
Kelihatannya semua rencana Olivia untuk memperbaiki situasi Andersen's, yang kacau karena kelalaiannya, bisa berjalan dengan lancar.
Sekembalinya Olivia dan Angelo dari kantor Andersen's, mereka berdua hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar hotel tempat Angelo menginap, karena Angelo masih harus bekerja dari sana.
Namun, sebelum hari itu menjelang sore, Angelo memberitahu Olivia, kalau Claire sudah tiba di negara ini.
Claire kemudian segera dibawa ke kantor Andersen's, untuk menjalani pemeriksaan dari tim investigasi perusahaan terlebih dahulu, sebelum dia nanti akan diserahkan kepada pihak berwajib.
Olivia sebenarnya ingin buru-buru pergi kantor Andersen's lagi, agar dia bisa mencari tahu, bagaimana berjalannya pemeriksaan Claire.
Olivia benar-benar penasaran akan apa yang menjadi alasannya, hingga rekan kerja wanita Olivia itu, bisa melakukan hal yang membahayakan perusahaan seperti itu.
Walaupun demikian, Olivia juga tidak mau memaksa Angelo, yang terlihat masih sibuk dengan pekerjaannya.
Oleh karena itu, mau tidak mau, Olivia masih menunggu hingga Angelo selesai dengan pekerjaannya, barulah mereka pergi ke kantor Andersen's.
Ketika Olivia dan Angelo tiba di sana, pemeriksaan Claire sudah hampir selesai dilakukan, karena Claire yang ternyata mau bersikap kooperatif untuk mengakui semuanya, tanpa perlu membuang-buang waktu dari tim investigasi perusahaan.
Angelo hanya tersenyum, ketika melihat Olivia yang kebingungan, saat mengetahui bahwa Claire bisa dengan mudahnya mengakui perbuatannya.
Hingga akhirnya Angelo memberitahu Olivia yang terlalu penasaran, bahwa Claire memang tidak akan berani macam-macam.
Menurut Angelo, Claire pasti sudah tahu kalau dia sedang berurusan dengan para pemburu hadiah, yang biasanya tidak segan menghabisi nyawa buruannya, jika para pemburu hadiah itu merasa dipersulit pekerjaannya.
Dari sedikit bocoran dari Johan, yang ikut memantau pemeriksaan Claire itu, Olivia jadi tahu, kalau alasan Claire melakukannya, karena dia ingin menjebak Olivia.
Katanya, Claire merasa kalau Olivia telah menipunya lebih dulu, karena Claire mengira alasan dari Olivia mengambil cuti, adalah karena untuk bepergian dengan Louis.
Alasan yang sangat konyol bagi Olivia, saat dia mengetahui, kalau Claire bisa berpikir seperti itu.
Jika hanya karena cemburu buta, lalu melakukan kejahatan seperti yang dilakukan oleh Claire itu, rasanya tidak bisa diterima oleh akal sehat Olivia.
Apalagi, Claire sampai berani membuat data keuangan palsu, lalu mempergunakan data bulanan asli dari kantor cabang Andersen's di kota xxx, untuk meyakinkan perusahaan pesaing yang membeli data-data itu darinya.
Namun untuk keseluruhannya, tim investigasi perusahaan mengambil kesimpulan, bahwa Claire memang ingin mendapat keuntungan, dari penjualan data kepada perusahaan pesaing Andersen's.
Sehingga setelah semua pemeriksaan selesai dilakukan, oleh tim investigasi perusahaan, dan bukti-bukti sudah dipegang oleh mereka, di saat itu juga, Claire lalu dibawa ke pihak berwajib, untuk diajukan tuntutan hukum.
Ketika Claire sudah dibawa pergi dari kantor Andersen's, di waktu itu juga Angelo mengajak Olivia pergi dari sana.
***
"Besok pagi, aku akan ikut melakukan konferensi pers bersama Sir Johan Andersen. Setelah konferensi pers selesai dilangsungkan, kita akan segera ke bandara....
