
Yang rencananya hanya menjadi alasan untuk menolak ajakan Louis, ternyata Olivia memang harus bekerja lembur hari itu.
Sampai pegal pinggang Olivia yang harus duduk di depan komputer, sejak selesai makan siang tadi, sampai sekarang ini, saat waktu sudah menunjukkan pukul 20:28.
Banyak kesalahan dalam pengetikan catatan analisa yang sedang diperiksa Olivia, sehingga membuat Olivia harus merevisi penulisan sebagian besar dari data itu.
Selain itu, banyak sekali analisa di lapangan yang menurut Olivia tidak masuk akal, sampai-sampai Olivia menggeleng-gelengkan kepalanya saat membacanya.
Rasanya, mau saja Olivia menghubungi karyawan yang bertugas di lapangan, dan memarahi mereka, karena hasil pekerjaan mereka yang hanya asal jadi, dan amburadul.
Benar-benar melelahkan saat harus merevisi, sambil harus membandingkan dengan data, yang disematkan bersama berkas catatan analisa itu.
Tapi di ruang kerja itu, bukan hanya Olivia saja yang sedang bekerja lembur.
Louis juga tampak masih berada di meja kerjanya, dan tampaknya sedang menyelesaikan persiapan materi presentasi untuk rapat, yang akan diadakan besok lusa.
Atau mungkin juga Louis sengaja bekerja lembur, agar bisa tetap bersama Olivia di kantor.
Entahlah.
Olivia juga tidak terlalu mau memperdulikannya, walaupun sejak siang tadi, Olivia dan Louis juga tidak bertegur sapa lagi, sampai sekarang ini.
Mata yang lelah karena membaca dengan menantang cahaya layar komputer, membuat kepala Olivia terasa agak sakit.
Hingga Olivia akhirnya berdiri dari tempat duduknya, dan pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya, agar bisa merasa lebih segar.
Ketika Olivia keluar dari toilet, dan berencana untuk kembali ke ruang kerjanya, Olivia berpapasan dengan Jericho yang tampaknya baru selesai bekerja.
"Sir!" sapa Olivia.
"Olivia! Kamu belum pulang?" tanya Jericho.
"Belum, Sir ... Masih ada sedikit lagi pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawab Olivia.
"Saya kembali ke ruangan saya, Sir ... Permisi!" lanjut Olivia, lalu bersiap-siap untuk terus melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerjanya.
"Tunggu! Aku ikut denganmu!" ujar Jericho.
Olivia menahan langkahnya. "Ugh ...? Sir? Untuk apa? Anda bisa pulang lebih dulu."
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihat apa yang sedang kamu kerjakan," sahut Jericho tampak masa bodoh, lalu berjalan lebih dulu mengarah ke ruang divisi Humas.
Olivia pun buru-buru menyusul Jericho, hingga akhirnya mereka berdua berjalan bersebelah-sebelahan.
"Apa masalahnya, hingga kamu harus mengerjakannya sampai mengambil lembur?" tanya Jericho.
"Saya harus merevisi catatan analisa yang dibuat di lapangan, Sir," jawab Olivia.
__ADS_1
"Dari daerah xxx?" tanya Jericho lagi.
"Iya," jawab Olivia singkat.
"Hmm ... Berarti itu berkas untuk rapat besok lusa, ya?!" Jericho tampak mengerutkan alisnya.
Olivia menganggukkan kepalanya. "Iya, Sir."
Ketika Olivia berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya bersama Jericho, Louis tampak mengangkat pandangannya, dan sempat memandangi Olivia cukup lama.
Louis lalu berdiri dan menyapa Jericho. "Sir!"
"Louis? Kamu juga mengambil lembur?" tanya Jericho.
"Iya, Sir ... Saya sedang mempersiapkan materi rapat," jawab Louis.
"Ooh ...! Lanjutkan saja pekerjaanmu. Tidak perlu terlalu memperdulikan keberadaanku. Aku hanya datang ke sini untuk melihat pekerjaan Olivia," ujar Jericho datar.
"Baik, Sir!" Louis lalu terlihat duduk kembali di kursi kerjanya.
Jericho kemudian menarik salah satu kursi kosong, dan duduk bersebelahan dengan Olivia, di depan meja kerja Olivia, yang komputernya masih dalam keadaan menyala.
Tanpa merasa terganggu dengan adanya Jericho di sampingnya, Olivia segera melanjutkan pekerjaannya, yang sudah selesai kurang lebih delapan puluh persen bagiannya.
Dari ujung matanya, Olivia bisa melihat, kalau Jericho tampak ikut membaca berkas yang muncul di tampilan layar komputer.
