
Cukup mengherankan melihat reaksi Angelo, yang seolah-olah tidak merasa terganggu, walaupun dia mengetahui, bahwa Johan menghubungi Olivia, lewat sambungan telepon pribadi.
Namun Olivia tidak terlalu mau memikirkannya, melainkan dengan terburu-buru mengambil ponselnya, yang tadinya dia letakkan di atas lemari kecil, yang ada di samping tempat tidur.
Olivia kemudian segera mencoba, untuk menghubungi nomor Johan.
Akan tetapi, jalur telepon Johan sekarang ini sedang sibuk, karena kemungkinannya, Johan tampaknya sedang berada di sambungan telepon dengan orang lain.
Olivia terbelalak melihat penunjuk waktu di ponsel, yang sekarang ini ternyata sudah lewat dari jam makan siang.
Padahal rasanya, Olivia hanya tertidur sebentar saja tadi.
"Apa kamu sudah makan siang?" tanya Olivia.
"Belum ... Aku menjagamu tidur. Aku tidak bisa meninggalkanmu, karena kamu tertidur seperti bayi. Bagaimana jika ada yang menculikmu?" sahut Angelo.
"Are you kidding me?" ujar Olivia, ketus.
"Pffftt...! Jangan marah, honey...!" kata Angelo, sambil beranjak turun dari atas tempat tidur, lalu menghampiri Olivia yang duduk di sofa.
"Kamu pasti sudah lapar, karena kamu tidak memakan sarapanmu dengan baik, pagi tadi. Ayo kita pergi makan siang!
... Lalu kita bisa pergi, ke mana kamu mau pergi," kata Angelo, yang mengulurkan sebelah tangannya, untuk mengajak Olivia untuk ikut dengannya.
Olivia menyambut tangan Angelo, kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu berkata,
"Aku mau pergi ke kantor. Jadi, setelah makan siang, antarkan aku ke apartemenku. Biar aku bisa berganti pakaian," kata Olivia.
"Okay, honey!" sahut Angelo.
Olivia kemudian mengikuti Angelo, yang akhirnya memilih untuk makan siang di restoran, yang ada di lantai dasar dari hotel itu.
Setelah selesai makan siang, sesuai dengan rencananya, Olivia diantarkan oleh Angelo untuk pergi berganti pakaian di apartemennya, sebelum mereka berdua pergi ke kantor utama Andersen's.
Suasana di gedung kantor, cukup mengejutkan bagi Olivia, karena semua di sana, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, dan para pegawai yang bisa dilihat oleh Olivia, tampak melakukan kegiatan mereka seperti biasa.
Olivia menemui pegawai resepsionis, dan bertanya tentang informasi apa yang bisa dia ketahui, sekaligus meminta izin, agar dia bisa masuk ke dalam kantor, bersama Angelo yang mengikutinya.
Di lantai gedung kantor, di mana ruang kerja Olivia berada, tampak lengang, dengan sebagian besar pegawai yang tidak terlihat di sana.
"Olivia!" sapa Louis, yang terlihat cemas.
"Hai, Louis!" sapa Olivia. "Kamu pasti ingat dengan Sir Angelo Sullivan, bukan?"
"Halo, Sir Angelo Sullivan! ... Nama saya Louis Wilson," sapa Louis, kepada Angelo.
"Louis kepala bagian di divisi ini," kata Olivia kepada Angelo.
__ADS_1
Angelo mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu menyambut tangan Louis yang sudah diarahkan kepadanya, untuk berjabat tangan.
"Kamu sedang cuti, bukan?" tanya Louis.
"Iya ... Tapi aku ingin tahu, apa saja yang terjadi di sini," kata Olivia.
"Jadi, kamu belum mendengar semuanya?" tanya Louis, yang tampak menautkan kedua alisnya.
"Selain dari saham Andersen's yang anjlok, aku belum mendengar informasi yang lain. Justru itu aku datang ke sini," jawab Olivia.
"Kamu datang tepat waktu. Aku baru saja berniat untuk menghubungimu," kata Louis.
"Ada apa?" tanya Olivia, penasaran.
"Sir Jericho Andersen ingin bertemu denganku. Katanya tadi, dia juga ingin bertemu denganmu....
... Tapi katanya, kamu mungkin masih beristirahat, karena kelelahan di perjalanan dari luar kota," jawab Louis.
"Kalau begitu, kita pergi ke ruangannya saja sekarang!" kata Olivia, mengajak Louis untuk pergi ke ruang kerja Jericho.
Sembari berjalan menuju ruang kerja Jericho, tiba-tiba saja, Angelo berbisik-bisik kepada Olivia, dengan berkata,
"Bagaimana dia—Jericho—bisa tahu, kalau kamu pasti kelelahan dari luar kota?"
"Angelo, please! ... Tolong jangan mengacau...!" ujar Olivia, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Okay, honey!" sahut Angelo.
Jericho berdiri dengan cepat dari tempat duduknya, lalu menatap Olivia dan Angelo, bergantian.
"Selamat siang, Sir!" sapa Olivia.
"Selamat siang, Sir!" sapa Louis, yang menyapa Jericho, secara hampir bersamaan dengan Olivia.
"Apa yang ingin anda bicarakan dengan kami berdua, Sir?" tanya Louis.
Jericho tidak segera menjawab pertanyaan Louis, melainkan tampak menatap Angelo lekat-lekat.
