
Olivia baru saja selesai mandi, dan baru mulai berpakaian, ketika ponselnya berbunyi berulang-ulang kali, memecah keheningan di dalam kamar apartemennya.
"Kriiing! ... Kriiing!"
Entah siapa yang menghubungi Olivia, saat hari masih sangat pagi seperti sekarang ini.
Dari yang awalnya Olivia hanya mengabaikannya, akhirnya dia buru-buru memeriksa ponselnya, karena benda itu yang hampir tidak bisa berhenti berbunyi.
Hansen.
Di tampilan layar ponselnya, kontak Hansen terlihat di sana.
Tidak biasanya Hansen mengganggu Olivia di hari kerja. Jadi, kalau sampai laki-laki itu meneleponnya, berarti ada sesuatu yang penting.
"Halo, Hansen!" sapa Olivia.
"Halo, Olivia!" sapa Hansen, lalu buru-buru bertanya, "Apa kamu masih di apartemenmu?"
"Iya ... Ada apa? Aku harus bersiap-siap untuk berangkat kerja," sahut Olivia.
"Bagus! ... Aku menunggumu di depan apartemenmu," sahut Hansen.
"Ugh ...? Ada apa? Apa kamu tidak bekerja hari ini?" tanya Olivia, heran.
"Tentu saja aku bekerja!" sahut Hansen.
"Lalu untuk apa kamu datang ke sini?" tanya Olivia lagi.
"Aku hanya merasa ingin mengantarkanmu bekerja hari ini ... Kamu lanjut bersiap-siap saja, aku tidak akan mengganggumu lebih lama. Aku hanya akan menunggu di luar," kata Hansen.
Sebelum Olivia menanggapi lebih jauh perkataan Hansen, laki-laki itu sudah memutuskan sambungan teleponnya.
Sungguh tidak biasanya tingkah Hansen pagi ini.
Apa yang dipikirkan oleh Hansen, hingga tiba-tiba saja ingin mengantarkan Olivia bekerja? Sedangkan dia juga sibuk dengan pekerjaannya.
Namun Olivia tidak mau memikirkannya dengan melamun berlama-lama, dan hanya membuang-buang waktunya, agar dia tidak membuat Hansen, harus menunggunya lebih lama lagi.
Dengan tergesa-gesa, Olivia mempersiapkan dirinya, dan segera ke luar menemui Hansen.
Ketika Olivia melewati pintu depan gedung apartemen, Hansen terlihat berdiri di luar, sambil sedikit menunduk, menatap layar ponselnya.
Olivia benar-benar terpana, hingga tanpa dia sadari lagi, dia telah memandangi Hansen, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
Penampilan Hansen terlihat jauh berbeda dari biasanya.
Mulai dari gaya rambut Hansen yang ditata rapi, Hansen juga memakai setelan jas, dan dipadankan dengan sepatu pantofel.
Olivia harus akui, kalau saat ini, Hansen terlihat semakin tampan dan menarik, dengan penampilan dan busana formalnya.
Hansen kemudian tersenyum lebar, sambil menghampiri Olivia, lalu mengulurkan sebelah tangannya, dan menggapai tangan Olivia.
"My baby! ... Kamu terlihat cantik seperti biasanya," ujar Hansen, sambil mengedipkan sebelah matanya. "Bagaimana, babe? Apa aku terlihat tampan hari ini?"
Olivia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum, dan hampir tertawa melihat tingkah Hansen.
"Iya, Sir! ... Anda terlihat tampan hari ini," sahut Olivia, menggoda Hansen.
"Don't tease me! ... Kecuali kamu mau pipimu jadi sasaran ciumanku," ujar Hansen, yang tampak gemas melihat Olivia.
"Pffftt ...! Okay, okay!" sahut Olivia sambil tertawa.
__ADS_1
Sambil bergandengan tangan, Olivia dibawa Hansen ke mobilnya.
Dan tanpa berlama-lama lagi, Hansen segera mengemudikan mobilnya, mengarah ke kantor Olivia.
