
Sesuai dengan dugaan Olivia, kalau Jonah pasti akan merasa sangat senang, saat menonton pertunjukan sirkus, yang menampilkan banyak hal yang unik dan lucu, di sana.
Jonah yang kegirangan, tampak hampir tidak bisa berhenti bertepuk tangan.
Sesekali, jonah berbalik untuk melihat Olivia yang memangkunya, lalu mengutarakan rasa kagumnya, akan apa saja yang dilihatnya kepada Olivia.
"Miss! ... Mereka sangat hebat! ... Apa kalau aku sudah besar nanti, aku bisa mencobanya?"
Pertunjukkan juggling yang dilakukan beberapa badut, sambil mengendarai sepeda roda satu, tampaknya benar-benar menarik perhatian Jonah, hingga dia ingin mencoba untuk melakukan hal yang sama.
"Iya, tentu saja! ... Kalau Jonah sudah besar, Jonah pasti bisa melakukan apa saja," jawab Olivia, sambil mempererat pelukannya pada Jonah.
Kali ini, mereka menonton semua yang ditampilkan di tenda sirkus itu sampai usai, agar Jonah bisa merasa puas melihatnya.
Johan juga tidak memaksa untuk pergi makan malam, dan justru berniat untuk makan malam di rumah saja, sambil mereka nanti membuat api unggun.
Sebelum mereka pulang, Johan masih memberikan kesempatan bagi Jonah dan Olivia, untuk memilih dan membeli cendera mata, yang diperdagangkan di area sirkus itu, sebagai kenang-kenangan.
Setibanya di rumah, Johan dan supir pribadinya, segera membuat api unggun.
Kemudian, sementara Olivia dan Jonah membakar marshmellow di api unggun yang sudah menyala, Johan memanggang beberapa potong sosis dan daging, menggunakan alat pemanggang, sambil dibantu oleh supir pribadinya.
Seolah-olah sedang bertamasya, dengan memakan semua bahan makanan yang dipanggang, tidak ada yang terkecuali yang tampak tidak menikmatinya.
Beberapa bangku, yang diletakkan oleh supir pribadi Johan di dekat api unggun, menjadi tempat duduk bersantai, sambil mereka semua menikmati makan malamnya.
Ketika Jonah sudah selesai memakan makan malamnya, Olivia kemudian menunjuk bungkusan marshmellow, yang isinya masih tersisa banyak, sambil berkata,
"Apa Jonah masih mau lagi?"
"No, Miss! ... I'm full!" kata Jonah, yang kelihatannya memang sudah kekenyangan.
"Apa kamu masih mau?" Kini Johan yang bertanya kepada Olivia, menawarkan marshmellow itu.
"Aku akan memanggangnya untukmu," lanjut Johan.
"Terima kasih, Sir ... Tapi saya rasa sementara ini, sudah cukup ... Nanti saja," sahut Olivia.
Setelah menghabiskan makan malamnya dan setengah gelas wine, supir pribadi Johan mengundurkan diri untuk beristirahat lebih dulu.
Sehingga yang tertinggal di halaman belakang, hanya Johan, Jonah dan Olivia.
Dan tidak lama kemudian, Jonah terlihat seperti sudah mengantuk.
Namun, sebelum Olivia mengantarkan Jonah untuk tidur, Johan sudah lebih dulu menawarkan diri untuk melakukannya.
"Biar Grandpa saja yang mengantar Jonah tidur, okay?" ujar Johan kepada Jonah.
Jonah sempat melirik ke arah Olivia untuk sesaat, namun akhirnya dia setuju, jika Johan yang mengantarnya ke kamar.
"Okay!" sahut Jonah, lalu menghampiri Olivia, dan berpelukan dengan erat untuk sejenak.
"Aku pergi tidur lebih dulu ... Good night, Miss!" kata Jonah.
"You too ... Good night, Jonah!" sahut Olivia, lalu memberikan kecupan di pipi kiri dan kanan Jonah, sebelum Jonah pergi bersama Johan, yang kemudian menggendong Jonah.
