Transmigrasi Twins Antagonist

Transmigrasi Twins Antagonist
44


__ADS_3

Dika memutar bola mata malas membuka tas miliknya mengabaikan Glory yang menggerutu. Mengeluarkan kertas yang berisikan surat menyurat café.


Glory menatap binar. “ Loe mau kan café ini?”Tanya Dika.


Glory mengangguk.”Iya..” Dika mengangguk, memberikan surat sertifikat.


Menandatanganinya dan mengopor pada Glory.” Tu udah gue tanda tangan atas pengalihannya. Selama seminggu ini gue ngurus itu mangkanya belum sempet ketemu loe pas janjian disaat itu. loe tinggal tanda tangan dan ini udah jadi milik loe.!” Jelas Dika.


Glory mendengarnya mengangguk pelan melirik Dika. Membaca setiap inci kalimat yang ada.”Gue nggak bakal nipu loe, nggak usah gitu amat baca nya..!” Tekan Dika menatap Glory yang membaca setiap bait isi sertifikat.


Glorry merengut melirik Dika.”Ih Dika. Manusia tu nggak ada yang bisa dipercaya, jadi lebih baik hati-hati diawal dibanding sakit diakhir..!!! “ Ujar Glory menarik sertifitkat kembali membaca lebar demi lembar.


Dika mendengar Glory mendengus. Beberapa menit minum Glory sampai dan Glory menandatangani surat. Menaruh didalam tas dengan hati-hati.


Glory mengeluarkan HP miliknya dan Ting..


Dika melirik HPnya, disana sudah ada foto dan video yang dikirim Glory masalah mobil, tadi memang Dika sudah memberi pesan pada Glory saat pulang ajdi Glory punya momor Dika.


Dika mengernyitkan dahinya melihat dua foto asing. " Ini foto siapa?? Tanya Dika heran. Disana ada foto seseorang yang duduk diatas motor tak jauh dari dirinya dan teman-teman nya sedang duduk di parkiran. Terlihat dia sedang mengamati dirinya dan teman-teman.


Glory mengedikkan baju. " Gue nggak tau, cuma kemarin pas pulang gue liat dia lagi merhatiin kalian, trus motoin kalian.. Jadi mungkin berguna juga buat loe..." Jawab Glory santay.


Dika mengangguk puas menerima foto itu pada orangnya untuk diteliti. Ternyata tidak salah dirinya menyetujui kesepakatan ini.


“Senang deh kerja sama dengan Dika..!” Sahut Glory tersenyum meminum jus miliknya.


“Loe senang gue yang tekor..!!” Dengus Dikq


Glory terkekeh menutup mulutnya. Dika menatap Glory malas.


Glory menatap café yang akan jadi miliknya. Café ini temparnya strategis ditengah kota, tak jauh dari sini ada kampus ternama, ada juga bangunan besar dan kantor. Bagian depan café terlihat kecil dan sempit tapi saat masuk ini sangat luas, punya dua lantai, dilantai satu ada yang indoor dan Out Door, tinggal memilih saja.


Glory memiliki niat untuk merombak beberapa bagian, seperti membuat ayunan dipohon yang ada membuat suasana romantic, lalu menambahkan warna dikursi, mengubah catt yang terlihat suram. Glory berniat membuat lukisan café dan menarik di dinding-dinding. Dika diam menatap Glory yang menatap semua ruang. Dika tersenyum tipis, masih ada yang tidak salting duduk di depannya?


Setelah acara makan tadi Glory diiantar pulang oleh Dika. Dika jahat tapi bertanggung jawab. Glorry tau jika sebenarnya Dika itu sendiri kejam dan penuh obsesi. Tidak dituliskan mengapa dirinya begitu membenci Dava hingga hendak merebut dan menghancurkan apapun milik Dava.

__ADS_1


Termasuk Aruna


“Loe dari mana?” Glory baru saja masuk rumah kaget saat wajah Aksa tepat didepannya.


Glory tersenyum.”Itu tadi ada urusan sama temen.” Jawan Glory melepaskan sepatu menaruh diatas rak sepatu.


“ Sama Dika maksud loe?” Aksa melipatkan tangan diatas dada menatap Glory dingin. Glory mengangguk.”Bukannya loe sama dia pernah berantem?” Tanya Aksa lagi mendesak Glory bicara.


Glory mengangguk lagi.,” Iya kan ada urusan, jadi yah gitu deh,” Ujar Glory tak mau memperkeruh masalah.


Glory mengambil sandal rumah berbentuk kelinci lucu nan hangat dan menatap Aksa.” Ini tadi Nana beli seafood makanan kesukaan abang di jalan. Enak banget loh..” Ujar Glory menggoda. Aksa melirik makanan yang dibawa Glory menelan saliva kering.


“abang nggak mau?”Tanya Glory pura-pura menarik lagi makanan itu. Aksa menahan tangan glory dan menggeleng.”Mau. Cuma kamu kemana aja sama dia? Dia tu nggak baik Na. berandalan tau nggak.” Ujar Aksa pelan kepada Glory. Glory terrkekeh melihat Aksa yang menerima makanan yang dirinya berikan.


“ Temen abang juga nggak ada yang bener tu bang.. lagian kami Cuma pergi bentaran doang.”


Aksa menahan tangan Glory.”Na abang khawatir kami kenapa-napa. Lain kali kalo mau pergi pamit sama abang yang lengkap sama siapanya yah? abang pikir kamu pergi bareng Nando.” Ujar Aksa pelan.


Glory mengangguk pelan.”Iya bang.” Glory duduk di kursi makan bersamaan dengan Aksa yang duduk mengambil piring menaruh makanan yang dibawa Glory.