"Nanti siang, aku akan menjemputmu. Tolong jangan membuat janji dengan siapa-siapa! Aku ingin makan siang bersama denganmu," kata Hansen.
"Hmm ... Bukannya waktu itu, kita sudah berjanji untuk bertemu di akhir pekan? ... Ada apa sebenarnya?" tanya Olivia, penasaran.
"Please, Olivia ...! Jangan bertanya lagi...! Kamu mau makan siang denganku, kan?!" sahut Hansen, yang tampak memaksa.
"Okay, okay! ... Walaupun kamu tidak mau memberitahu alasannya, aku akan ikut makan siang bersamamu nanti," kata Olivia.
"Thank you, my baby!" ujar Hansen, sambil tersenyum lebar.
Ketika mereka tiba di kantor Olivia, Hansen yang membukakan pintu mobil untuk Olivia, lalu berkata,
"Jangan sampai lupa! ... Aku akan menghubungimu nanti siang."
"Okay!" sahut Olivia.
"Good girl!" kata Hansen, lalu mencium punggung tangan Olivia yang dipegangnya, sebelum dia berpamitan.
"Aku pergi dulu! ... Aku harus bekerja, demi masa depan kita," kata Hansen.
"Baik, Sir!" kata Olivia, yang membalas menggoda Hansen, lalu segera berjalan menjauh.
"Geez! ... Awas saja kamu nanti!" ujar Hansen, gemas.
Hansen tampak menggigit bibirnya sendiri, ketika Olivia berbalik untuk melihatnya.
"Pffftt ...!" Olivia tertawa tertahan.
"Bye, Olivia!"
Ketika Olivia memandangi Hansen yang masuk ke dalam mobilnya, secara bersamaan, Olivia juga bisa melihat mobil Jericho yang memasuki area perkantoran, dan tampak mengarah ke pelataran parkir gedung kantor.
Olivia hanya memandangi mobil Jericho sekilas, lalu segera berbalik, dan berjalan memasuki gedung kantor.
***
Seperti biasanya, Olivia disibukkan dengan pekerjaannya hari ini, dan benar-benar terkonsentrasi di tugasnya, agar tidak ada pekerjaannya yang tertunda.
Pagi tadi, tidak berapa lama setelah Olivia tiba di ruang kerjanya, Louis dan rekan-rekan kerja Olivia yang lain, sempat menghampiri Olivia, lalu mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.
Setelah rekan-rekan kerja mereka kembali melakukan pekerjaan mereka masing-masing, Louis yang tertinggal di dekat meja kerja Olivia, kemudian mengajak Olivia untuk membuat janji makan siang bersamanya.
Namun dengan permintaan maaf, Olivia menolaknya, karena dia yang sudah membuat janji dengan Hansen.
Begitu juga ketika Louis bertanya, kalau Olivia mau menghabiskan waktu bersamanya, nanti sepulang mereka bekerja.
Lagi-lagi Olivia menolaknya, karena Olivia yang juga sudah berjanji, untuk menghadiri makan malam perayaan ulang tahun Jonah, di rumah Jericho.
Louis tampak kecewa, namun dia tidak berkomentar banyak kepada Olivia, dan justru terlihat menjaga jarak dari Olivia sejak saat itu, hingga sekarang ini, saat waktu sudah mendekati ke jam istirahat makan siang.
Situasi di hari ulang tahun Olivia sekarang ini, memang jauh sekali berbeda daripada tahun-tahun sebelumnya.
Selama beberapa tahun belakangan, setiap kali tiba tanggal kelahiran Olivia itu, tidak pernah walau sekali pun, Louis melewatkan hari itu, tanpa memberi perhatian lebih kepada Olivia.
Sehingga, Olivia selalu saja merayakannya, dengan menghabiskan waktunya bersama Louis.
Olivia sangat menghargai perhatian Louis di waktu-waktu yang lalu, dan tentu saja Olivia tidak akan melupakannya begitu saja.
__ADS_1
Semua kenangan manis bersama Louis itu, senantiasa akan selalu membekas di hati Olivia.
