Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 34


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Louis sambil membawa Olivia bersamanya, baru saja melaju di jalan raya, setelah keluar dari pelataran parkir gedung kantor.


Tiba-tiba, ponsel Olivia berbunyi.


"Kriiing! ... Kriiing!"


Salah satu rekan kerja Olivia, muncul di tampilan data pemanggil di ponsel Olivia.


Olivia lalu menerima panggilan itu, dan segera menyapa rekan kerjanya. "Halo!"


"Halo! Olivia! ... Kamu di mana sekarang, aku mencarimu di lantas dasar, tapi aku tidak melihatmu di sana," kata rekan kerja Olivia itu, dari seberang telepon.


"Aku keluar dari kantor sebentar untuk menemani Louis," kata Olivia. "Ada apa?"


"Hmm ... Bagaimana, ya?! Apa kamu bisa cepat kembali? Kelihatannya aku telah mengacau. Aku butuh bantuanmu secepatnya," kata rekan kerja Olivia itu lagi.


Memang seakan-akan sudah jadi kebiasaan, di dalam divisi tempat Olivia bekerja, kalau sampai ada sesuatu yang rekan kerjanya tidak tahu, pasti Olivia lah yang dimintakan bantuannya.


Jarang sekali ada rekan kerja Olivia, yang meminta bantuan dari Louis, walaupun Louis selalu bersikap ramah kepada semua orang, yang bekerja bersamanya di sana.


"Bisa kan, Olivia?" tanya rekan kerja Olivia itu, terdengar memaksa.


"Okay! ... Tunggu saja, sampai aku kembali!" sahut Olivia.


"Okay! ... Terima kasih!" kata rekan kerja Olivia.


"Iya, sama-sama," sahut Olivia, dan segera memutuskan sambungan telepon itu.


"Ada apa?" tanya Louis.


"Roe meminta bantuanku untuk memeriksa pekerjaannya," jawab Olivia.


"Huuffft ...!" Louis tampak mendengus pelan.


"Tidak apa-apa. Dia pasti bisa menunggu," kata Olivia, menenangkan Louis.


Louis terlihat melirik Olivia sebentar, lalu kembali menatap lurus ke jalanan di depannya.


"Kamu pergi makan siang dengan siapa tadi?" tanya Louis.


"Sir Andersen," jawab Olivia jujur, tanpa mau menutup-nutupinya dari Louis.


"Sir Johan atau Sir Jericho?" tanya Louis lagi, yang tampak penasaran.


"Dua-duanya."


Jawaban dari Olivia itu, tampaknya cukup mengejutkan bagi Louis, hingga dia segera menoleh ke arah Olivia di sampingnya.


"Mereka mengajakku makan siang bersama, mungkin sekedar untuk merayakan kesuksesan presentasi tadi," kata Olivia, beralasan.


"Hmm ... Olivia! Tidak ada yang akan merayakan kesuksesan dengan cara seperti itu, kecuali mereka memang berhubungan dekat denganmu," ujar Louis.

__ADS_1


"Kamu ada hubungan apa dengan mereka sebenarnya?" lanjut Louis lagi.


"Bukannya aku sudah pernah bilang, kalau aku secara kebetulan saja, hingga bisa bertemu langsung dengan CEO dan Direktur kita itu?!" sahut Olivia.


"Sejak saat itu, aku memang melanjutkan hubungan kami, namun hanya sebatas kenalan dekat saja," lanjut Olivia menjelaskan.


Walaupun Louis tidak berkata apa-apa lagi, namun menurut penilaian Olivia, Louis seolah-olah tidak percaya begitu saja, akan pengakuan Olivia barusan.


Namun Olivia tidak terlalu memperdulikan, akan apa yang mungkin dipikirkan oleh Louis.


Karena sekarang ini, oleh karena pembahasan yang menyinggung tentang senior dan junior dari Andersen's, Olivia malah jadi teringat akan kejadian di dalam mobil Jericho.


Saat ini, saat dia sedang merasa sangat tenang, Olivia jadi berkesempatan untuk memikirkan semuanya baik-baik.


Kebodohan Olivia tadi, yang memejamkan matanya itulah, yang hanya membuatnya tidak bisa mengetahui kejadian yang sebenarnya.


Sehingga Olivia hanya bisa mengira-ngira, apakah Jericho memang mencoba menciumnya, atau hanya sekedar memperhatikan kalung di leher Olivia dari jarak dekat.


Seandainya saja, Jericho memang hanya ingin melihat kalung pemberiannya dari jarak dekat, maka tingkah Olivia tentu saja tidak bisa dimaafkan.


Bisa dibilang, kalau Olivia masih sangat beruntung, karena Jericho tampaknya tidak menanggapi hal yang memalukan bagi Olivia itu, hingga berkepanjangan.


Aaarrrghh!


Olivia! Kamu memang tidak tahu diri!


Olivia mungkin sudah gila, kalau mencoba berharap agar laki-laki seperti Jericho, sampai bisa jatuh hati kepadanya.


Olivia sama sekali tidak boleh bermimpi, untuk memiliki hubungan lebih dari sekedar teman dengan Jericho.


