
Tangan Glory dengan santai memutar kunci mobil milik aksa yang ia bawa, langkah kaki Glory terhenti dengan dahi yang mengernyit menatap satu arah, kakinya mundur beberapa langkah menatap lagi yang membuat ia heran.
Tatapan Glory terhenti pada satu sosok didalam kelas. Menungkupkan wajahnya diatas meja dengan kedua tangannya berbeda dengan yang lain. Semua asik mengobrol satu sama lain. Dirinya seperti dikucilkan? Glory jadi iba melihatnya.
“”Cewek... kwitkwit..!!” Glory menatap siapa yang menggodanya, disana ada lelaki yang menggunakan baju berantakan tersenyum melambaikan tangan padanya.
Glory mengernyit menatapnya lalu menatap lagi sosok yang membuat dirinya kepo, langka kaki Glory memasuki kelas itu, itu kelas kakak tingkat. Kelas 2 sedangkan dirinya kelas 1. Semua menatap Glory dengan tatapan bertanya, ada juga yang tak senang.
Glory berdiri didekat meja yang sedari tadi ia lihat, Glory membuka tasnya dan menaruh kotak yang sempat ia beli dijalan tadi diatas meja. Sosok yang tadinya tak tidur hanya memejamkan mata merasa aneh saat semua menjadi senyap.
Apa ada guru? Batinnya.
Sosok tersebut mengernyit membuka matanya. kotak donat??? Dirinya mendongak menatap siapa yang menaruh kotak donat tersebut. Disana ada sosok Glory yang tersenyum tipis padanya, dirinya tertegun sebentar.
Glory tersenyum mengusap kepalanya sayang dan lembut.”Buat kamu..”
Glory melangkah meninggalkan satu kotak donat berisi enam aneka rasa yang berbeda, membuat sang empu diberi belum bicara apapun tertegun, melirik donat tersebut sendu.
Ini pertama kali ada yang memberi dirinya setulus ini setelah kembarannya. Bentuk donat yang beraneka warna dan beraneka rasa membuat dirinya tersenyum.
Glora merasa tak enak sebab dia belum minta maaf ataupun terimakasih kepada Glory tapi ia malah memberinya donat. Semua menahan nafas menatap gadis tersebut tak mengamuk saat ada yang menggangunya tidur, bahkan tersenyum. Apa hubungan mereka???
Tak ada yang berani mendekati Glora, sebab ucapannya yang pedas dan suka memukul, tak ada yang senang akan sikapnya. Apalagi dirinya yang anak orang kaya semakin membuat semua orang segan.
Perjalanan jam sangat cepat. Glory cukup terkenal dikalangan guru dikarenakan kepintaran dan juga kepatuhannya pada peraturan, tak pernah tidur dikelas atau saat guru mengajar, tak pernah mengobrol, sangat sopan dan berkata baik. Ia terkenal akan kedisiplinannya ditengah-tengah guru.
“Nih buat loe Na..!!” Glora yang baru saja hendak bangkit melirik kebelakang dimana Nanda menggamit tangannya memberikan dirinya kotak
Glory mengerjab menatap kotak tersebut.”Buat gue?”Tanya Glory tersenyum bahagia.
Nanda mengangguk.”Iya dari nyokap., kemarin gue cerita punya temen cewek, dan dia ngasih ini buat loe katanya kapan kapan main kerumah. Dimakan yah.!” Ujar Nanda terkekeh.
Glory tersenyum.”Ahhh kan gue jadi enak kalo gini, bilangin sama mama loe sering-sering yah ngasih gue makan.” Ujarnya tanpa malu.
Nanda mendengarnya ikut terbahak.” Jaim Na jaim..!!” Ujar Nnado yang mendekat kearah ketiganya. Glory mencebik membuka kotak tersebut.
Glory tertegun, donat???? Tadi dirinya memberikan Glora donat dan sekarang dia dapat donat bahkan dengan jumlah 12 buah dalam variasi yang berbeda. Glory tersenyum tipis., memang benar, saat memberi kepada orang lain secara tulus pasti akan dikembalikan dengan keadaan yang lebih banyak.
__ADS_1
”Makasih yah..” Ujar Glory tulus mengambil rasa abon sapi yang terlihat menggoda, Nanda dan Nando terkekeh mengangguk “Iya.. habisin.”
“Nana... Kantin skuy..!!!!” Panggil Aksa dari luar kelas masuk kedalam kelas Glory.
Glory mendongak menatap Aksa yang membawa pasukannya. Glory mengangguk menutup kotak donat miliknya tapi terhenti saat ada suara halus berkata.” Nana banyak donat. Bagi dong.. Aru suka donat..!!!”
Glory melirik Aruna yang menatap dirinya penuh binar. Glory mengangguk memberikan donat warna hmmmm... warna yang tidak dia suka, warna kuning.
