri? justru kita Tamba masuk penjara karena ada di TKP. pliss Regan jangan mikirin hal lain dulu.. masalah penjara gue jamin nggak bakal, ini masalahnya nyawa orang.." Tegas Dika serius.
Regan menatap Dika takut tapi mengangguk tak ada pilihan lain, yang dikatakan Dika benar adanya. Sidik jari mereka sudah ada disini.
“Buka pintu regan..!” Teriak Dika menyadarkam Regan yang panik sendiri. Dika membawa Glory secara panic dan Regan yang membuka pintu mobil.
“bawa mobilnya cepet..” ujar Dika. Regan mengangguk dalam tangan yang gemetar. Otakknya tiba-tiba blank. Dika menarik hordeng mobil milik Ragiel.
”Woy hordeng gue. kena marah mak gue kalo kotor gila..!!!” Pekik Regan tak terima.
Dika menatap regan tak minat.”Nyawa bro nggak ada harganya.. kepala dia pendarahan kalo gini terus dia bisa mati..!!” Dika mengikat kepala Glory kuat lalu membuka sedikit baju Glory yang terlihat sobek. Ia menekan hordeng disana untuk menghentikan darah.
Tak ada yang bisa mereka lakukan selain melakukan secara logika. Sedangkan Regan? Di otaknya saat ini hanya satu. Semoga saja mereka tidak jadi tersangka karena hal ini.
Regan belum menikah masa harus masuk penjara?
Apa kata ibunya bantu...!.
Regan melirik Glory... ia memalingkan wajah tak berani rasanya mau muntah. Sekujur tubuh sudah penuh darah termasuk wajah... Bahkan baju Dika yang berwarna putih sudah bercorak abstrak darah milik Glory.
Huekkk... Regan menahan seluruh isi perut yang hendak keluar. Dan Dika? ia mengusap rambut Glory yang sudah beku dengan darah menutupi wajahnya lembut. Panik yang dirasakan Dika entah karena apa tapi yang pasti.... Dika kasihan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Haloooo.... Guys Jejak ditinggalkan yah hehe.....