__ADS_1
"Jangan dihabiskan sendirian! ... Aku pasti kembali ke sini. Okay?" kata Johan kepada olivia, merujuk pada cairan wine di dalam botol, yang ada di situ.
"Iya, Sir!" sahut Olivia.
Untuk beberapa waktu lamanya, Olivia hanya sendirian di halaman belakang rumah itu, sambil menatap bintang-bintang di langit malam.
Suasana di lingkungan rumah itu, memang jauh lebih nyaman dan tenang, dibandingkan dengan apartemen Olivia, yang masih tertembus dengan kebisingan dari ramainya jalanan kota.
Dengan demikian, Olivia bisa merasa betah untuk berlama-lama di sana.
Bahkan karena rasa nyaman itu, Olivia jadi semakin yakin, untuk berhenti bekerja di kantor utama Andersen's, dan mencoba melamar pekerjaan di kantor cabang yang ada di kota itu saja.
Atau bisa juga, kalau Olivia secepatnya mencoba melamar pekerjaan di perusahaan yang lain, agar tetap bisa mengganti harga rumah itu kepada Johan.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Pertanyaan yang tiba-tiba dari Johan, membuat Olivia tersentak, dan hampir menjatuhkan gelas wine yang dipegangnya.
"Apa kamu sudah mabuk?" tanya Johan, seolah-olah sedang mengejek Olivia, sambil duduk di bangku, yang dekat dengan bangku tempat Olivia duduk.
"Anda mengejutkan saya, Sir!" ujar Olivia, ketus.
"Pffftt...! Sorry," sahut Johan.
"Hmm ... Tapi kelihatannya kamu sedang memikirkan tentang sesuatu yang cukup serius, sampai kamu tidak sadar lagi akan kedatanganku," kata Johan.
"Iya ... Saya sedang memikirkan, untuk berhenti bekerja di perusahaan anda," sahut Olivia, jujur.
"Ugh? ... Apa alasannya, hingga kamu tiba-tiba ingin berhenti bekerja?" Johan terlihat bingung.
Johan kemudian menuangkan sedikit cairan wine ke dalam gelasnya, lalu berkata,
"Saya tidak akan menghalang-halangi, jika itu memang keinginanmu. Tapi apa kamu nanti tidak akan menyesal? Promosi jabatan di kantor utama, tidak sampai dua bulan lagi....
... Jika kamu bisa mendapatkan jabatan itu, lalu kamu ingin berpindah tempat kerja, maka kamu pasti bisa mendapatkan pekerjaan, dengan jabatan yang lebih tinggi lagi."
Olivia terdiam, sambil berpikir.
Jika Olivia bisa menjabat sebagai salah satu manajer di Andersen's, bukan hanya lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan baru, Olivia juga bisa mendapatkan upah kerja yang tinggi.
Dan rasanya, itu cukup menggiurkan, mengingat tujuan Olivia berkuliah hingga membuat rumahnya itu terjual, adalah dengan harapan agar dia bisa mandiri, dan mendapatkan pekerjaan yang bagus.
Dengan demikian, Olivia sepertinya tidak boleh bertindak ceroboh dengan mengundurkan diri begitu saja, lalu harus memulainya dari awal lagi, apalagi hanya karena berdasarkan alasan adanya 'laki-laki' yang mengganggunya.
Olivia tentu tidak mau mengecewakan orang tuanya, yang bersusah payah untuknya.
"Benar kata anda, Sir ... Saya akan mencoba mengikuti promosi jabatan. Jika saya tidak berhasil mendapatkannya, barulah saya akan berhenti bekerja di kantor utama," kata Olivia.
"Hmm ... Kamu harus lebih percaya diri. Karena jika melihat dari kinerjamu, waktu ikut bekerja denganku di minggu yang lalu...,
... aku rasa kamu sudah memiliki lebih dari tujuh puluh persen peluang, untuk mendapatkan salah satu dari jabatan itu," kata Johan.
"Anda terlalu memuji," sahut Olivia.
"Olivia...! Apa kamu meremehkan caraku menilai seseorang?" tanya Johan.
__ADS_1
Tepat setelah Johan selesai berbicara, tiba-tiba terdengar suara musik berirama pelan yang cukup nyaring, yang tampaknya berasal dari tetangga di sebelah rumah Olivia.