... Karena aku sudah mempersiapkan penerbangan bagi kita berdua, untuk pergi menemui orang tuaku," kata Angelo.
__ADS_1
Olivia yang baru saja menyesap sedikit kopinya, sembari dia dan Angelo duduk-duduk di sebuah kafe itu, hanya mengangguk setuju, atas rencana Angelo itu.
"Apa kamu belum mau memberitahu mereka? Maksudku, Sir Johan, Jericho dan Hansen. Karena kita tidak akan secepat itu, bisa kembali ke negara ini....
...Paling tidak, akan membutuhkan waktu lebih dari satu bulan, untuk melakukan semua persiapan pernikahan kita di sana....
... Dan kita hanya akan kembali ke sini, setelah pernikahan kita selesai dilangsungkan," kata Angelo, lagi.
"Hmm ... Kalau begitu, apa kamu bisa membuat reservasi untuk makan malam? Agar aku bisa bertemu dengan mereka semua, dalam satu kali pertemuan," tanya Olivia.
"Tentu saja! ... Tunggu sebentar!" sahut Angelo, lalu terlihat mengeluarkan ponsel dari saku jasnya.
"Honey! ... Apa ada restoran khusus yang ingin kamu datangi?" Angelo terlihat menahan gerakan jari-jari tangannya, dari layar ponselnya.
"Tidak ada ... Terserah kamu saja, akan memilih restoran yang mana," jawab Olivia.
"Okay!" Angelo kemudian lanjut mengetikkan sesuatu di layar ponselnya itu, dan setelah dia selesai mengetik pesan di ponselnya itu, Angelo lanjut berkata,
"Lalu, bagaimana caranya mengundang mereka, agar ikut makan malam? Apa kamu yang akan menghubungi mereka, atau aku saja?"
"Biar aku saja," kata Olivia, kemudian mengeluarkan ponselnya, lalu lanjut berkata,
"Kamu membuat reservasi di mana?"
Setelah Angelo memberitahu nama restoran, berikut juga dengan alamatnya, Olivia segera menghubungi Johan, Jericho dan Hansen satu persatu.
Sehingga walaupun Olivia sudah berulang kali mencoba untuk menghubungi Hansen, tapi kontaknya tetap tidak bisa tersambung.
Dengan demikian, hanya kepada Johan dan Jericho yang masih bisa dihubungi saja, Olivia bisa mengatakan keinginannya untuk bertemu, dan berbincang-bincang dengan mereka malam ini.
Baik Jericho maupun Johan, yang dihubungi oleh Olivia secara bergantian, menyatakan kalau mereka setuju untuk bertemu dengan Olivia, di tempat yang diberitahukan Olivia kepada mereka.
"Jadi mereka setuju?" tanya Angelo.
"Iya," jawab Olivia.
"Tapi apa besok kita bisa menunda sedikit waktu? Agar aku bisa mencoba bertemu dengan Hansen....
... Karena rasanya tidak nyaman, jika aku hanya memberitahunya lewat sambungan telepon, atau hanya sekedar berkirim pesan saja kepadanya," lanjut Olivia.
"Itu mudah saja. Kamu coba untuk menghubunginya saja lebih dulu. Agar besok, kita bisa pergi menemui Hansen, sebelum kita pergi ke bandara....
...Karena kehadiranku di konferensi pers itu, sifatnya hanya sebagai pendukung saja, agar kepercayaan publik kepada Andersen's bisa kembali....
... Jadi aku bisa pergi kapan saja, tanpa harus mengikuti konferensi pers itu sampai selesai dilangsungkan," kata Angelo.
__ADS_1
Sembari menunggu waktu untuk makan malam, yang sudah disepakati, Olivia masih mencoba untuk menghubungi Hansen.
Akan tetapi, walaupun sudah berulang kali Olivia mencobanya, kontak Hansen masih tidak bisa dihubungi oleh Olivia.