***


Alih-alih mendatangi restoran seperti biasanya, Louis malah mendatangi tempat layanan pesan bawa pulang, di salah satu waralaba makanan cepat saji.


Dua buah roti isi daging, dua kentang goreng, dan dua gelas cola, jadi pesanan Louis yang dibungkus dengan kantong kertas.


"Kalau kamu hanya akan makan makanan ini, kita tidak perlu keluar dari kantor. Cukup dengan melakukan pesan layanan antar," celetuk Olivia ketus, dan lebih mirip seperti orang yang sedang menggerutu.


Bukannya Olivia tidak tahu kalau Louis mengerti tentang pesan layanan antar, Olivia mengatakan hal itu hanya sekedar saja. 


Menurut Olivia, Louis seolah-olah sengaja keluar dari kantor dan membuang-buang waktu mereka secara sia-sia.


"Hmm ... Kalau aku makan di restoran, lalu apa kamu akan ikut makan bersamaku?" tanya Louis.


"Aku sudah makan. Jadi tentu saja, tidak," jawab Olivia.


"Justru itu. Tentunya nanti jadi terasa tidak nyaman, kalau aku makan, lalu kamu hanya menonton untuk menungguku," sahut Louis, pelan.


Louis yang seolah-olah sedang menjelaskan apa yang dipikirkannya, membuat Olivia jadi mengerti, dan merasa sedikit bersalah, karena telah berpikiran buruk tentang Louis.


"Huuffft ...!" Olivia mendengus pelan. "Maafkan aku."

__ADS_1


"Tidak masalah," sahut Louis. "Apa kamu mau?" 


Louis menyodorkan sebungkus roti isi daging kepada Olivia, namun Olivia segera menolaknya.


"Tidak." Namun jawaban Olivia tampaknya hanya membuat Louis terlihat sedikit kecewa. 


Olivia lalu mengambil sebungkus kentang goreng, lalu berkata,


"Aku mau yang ini saja!" 


"Pffftt ...! Okay, okay! Kamu bisa mendapatkannya," kata Louis, sambil tertawa.


Louis tidak segera membawa mobilnya kembali ke kantor, melainkan memarkirkannya di pinggir jalan, lalu memakan makanannya, dengan tetap duduk di dalam mobil.


"Apa kamu sudah menentukan keputusanmu? Apa kamu akan ikut denganku nanti?" tanya Louis, lalu menggigit sebagian roti isinya.


Olivia yang memakan potongan kentang goreng sebesar jari kelingkingnya, tidak segera menjawab pertanyaan Louis.


"Belum," jawab Olivia, setelah mulutnya sudah kosong.


"Bagaimana menurutmu, tentang presentasiku tadi?" Olivia mengalihkan pembicaraan mereka.


"Bagus. Sangat bagus," jawab Louis.  


"Tapi, aku rasa kamu sudah mendapatkan banyak pujian hari ini. Apa masih belum cukup, kalau tidak mendapatkan pujian dariku?" kata Louis, sambil melirik Olivia, seolah-olah sedang mengejeknya.


"Tentu saja! Orang lain bisa memujiku, lalu kenapa aku tidak bisa mendapatkan pujian dari sahabatku?!" sahut Olivia, tidak mau kalah.


"Hmm ... Jadi aku ini sahabatmu, ya?! Tapi kamu pergi makan siang, tanpa mengajak sahabatmu yang ini," ujar Louis, yang tampaknya masih ingin mengejek Olivia.


"Maaf ... Tadi, Sir Johan terburu-buru. Bahkan dia tidak memberiku kesempatan, untuk pergi mengambil dompetku lagi," kata Olivia.


"Begitu...." Louis tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu meminum cola miliknya sedikit. 


"Oh, iya! Kelihatannya, ada yang berbeda padamu hari ini. Apa kamu cuma pergi makan siang? Atau sempat pergi berbelanja?" tanya Louis. 


"Apa maksudmu?" Olivia balik bertanya.


Louis melirik ke arah pergelangan tangan Olivia, lalu melihat ke arah leher Olivia, sebelum dia mengangkat pandangannya, dan bertatapan mata dengan Olivia lagi.


Seolah-olah, Louis sedang menunjuk arloji, dan kalung yang dipakai oleh Olivia, dengan pandangan matanya.


Olivia terdiam untuk beberapa saat, sambil berpikir, apakah dia harus berkata jujur saja, kalau semua itu adalah pemberian Johan dan Jericho.


Jika saja Olivia mencoba untuk berbohong, dengan mengatakan bahwa dia membelinya sendiri, tentu saja Louis tidak akan percaya, karena Louis dan Olivia yang sudah saling mengenal dalam waktu yang lama.


Kebiasaan Olivia, yang hanya membeli barang sesuai dengan kebutuhan, dan Olivia tidak pernah mau untuk membeli barang yang mewah dan berharga terlalu mahal, Louis sudah tahu dengan baik tentang hal itu.


"Arloji ini pemberian dari Sir Johan. Sedangkan kalungnya, adalah pemberian dari Sir Jericho," kata Olivia. 


Olivia akhirnya memilih untuk bicara jujur, dan apa yang mungkin akan jadi tanggapan dari Louis nantinya, Olivia tidak terlalu mau untuk memikirkannya.

__ADS_1


__ADS_2