Setelah bertatap-tatapan dengan Johan untuk beberapa saat, Olivia yang penasaran, segera berdiri lalu berjalan mendekat ke pagar.
Olivia berusaha mengintip dari sela-sela pagar yang lebih tinggi dari kepalanya, dan dipenuhi dengan tanaman merambat.
Dari apa yang masih bisa dilihat oleh Olivia, tampaknya di sebelah rumahnya itu, sedang mengadakan pesta kolam renang, yang dihadiri oleh sekumpulan anak muda.
Yang cukup mengherankan dan menarik perhatian Olivia, mereka di situ tidak menyalakan musik yang berirama cepat dan berisik, seperti pesta dari anak muda kebanyakan.
Begitu juga dengan gerak-gerik, dan perbincangan dari anak-anak muda itu, yang tampak santai saja, tanpa ada sorakan histeris, ataupun teriakan yang mengganggu pendengaran.
Olivia tersenyum sendiri melihatnya, karena jika pesta dari anak-anak muda itu hanya seperti itu saja, maka tidak akan ada warga sekitar yang akan membuat pengaduan ke nomor darurat.
Betapa terkejutnya Olivia, ketika dia berbalik, dan Johan tampak berdiri di belakangnya.
"Geez, Sir!" ujar Olivia, sambil mengelus-elus dadanya.
"Anda sedari tadi hanya membuat saya terkejut!" lanjut Olivia, ketus.
"Apa ada yang menarik?" tanya Johan.
Olivia yang berjalan mengarah kembali ke bangku tempatnya duduk tadi, menjawab pertanyaan Johan, dengan berkata,
"Hanya sekumpulan anak muda, yang sedang berpesta kolam renang."
Ketika Olivia akan duduk di bangku, Johan yang menyusulnya, tampak mengulurkan sebelah tangannya ke arah Olivia.
"Apa kamu mau berdansa?" tanya Johan, yang tampaknya ingin memanfaatkan suara musik, yang masih terdengar dari sebelah rumah itu. "Aku sudah lama tidak berdansa."
"Pffftt...! Okay!" sahut Olivia, mengurungkan niatnya untuk duduk, dan segera menyambut tangan Johan.
"Saya harap anda tidak menginjak kaki saya," ujar Olivia, sambil menahan diri untuk tidak tertawa, sambil berdansa dengan Johan.
"Pffftt...!" Johan tertawa tertahan, lalu mengecup mercu kepala Olivia, kemudian berkata,
"Aku masih sering datang ke pesta. Tapi aku tidak mau berdansa dengan sembarang wanita. Di lain waktu, jika aku diundang ke pesta, aku ingin agar kamu ikut denganku....
... Karena selain cantik dan pintar, kamu ternyata juga bisa berdansa dengan baik."
Dengan mengikuti irama musik berirama pelan yang masih terdengar, sesekali, Johan mengarahkan Olivia, agar melakukan gerakan dansa yang berputar.
Johan bertingkah seolah-olah mereka memang sedang berada di lantai dansa, hingga Olivia hampir tidak bisa berhenti tersenyum karenanya.
"Apa kamu tahu? Aku bersyukur karena saat itu aku jatuh sakit. Kalau tidak karena itu, maka aku belum tentu bertemu denganmu, meskipun kamu bekerja di perusahaanku," celetuk Johan.
"Anda pasti bercanda! ... Kalau anda sampai terlambat mendapatkan pertolongan, apa yang bisa anda syukuri?" ujar Olivia, ketus.
"Hahaha!" Johan tertawa lepas, lalu memeluk Olivia dengan erat.
"Jika saja aku tidak bertemu denganmu, aku tidak tahu, apa aku masih bisa merasa seperti ini lagi....
...Sejujurnya, aku sangat malu untuk mengungkapkannya. Jadi aku harap agar kamu tidak menertawakanku....
... I'm totally in love with you, Olivia...!"
__ADS_1
Olivia bisa merasakan kesungguhan, dari suara Johan yang mengatakan hal itu kepadanya.