Mau tidak mau, Olivia harus menyerah, dan hanya mengirimkan pesan kepada Hansen, bahwa Olivia ingin bertemu dengannya, lalu menunggu sampai Hansen memeriksa ponselnya, dan menghubungi Olivia lebih dulu.
Ketika sudah mendekati waktu makan malam, Angelo segera membawa Olivia pergi dari kafe itu, dan menuju ke restoran yang menjadi tempat di mana mereka, akan bertemu dengan Johan dan Jericho.
Seandainya Olivia bisa berkata jujur, jika dibandingkan dengan rasa gugupnya, pada waktu akan mengakui kelalaiannya tadi pagi, Olivia justru merasa lebih gugup di saat ini.
Di saat dia harus mengatakan kepada Johan dan Jericho, bahwa dia akan menikah dengan Angelo, dan pergi dari negara ini bersama laki-laki itu, untuk beberapa waktu lamanya.
Namun Olivia tidak mau berlama-lama membayangkan, akan bagaimana reaksi Johan dan Jericho, saat mereka mendengar pernyataan dari Olivia nanti.
Karena jika Olivia memikirkan hal itu, hanya membuatnya merasa semakin gugup, dan seolah-olah dia tidak akan sanggup untuk berkata apa-apa, nantinya.
Apalagi, jika Olivia harus membayangkan, bagaimana raut wajah kecewa dari Jericho, orang yang telah membuat Olivia jatuh cinta.
Bisa-bisa, Olivia mungkin hanya akan membatalkan janjinya kepada Angelo, dan Olivia tentu tidak mau melakukan hal itu.
Sudah lebih dari cukup kekacauan yang timbul, karena Olivia yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, hingga hampir membuat Andersen's berada di dalam situasi yang berbahaya.
Olivia harus meyakinkan dirinya sendiri, bahwa kali ini, dia telah mengambil keputusan yang paling tepat, demi kebaikan Johan, Jericho dan Andersen's.
Walaupun demikian, lutut Olivia rasanya tidak bisa berhenti gemetar, ketika melihat kedatangan Johan di restoran itu, dan yang tidak berapa lama kemudian, disusul oleh Jericho.
Setelah saling menyapa, Olivia, Angelo, Johan dan Jericho kemudian duduk bersama, di satu meja yang telah dipesan oleh Angelo.
"Aku tadi mengira, kalau Olivia ingin bertemu secara pribadi denganku," kata Jericho, yang terlihat lemas.
"Hmm ... Bukan kamu saja yang berpikir begitu," sahut Johan, sambil tersenyum, dan tampak hampir tertawa.
"Tapi tentu ada alasannya, hingga Olivia mengajak kita untuk berkumpul di sini, bukan?" lanjut Johan, lagi.
"Tentu dari kita semua, tidak ada yang sedang terburu-buru. Kita mulai makan malamnya saja dulu....
... Sambil menunggu, hingga Olivia siap untuk mengatakan, apa yang ingin dia katakan, kepada kita semua," ujar Angelo, menimpali.
Baik Johan maupun Jericho, tampak seperti menyetujui anjuran dari Angelo, dan segera memesan makan malam yang mereka inginkan.
Sembari menyantap makan malam mereka, Angelo yang mungkin menyadari, kalau Olivia masih mengumpulkan keberaniannya, kemudian mengajak Johan dan Jericho, untuk berbincang-bincang tentang urusan bisnis.
Mereka bahkan membahas tentang konferensi pers, yang akan dilakukan besok pagi di kantor Andersen's.
Hingga pada akhirnya, sebelum makanan penutup disajikan, Olivia kemudian berkata,
__ADS_1
"Saya mengundang anda berdua ke sini, karena lagi-lagi saya ingin meminta maaf, atas semua kesalahan yang pernah saya lakukan selama ini....
... Angelo berencana untuk pergi menemui orang tuanya, besok. Dan saya akan ikut dengannya, karena saya telah menerima lamaran Angelo, untuk menikah dengannya."