Transmigrasi Twins Antagonist

Transmigrasi Twins Antagonist
53


__ADS_3

Sudah dua hari Glory bekum siuman dari koma nya, Dika dan Regan beberapa kali menjenguk saat mereka pulang sekolah. Kabar jika Glory hilang karena perampokan itu sangat menggemparkan. Satu sekolah juga sangat gempar berita kehilangan Glory.


Bukan hanya keluarga Glory yang turun mencari, tapi juga keluarga Dava, Dimas dan Jay. semua berkonstribusi.


Berita ini belum sampai ke telinga Faris ayah kandung Glory, ia sedang berada diliat kota untuk perjalanan bisnis.


Plang....


“REGAN..!!!!” Regan yang baru saja pulang dari sekolah kaget namanya dipanggil begitu keras oleh ibunda tercinta. Apa lagi kepala nya hampir terkena wajan melayang dari ibunya


Regan menatap ibunya dnegan heran.”Ada apa sih Mi? kok teriak gitu? Mana lempar panci lagi, kalo kepala Regan benjol gimana? ”Tanya Regan polos.


Di samping ibunya juga ada Abi nya. Regan jadi bingung melihat keduanya. Uminya menatapi anaknya tajam.” Masuk dulu mi, bicarakan di dalam.” Ujar ayahnya Regan lembut menarik tangan istri kedalam. Diikuti Regan dari belakang bingung apa gerangan yang membuat kedua orang tuanya sangat marah begini?


Umi dan abinya duduk bersebelahan diatas sofa, Rega memilih duduk di kursi panjang didepan keduanya. “ Tadi Umi cek saldo rekening kamu, Kamu makek duit sebanyak itu buat apa Regan??” Regan mengerjab pelan mendengar pertanyaan dari Uminya.


”Duit apa Mi?”Tanya Regan tak paham.


Uminya mengusap dada menatap Regan sangar.”Kamu ngambil uang ditabungan kamu sebesar dua ratus lima puluh juta malam kemarin. Kamu kemanain uangnya Regan? Itu uang banyak banget bisa beli mobil baru tau nggak..!!!!! jangan-jangan kamu balapan liar yah atau kamu judi atau slot mangkanya habis uang kamu?”Pekik ibunya marah.


Regan terlihat pucat mendengar pertanyaan ibunya. Regan menggaruk tengkuknya terasa gatal.”Duh mi.. gini...”


“ApA COBA JELASKAN SEBELUM KAMU UMI KELUAR DARI KK..!!” Teriak ibunya.


Sang suami diam mengusap punggung istrinya.”Apa si pi gusuk-gusuk geli tauk..!” Suaminya terdiam melirik istrinya. Istrinya sangat gamas padahalkan niat hati untuk menenangkan saja.

__ADS_1


Regan menghela nafas.”Kemarin Regan sama Dika nolongin orang Mi.” Ujarnya jujur.


“Nolongin apa sampek buang uang dua ratus jutaan Regan??? Jangan bilang kamu kasih dia rumah gitu? Dikira kami cari uang gampang?” Tanya nya membentak.


Regan berdecak.”Mi jangan teriak gitu lah., Regan jelasin baik-baik.” Ujar Regan kesal.


Ibunya diam menatap sang anak penuh permintaan penjelasan.”Kemarin temen Regan dirampok, dan dia nelpon kami buat minta tolong. Eh pas sampek rumah dia, dia sendirian nggak ada siapapun, dia kena tusuk dan kepalanya luka parah dipukul keras sama benda kaca. Dia harus oprasi dan rawat inap. Kita nggak bisa hubungi keluarga dia karena dia yatim piatu. Jadi karena Regan kasihan Regan biayakan dia. Kalo nggak oprasi malam itu dia nggak bisa selamat. Itu aja kami hampir telat, dia kekurangan darah 5 kantong. Bayangin tu mi. kasihan banget.” Regan memberi wajah memelas dan kasihan, cerita sejujur-jujurnya dibumbui sedikit bumbu kebohongan agar umi dan abinya tak marah.


Ibunya tertegun menatap Regan.” Kamu nggak bohong kan?”Tanya ayahnya menyidik


. Regan menggeleng mengeliarkan HPnya. Menunjukan foto administrasi yang diselesaikan atas nama Glory serta keadaan Glory yang banjir darah dibantu Dika.”Ini buktinya Mi. Regan nggak cerita sama umi dan Abi takut kalian marah Regan bantu dia pakek uang banyak. Rencananya Regan mau cari kerja buat ganti uang yang Regan pakek eh kalian keburu ketahuan.” Ujar Regan lirih.


Kedua orang tuanya jadi terdiam menatap Regan dengan sendu.”Yaampun kenapa enggak bilang Regan? Umi seneng denger kalo kamu peduli sama orang lain nggak cuma buat rusuh dan main sama geng geng nggak jelas kamu tu.. Jadi bagaimana keadaan dia? Kasihan banget.”Ujar uminya menatap foto Glory yang sudha dipenuhi alat-alat ditubuhnya, tubuhnya hanya diselimuti kain biru dan beberapa alat dibadannya.


