Transmigrasi Twins Antagonist

Transmigrasi Twins Antagonist
42


__ADS_3

Ucapan Dava mengerayangi otak mini milik Glory. Glory berkali—kali menghela nafas untuk menghilangkan ucapan tersebut. Jika Dava tertarik padanya maka alur cerita akan berbeda. Ini yang paling Glory takutkan. Karena jika semua sudah berbeda maka dirinya tidak bisa lagi melakukan apapun selain pasrah pada takdir kan? dia kemungkinan terburuknya dirinya yang menjaid tokoh utama dan menjadi sengsara.


Tidak.. Glory tidak butuh menjadi tokoh utama.


“ Na...” Glory mendongak menatap Dimas yang duduk di sisinya tersenyum,


Glory memang sendirian didepan kelasnya. Dimas terlihat tersenyum lebar sekali memberikan satu coklat kepada Glory.”Nihh buat loe. Tadi gue beli di supermarket beli satu gratis satu buat ade gue. gue nggak makan manis soalnya.” Jelasnya.


Glory tersenyum cerah menerima coklat dari Dimas. “Makasih kak.”Gumam Glory. Ingin rasanya Glory katakan jika ia tidak suka manis, tapi ia urungkan saja mencoba membuka coklat dan memalannya pelan.”Yang lain kemana kak?”Tanya Glorty kepada Dimas pelan,.


Dimas mengangkat bahu acuh menyandarkan tubuh ke tembok. “Nggak tau si tadi katanya mau main kebelakang sekolah. Mau nyudut.” Ujarnya pelan.


Glory yang paham menggangguk menatap kearah kelasnya.”Loe nggak punya temen?”Tanya Dimas.


Tadi ia melihat Glory duduk sendiri tanpa teman membuat ia ibah, membeli coklat dari koprasi baru kesini. Memang ia hanya membual jika coklat itu gratisan.


Glory menggeleng tersenyum” Nggak kok. Yang lain lagi siap-siap pakek baju olahraga. Nana udah dari rumah makek bajunya jadi nggak ganti baju lagi hehe.” Gelak tawa Glory.


Dimas baru sadar.”Loe emang nggak kena marah sama ibunya?” Biasanya guru malas mengajar anak yang menggunakan baju olahraga di jamnya.


Glory menggeleng.”Tadi ibunya nggak masuk, bu Mike kan lahiran. Dan Nana udah denger dari kelas sebelah kemarin nggak belajar dari buk Mike.” Dimas menepuk jidatnya.


“Na.. ayok..!!!” Glory mnatap Nanda yang meneriakinya.


Glory bangkit menatap Dimas.” Duluan yah kak..” Dimas mengangguk menatap Glory menjauh. Dimas mengerutkan kening dalam dan tersenyum.


Glory menatap kedepan mendengar guru pejok membagi kelompok. Glorry dapat satu kelompok dengan perempuan bernama Vany, Indah, Desi, Venny dan Lia.


Glory melirik orang-orang satu kelompoknya. “Kalian bisa main Volly?”Tanya Desy murung.


”Gue nggak bisa wey..”Gumamnya murunh pelan.


Glory menunjukan tangannya semangat.”Gue bisa kok.. yok nanti gue ajarin..” Semangat Glory.


“Seriusan loe?”Tanya Vany pelan menatap Glory.


Glory terlihat lemah bagaimana bisa? Glory mendenggus.”Gini gini aku tu juara satu satu kabupaten tauk. Yoklah.. ajak yang lain juga.” Ujarnya.


Ketiganya saling lirik dna tersenyum. Glory mengingat rambut panjangnya kearas. Menaikan celananya mulai melakukan olahraga. Dirinya suka olahraga meski tubuhnya lemah. Semua orang melihat terkagum saat beberapa kali Glory melakukan smash, saat pertukaran posisi pasing Glory terlihat sangat ahli, lawan pun menjadi kualahan untuk menangkap bola dari Glory yang sangat keras, cetak angka banyak dimenangkan Glory saat Fasing saja membuat yang lain melongo.


“Gilak keren banget Glory cok..!!!” Heboh Jay menatap Glory dan teman kelas yang sedang oilahraga, kelas mereka diatas dekat dengan lapangan olahraga,.jadi sangat jelas siapa yang olahraga.

__ADS_1


Dimas mengangguk setuju. “Iyaa. Mana seksi banget lagi njeer..” Ujarnya pelan menatap binary Glory yang menangkap bola.


Aksa memukul kepala Dimas.”Otak loe gue cuci biar bersih nanti.” Ketusnya.


Dimas terkekeh tetap menatap Glory. Dava? Ia hanya diam melirik dingin.


“Glory...” Pnaggil guru pejok saat Glory menyesaikan pertandingan.


Tim Glory memenangkan poin jauh diatas. Pak Jono tersenyum bertepuk tangan.”Kamu keren sekalu main Vollynya.” puji pak Jono.


