
Rangga dan damar masuk ke dalam rumah mengikuti pemilik rumah rangga berjalan ke setiap sudut rumah yang memang memiliki kenangannya bersama dengan tania,
ayah tania membiarkan rangga melakukan keinginannya
"nak damar terima kasih karena sudah mau datang ke sini" ayah tania memulai percakapan karena saat ini dia tau kalau rangga sedang tidak bisa di ajak bicara jadi dia memulai dengan damar
"iya om sama sama saya ke sini sekalian menjaga rangga karena setelah dia mendapat kabar soal tania rangga sering melamun tante sindi takut kalau terjadi apa apa pada rangga, saya juga mendapat kabar kalau sahabatnya tania juga akan datang ke sini untuk melihat om" damar dapat merasakan hawa kesepian di rumah ini mungkin dengan kedatangan mereka akan membuat ayah tania sedikit terhibur
"ya bagus lah kalau begitu soal tania baru saja om mendapat kabar kalau puing puing pesawat sudah di temukan di lautan dan sekarang tim SAR sedang mencari black box pesawat dan kemungkinan terbesar semua penumpang tidak ada yang selamat"
Rangga yang mendengar ucapan ayah tania langsung melepaskan pigura foto yang sedang dipegangnya dan seketika
prang
foto tania terlepas dari tangannya, rangga langsung melihat hpnya dan ternyata pak roni sudah menghubunginya beberapa kali, rangga langsung mengerti kalau ucapan yang di dengar oleh rangga adalah benar
"om maaf" rangga berjongkok dan membereskan pecahan kaca
"rangga tidak perlu di bereskan biar nanti art yang membersihkannya bangun lah" ayah tania membangunkan rangga
"om rangga meminta izin untuk ke kamar tania" rangga berdiri dan mengambil foto tania yang tadi di lihatnya
"pergilah" ayah tania dapat merasakan bagaimana perasaan rangga sekarang dia pun mengizinkan rangga untuk ke kamar tania
Sedangkan damar mendapat telpon dari reva
__ADS_1
"iya aku akan menjemput mu tunggulah di sana jangan kemana mana" damar kemudian menutup telpon dari reva
"om damar pamit dulu damar mau menjemput reva dan lisa sepertinya mereka sudah sampai" damar kemudian membawa kunci mobil dan keluar dari rumah
...----------------...
Sedangkan di bandara reva dan lisa akhirnya sampai di negara S
"gue telpon damar dulu agar menjemput kita lo tunggu di sini" reva kemudian sedikit menjauh dari lisa
"dasar tukang cari kesempatan padahal tinggal cari taksi aja bukannya kita sudah tau alamatnya ngapain harus telpon damar segala" lisa sedikit mengeluh karena reva sudah menyianyiakan waktu
reva dapat mendengar keluhan lisa
Setelah selesai menghubungi damar reva dan lisa akhirnya menunggu di luar bandara.
Cukup lama menunggu akhirnya damar datang untuk menjemput reva dan lisa
"masuk lah aku butuh istirahat" damar menurunkan kaca mobil
"kamu tidak ingin membukakan pintu untuk ku" reva mencoba untuk memanfaatkan setiap detik waktunya bersama dengan damar agar dapat lebih dekat
Sedangkan lisa setelah menyimpan kopernya di bagasi mobil lisa langsung masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang
"hey ayolah lihat lisa saja sudah masuk masa kamu mau terus berdiri" damar sudah capek dengan sikap reva yang merasa kalau hubungan mereka belum berakhir
__ADS_1
Melihat ekspresi damar yang sepertinya mulai kesal akhirnya reva mencoba untuk menahan egonya dia berjalan ke arah bagasi dan menyimpan kopernya dan setelah itu langsung masuk dan duduk di kursi depan
"terima kasih karena sudah menjemput kami" reva tersenyum ke arah damar sambil merangkul pergelangan tangan damar
"jangan seperti ini aku lagi menyetir, dan aku menjemput kalian karena perintah dari om danu jadi kamu gak usah GR" damar melepaskan tangan reva dari pergelangan tangannya
Reva yang di perlakukan seperti ini oleh damar tentu saja merasa tidak suka tapi demi bisa kembali dengan damar dia mencoba untuk menahan emosinya
"damar aku melihat berita katanya pesawat yang di tumpangi oleh tania sudah di temukan dan kemungkinan semua penumpang tidak ada yang selamat bagaimana kondisi ayah tania dan rangga sekarang ?" lisa mencoba merebut hati damar terlebih dahulu agar rencananya untuk mendapatkan rangga akan jauh lebih mudah
"yah begitulah ayah tania mencoba untuk menerima semuanya sedangkan rangga sangat sedih dia tadi sempat menjatuhkan foto tania di rumah" damar melihat ke arah spion untuk melihat ekspresi lisa
"aku benar benar gak nyangka kalau tania akan pergi secepat ini padahal baru aja kita bertemu kalau saja aku tau kalau pertemuan kemarin adalah pertemuan terakhir aku akan lebih lama ngobrol dengan tania" lisa menunjukkan raut wajah sedih begitu juga dengan reva, reva sampai bersandar di pundak damar dan mengeluarkan air matanya
Damar yang sebenarnya risih dengan perlakukan reva padanya mencoba untuk membiarkan reva karena mungkin sekarang reva sedang membutuhkan pundaknya karena merasa kasihan damar mengusap kepala reva
"aku yakin kalian pasti bisa menerima ini semua kalian yang sabar ya" damar kemudian melihat ke arah reva yang masih setia bersandar di pundaknya dengan wajah yang begitu sedih
"aku benar benar merasa menyesal sekarang seharusnya saat kita di kafe saat itu aku tidak meninggalkan dia seharusnya aku membuat kenangan indah untuknya aku benar benar menyesal" reva kemudian menangis dengan sedikit terisak
Damar tentu saja merasa tidak tega dia terus mencoba menenangkan reva dengan cara mengusap kepalanya
Sedangkan lisa di kursi belakang sedang membicarakan reva dalam hatinya "pintar sekali dia membuat damar merasa kasihan padanya apanya yang menyesal dasar pintar berakting"
Sedangkan reva dalam hatinya "kalau dengan cara ini aku bisa membuat damar kembali simpati padaku tidak ada salahnya aku menangis di depannya" reva tersenyum licik di sela sela kesedihannya
__ADS_1