
"Mau pulang bersamaku?"
Olivia yang duduk bersandar di kursi kerjanya, sambil melihat-lihat tampilan di layar ponselnya, kemudian mengangkat pandangannya, dan melihat Louis yang bertanya, barusan.
"Tidak ... Kamu pulang saja duluan! Aku masih menunggu seseorang," jawab Olivia.
"Siapa?" tanya Louis, yang menghampiri meja Olivia, dan berdiri bersandar di situ.
"Olivia!"
Sebelum Olivia sempat menjawab pertanyaan Louis tadi, suara Jericho yang berseru memanggil namanya, membuat Olivia dan Louis, bersamaan melihat ke arah datangnya suara.
Jericho terlihat berjalan menghampiri meja kerja Olivia, dan Olivia pun segera berdiri dari tempat duduknya.
"Iya, Sir!" sahut Olivia.
"Louis? ... Kamu belum pulang?" tanya Jericho, sambil melihat ke arah Louis, yang sudah berdiri tegak.
"Rencananya saya sudah akan pulang, Sir! ... Saya hanya menyapa Olivia, dan mengajaknya pulang bersamaku," jawab Louis.
"Hmm...." Jericho bergumam, dan seolah-olah dia akan berkata sesuatu, namun Olivia segera berbicara lebih dulu.
"Kamu bisa pulang duluan! ... Aku bisa pulang memakai bus," kata Olivia kepada Louis.
Jericho yang kelihatannya mengerti, kalau Olivia tidak mau pulang dengan diantarkan oleh Louis, lalu ikut menyambung perkataan Olivia kepada Louis.
"Kamu tidak perlu menunggu! ... Aku bisa mengantarkan Olivia pulang, karena ada yang ingin aku bicarakan dengannya," kata jericho.
Dengan raut wajah yang tampak kecewa, Louis melihat ke arah Olivia untuk sesaat, sebelum dia kembali melihat ke arah Jericho.
"Baik, Sir! ... Kalau begitu, saya pergi dulu!" kata Louis, lalu beranjak pergi dari ruang kerja mereka itu.
Louis masih sempat berbalik dan melihat ke arah Olivia dan Jericho, sekilas.
Namun, mungkin karena tidak ada yang mengheraninya, Louis akhirnya lanjut berjalan pergi, hingga menghilang dari pandangan Olivia.
"Apa kamu sudah lama menunggu?" tanya Jericho.
"Tidak terlalu lama, Sir ... Saya juga baru selesai merapikan barang-barangku," jawab Olivia.
Jericho lalu terlihat memandangi arloji, di pergelangan tangannya yang terangkat.
"Olivia! ... Kita bisa bicara sambil berjalan keluar?" ujar Jericho.
"Tentu saja, Sir!" sahut Olivia, lalu mengambil tasnya, yang memang sudah siap untuk dibawa pergi.
Olivia bersama dengan Jericho, lalu beranjak pergi dari ruang kerja Olivia, dan menuju ke lift.
"Aku tadi tidak sedang asal bicara. Aku ingin mengantarkanmu pulang. Tidak apa-apa?" ujar Jericho, setelah mereka berdua masuk ke dalam lift.
"Terserah anda saja, Sir ... Tapi, apa saya tidak hanya merepotkan anda?" sahut Olivia.
__ADS_1
"Tentu saja, tidak merepotkan ... Aku tadi justru agak cemas, kalau-kalau kamu ingin pulang bersama Louis, lalu saya hanya jadi pengganggu saja," kata jericho.
"Apa saya boleh tahu? Bagaimana hubunganmu dengan Louis? Apa sudah ada peningkatan?" tanya Jericho, tampak berhati-hati.
"Kami tetap menjadi teman. Itu saja, Sir," sahut Olivia, tanpa ragu.
Sampai Olivia dan Jericho keluar dari lift, dan berjalan ke pelataran parkir gedung kantor, bahkan sampai masuk ke dalam mobil Jericho, mereka tidak bicara apa-apa lagi.
Namun kelihatannya, Jericho masih kurang puas dengan jawaban Olivia, tentang hubungan antara Olivia dengan Louis.
Hingga ketika mobil Jericho sudah mulai beranjak pergi dari parkiran gedung kantor, Jericho lalu bertanya,
"Apa Louis sudah tahu, kalau kamu menyukainya?"
Olivia menoleh ke samping, dan melihat ke arah Jericho yang terlihat melirik ke arahnya.
"Tidak ... Saya rasa, dia juga tidak perlu tahu," jawab Olivia.
"Lalu bagaimana? Apa kamu baik-baik saja?" Jericho kembali bertanya, walaupun dia tetap berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.
Menurut dugaan Olivia, dari suara Jericho, kedengarannya, laki-laki itu memang sungguh-sungguh mengkhawatirkan keadaan Olivia, saat dia melontarkan pertanyaannya kepada Olivia.
"Sudah tentu, saya baik-baik saja, Sir! ... Saya sudah tidak mengharapkan lagi, agar Louis jadi kekasihku. Saya lebih memilih kalau kami hanya berteman saja," kata Olivia.
"Hmm ... Begitu, ya?!" ujar Jericho.
Jericho lalu menggapai tangan Olivia, dan menggenggamnya dengan erat.
"Olivia! ... Asal kamu tahu saja, kalau kamu bisa bercerita padaku, jika ada sesuatu yang masih mengganjal di hatimu," lanjut Jericho.
