
Di kampung rena ibu sindi dan pak danu sedang membicarakan soal acara pertunangan antara rena dan damar tapi karena adat di kampung membuat ibu rena merasa tidak perlu adanya pertunangan karema hanya akan semakin banyak halangan dan banyak masalah kalau tidak cepat cepat di nikahkan
"teh kumaha nya da rena na hoyong kuliah keneh janteun tunangan w hela ke nikah mah pami dua nana tos siap (kak begini ya rena masih ingin kuliah jadi tunangan dulu kalau nikah nanti dulu kalau keduanya sudah siap)" begitulah ucap ibu sindi
"atuh pan tiasa nikah hela ke kuliah na di tuluykeun (kan bisa menikah dulu nanti kuliahnya di lanjutkan)" ucap ibu rena
"tapi teteh rena hoyong na tunangan heula jaba saur na teh hoyong damel heula pami tos nikah mah pan moal tiasa damel da tos gaduh tanggung jawab nyaeta salaki ukeun perhatosan nana teh (tapi kak rena ingin tunangan dulu dan juga dia ingin bekerja dulu karena kalau sudah menikah tidak bisa bekerja lagi dia sudah punya tanggung jawab yaitu suami jadi tolong pengertiannya kak)" ucap ibu sindi.
Pak danu yang hanya mengerti bahasa sunda sedikit hanya mangut mangut saja tanpa banyak tau apa yang mereka berdua bicarakan.
Setelah perdebatan yang panjang akhirnya ibu rena menyetujui apa yang di usulkan oleh adiknya itu, walaupun dirinya kurang setuju tapi demi kebahagian anaknya dia akhirnya menyetujuinya.
Ibu sindi dan pak danu menginap dua malam di kampung rena setelah semua perlengkapan yang akan di bawa ibu rena lengkap merekapun pulang ke kota untuk melanjutkan acara yang sudah di rencanakan oleh kedua pihak
"kak lebih baik kakak tinggal bersama kita saja lagian kan di kampung juga cuma sendiri" ucap ibu sindi
__ADS_1
"moal bisa teteh meningan cicing di kampung lewih seer kenangan nana (tidak bisa kakak lebih memilih tinggal di kampung lebih banyak kenangannya) "ucap ibu rena.
Ibu rena mengerti bahasa indonesia tapi susah untuk mengucapkannya.
Sesampainya di rumah rena sedang menunggu kedatangan ibunya karena sudah di beri kabar oleh bibinya kalau ibunya akan datang hari ini.
Rena sebenarnya merasa takut karena ibunya sangat kental dengan adat di kampung sedangkan di kampungnya sama sekali tidak ada istilah bertunangan apalagi kalau sudah menikah di larang bekerja karena sudah memiliki suami dan harus sepenuhnya mengurus suami,
rena takut kalau ibunya tidak setuju dan malah meminta langsung menikah rena tidak mau itu dia masih ingin bekerja dia ingin menikmati masa mudanya.
"ibu rena kangen maaf rena can tiasa uih da masih se'er pelajaran ibu sehat lain ? (ibu rena kangen maaf rena belum bisa pulang karena masih banyak pelajaran ibu sehat bukan ?)" tanya rena pada ibunya
"ibu sehat" ucap ibu rena.
Kemudian mereka berempat berbincang dan sesekali menanyakan keberadaan rangga dan menanyakan kepribadian damar seperti apa
__ADS_1
"oh nanti sore kak damar ke sini soalnya kita sudah ada janji akan pergi sebentar bukannya ibu sudah pernah bertemu dengan kak damar sekali" ucap rena
"enya kitu iraha ? (iya ya masa kapan ?)" tanya ibu rena
"itu saat rangga nganterin rena ke kampung waktu rena masih sekolah SMP" ucap rena
"tos lami atuh mana ibu inget (udah lama itu mah mana ibu ingat)" ucap ibu rena.
Sore hari
Rangga sudah pulang ke rumah karena sudah di beri kabar oleh mamah dan papahnya kalau ibunya rena datang ke rumah, rangga yang masih banyak pekerjaan pun membawa pekerjaannya ke rumah sebelum pulang rangga juga memberi tahu damar kalau calon mertuanya sudah ada di rumah.
Damar juga sudah datang untuk menjemput rena karena mereka berdua akan bertemu dengan elsa tapi suasana di rumah rangga sedang tidak seperti biasanya karena kehadiran ibu rena untungnya sebelum pergi damar mengirim chat pada elsa kalau janji ketemuannya di undur jadi esok hari saat makan siang.
Dari damar datang wajah ibu rena sudah tidak bersahabat dia seperti ingin memarahi damar tidak ada ekspresi bahagia di wajah ibunya rena dan itu membuat damar gugup
__ADS_1