Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 6


__ADS_3

"Kriiing! ... Kriiing!"


Suara berdering dari ponsel Jericho, dianggap sebagai penyelamat bagi Olivia, yang tidak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan yang diajukan oleh Jericho tadi.


"Halo!" sapa Jericho di ponselnya itu. "Ooh ...! Okay!"


"..."


"Halo, Jonah!"


"..."


"Iya, Grandpa baik-baik saja."


"..."


"Tidak. Daddy tidak sendirian."


"..."


Jericho tiba-tiba menatap Olivia, di sela-sela, perbincangannya di ponsel. "Iya. Dia masih bersama Daddy."


"Jonah ingin berbicara denganmu." Jericho menyodorkan ponselnya kepada Olivia.


Olivia menerima ponsel dari tangan Jericho, lalu menyapa Jonah di seberang. "Halo Jonah!"


"Halo, Miss! Terima kasih karena telah menyelamatkan Grandpa, dan menemani Daddy menjaganya," sahut Jonah di seberang telepon.


"Sama-sama. Saya sama sekali tidak merasa keberatan," ujar Olivia, sambil menahan senyum.


"Miss! ... Apa aku bisa bertemu lagi denganmu besok, Miss?" tanya Jonah dari seberang. "Karena kalau aku ke sana sekarang ini, daddy akan marah kalau aku melewatkan jam tidurku."


Olivia tersenyum lebar dan hampir tertawa mendengar perkataan Jonah, yang menurut Olivia sangat imut dan lucu.


Gaya bicara Jonah yang seperti orang dewasa, tapi ujung-ujungnya masih khawatir kalau-kalau daddy-nya akan marah.


"Tentu saja bisa, Jonah. Besok libur akhir pekan. Jonah mau bertemu di mana?" ujar Olivia, yang bersemangat untuk bisa bertemu dengan anak yang pintar itu lagi.


Ketika Olivia melihat ke arah Jericho, raut wajah Direkturnya itu, tampak seperti orang yang sedang terkejut setelah mendengar perkataan Olivia.


Saat itu juga Olivia merasa bersalah karena tidak meminta izin lebih dulu dari Jericho.


Olivia menjauhkan ponsel dari telinganya sebentar, lalu bertanya kepada Jericho, "Maaf, Sir. Jonah ingin bertemu dengan saya besok. Apa tidak masalah?"


Ketika Jericho menganggukkan kepalanya, dan seolah-olah memberikan persetujuannya, Olivia kembali mendekatkan ponsel ke telinganya.


" ... kamu mendengarku, Miss?" Jonah tampaknya sudah mengatakan sesuatu, tapi Olivia tidak sempat mendengarnya, karena dia yang berbicara dengan Jericho.

__ADS_1


"Maaf, Jonah! ... Jonah bilang apa tadi?" tanya Olivia. "Maaf ... Tadi ada sesuatu, sehingga saya tidak mendengar apa yang Jonah katakan."


"Ooh ...! Aku akan menjenguk Grandpa di rumah sakit besok. Apa kita bisa bertemu di sana, Miss?" tanya Jonah dari seberang telepon.


Olivia menatap Jericho, dan laki-laki itu kemudian terlihat menganggukkan kepalanya lagi.


"Okay! Kita bertemu besok di rumah sakit, ya?!" ujar Olivia.


"Jonah mau bicara dengan daddy lagi?" lanjut Olivia buru-buru.


"Tidak, Miss. Aku akan segera tidur. Titipkan salamku saja kepada daddy ... Bye, Miss! Sampai jumpa lagi!" ujar Jonah.


"Bye, Jonah! Sleep well!" sahut Olivia, lalu mengakhiri percakapannya dengan Jonah di ponsel Jericho.


"Ini, Sir! Terima kasih," ucap Olivia, sambil menyodorkan ponsel Jericho kembali kepadanya.


Sembari mengambil kembali ponselnya dari tangan Olivia, Jericho tampak menatap Olivia lekat-lekat.


Menurut dugaan Olivia, Jericho seolah-olah ingin mendapatkan penjelasan, akan apa saja yang dibicarakan oleh Olivia dan Jonah.


"Jonah menitipkan salamnya kepada anda, Sir. Katanya, dia akan segera tidur, dan dia ingin bertemu dengan saya di rumah sakit, besok."


Tanpa berlama-lama lagi, Olivia menjelaskan apa yang dia perbincangkan dengan Jonah, dengan harapan, agar Jericho berhenti menatapnya seperti itu.


"Apa kamu tidak merasa terganggu, dengan semua permintaan kami? Daddy ingin kamu menungguinya, sedangkan Jonah ingin bertemu lagi denganmu....


"Tidak ada masalah, Sir ... Apalagi, besok juga kan memang hari libur," sahut Olivia.


