Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 80


__ADS_3

Setelah mendengar perkataan Johan itu, Olivia menyandarkan kepalanya di dada Johan, yang masih memeluknya sambil berdansa pelan.


"Saya tidak akan menertawakan anda ... Saya justru merasa iri, karena anda bisa memastikan, akan apa yang anda inginkan," kata Olivia.


"Tapi apa saya boleh tahu? Apa yang membuat anda bisa menyukai saya?" lanjut Olivia.


"Hmm ... Aku bukan hanya berteman dengan mommy-mu, melainkan aku juga mengenal daddy-mu dengan cukup baik. Apa aku sudah pernah memberitahumu, sebelumnya?" ujar Johan.


Olivia lalu menggelengkan kepalanya.


"Aku masih ingat dengan baik, kecelakaan di kantor utama, yang membuat mommy-mu dan beberapa rekan kerja yang lain, terjebak di dalam lift....


...Daddy-mu waktu itu masih menjadi anggota pemadam kebakaran, dan belum menjadi ketua tim. Mommy-mu jatuh cinta pada pandangan pertama kepada daddy-mu, yang dianggap mommy-mu sebagai penyelamatnya....


...Semenjak kejadian itu, aku jadi sering mendengar tentang daddy-mu dari cerita mommy-mu. Aku bahkan bisa bertemu dengan daddy-mu secara langsung, hingga beberapa kali, karena diajak oleh mommy-mu....


... Oleh karena itu, aku jadi tahu bagaimana karakteristik daddy-mu, dan itu membuatku merasa kagum kepadanya," kata Johan.


"Sekarang kamu coba bayangkan saja, aku menganggumi karakteristik masing-masing dari kedua orang tuamu itu, dan ternyata, kamu adalah gabungan dari mereka berdua.... 


... Kamu mewarisi sifat dan kelebihan dari kedua orang tuamu yang menarik perhatianku. Dengan begitu adanya, bagaimana mungkin aku tidak akan jatuh cinta kepadamu?" lanjut Johan.


"Oh, iya! Satu lagi! ... Kamu adalah pahlawan, yang menyelamatkanku waktu itu. Jadi wajar saja, bukan? Kalau aku jatuh cinta kepada penyelamatku?" lanjut Johan lagi, buru-buru. 


"Pffftt...!" Yang pada awalnya, Olivia mendengarkan penjelasan Johan dengan serius, pada akhirnya Olivia hanya bisa tertawa karenanya.


"Kalau begitu, jika orang lain yang menyelamatkan anda waktu itu, maka anda tidak akan jatuh cinta kepada saya," kata Olivia.


"Hmm ... Aku tidak mau memikirkan kemungkinan itu. Yang aku tahu, sekarang ini, hanya kamu yang bisa membuatku merasa jatuh cinta lagi. Dan aku akan menikmatinya, selagi aku masih bisa merasakannya," sahut Johan.


Suara musik yang berasal dari sebelah rumah itu, rasanya sudah beberapa kali berganti judul, dan kaki Olivia sudah mulai terasa pegal, karena terlalu lama berdiri dan berdansa di situ.


"Apa anda masih ingin berdansa? Kaki saya sudah mulai mati rasa," ujar Olivia.


"Pffftt...! Okay, okay! ... Kita duduk saja," sahut Johan, sambil melepaskan pelukannya dari Olivia.


Olivia segera kembali duduk di bangku, sementara Johan memperbaiki api unggun yang hampir mati, agar kembali menyala, sebelum dia juga ikut duduk di dekat Olivia.


Johan kemudian mengulurkan tangannya yang memegang gelas wine, seolah-olah sedang mengajak Olivia, agar bisa bersulang dengannya.

__ADS_1


Olivia ikut mengangkat gelasnya, lalu bersiap untuk membenturkan gelas itu dengan gelas yang dipegang Johan.


"For health, happiness, and Love! ... Cheers!" kata Johan.


"Cheers!" kata Olivia, bersamaan dengan Johan, kemudian bersulang dengannya.


Setelah menyesap sedikit cairan wine dari gelasnya, Johan lalu berkata,


"Akhir tahun seperti sekarang ini, pekerjaanku biasanya tidak terlalu padat lagi. Aku akan jarang bepergian, dan lebih banyak menghabiskan waktu di kantor utama."


"Hmm ... Apa anda belum berpikir untuk beristirahat saja? Daddy Jonah, sudah bisa menggantikan posisi anda, bukan?" tanya Olivia.


"Aku sudah membicarakan hal itu dengannya, tapi Jericho masih belum mau. Yang jadi alasannya adalah Jonah. Jericho tidak mau meninggalkannya terus menerus," jawab Johan.


"Sekarang ini, Jericho tampaknya benar-benar menyesali keputusannya, yang terburu-buru untuk menikahi Laura," lanjut Johan.


