
Setelah seharian bekerja rangga sudah kembali ke rutinitas biasanya yaitu berbaring di kasur sambil bercerita kesehariannya pada foto tania. Rangga tidak pernah melupakan rutinitas itu karena dengan begini rangga bisa menyalurkan kerinduannya pada tania. Selesai bercerita rangga akan berkumpul dengan kedua orangtuanya sambil membicarakan kemajuan perusahaan pada papahnya sekalian mempelajari pengalaman yang di lalui oleh papahnya agar rangga juga bisa lebih baik dari papahnya di kemudian hari
"sayang papah tadi bertemu dengan pak airlangga dan dia kembali bertanya soal kamu dan acha" ucap pak danu pada rangga ibu sindi hanya mendengarkan di samping
"papah rangga kan sudah bilang acha hanya menganggap acha sebagai adik tidak lebih" ucap rangga yang sudah tau arah pembicaraan papahnya
"iya kalau kamu terus sendiri papah kan jadi tidak mempunyai alasan untuk menolak jadi sebaiknya kamu carilah pasangan yang baru" ucap pak danu merasa harus membicarakan ini dengan rangga
"mamah setuju dengan papah kamu sebaiknya kamu carilah pasangan bukannya mamah dan papah menyuruh kamu untuk melupakan tania tapi kita harus melihat ke depan" ibu sindi langsung memotong agar rangga tidak dapat membuat alasan
"bukannya rangga tidak mau mencari yang baru tapi rangga belum menemukan yang cocok" ucap rangga memberikan pembelaan
"baiklah tapi kalau sampai satu bulan kamu belum juga mendapatkan pendamping papah akan menyetujui usulan paka airlangga soal kamu dan acha" akhirnya pak danu mengambil keputusan walaupun sebenarnya ibu sindi masih belum seratus persen setuju tapi dari pada melihat anaknya terus sendiri keputusan ini lebih baik.
Rangga melihat ke arah mamahnya untuk meminta pembelaan tapi melihat mamahnya diam saja membuat rangga harus kembali berpikir agar perjodohan ini tidak terlaksana.
...----------------...
Di pinggiran kota seorang anak perempuan bernama diana baru saja pulang dari rutinitasnya yaitu mencari pekerjaan. Diana adalah lulusan dari salah satu universitas yang mengambil jurusan sekertaris selama lulus diana belum juga mendapat pekerjaan dan dia menganggur sudah lebih dari satu tahun dia sudah mencoba melamar kesana-kemari tapi belum juga di terima. Diana hidup berdua bersama sang nenek, nenek diana memiliki warung kecil-kecilan pendapatan dari warung hanya bisa untuk memberi makan sehari hari. Diana sendiri dulu dapat kuliah karena dia mendapatkan beasiswa dia termasuk anak yang pintar
"aduh nenek kan diana sudah bilang jangan terlalu capek kalau mau tutup warung biar diana yang kerjakan ini kan berat" ucap diana
"tapi kamu kan juga capek habis cari kerja sebaiknya kamu istirahat" ucap nenek diana
__ADS_1
"diana tidak capek kok sekarang nenek masuk ke rumah biar di sini diana yang selesaikan" ucap diana.
Diana pun membereskan semua barang dagangan dan tidak lupa mengunci warung agar tidak ada yang mencuri, diana pun menyusul sang nenek ke dalam
"bagaimana apa sudah ada hasil" ucap nenek saat melihat diana sudah duduk di kursi
"belum nek semua perusahaan full walaupun ada harus menggunakan uang pelicin diana mana punya uang" ucap diana cemberut
"maaf kalau saja nenek punya uang nenek pasti bisa bantu kamu" ucap nenek yang tidak bisa melakukan apapun untuk cucunya
"nenek tidak perlu minta maaf diana sudah bahagia kok ada nenek di samping diana dan selalu menjaga diana" diana memeluk neneknya yang merupakan keluarga satu satunya yang di miliki oleh diana.
...----------------...
"damar bagaimana hubungan kamu dengan rena ?" ucap bu halimah
"baik bu" ucap damar yang sedang fokus membalas chat dari rena
"kapan kalian akan menikah ?" ucap pak airlangga.
Mendengar pertanyaan papahnya membuat damar melirik ke arah papahnya
"nanti saja rena masih ingin kuliah di tambah rena tidak ingin menikah muda" ucap damar memberi alasan
__ADS_1
"kalau begitu tunangan saja dulu" ucap pak airlangga kembali.
Damar yang memang memiliki ketakutan sendiri merasa belum siap apalagi kalau harus berkomitmen walaupun damar sangat mencintai rena tapi ada sesuatu di hatinya yang belum bisa menerima kalau dirinya harus bertunangan dengan rena
"nanti aku bicarakan lagi dengan rena kalau begitu damar ke kamar dulu" damar sudah tidak ingin di beri pertanyaan lagi oleh orangtuanya
"kalau begitu kamu sudah siap mengambil alih perusahaan papah" ucap pak airlangga walaupun pak airlangga memiliki anak kandung tapi melihat acha yang belum siap dia akhirnya memberikan tanggung jawab ini pada damar
"damar akan berbicara dulu dengan rangga" ucap damar kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Sekarang pak airlangga tinggal berbicara dengan anak gadis nya
"bagaimana hubungan kamu dengan rangga" ucap pak airlangga
"papah jangan bahas ini dulu" ucap bu halimah yang sangat tau bagaimana perkembangan hubungan acha dan rangga
"baik" ucap acha yang sebenarnya malas karena hubungannya dengan rangga masih belum ada kemajuan
"tapi kan seharusnya sudah ada keputusan dari rangga" ucap pak airlangga keceplosan
"keputusan apa ?" acha yang tidak tau perihal perjodohannya dengan rangga merasa bingung. Karena merasa sudah waktu yang pas akhirnya bu halimah mencoba untuk menjelaskan "papah biar ibu yang bicara" ucap bu halimah.
Bu halimah pun menceritakan perihal perjodohan antara rangga dan acha, mendengar cerita dari ibunya membuat acha marah karena kedua orang tuanya sudah mencampuri urusannya
__ADS_1
"bagaimana bisa papah melakukan semua ini acha sekarang harus bagaimana acha malu bertemu dengan kak rangga dan semua ini karena papah" acha yang merasa kecewa akhirnya berlari ke dalam kamar