Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 90


__ADS_3

Tanpa berlama-lama lagi, Olivia segera mengutarakan apa yang dipikirkannya, langsung pada inti permasalahannya kepada Dave, dengan berkata,


"Kantor kami mengalami pencurian data, yang diakses secara langsung dari komputer pegawai. Yang kemungkinannya, diunduh dari komputerku, atau Atasanku.... 


... Tapi kemungkinan besar, data itu diakses dari komputerku, dan aku mencurigai Claire yang melakukannya. Karena dia sempat berada di meja kerjaku, waktu aku sedang sibuk mengurus permohonan cutiku."


Dave kemudian menceritakan tentang kejadian di kliniknya, yang kurang lebih sama.


Menurut penuturan dari Dave, setelah Claire mengundurkan diri dari pekerjaannya di klinik, lalu pergi ke luar negeri, kasus pencurian data pribadi dari pasien klinik, kemudian terbongkar.


Sejumlah pasien klinik yang mengalami kerugian materiil dan finansial, melakukan tindakan pelaporan, kepada pihak yang berwajib untuk mengatasi hal yang berbau kriminalitas.


Penyelidikan dari kepolisian, kemudian mulai mengarah ke klinik, sehingga pihak pengelola yang bertanggung jawab atas klinik itu, segera melakukan pemeriksaan menyeluruh.


Dan kemudian mendapati, kalau memang terjadi pencurian data pribadi pasien di klinik. 


Pemeriksaan akan pencurian data di klinik itu, tidak berlangsung dengan baik, karena kasus itu harus buru-buru disembunyikan dari publik, agar tidak mencoreng nama baik klinik.


Kemudian, pihak pengelola klinik segera menghapus semua jejak, dari data-data pribadi pasien yang dicuri, agar penyelidikan dari pihak kepolisian tidak lagi terarah kepada klinik itu.


Dave saat itu sempat mencurigai Claire, karena Dave yang beberapa kali menangkap basah, saat Claire hanya seorang diri di dalam ruang kerja kepala klinik. 


Tapi karena bukti yang tidak cukup, Dave akhirnya menyembunyikan kecurigaannya itu, untuk dirinya sendiri.


Apalagi di waktu itu, kepala klinik baru saja membeli sebuah mobil sport mewah, yang membuat kecurigaan tetap terarah kepada kepala klinik, di tempat Dave bekerja itu.


Hingga akhirnya, hanya kepala klinik di tempat Dave bekerja saja, yang dianggap bertanggung jawab, lalu segera dipecat, dan diganti dengan yang baru.


"Aku masih berteman dengan Claire, karena aku ingin memantau gerak-geriknya. Kepala klinik yang dipecat itu, adalah kekasihku. Kami berpisah karena kejadian itu....


... Kekasihku bahkan membenciku, karena dianggapnya tidak bisa membantunya, untuk membuktikan bahwa Claire adalah pelaku yang sebenarnya," kata Dave.


"Kamu ingat yang aku ceritakan, kalau aku melihatmu tersenyum, untuk pertama kalinya di tempat laundry? 


... Di saat itulah aku ditinggal kekasihku, yang akhirnya memilih untuk menikah dengan orang lain, dan pindah ke luar negeri," lanjut Dave.


Seketika itu juga, Angelo yang ikut duduk mendengarkan penjelasan dari Dave, lalu berkata,


"Tersenyum, katamu? ... Olivia tersenyum kepadamu?"


"Angelo! ... Stop it! ... Itu tidak seperti yang kamu pikirkan!" ujar Olivia, ketus.


Olivia menggeleng-gelengkan kepalanya, karena sikap Angelo yang terlalu pencemburu, dan hanya terasa mengganggu konsentrasi Olivia saja, saat sedang memikirkan semua penjelasan dari Dave.


"Menurutmu, kira-kira di mana Claire sekarang ini?" tanya Olivia kepada Dave.


