
Mungkin karena cara Hansen berbicara, ataukah karena kata-katanya, hingga Olivia sama sekali tidak merasa terbeban dengan pengakuan dari Hansen barusan, bahwa dia menyukai Olivia.
Olivia memang terkejut dengan pengakuan Hansen yang tiba-tiba, namun dia masih bisa bersikap biasa saja, saat bersama Hansen malam itu.
Dan kelihatannya, Hansen juga bisa membuktikan perkataannya, bahwa dia tidak akan membuat suasana antara dirinya, dan Olivia menjadi canggung.
Seolah-olah tidak pernah ada apa-apa, saat Olivia bersama Hansen, rasanya hanya seperti sedang berjalan-jalan dengan teman biasa saja.
Hansen masih tetap berbicara ataupun bertingkah konyol, dan membuat Olivia hampir tidak bisa berhenti tertawa melihatnya.
"Olivia! Beginilah aku yang sesungguhnya. Dan aku berharap, agar kamu juga bisa tetap menjadi dirimu sendiri saat bersamaku....
... Kalau ada yang tidak kamu sukai, kamu sebaiknya mengatakannya kepadaku," kata Hansen, sambil menatap Olivia lekat-lekat, dan menggenggam tangan Olivia dengan erat.
"Okay!" sahut Olivia, tanpa ragu.
Setelah berkeliling untuk beberapa waktu, Hansen berhenti di sebuah food truck, yang menjual makanan pencuci mulut.
"Apa sebelumnya kamu sudah pernah mencobanya?" tanya Hansen, merujuk pada dagangan di food truck, yang ada di dekat mereka itu.
"Belum. Aku tidak tahan untuk ikut mengantri," jawab Olivia.
"Food truck ini, milik kenalanku. Kamu mau mencoba yang mana? Aku bisa mendapatkannya tanpa mengantri," ujar Hansen.
"Benarkah? Kalau begitu aku ingin mencoba Tiramisu Mille Crêpes," kata Olivia, bersemangat.
"Okay! Tunggu sebentar!" kata Hansen.
Olivia kemudian duduk di salah satu bangku kosong yang ada di dekat situ, sambil menunggu Hansen, yang tampak menghampiri penjaja makanan ringan itu.
Food truck yang tampak ramai dengan pembeli, hingga para pelanggannya mengantri cukup panjang di tempat itu, demi mendapatkan crêpes dan waffle, yang diperdagangkan di sana.
Makanan yang tampaknya sepele, namun bisa menarik perhatian orang banyak, hingga membuat Olivia jadi penasaran, akan apa yang jadi rahasia dari pemilik food truck itu.
Tidak berapa lama, Hansen terlihat kembali menghampiri Olivia, sambil membawa dua potong Mille crêpes di tangannya, yang diletakkan di atas piring berbahan kertas, berukuran kecil, lengkap dengan garpu plastik sebagai alat makannya.
"Ini! ... Kenalanku tidak berada di situ. Menurut pegawainya tadi, bosnya tidak ikut hari ini, karena sedang mempersiapkan bahan baku."
Hansen menyodorkan sepotong Mille crêpes berwarna kecokelatan kepada Olivia, sedangkan dia sendiri, memiliki sepotong Mille crêpes yang berwarna merah.
"Sebenarnya, yang paling enak menurutku adalah waffle-nya. Tapi nanti, kamu bisa mencobanya. Karena tadi, terlalu banyak orang yang memesan itu," kata Hansen lagi, lalu menyuapkan potongan kecil crêpes ke dalam mulutnya.
"Ini rasanya sangat enak!" ujar Olivia bersemangat, setelah mencicipi crêpes miliknya.
__ADS_1
"Mau coba yang ini? ... Ini rasa Red Velvet." Hansen menggeserkan piringnya ke arah Olivia, hingga Olivia bisa mengambil potongan makanan itu, dengan garpunya.
"Ini juga rasanya enak!" ujar Olivia, jujur dan tidak kalah bersemangat, karena kedua rasa crêpes itu memang enak, dan cocok dengan seleranya.
Kalau menurut Hansen waffle di situ masih lebih enak, Olivia tidak bisa membayangkan, seenak apa makanan itu.
Karena menurut Olivia, crêpes-nya saja, rasanya sudah seperti yang dijual di toko kue ternama, bahkan mungkin rasanya masih lebih enak, jika dibandingkan yang dijual di luaran.
"Jadi orang kaya kelihatannya lebih enak!" celetuk Olivia sambil tersenyum, menggoda Hansen.
"Ugh ...?" Hansen tampak kebingungan, menatap Olivia.
"Iya! Kamu tidak salah dengar. Jadi orang kaya sepertimu, tentu lebih enak, kan?! Kamu tidak perlu mengantri, untuk mendapatkan apa yang kamu mau," kata Olivia, sambil tersenyum.
"Ooh! ... Begitu, ya?! Tapi kamu sudah salah menduga. Karena kali ini, tidak ada hubungannya sama sekali dengan urusan kaya atau tidaknya....
... Aku tidak perlu mengantri, karena penjualnya, adalah mantan koki yang pernah bekerja di coffee shop milikku dulu," ujar Hansen.
Olivia sama sekali tidak menyangka, kalau yang dikatakan oleh Hansen, adalah alasan yang sebenarnya, hingga Hansen tidak perlu berlama-lama, untuk mendapatkan apa yang dia mau.