"Entah bagaimana aku harus mengganti waktumu yang terbuang, untuk permintaan dari daddy dan Jonah." Jericho tampak frustrasi.


"Anda bisa membelikan saya itu saja!" Olivia menunjuk Food truck yang menjual es krim.


Ketika Jericho melihat ke arah yang dimaksud oleh Olivia, lalu kembali melihat ke arah Olivia dengan tatapan tidak percaya, Olivia lantas tersenyum lebar.


"Apa mereka mau menjualnya?" tanya Jericho, dengan memasang raut wajah serius.


"Tentu saja. Kalau tidak, untuk apa mereka datang ke sini?!" sahut Olivia.


"Apa kamu berniat untuk berhenti bekerja di kantorku?" tanya Jericho.


Jericho terlihat lesu, sambil dia berdiri dari tempat duduknya, dan mengulurkan sebelah tangannya ke arah Olivia, seolah-olah mengajak Olivia untuk ikut dengannya.


Olivia menyambut tangan Jericho, dan ikut berdiri, namun dia tidak melangkahkan kakinya, dan hanya terdiam sejenak.


Karena setelah mendengar pertanyaan Jericho, menurut dugaan Olivia, Jericho tampaknya sudah salah paham dengan permintaan Olivia barusan.


"Apa anda mengira, kalau saya meminta anda membelikan Food truck-nya?" tanya Olivia hati-hati.

__ADS_1


Jericho menganggukkan kepalanya.


"Pffftt ...!" Olivia tertawa tertahan. "Sir ...! Anda pasti bercanda. Saya hanya meminta anda, untuk membelikan saya es krim."


Jericho tampak terkejut, lalu tidak berapa lama kemudian, dia pun tertawa lepas, "Hahaha ...!"


"Saya tadi mengira, kalau kamu mungkin lelah dengan permintaan konyol kami, hingga mau mencari pekerjaan lain, agar tidak perlu bertemu dengan kami lagi," ujar Jericho.


"Hahaha ...!" Kali ini, Olivia yang tertawa.


"Tapi, kalau saya memang meminta anda membelikan saya Food truck itu, apa anda tetap akan membelikannya?" tanya Olivia bercanda.


"Rencananya tadi begitu. Karena, bantuanmu yang menyelamatkan daddy, justru tidak tergantikan dengan uang," jawab Jericho.


Jericho tampak serius mengatakannya, sambil menatap Olivia, dan meremas tangan Olivia yang sedari tadi masih dalam genggamannya.


'Deg!' Rasanya jantung Olivia sedang tidak baik-baik saja saat ini.


"Ayo, kita pergi membeli es krim yang kamu mau!" lanjut Jericho, mengajak Olivia bersamanya.


Sambil berjalan dengan Jericho menuju Food truck yang berjualan es krim, lagi-lagi Olivia harus berusaha keras untuk menenangkan dirinya sendiri.


Olivia! Sadar! Jericho berlaku baik kepadamu, karena hanya kebetulan, kamu yang menyelamatkan daddy-nya.


Berkali-kali, Olivia bicara pada dirinya sendiri di dalam hati, sampai dia bisa mengendalikan dirinya sendiri lagi.


"Mau es krim rasa apa?" tanya Jericho, membuyarkan pemikiran Oliva, hingga Olivia merasa sedikit tersentak.


"Ugh ...? Rasa coklat," jawab Olivia.


"Kamu sudah lelah?" tanya Jericho cemas.


"Hmm ...Tidak, Sir ... Saya tadi hanya terlalu sibuk memikirkan, bagaimana kalau saya memang berhenti saja bekerja, dan menjadi pedagang es krim," ujar Olivia bercanda, sambil tersenyum lebar.


Jericho tampak ikut tersenyum lebar, dan bahkan hampir tertawa.


"Bagaimana kalau begini saja? Aku membelikan Food truck ini untukmu, kamu bisa makan es krim sepuasnya, tapi kamu tetap bekerja di kantorku. Bagaimana? Apa kamu mau?" tanya Jericho, sambil tersenyum.


"Ada-ada saja anda ini, Sir!" sahut Olivia, menggeleng-gelengkan kepalanya.


Jericho berbalik dan memesan es krim kepada pedagang di situ. "Dua es krim rasa coklat!"


Setelah Jericho membayar harga es krim yang sudah siap, Jericho lalu memberikan satu dari es krim itu kepada Olivia.


"Kalau kamu sudah lelah dan ingin pulang, beritahu saja! Aku akan mengantarkan kamu pulang nanti," ujar Jericho.


"Okay!" sahut Olivia.

__ADS_1


Olivia dan Jericho, kemudian menikmati es krim mereka, sambil menonton pertunjukan pantomim yang dilakukan oleh pelaku seni jalanan, yang ada di dekat situ.


__ADS_2