Regan menggeleng pelan.”dia sekarang masih koma karena lukanya cukup parah Mi. pi. Kalian kalo mau jengok nanti sore aja bareng. Regan juga mau jengok. Soalnya dia ngak ada yang jaga selain Dika dan Regan.”Ujar Regan. Umi dan abinya mengangguk pelan.


Hidup serba ada tak membuat mereka tinggi hati, selalu memberikan harga mereka 15% kepada yang membutuhkan. Jadi wajar saja jika mereka sama sekali tak marah jika anaknya kau membantu orang lain. Bagi mereka itu langkah yang baik untuk mendidik anak menjadi lebih baik dikedepannya.


Ibu Regan bernama Komala mengangguk melirik suami.”Kita liat bi. Siapa tau anak kita bohong. Kan bisa aja ini diedit atau dia ambil di printers,” Ujarnya menggebu pada Panji sang suami. Suami berdehem mengangguk saja.


Regan mekutar bola mata malas. Untung tidak dipukul. Kedua orang tuanya bukan tikepal yang sibuk, mereka adalah owner dan juga bos, toko bangunan di kelolah sang ayah dan ketring dikelolah sang ibu.


Sorenya ketiganya kerumah sakit yang dimaksud Regan. Disana dia dirawat diruang instensif, hanya bisa dijenguk dalam waktu yang ditentukan, salah satunya di jam lima sore. Dan disinilah mereka sekarang. Regan gugup membawa ibu dan ayahnya menemui Glory.


“Maaf nyonya, tuan. Diharapkan menggunakan baju dan id yang disediakan yah demi kenyamanan dan instruksi yang berlaku.”Ujar perawat ramah. Komala dan Panji mengangguk menggunakan baju serba biru dan sarum tangan yang disediakan, masker perawat dan id Cart yang tertulis sebagai pengunjung pasien.

__ADS_1


Diikuti Regan mereka masuk.”Mohon tuan, nyonya untuk tidak berisik atau mengangguk pasien lain yah. waktu hanya satu jam nanti akan dipandu dan ditemani oleh perawat yang sudah menunggu di ruangannya. Terimakasih.”Ujar perawat memandu dari luar.


“ Ketat banget yah Bi.”Bisik Komala pelan memasuki ruang.


Panji mengangguk.”Ini kan memang ruang gawat darirat mi., jadi memang punya protocol yang ketat.”Bisik Panji.


Saat masuk mereka diberi penampakan empat ruang yang di tutup hordeng. Di bagian pertama Komala bisa melihat seseorang yang tertidur dengan keadaann yang sangat mengerikan. Tubuh yang dibaluti kain kasa seperti mumi, kaki dan tangan diikat. Sepertinya patah.


Ruang kedua sampai ke ujung sekali.” Ini mi Glory.”Bisik Regan membuka tirai yang tertutup. Komala dan Panji masuk menatap kearah yang dimaksud Regan. Mata Komala terbuka lebar menatap sosok yang tertidur dengan air liur mengalir di pipinya menggenang, suara ngorok yang keras, matanya terlihat sedikit terbuka pucat. Komala menatapnya kasihan hingga air matanya jatuh sendiri tanpa dicegah.


”Yaamp------“ bibirnya ditutup Paji rapat.


”Jangan berisik..”Bisik Panji panic takut di usir.


Komala menarik ingus dalam menutup mulitnya menatap keadaan Glory. “Pii hiks hiks."| Ia menangis pelan. bahu kedua Glory terpampang menunjukan kulit putih susu miliknya, di tubuhnya tertutup kain tak menggunakan baju, kepala yang ditutup kain kasar dan rambit yang dipangkas seperti lelaki. Komala tak tahan menangis dipeluklan sang suami


Panji melirik Glory kasihan dan Regan yang menghela nafas. ibunya memang berhati melankonis, mudah menangis melihat sesuatu yang menyedihkan.”Dia sendirian tak punya keluarga?”Tanya Panji berbisik.


Regan mengangguk bohong.’Iya Bi. Dia nggakk punya orang tua.”Bisiknya pelan.


Komala semakin menangis. Bahunya bergetar melirik Glory. “Pi liat air liurnya ngalir gitu hiks hiks. “ia mengeluarkan tisu miliknya dan hendak membersihkannya.


Regan mengeleng pelan membuat Komala menatap anaknya polos. “Nggak boleh disentuh Mi. karena katanya itu nanti dijadikan bahan untuk pemeriksaan dari dokter apakah otak pasien sudah bereaksi atau belum, karena air lir itu menandakan otak dari pasien seidkit meradang dan gangguan. Benturan dikepalanya sangat kencang saat itu jadi beberapa syaraf dan urat terganggu bahkan terputus. Jadi biar nanti perawat saja yang membersihkan.”Ujar Regan jujur.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2