
Jericho membawa Olivia untuk makan di sebuah restoran yang menyediakan makanan oriental, karena permintaan dari Jonah yang ingin memakan mie dengan kuah daging.
Olivia yang pernah menjadi pengasuh anak tetangganya dulu waktu dia masih bersekolah, tentu tidak kesulitan untuk membantu mengurus Jonah.
Apalagi, Jonah adalah anak yang patuh, dan Olivia hanya perlu membantu mengajari Jonah untuk makan menggunakan sumpit, karena Jonah ingin agar dia bisa menggunakan alat makan itu sendiri nantinya.
Dengan begitu, pengasuh Jonah yang tadinya menyusul dengan kendaraan terpisah, juga bisa ikut duduk makan siang dengan tenang bersama dengan mereka.
Setelah semuanya sudah selesai menikmati makan siangnya, Jonah kemudian diantar pulang lebih dulu, bersama pengasuh dan supir pribadinya.
Sedangkan Olivia, akan diantar oleh Jericho, untuk kembali ke apartemennya.
"Apa kamu mau berjalan-jalan denganku sebentar?" tanya Jericho, ketika dia dan Olivia sudah berada di dalam mobilnya, dan bersiap pergi dari pelataran parkir restoran itu.
"Hmm ... Okay!" sahut Olivia. "Kita akan ke mana?"
"Kamu mau ke mana? Apa ada tempat yang ingin kamu datangi?" Jericho balik bertanya.
"Hmm ... Saya tidak tahu, Sir," jawab Olivia.
Jericho hanya menatap Olivia sejenak, dan tidak berkomentar apa-apa, kemudian dia mulai melajukan mobilnya di jalan raya.
"Oh, iya! Saya tadi lupa bertanya, bagaimana dengan Sir Andersen? Apa Sir Andersen belum diperbolehkan untuk pulang?"
Olivia mendadak terpikir, kalau Johan mungkin ingin Jericho menemaninya di rumah sakit.
Jericho tampak melirik Olivia, namun dia kembali menatap lurus ke arah jalanan, dan tidak segera menjawab pertanyaan dari Olivia itu.
"Aku tidak tahu kalau kamu menyadarinya atau tidak. Tapi, sebenarnya aku dan daddy-ku tidak terlalu dekat. Sudah terlalu lama, kami berdua sibuk dengan kegiatan kami masing-masing," ujar Jericho tiba-tiba.
"Maafkan saya, Sir," ucap Olivia, yang merasa kalau dia seolah-olah telah salah bicara.
"Tidak perlu kamu meminta maaf, itu bukanlah kesalahanmu....
... Semenjak mommy-ku wafat, daddy-ku jadi lebih sering menghabiskan waktunya dengan melakukan pekerjaannya," kata Jericho pelan.
Olivia menoleh ke sampingnya, dan memandangi Jericho yang tampaknya masih terlihat tenang, saat membicarakan bagaimana interaksi antara dirinya dan Johan.
__ADS_1
"Bukannya kami tidak saling menyayangi. Hanya saja kami berdua hampir kehilangan momen, sebagaimana hubungan antara seorang daddy dan anaknya pada umumnya....
... Aku tidak menyalahkannya. Aku mengerti bagaimana rasanya, jika secara tiba-tiba, berpisah dari seseorang yang biasanya selalu ada. Karena aku juga melakukan hal yang sama seperti daddy-ku," lanjut Jericho.
Olivia mengerti akan apa yang dibicarakan oleh Jericho saat ini, karena dia pernah mengalami hal yang serupa.
Olivia bisa merasakan, kalau mommy-nya yang seakan-akan menjaga jarak darinya, ketika daddy dari Olivia tiba-tiba meninggal dunia.
Tapi untung saja, tidak sampai satu tahun kemudian setelah kepergian daddy Olivia, mommy-nya tampak kembali mengusahakan agar tetap memiliki waktu untuk Olivia.
Saat itu, mommy dari Olivia, akhirnya terlihat kembali menjadi dirinya sendiri lagi, yang berkepribadian ceria dan hangat bagi Olivia.
Bahkan hubungan antara Olivia dan mommy-nya jadi semakin dekat daripada sebelumnya, sampai mommy-nya menghembuskan nafas terakhirnya.
"Maafkan saya, Sir ... Saya bukannya mau sok tahu. Tapi menurut saya, anda jangan sampai melakukan hal itu kepada jonah," ujar Olivia.
"Tidaklah adil, kalau Jonah harus merasakan, seperti yang anda rasakan," lanjut Olivia berhati-hati.
"Iya. Aku sudah sering kali memikirkannya," sahut Jericho pelan. "Tapi aku juga bisa lupa, dan kembali menyibukkan diriku dengan pekerjaan."
Olivia tahu, kalau masing-masing orang tentu berbeda-beda kemampuannya, untuk melewati masa-masa sulitnya.