"Olivia! ... Kalau dia tidak mau aku berada di sini bersamamu, maka kamu juga tidak bisa berada di sini bersamanya," kata Angelo, dengan nada suara yang datar.
"Maafkan saya, Sir ... Tapi saya ingin meminta, agar anda tidak perlu menghiraukan adanya Sir Angelo Sullivan di sini....
... Nanti akan saya jelaskan alasannya, kenapa sampai sir Angelo bisa berada di sini bersama saya," kata Olivia.
Jericho lalu menatap Olivia, dan di saat itu juga, raut wajah Jericho yang tadinya sempat terlihat tegang, kini berubah seperti biasa saja.
"Sebaiknya, kalian duduk saja dulu!" kata Jericho, sambil mengarahkan tangannya, menunjuk sofa yang ada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
Olivia, Angelo, dan Louis, kemudian segera duduk di sofa, hampir bersamaan dengan Jericho, yang juga ikut duduk di situ.
"Olivia! ... Kamu mungkin belum tahu, kalau tadi ada pemeriksaan dari instansi pengawas keuangan, dan mereka masih akan kembali ke sini, untuk melanjutkan pemeriksaan," kata Jericho.
"Saya sudah mengarahkan tim investigasi perusahaan, untuk memeriksanya. Hasil yang ditemukan sementara ini, data perusahaan yang bocor ke publik bukanlah karena diretas dari luar....
...Melainkan diunduh secara langsung dari komputer pegawai, yang memiliki akses ke basis data utama perusahaan. Dan data yang beredar itupun, tidak sepenuhnya benar....
...Karena untuk data keuangan, sudah bisa dipastikan bahwa itu adalah data palsu, dan hanya hasil manipulasi. Walaupun hal itu tentu masih butuh waktu, untuk pembuktiannya....
... Tapi lain halnya dengan data utama kantor cabang di kota xxx, dan data laporan bulanannya. Tim investigasi perusahaan, menemukan bahwa kemungkinan besar, data itu benar adanya," lanjut Jericho.
"Maafkan saya, Sir ... Jadi, apa maksud anda ada kemungkinan, kalau data itu diunduh dari komputer kami?" tanya Olivia.
"Ada beberapa pegawai yang memiliki akses ke sana, baik yang ada di kantor utama, maupun yang ada di kantor cabang di kota xxx itu....
...Dengan begitu, tim investigasi akan butuh waktu lama untuk mencari jejaknya, sementara sekarang ini, situasi sudah genting....
... Tentu sekarang ini, tidak ada yang bisa membiarkan waktu hanya terbuang sia-sia. Pelakunya harus segera tertangkap, agar bisa membuktikan kebenarannya, dan mengembalikan citra perusahaan," kata Jericho.
"Maafkan saya, Olivia ... Kali ini, saya mungkin akan terdengar seperti sedang menuduhmu, atau kalian berdua....
... Karena kemarin, kamu sempat menyinggung data dari kota xxx, yang menurutmu baru saja kamu periksa," lanjut Jericho.
Olivia terbelalak.
Dan kelihatannya, bukan hanya Olivia saja yang terkejut dengan perkataan dari Jericho itu, karena Louis, sampai-sampai terlihat seperti orang panik di saat itu juga.
Louis memegang keningnya, sambil menundukkan kepalanya, seolah-olah dia benar-benar kebingungan, dan tidak tahu lagi harus berkata apa.
"Pffftt...!" Angelo tiba-tiba tertawa, hingga semua perhatian tertuju kepadanya, di saat itu juga.
"Apa yang lucu?" tanya Jericho, yang tampak kesal kepada Angelo.
"Cara kerjamu ... Itu yang lucu! Bagaimana mungkin, kamu bisa terlalu percaya dengan pegawaimu? Apa kamu tidak khawatir, kalau mereka bisa saja mengkhianatimu?
... Jika kamu memberitahu kecurigaanmu kepada orangnya langsung, apa kamu tidak terpikir, kalau bisa saja mereka nanti melarikan diri, lalu menghilang?" ujar Angelo.
"Aku percaya, kalau Olivia tidak akan melakukan hal yang bisa membahayakan perusahaan ini," sahut Jericho, terlihat yakin.
"Bagaimana kamu bisa merasa yakin seperti itu? Lalu, bagaimana dengan pegawaimu yang satunya lagi?" tanya Angelo kepada Jericho, sambil menunjuk Louis dengan gerakan matanya.
Di saat itu juga, Jericho tampak goyah pendiriannya, lalu seolah-olah dia telah melakukan kesalahan, mata Jericho terlihat bergerak liar, dengan raut wajah seperti orang frustrasi.
"Sir! ... Maafkan saya. Walaupun mungkin sekarang ini saya belum bisa membuktikannya, tapi saya tidak pernah terpikir untuk melakukan hal seperti itu."
Tampak semakin panik, Louis segera menimpali, sambil menatap Angelo dan Jericho bergantian, lalu melihat ke arah Olivia, kemudian lanjut berkata,
__ADS_1
"Olivia! ... Tidak mungkin kamu ikut mencurigaiku, bukan?"
Olivia tidak menanggapi perkataan Louis, karena walaupun Louis adalah temannya, tapi Olivia tidak bisa serta-merta membelanya tanpa bukti yang cukup.