Dan jika Olivia sekarang ini, sudah lebih suka, kalau dia dan Louis hanya berteman saja, Jericho tampaknya masih belum yakin akan hal itu, dan dia tetap mencemaskan keadaan Olivia.
"Pffftt ...!" Olivia tertawa tertahan.
"Tenang saja, Sir! ... Aku sudah merelakannya. Justru sekarang ini, aku berharap agar Louis bisa segera menemukan seseorang, yang bisa menjadi kekasihnya," kata Olivia.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Jericho.
"Memangnya, apa yang mungkin akan terjadi pada saya, Sir?" ujar Olivia.
"Hmm ... Asalkan kamu yakin, kalau kamu memang benar merasa baik-baik saja," sahut Jericho, sambil tetap menggenggam tangan Olivia.
"Tentu saja! ... Terima kasih sudah mengkhawatirkanku," ujar Olivia, sambil tersenyum lebar.
"Oh, iya! ... Apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Olivia.
"Jonah ... Besok dia berulang tahun, dan dia ingin agar kamu datang ke pestanya," jawab Jericho.
"Ugh ...?" Olivia kebingungan.
Besok adalah hari ulang tahun Olivia, dan ternyata Jonah juga lahir di tanggal yang sama.
__ADS_1
Benar-benar kebetulan yang mengejutkan.
"Jonah tidak mau merayakan ulang tahunnya, dengan mengundang anak-anak sebayanya. Dia meminta agar diadakan makan malam bersama saja," ujar Jericho.
"Pffftt ...! Jonah benar-benar bertingkah seperti orang dewasa. Dan itu terlalu menggemaskan, Sir! ... Anak anda itu, semakin menarik perhatian saya saja."
Olivia bersungguh-sungguh mengatakan hal itu, karena setahu Olivia, anak-anak sekecil Jonah, biasanya senang jika ulang tahunnya diselenggarakan dengan meriah.
Namun, Jonah malah memilih untuk merayakannya seperti orang dewasa.
Dengan begitu, tentu saja hal itu jadi terasa lucu dan benar-benar menggemaskan, bagi Olivia.
"Jadi, apa kamu mau datang?" tanya Jericho, tampak memastikan.
"Iya, Sir ... Saya tidak mungkin mengecewakannya," jawab Olivia.
"Bagus! ... Karena kalau kamu sampai menolak, maka aku yang akan dimarahinya. Karena dia telah membuatku berjanji, agar aku meyakinkanmu, untuk ikut makan malam bersamanya," sahut Jericho.
"Hmm ... Sir! ... Apa saya boleh tahu? Apa yang disukai oleh Jonah?" tanya Olivia, yang terpikir, untuk membelikan hadiah ulang tahun untuk Jonah.
"Kamu tidak perlu repot-repot menyiapkan hadiah untuknya. Karena katanya, asalkan kamu bisa datang saja, dia sudah merasa senang," jawab Jericho.
"Tapi, Sir ... Saya tetap ingin agar bisa memberikannya sesuatu," kata Olivia.
Jericho menoleh ke arah Olivia, dan menatapnya untuk sesaat, sebelum dia kembali melihat lurus ke depannya.
"Jonah menyukai permainan Lego. Tapi, kalau kamu membawa Lego sebagai hadiah, maka kamu mungkin tidak akan bisa pulang begitu saja....
... Jonah pasti menahanmu di rumahku, untuk menemaninya bermain, sampai dia merasa lelah," sahut Jericho.
"Begitu, ya?! ... Kelihatannya tidak jadi masalah. Karena lusa sudah libur akhir pekan. Saya rasa, besok malam, saya bisa menunda jam tidurku," kata Olivia.
"Pffftt ...! Asal kamu tidak menyesalinya saja. Jonah tidak mudah bosan, untuk bermain itu," ujar jericho, sambil tertawa.
Jericho mengantarkan Olivia, sampai ke depan gedung apartemen Olivia.
Dan sebelum Jericho pergi dari apartemen Olivia, Jericho masih menyempatkan diri, untuk menemani Olivia, sampai di pintu masuk gedung apartemen.
"Kamu tidak perlu repot-repot mencari tumpangan, untuk pergi ke rumahku nanti. Karena Jonah akan mengutus supir pribadinya, untuk menjemputmu," kata Jericho.
"Baik, Sir! ... Terima kasih, karena sudah mengantarkan saya pulang!" kata Olivia.
Jericho lalu memberitahu kepada Olivia, tentang perkiraan waktu makan malam, untuk ulang tahun Jonah besok.
Selain itu, Jericho juga berpesan kepada Olivia, kalau Olivia tidak perlu memusingkan dirinya dengan urusan busana.
Dan Olivia bisa memakai pakaian apa saja, asalkan Olivia merasa nyaman, karena acara makan malam itu tidaklah resmi.
Makan malam itu, hanya akan dihadiri oleh Jonah, Jericho, Johan dan dua sepupu Jonah beserta orang tuanya, yang berasal dari keluarga mommy-nya Jonah saja.
Jericho kemudian beranjak pergi dari apartemen Olivia, setelah berpamitan dengan Olivia.
__ADS_1
Dan sepulangnya Jericho dari apartemen Olivia, di dalam kamarnya, Olivia kemudian mencari satu set permainan Lego, melalui aplikasi toko daring di ponselnya.
Setelah menemukan apa yang dia cari, Olivia langsung membuat pesanan, agar besok nanti, dia tidak perlu membuang waktunya lagi, hanya untuk mencari hadiah bagi Jonah itu.