Jericho lalu tampak membaca lembaran berkas, yang ditumpuk di beberapa buah map.
"Kalau begini bentuk laporannya, sama saja seperti kamu yang mengerjakannya dari awal....
... Setahu ku, ini bukan pekerjaanmu. Kamu hanya cukup memeriksa, dan memberitahu yang perlu dikoreksi saja," kata Jericho tiba-tiba.
"Sudah terlanjur, Sir ... Waktunya juga rasanya tidak akan cukup, kalau meminta mereka dari lapangan mengulanginya lagi," sahut Olivia.
"Kapan berkas ini masuk?" tanya Jericho.
"Tadi siang, Sir ... Tidak lama sebelum jam istirahat makan siang," jawab Olivia.
Jericho lalu tampak mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, dan seolah-olah sedang berniat menghubungi seseorang di ponselnya itu.
Dan menurut dugaan Olivia, Jericho mungkin akan menghubungi penanggung jawab karyawan di lapangan, karena pekerjaan mereka yang kacau.
"Maafkan saya, Sir! Tapi, apa anda akan menghubungi petugas lapangan?" Olivia berusaha menahan Jericho.
"Iya. Mereka harus mendapatkan teguran," jawab Jericho.
Tanpa Olivia sadari, dengan cepat dia memegang, dan menahan tangan Jericho yang sedang memegang ponsel.
__ADS_1
"Sekarang sudah malam, Sir ... Biarkan saja mereka beristirahat. Pekerjaan ini juga sudah hampir selesai saya kerjakan," kata Olivia pelan, membujuk Jericho agar tidak membuat keributan.
Untuk sesaat, Jericho tampak memandangi tangannya, yang masih digenggam dengan kedua tangan Olivia.
"Okay! Demi kamu ... Tapi aku hanya menundanya, dan bukan berarti aku tidak akan melakukan peringatan, kepada mereka nanti," ujar Jericho.
Olivia tersenyum lebar. "Iya, Sir ... Terserah anda saja nanti."
Buru-buru Olivia melepaskan tangan Jericho, kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Adanya Jericho yang ikut membantu Olivia, dengan data perbandingan, membuat pekerjaan Olivia merevisi berkas itu, jadi semakin cepat selesainya.
"Kamu berhutang makan malam denganku!" celetuk Jericho.
Olivia terbelalak. "Sir ...?"
"Kamu pasti belum makan malam, kan?! Ayo ikut makan malam bersamaku!" ujar Jericho tampak memaksa.
"Hmm ... Okay!" sahut Olivia. "Tunggu sebentar, ya, Sir?! Saya simpan datanya dulu."
Sembari Olivia sibuk merapikan meja kerjanya, dan menyimpan data yang tadi baru selesai dia kerjakan, Jericho tampak sedang menghubungi seseorang di ponselnya.
Namun, Olivia tidak memperhatikan apa yang sedang dibicarakan Jericho di situ, dan hanya terkonsentrasi pada apa yang harus dia lakukan, sebelum dia pergi dari ruang kerjanya itu.
Ketika Olivia selesai berbenah, Jericho juga sudah tampak selesai berbincang-bincang di ponselnya.
"Kamu sudah siap pergi?" tanya Jericho.
"Iya, Sir." Olivia yang sudah berdiri, kemudian menggantung tali tasnya di sebelah bahunya.
"Louis! Kamu juga sudah siap untuk pulang?" tanya Jericho.
Olivia yang sempat melupakan dengan adanya Louis di dalam satu ruangan itu, lalu melihat ke arah meja kerja Louis.
"Iya, Sir ... Pekerjaan saya sudah selesai," jawab Louis yang tampak sudah siap untuk pergi dari situ.
Olivia berjalan bersebelah-sebelahan dengan Jericho, sedangkan Louis berjalan di depan mereka berdua, dan segera menuju ke lift.
Ketika mereka semua sudah di dalam lift yang bergerak turun, Jericho lalu berkata,
"Louis! Katakan pada manajermu, agar mengikutsertakan Olivia di dalam rapat hari Rabu nanti."
Kelihatannya, bukan cuma Olivia yang terkejut dengan arahan yang baru saja dikatakan oleh Jericho.
Louis juga tampak kebingungan sambil melihat ke arah Jericho.
"Presentasinya tentu akan lebih bagus, jika dilakukan oleh Olivia, karena dia yang menyusun data dari lapangan," lanjut Jericho.
__ADS_1
Jericho seolah-olah ingin menjelaskan alasannya, hingga dia menginginkan agar Olivia ikut di dalam rapat.
"Baik, Sir ... Saya akan meneruskan pesan anda, kepada manajer kami," sahut Louis, lalu menatap Olivia lekat-lekat.