Seketika itu juga, Olivia merasa agak malu, karena walaupun dia hanya bercanda, tapi dia rasanya dia telah melakukan kesalahan, dengan melontarkan lelucon seperti itu kepada Hansen.
"Jadi, uang tidak selalu membuatmu bisa mendapatkan apa saja yang kamu mau! Contohnya kamu....
... Walaupun aku mungkin memiliki banyak uang, tapi belum tentu aku bisa menjadikanmu milikku."
"Ugh? ... Kenapa jadi membahas tentangku?" ujar Olivia, untuk menutupi rasa malunya.
"Hey ...! Kamu malu, ya?! Pipimu sampai berwarna merah, seperti bokong babon! ... Hahaha!" ujar Hansen, sambil tertawa lepas.
"Hansen ...!" ujar Olivia dengan suara memelas.
"Maafkan aku. Aku hanya bercanda. Tentu masih lebih cantik pipimu, daripada bokong babon ... Hahaha!" Lagi-lagi, Hansen berujar sambil tertawa, menggoda Olivia.
Olivia sampai menundukkan kepalanya, saking malunya, karena Hansen yang tidak berhenti menggodanya.
Hansen lalu memegang dagu Olivia, dan mendorongnya naik, hingga wajah Olivia sedikit terangkat.
"Aku hanya bercanda. Kamu tidak marah, kan?!" kata Hansen pelan, sambil menatap Olivia lekat-lekat.
"Hmm ... Tentu saja aku marah. Bisa-bisanya, pipiku dibanding-bandingkan dengan bokong babon," kata Olivia, ketus.
"Kalau begini keadaannya saat kamu marah, aku rasa, aku akan kesulitan untuk mengatasinya," ujar Hansen, yang terlihat gemas, hingga menggigit bibirnya sendiri.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Olivia, kebingungan akan arah pembicaraan Hansen.
"Saat kamu malu dan marah, kamu justru terlihat lebih cantik. Entah sampai kapan aku bisa bertahan, agar tidak menciummu," kata Hansen.
Wajah Olivia terasa panas, setelah mendengar perkataan Hansen, dan saat itu juga, Hansen tampak melebarkan matanya, seolah-olah dia telah melihat sesuatu di wajah Olivia, yang membuatnya terkejut.
"Oh, my ...!" celetuk Hansen, lalu segera memalingkan wajahnya, dan melihat ke arah lain.
"Ada apa? Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Olivia, yang merasa bingung dan keheranan, karena gerak-gerik Hansen yang terlihat aneh.
"Iya ... Wajahmu, membuat jantungku jadi terasa tidak baik-baik saja," sahut Hansen, sambil melirik ke arah Olivia.
Yang tadinya suhu wajah Olivia sudah kembali normal, kini kembali meningkat, setelah Olivia mengerti akan apa maksud dari perkataan Hansen.
Dan lagi-lagi, Hansen tampak melebarkan matanya, bahkan sampai menggigit bibirnya sendiri, seolah-olah dia merasa sangat gemas, saat melihat Olivia.
"Oh, geez! ... Apa kamu tidak bisa mengontrol ekspresimu? Bisa-bisa aku kehilangan kendali, kalau terlalu lama melihatnya....
... Dan kamu nanti tidak akan aku izinkan untuk pulang, lalu kamu pasti akan marah kepadaku, nantinya ... Ayo kita jalan-jalan saja!" ujar Hansen.
Hansen tampak buru-buru berdiri dari tempat duduknya, sambil mengulurkan sebelah tangannya ke arah Olivia.
Tanpa berkata apa-apa, Olivia menyambut tangan Hansen, dan kemudian berjalan bersamanya, berkeliling sambil melihat-lihat suasana di tempat itu.
Dan ketika malam sudah semakin larut, Hansen kemudian mengantarkan Olivia kembali ke apartemennya.
Sebelum masuk ke dalam gedung apartemennya, Hansen yang mengantar Olivia sampai ke pintu depan gedung apartemen, lalu berkata,
"Aku menikmati waktuku bersamamu malam ini. Semoga saja, kamu juga merasakan hal yang sama."
Olivia menganggukkan kepalanya. "Iya. Menyenangkan, bisa menghabiskan waktu denganmu."
"Bagus!" ujar Hansen, sambil tersenyum lebar.
Hansen lalu mendekat ke arah Olivia, memegang dan menahan kedua sisi wajah Olivia, lalu mengecup kening Olivia dengan lembut.
"Maafkan aku, yang menyentuhmu tanpa izin ... Tapi aku tidak bisa menahannya lagi. Kamu terlalu menggemaskan, kalau aku hanya membiarkan kamu pergi begitu saja," kata Hansen.
Olivia tidak menanggapi perkataan Hansen, dan hanya terdiam saja di situ.
"Aku pulang dulu! ... Bye, Olivia! Aku harap kamu bisa tertidur dengan nyaman, dan hanya memimpikan aku, agar kamu bisa cepat jatuh cinta kepadaku," kata Hansen.
Olivia hampir tertawa mendengarnya, namun dia berusaha keras untuk tetap terlihat tenang.
__ADS_1
Sambil tetap tersenyum lebar, Hansen tampak bersiap untuk pergi dari apartemen Olivia.
"Bye, Hansen! ... Hati-hati di jalan!" kata Olivia, lalu segera berbalik, dan berjalan masuk ke dalam apartemennya.