Glory menatap Aksa yang hendak makan.”Tadi kemana aja?” masih bertanya karena masih penasaran.


Glory tidak akan menveritakan aset miliknya. Sejujurnya Glory sendiri memiliki tabungan cukup banyak, memiliki beberapa hektar tanah dikampung ia beli dari uang orang tua, saat punya keuntungan kemarin dia juga membeli beberapa lagi seperti kambing dan sapi yang di urus orang lain. Tidak ada yang tau. Hanya dirinya yang tau.


Aksa makan dengan pelan, menikmati rasa kerang dan beberapa kepiting.”Nana masuk dulu yah, capek.” Glory pergi meninggalkan Aksa.


Aksa melirik Glory dan menghela nafas. sedari tadi Aksa khawatir akan Glory yang belum pulang. Aksa terlalu takut Glory pergi darinya karena perkataan yang jelek ia lontarkan. Apalagi Glory tau siapa keluarga aslinya.


Aksa takut Glory pergi. Sangat takut.


...----------------...


Pagi ini aksa dikagetkan oleh mobil yang datang, dan itu atas nama Glory, memang mobil biasa dengan harga tak terlalu mahal, tapi ngapain adiknya punya mobil sendiri? Kan bisa berangkat bareng kesekolah. Aksa segera keatas ingin menanyakan dengan Glory tapi ditangga Glory sudah turun menggunakan baju sekolah tak lupa hodie putih oversize membuat dirinya menawan.


” Loh kenapa bang?”Tanya Glory heran melhat raut panic Aksa.

__ADS_1


Aksa menarik tangan Glory.” Loe beli mobil?”Tanya Aksa lirih.


Glory menatap Aksa binar.”udah sampek toh?” Glory segera melangkah meninggalkan Aksa yang berdecao kesal.


Aksa mengikuti langkah sang adik yang turun. Gloty melompat girang menatap mobil baru miliknya. Tak mahal hanya 200juta beda dengan harga mobil teman yang lain di sekolah nya yang bahkan milyaran rupiah, mobil berwarna kuning itu ia pesan dari aplikasi dua hari yang lalu.


”Makasih pak..!” Seru Glory melihat beberapa orang yang akan pergi setelah dirinya mnandatangani surat penerimaan. Mereka tersenyum mengangguk pergi,.


Glory menatap binar mobil miliknya. Ia buka dan menahan takjub. " keren banget mobil gue..." Lirihnya menyentuh permukaan mobilnya lembut.


” Na kok beli mobil lagi si? Kan kita udah punya Na.” Seru Aksa di samping adiknya.


Glory terkekeh.” Nana nggak mau ditinggalin abang lagi, mending beli sendiri aja punya sendiri.” Jawab Gloty pelan.


Aksa tertegun, ingat pernah meninggalkan Glory. “Cuma sekali Na dan loe udah beli mobil sendiri nggak mau bareng gue lagi?” Aksa memegang tangan Glory lirih,


Glory menatap Aksa dalam.”Loe nggak tau gimana pas loe tingalin kan? gue rasa gue nggak pulang kalo nggak ketemu Nanda ditengah jalan, bahkan nasib baik gue nggak ketemu preman atau orang nakal. Gue nggak mau berharap atau bergantung sama orang lebih jauh. Sakit bang.” Ujar Glory pelan.


Aksa mendengar penuturan Glory tertegun. apa dirinya keterlaluan?? “Yah gue udah minta maaf Na..” Ujar Aksa lirih.


“Gue nggak mau loe bawa mobil sendiri. Gue aduin sama pipi dan Buny,,” Ujar Aksa menekan ucapannya.


Glory melirik.” Silahkan. Toh yang ngasih duit beli juga Bubun sama Pipi... wleee.” Glory melangkah masuk rumah.”Udah lah bang nggak usah masalahin mobil, ini juga kebutuhan gue, kalo loe kemana-mana gue nggak perlu minta tolong sama loe lagi, gue bisa sendiri, gue mandiri. Loe bebas dan bisa main sepuas loe mau."


” Tapi loe bisa bawa motor gue kalo gue bawa mobil, atau loe bisa ba- “


“Gue nggak mau pakai barang orang lain. Loe ngerti nggak si bang??? Gue nggak mau naik motor, panas.. gerah. Gue asma, gue penyakitan..!!” Ujar Glory lirih.


Aksa terdiam mengusap wajahnya, “Fine. Sorry, tapi loe kenapa gini? Apa gara-gara kemarin loe jauh gini? Gue ngerasa loe maafin gue tapi nyatanya nggak,. Loe jauh Na. gue nggak mau, gue nggak mau loe jauh gini, loe mau pery kan dari gue.!!” Aksa memegang tangan Glory.


Glory menepis tangan Aksa.”Gue udah maafin loe, lagian yang loe bilang itu bener. Gue bukan adik kandung loe dan itu bukan masalah, loe berhak main dan loe punya dunia sendiri. Udah lah bang. Gue bawa mobil abang dulu, loe bawa motor sendiri, gue nggak sarapan, males.”Glory melangkah meninggalkan Aksa.


Aksa menatap Glory menjauhi duduk di kursi makan sendu. Air mata miliknya jatuh. “Gu- maaf.”Gumamnya lirih. Aksa takut adiknya mandiri, tak membutuhkan dirinya lagi. aksa takut semua itu. tapi kata-katanya saat itu sudah mengubnah adiknya yang manis menjadi berbeda.


Glory menjauh, terasa jauh meski dalam genggaman nya sekalipun.

__ADS_1


.


... Happy reading...! Jangan lupa tinggalkan jejak yah! Kita main santuy hehehw...


__ADS_2