"Menyenangkan saat aku melihat Jonah yang bisa dekat denganmu. Bahkan, dia terlihat seperti bukan dirinya yang biasanya, saat dia bersamamu," ujar Jericho sambil tersenyum.
"Apa kamu memang suka dengan anak-anak? Atau pernah bekerja jadi pengasuh?" lanjut Jericho.
"Saya suka dengan anak-anak, dan saya juga pernah jadi pengasuh anak dari tetangga kami, demi tambahan uang saku," jawab Olivia enteng.
"Pantas saja. Kamu terlihat sabar saat bersama Jonah. Mungkin dia juga menyadari, bagaimana kamu yang menyukai anak-anak sepertinya. Hingga dia bisa berperilaku seterbuka itu di depanmu."
Melihat Jericho yang tampak seolah-olah tidak bisa berhenti tersenyum, saat membicarakan tentang Jonah, Olivia menyadari kalau Jericho sangat menyayangi anaknya itu.
Tapi dengan demikian, Olivia juga jadi penasaran, kenapa Jericho dan istrinya harus bercerai, hingga mengorbankan anak yang menggemaskan seperti Jonah.
Walaupun begitu, Olivia menahan diri untuk mencari tahu penyebab perceraian Jericho, karena rasanya tidak pantas, jika Olivia terlalu mau tahu dengan urusan pribadi Direkturnya itu.
Jericho lalu memelankan laju mobilnya, hingga berhenti di pelataran parkir, di sebuah taman kota, dan mengajak Olivia berjalan-jalan dengannya di sana.
__ADS_1
Tempat yang ditumbuhi banyak pepohonan berukuran besar, membuat tempat itu tetap terasa sejuk dan nyaman, meskipun matahari masih tinggi.
Sebuah kolam di tengah-tengah taman yang terisi oleh beberapa angsa dan bebek liar, menambah keindahan di tempat itu, dan bisa menyegarkan pikiran dari penatnya kesibukan kota.
Di sana terlihat cukup ramai, dengan adanya banyak orang yang tampak menikmati keindahan tempat itu.
Baik yang terlihat hanya sendirian, berdua maupun bergerombol seperti pasangan kekasih atau sahabat, ataupun mungkin satu keluarga yang berpiknik, menghabiskan waktu libur akhir pekan mereka.
Setelah berjalan pelan untuk beberapa waktu lamanya, Jericho mengajak Olivia untuk duduk di atas rerumputan, di bawah salah satu pohon besar yang menghadap langsung ke kolam.
Dengan sedikit menekuk lutut, mereka duduk bersebelahan di situ, dan memandangi kolam di depannya.
"Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanya Jericho.
"Ugh ...? Apa maksud anda, Sir?" Olivia yang tidak mengerti arah pembicaraan Jericho, akhirnya hanya balik bertanya.
"Jonah tadi sudah memberikanmu sebuah syal. Aku juga ingin melakukan hal yang sama. Aku mau memberikanmu sesuatu yang kamu inginkan," kata Jericho.
"Ooh ...! Tidak perlu, Sir ... Hadiah dari Jonah sudah lebih dari cukup, dan seharusnya dia tidak perlu menghabiskan uang sakunya, hanya untuk membelikan sesuatu untuk saya," sahut Olivia.
"Berapa usia Jonah, Sir?" lanjut Olivia buru-buru.
"Minggu depan, dia genap tiga tahun," jawab Jericho.
"Benarkah? ... Kalau begitu saya sudah salah mengira. Saya pikir dia sudah berusia empat atau lima tahun," ujar Olivia dengan rasa tidak percaya.
"Tinggi badannya memang melebihi anak-anak seusianya," sahut Jericho.
"Bukan itu saja, Sir ... Menurut saya, gaya dan cara bicaranya yang justru membuatnya terlihat lebih dewasa," ujar Olivia, sambil tersenyum mengingat tingkah lucu Jonah.
"Kamu mengagumi daddy-ku. Bahkan Jonah pun mendapatkan perhatian lebih darimu. Lalu bagaimana denganku? Apa tidak ada yang mengagumkan dariku?"
Mendengar pertanyaan dari Jericho itu, membuat Olivia menoleh ke sampingnya, dan melihat Jericho yang menatapnya sambil tersenyum.
"Sir ...! Anda pasti sedang bercanda, kan?! Anda tidak membutuhkan pujian dariku. Karena anda pasti sudah tahu, kalau anda jadi idola di kantor," kata Olivia.
"Pffftt ...! Benarkah? Tapi, aku tidak pernah mendengarnya." Jericho tampak tertawa tertahan. "Justru yang aku rasa, seolah-olah karyawanku malah tampaknya merasa takut saat melihatku."
__ADS_1
"Hmm ... Anda di kantor tidak pernah tersenyum. Kira-kira, siapa yang tidak akan merasa takut kalau begitu?" sahut Olivia bercanda.
"Hahaha ...!" Jericho tampak tertawa puas, hingga Olivia pun ikut tertawa bersamanya.