Dengan demikian, sejujurnya, Olivia memang merasa bersalah kepada Louis, karena di tahun ini, Olivia malah tampak seolah-olah sedang menyingkirkan teman laki-lakinya itu.
Itu sebabnya, hingga Olivia benar-benar meminta maaf kepada Louis, karena dia yang tidak bisa bersama Louis kali ini.
***
Hansen menepati janjinya kepada Olivia.
Tepat di saat jam istirahat makan siang, Hansen menghubungi Olivia lewat sambungan telepon, dan memberitahu Olivia kalau dia sudah menunggu di luar gedung kantor.
Olivia kemudian bergegas keluar dari ruang kerjanya.
Ketika Olivia akan memasuki lift, saat itu juga dia bertemu dengan Jericho, yang juga hendak menggunakan lift untuk turun ke lantai dasar.
"Hai, Olivia!" sapa Jericho.
"Hai, Sir! ... Anda akan keluar makan siang?" tanya Olivia, berbasa-basi.
"Iya ... Mau makan siang bersamaku?" ujar Jericho, sambil melangkah masuk bersama Olivia, ke dalam lift.
"Maafkan saya, Sir ... Tapi saya harus menolak. Karena saya sudah membuat janji," sahut Olivia.
"Hmm ... Begitu, ya?!" ujar Jericho, lalu tampak menatap Olivia lekat-lekat. "Apakah dengan Hansen?"
"Maafkan aku ... Aku bukan ingin mencampuri urusanmu. Tanpa sengaja, tadi pagi aku melihatmu bersama Hansen," lanjut Jericho buru-buru, seolah-olah tadinya dia telah salah bicara.
"Iya, Sir ... Tidak apa-apa. Saya memang membuat janji dengan Hansen," sahut Olivia.
"Tapi nanti malam, kamu jadi datang ke rumahku, kan?" tanya Jericho.
"Iya, Sir! ... Tentu saja saya tidak akan mengecewakan permintaan Jonah," jawab Olivia.
Baik Olivia, maupun Jericho, tidak ada yang berniat untuk saling mengikuti, namun karena mereka sama-sama menuju ke luar kantor, sehingga mereka berdua terlihat berjalan beriringan.
Sementara di depan pintu depan kantor, Hansen yang tersenyum lebar, segera menghampiri Olivia dan Jericho.
"Hai, my bro!" sapa Hansen, kepada Jericho.
"Halo, Hansen!" Jericho membalas sapaan Hansen. "Kamu akan membawa Olivia kemana?"
"Ckckkck! ... That's my business, man!" sahut Hansen sambil tersenyum, dan terlihat menaik turunkan kedua alisnya dengan cepat.
"Jangan membuat Olivia terlambat kembali ke kantor!" kata Jericho.
"Hmm ... Padahal aku berencana agar dia berhenti menjadi pegawaimu. Aku ingin agar Olivia bisa bekerja bersamaku saja," sahut Hansen, tanpa terlihat terbeban.
"Kamu terlihat yakin. Memangnya Olivia mau bekerja padamu?" tanya Jericho.
"Aku pasti bisa membujuknya, sampai dia mau bekerja denganku," sahut Hansen, tidak mau kalah.
Menurut Olivia, perbincangan antara Jericho dan Hansen, tampak tidak ada yang serius jika dilihat dari raut wajah kedua laki-laki itu, mereka seperti hanya sedang saling bercanda saja.
"Apa yang bisa kamu tawarkan padanya?" tanya Jericho.
"Ini!" sahut Hansen, lalu memegang tangan Olivia. "Ayo kita pergi, Olivia! Biarkan bosmu, yang hanya bisa menonton kita, yang pergi bersama!"
"Hansen ...!" ujar Olivia pelan, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Saya pergi dengan Hansen dulu, Sir!" kata Olivia, kepada Jericho.
__ADS_1
"Iya," sahut Jericho. "Hansen! ... Don't you do anything stupid!"
"Yeah, right!" sahut Hansen, seolah-olah sedang mengejek Jericho, lalu segera berjalan pergi bersama Olivia.