“Aru nggak mau yang warna ini. Aru mau rasa coklat..!” Ujar Aruna mengambil warna coklat.
Glory tertegun, itu rasa yang paling dirinya suka. Glory menatap Aruna menghela nafas menutup kotak donat miliknya.
“Loe nggak ngasih kita Na? kita juga mau loh..” Ujar Jay menyahut tersenyum kepada Glory. Glory melirik Jay lalu membuka kotak donat lagi, memberi warna kuning, lalu memberi Aksa warna biru, Dimas warna pastel dan Dava. Ia melirik Dava sesaat yang sedari tadi diam tak bersua. Ia beri warna merah.
" Gue nggak suka donat.." Ujar Dava dingin. Glory tersenyum senang. Tandanya donatnya tidak berkurang.
“Yaampun makasih yah. adek gue baik banget si..”Ujar Aksa mengacak rabut adiknya.,
Glory mengangguk memasuki kotak donatnya tapi tertahan.”Nana Aru mau lagi dong..!!!”
Glory mendongak tak senang menatap Aruna yang menatapnya polos penuh binar bak anak kecil.” Nggak mau lagi gue, ini dikasih sama mamanya Nanda. Kalo mau beli aja sendiri.”Glory mengeluarkan uang biru dan memberi pada Aruna.”Nih beli sendiri nanti yah.” Ujar Glory berusaha santai.
Glory meliriknya mendelik. Ternyata polos dan bodoh itu beda—beda tipis yah... padahalkan itu karena dirinya kesal.
Semua menatap Glory tersenyum beda dengan Nanda dan Nando yang menatap masam mereka yang memakan donat yang diberi kepada Glory, mau menolak juga takut Glory dibilang pelit.
“Ayokkk Nana kita ke kantin. Aru mau makan bakso bakar.” Ujar Aruna riang dan polos menarik tangan Glory.
Glory mengangguk ikut menuju kantin, disana sangat ramai dan untungnya masih ada satu meja kosong meski sudah banyak bekas makanan yang habis, pelayan datang dan membersihkannya. “ Mau pesen apa Na?” Tanya Nando pada Glory,.
“ Gue samain aja sama punya loe.”Ujar Glory yang diangguki oleh Nando.
“Aru mau ba-“
“Gue nggak nanya yang punya loe, punya kaki jadi beli sendiri aja.”Ujar Nando ketus.
“ Hoy..!!” Bentak Dava tak senang saat Nando berkata ketus pada Aruna.
__ADS_1
” Muncung loe mau gue sembeli ha? Brak..!!!”
Dava menggeprak meja keras mengalihkan atensi seluruh kantin kepada mereka yang sedang ribut, bahkan suara denting sendok saja tak terdengar karena semua terdiam kaget menatap pertengkaran yang baru dimulai.
Nando menatap Dava tak senang. “Gue ngomong kenyataan, lagian ngapain dia nyuruh gue? emang gue babu dia?? Loe aja sana kan loe babunya..!!!” Ketus Nando.
“B4ngsat..!! Brak.. Meja ditendang kuat oleh Dava kearah Nando, semua disana kaget.
Sampai Glory sendiri tak bisa mengelak meja yang menghantam perutnya. Glory terdiam memegang perutnya yang terasa sakit.
“Nana..!” Panggil Nanda yang melihat Glory terkena meja. Semua terdiam sama hal dengan Dava yang tadinya meledak menatap Glory khawatir.
Glory diam memegang perutnya terasa sakit, sangat sakit. Kalian bayangkan saja bagaimana rasa kepentok meja dibagian perut bawah.
“Naa.. loe nggak apa-apa?” Tanya Aksa lirih menarik bahu adiknya.
Glory mengepalkan tangan menendang balik meja tersebut menatap Dava dan semua teman Aksa nanar.
Glory menghela nafas menahan tangis. “ Na... loe enggak apa-apa?” Ragiel datang memegang bahu Glory yang bergetar, tadi semua dilihat olehnya diujung kantin. Tapi tangan Ragiel ditepis oleh Rangga.”Jangan pegang sembarangan..!!!”
" Ayok Na..." Rangga menarik tangan Glory untuk menjauh.
Tapi Glory menepisnya bengis menatap tajam siapapun yang ada disana
“Kalian semua.. jauh-jauh dari gue mulai detik ini. gue nggak mau lagi deket sama kalian.,,.!” Gumam Glory sinis menarik tangan Ragiel menjauh.
Nanda dan Nando saling lirik pergi mengikuti Glory.
Aksa menatap Glory nanar.”Na bi-“
“Nggak usah. Loe urus aja temen-temen dajjal loe. Gue muak bang gue muak..!!!! “ Teriak Glory tegas kepada Aksa keras... Semua bisa merasakan amarah Glory saat ini.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak yah! nanti aku Up lagi hehe