Glory tersenyum mengangguk.” Iya pak. Saya tau.” Smeua tertawa mendengarnya.


Pak Jono ikut tergelak.”Kamu eskul apa? Nggak ada niat mau masuk volley? Saya masukin tim Inti dua kalo mau.” Tawarnya.


Glory menggeleng.”Duh pak tubuh saya lemah, kalo saat mau komba saya sakit kan gawat. Jadi nantlah saya daftar ditim Volly tapi jadi cadangan aja.” Tawar Glory tersneyum.


Pak Jono menatap Glory paham.”Boleh boleh. Bapak tunggu yah.”


Glorry mengangguk.”Nggak usah ditunggu pak. Kalo jodoh nggak kemana.” Balas Glory terkekeh.


“Huuu... dosa loe goda pak Jono. Udah punya anak sege loe dia..!” Nano melempar Glory dengan botol minum kosong.


Glory melotot “ Maksud gue jodoh sama eskulnya.. otak loe aja kotor..!!!!” Semua terytawa mendengar ucapan Glory. Termasuk pak Jono.


Nando mendengus menatap Glory tajam. Glory malah menatapnya mengejek. Glory duduk ditrimbun tempat duduk dan dingin. Menatap kedepan mengusap keringatnya dengan tysu yang dikasih Desi tadi.


“Na.. buat loe..!”


Glory kaget saat pipinya terasa dingin.


Glory mendongak menatap siapa pelakunya. Disana ada Aksa yang memegang Pop es beserta teman-temannya dibelakangnya, termasuk Aruna.


" Haiii Nana...!!!" Aruna melambaikan tangan riang


Uh Silau....!


Glory menerima minum nya tersenyum.” Makasih bang.” Glory meminum ringan.


“Yok kantin..!” ajak Aksa mengusap kepala adiknya yang terlihat lepek akibat keringat.


Glory menatap teman yang masih main volley.”nanti aja deh kayaknya, soalnya udah istirahat kami tetap olahraga lagi dua jam, jadi tanggung banget. Yang lain juga belum ada yang ke kantin.” Ujar Glory.

__ADS_1


“Ikut aja Na..” Ujar Aruyna tersenyum memegang lengan Glory lembut.


Glory menatap Aruna silau. Dipelipisnya terdapat kain kasa yang sedikit bercakk merah. Glory menggeleng.”Duluan aja.” Ujarnya pelan. Aruna terlihat murung menatap Glory.


Aksa yang menatap Aruna murung pun terdiam.”Loe liat Aru sedih Na. ikut aja soalnya Aruna cewe sendirian, dia nggak punya temen.”Ujar Jay pelan pada Glory karena kasihan pada Aruna.


Glory melirik Jay malas.”gue nggak mau. Duluan aja. “


Jay berdecak.” Ta- “


“Gue nggak mau tol0l. Loe ngerti bahasa manusia nggak si?” Tanya Glory dingin pada Jay yang memaksanya, jay tertegun dan terdiam menatap Glory yang menatapnya tajam.


Glory mendengus bangkit dari sana meninggalkan Aksa beserta kawan-kawannya.


" Nana kayaknya lagi PMS deh.." Gumam Dimas pelan melirik Aruna yang sudah berkaca-kaca menatap Glory lirih.


" Kayaknya Nana nggak suka Aru deh..." Lirihnya hendak menangis.


Jay mendengus. " Dia ajak sok...!"


Jay melirik Aksa yang menatap dirinya dingin.”Mangkanya jangan dipaksa.. Udah Yuuuk kita duluan aja..” Ujar Aksa menarik tangan Dimas.


Jay diam menatap Glory yang duduk di samping beberapa wanita. Tangan Jay terkepal lalu melangkah menjauh. Di sisi lain Glory memejamkan mata. Glory sudah tidak ingin berhubungan dengan tokoh utama kecuali kembarannya yang harus ia selamatkan,


“ Loe Masih rebut sama kakak loe?”Bisik Nnada pelan dismaping Glory.


Glory menggeleng pelan.”Gue Cuma nggak mau terlalu berurusan sama mereka. Gue males, mereka biang masalah..” Jawabb Glory pelan.


Nanda mengangguk paham.”Jadi mau ngehindar mereka?”


“Lebih tepatnya ngehindar masalah.” Jawab Glory terkekeh.


“Gue setuju si, gue liat mereka juga nggak baik. Lebih baik loe jauh jauh aja dari yang bikin loe ada masalah.” Nanda menepuk pundak Glory.


Glory mengangguk menatap Nanda. Nanda sosok yang tulus, tapi tidak ada yang menggambarkan sosok Nanda dinovel. Glory harus percaya atau tidak ia tak tau.


Tapi yang pasti Nanda sosok yang paling diandalkan saat ini.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan jejak yah!


__ADS_2