Johan kembali menyesap sedikit cairan wine, lalu terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Waktu itu, aku sudah menegurnya, dan memintanya untuk memikirkannya matang-matang terlebih dahulu. Tapi Jericho memang keras kepala. Padahal sudah terlihat dengan jelas, kalau Laura sengaja merayu Jericho, hanya untuk menaikkan status sosialnya....


... Pernikahan dan skandal perceraian mereka, membuat Laura naik daun dengan cepat. Karena Laura membuat drama di media, seolah-olah Jericho adalah laki-laki yang buruk, dan tidak bertanggung jawab," kata Johan.


"Pffftt...!" Johan lalu tiba-tiba tertawa, lalu lanjut berkata,


"Kenapa anda bisa berpikir seperti itu?" tanya Olivia.


"Aku sebenarnya merasa kasihan, saat melihat situasi yang dihadapi Jericho. Apalagi jika aku melihat Jonah. Tapi di saat bersamaan, aku juga merasa puas. Karena dengan begitu, Jericho bisa mendapatkan tamparan keras di wajahnya....


... Tanpa perlu aku yang memukulnya untuk membuatnya tersadar, Jericho sudah mendapatkan pelajarannya. Maka aku rasa, tidak mungkin dia akan sebodoh itu, untuk melakukan kesalahan yang sama, di kemudian hari," jawab Johan.


***


Merasa kalau malam sudah sangat larut, dan rasanya akan lebih baik jika mereka segera beristirahat, maka Olivia serta Johan, kemudian mulai merapikan halaman belakang rumah yang berantakan.


Olivia mengangkat peralatan makan dan minum yang kotor, sementara Johan mengembalikan bangku-bangku ke tempatnya di lantai teras belakang rumah.


Mereka berdua masih melakukan kegiatan bersih-bersihnya, ketika seberkas cahaya yang tampaknya berasal dari lampu depan dari sebuah mobil, menerangi jalan kecil di bagian samping rumah, hingga pancaran sinarnya menembus ke halaman belakang.


Secara bersamaan, Johan dan Olivia berhenti bergerak, dan saling bertatap-tatapan untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Johan berkata,

__ADS_1


"Apa kita kedatangan tamu?" 


Olivia mengangkat kedua bahunya bersamaan, sambil menggelengkan kepalanya, memberi isyarat kepada Johan, bahwa dia juga tidak tahu.


"Aku akan memeriksanya," kata Johan lagi, lalu berjalan menyusuri bagian samping rumah, di mana cahaya mobil itu terlihat. 


Olivia yang sudah berdiri di pintu belakang rumah, tidak segera menyusul Johan, karena dia yang terlanjur memegang gelas-gelas yang kotor.


Sehingga Olivia lanjut mengantarkan gelas-gelas itu ke bagian dapur, dan meletakkannya ke dalam bak cuci piring, sebelum akhirnya dia keluar lagi, dan pergi menyusul Johan.


"Aku akan membawa Jonah pulang sekarang!"


"Ada apa denganmu? Jonah baik-baik saja."


"Daddy! Di mana Jonah?"


"Dia sekarang sedang tidur. Apa perlu kamu mengganggunya?"


"Tidak apa-apa. Dia bisa tidur di mobil, nanti."


Walaupun tidak ada yang berbicara memakai nada tinggi, namun pembicaraan yang bersahut-sahutan, masih bisa terdengar oleh Olivia, yang berjalan mendekat ke asal suara.


Dan menurut apa yang bisa didengar oleh Olivia, tampaknya, sekarang ini Johan sedang berbincang-bincang dengan Jericho, hingga membuat Olivia semakin penasaran, untuk membuktikan dugaannya.


Olivia mempercepat langkahnya, berjalan hingga setengah berlari, ke arah datangnya suara perbincangan itu.


Dan benar saja dugaan Olivia.


Di sana, Jericho terlihat seolah-olah sedang memaksakan diri, untuk masuk ke dalam rumah, sementara Johan terlihat berdiri di depan Jericho untuk menahan langkahnya.


"Tenangkan dirimu dulu!" kata Johan kepada Jericho.


Kedua laki-laki itu tampaknya belum menyadari, kalau Olivia sudah berada di dekat mereka, hingga Olivia masih bisa memperhatikan gerak-gerik mereka, lebih lama lagi.


Jericho yang berdiri, dan dengan cepat bolak-balik bergerak berputar, menyamping, benar-benar terlihat bergerak liar, seolah-olah dia sedang merasa sangat gusar, dan akhirnya bisa melihat keberadaan Olivia di situ lebih dulu.


Jericho tampak terkejut saat bertatapan dengan Olivia, hingga dia mendadak berhenti bergerak, berdiri terpaku di situ, sambil memasang raut wajah tidak senang.


Johan kemudian tampak ikut melihat, ke arah mana Jericho memandang, dan melihat Olivia yang juga hanya berdiri terdiam, menatap mereka di situ.

__ADS_1


"Daddy! Please give me some space! ... Ada yang aku ingin bicarakan berdua saja dengan Olivia," kata Jericho, tiba-tiba.


 


__ADS_2