"Aku tidak tahu," jawab Dave. "Menurut dugaanku, dia mungkin akan menghilang,  persis seperti di waktu itu."


"Hmm ... Katamu, dia pergi ke luar negeri, saat kejadian buruk terjadi di klinik, bukan? Lalu, bagaimana kamu bisa bertemu dengannya lagi, setelah itu?" lanjut Olivia.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menghubunginya. Dia yang tiba-tiba menghubungiku, setelah beberapa bulan yang telah berlalu. Kemudian datang menemuiku," jawab Dave.


"Oh, gosh! ... Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan, agar bisa menemukannya, dan membuktikan bahwa dia adalah pelaku pencurian dan manipulasi data?" kata Olivia, menggerutu.


"Itu masalahnya ... Mantan kekasihku tidak mengerti akan hal itu, jadi dia justru hanya menyalahkanku," sahut Dave.


"Padahal, dia—mantan kekasih Dave—pasti sudah tahu, kalau aku tidak bisa melaporkan Claire ke pihak kepolisian, karena aku tidak memiliki sedikitpun bukti," lanjut Dave, lagi.


"Hanya jalan buntu." Lagi-lagi, Olivia menggerutu, sambil memijat-mijat keningnya, karena kepalanya yang terasa sakit.


Karena setelah semua penjelasan dari Dave, Olivia sudah bisa menarik kesimpulan, bahwa kemungkinan besar, memang karena kelalaiannya, hingga Claire bisa mencuri data perusahaan.


Dan sekarang ini, walaupun Olivia sudah tahu bahwa Claire adalah pelakunya, tapi Olivia masih tidak bisa berbuat apa-apa.


Olivia benar-benar merasa bersalah kepada Johan dan Jericho, karena dia yang tidak berkonsentrasi pada pekerjaannya waktu itu, hingga kekacauan di Andersen's bisa terjadi. 


Membayangkan untuk bertemu muka dengan Johan dan Jericho saja, Olivia rasanya tidak sanggup.


Baik Johan maupun Jericho, mungkin akan memaafkan Olivia, tapi Olivia belum tentu bisa memaafkan dirinya sendiri.


Seandainya saja, ada yang bisa Olivia lakukan, untuk menebus kesalahannya kepada Johan, maka dia akan melakukannya sekarang ini.


"Oh, gosh! ... What should I do now?" ujar Olivia, tanpa arah.


"Honey! ... Kamu melupakanku lagi," kata Angelo.


Olivia menoleh ke samping, dan menatap Angelo yang duduk di sebelahnya itu, sambil berpikir.


"Angelo—" Olivia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena Angelo menyelanya lebih dulu, dengan berkata,


"Jangan terburu-buru! Aku memang bisa menemukannya, asalkan ada nama lengkapnya. Tentu akan lebih baik dan lebih cepat, jika kamu memiliki fotonya....


... Aku bahkan bisa menyeretnya kembali ke sini, lalu membuatnya mengaku, dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tapi...." 


Angelo tidak melanjutkan perkataannya, walaupun Olivia menunggu, sambil menatapnya lekat-lekat.


"Please, Angelo! ... Aku akan lakukan apa saja, yang kamu inginkan. Tapi, tolong bantu aku! Agar aku bisa menebus kesalahanku, kepada Andersen's," kata Olivia.


"Bagaimana dengan perjanjian untuk menikah denganku? Apa sudah dipastikan?" tanya Angelo. 


Olivia terdiam, lalu memandang ke arah Dave, yang tampak sangat terkejut dengan perkataan Angelo barusan.


"Come on, honey! ... Time is ticking!" kata Angelo, mendesak.


"Apa tidak ada yang lain? Aku bisa bekerja padamu," ujar Olivia, membuat penawaran.


"No, honey! ... Aku tidak sedang mencari pegawai. Aku hanya ingin kamu jadi istriku," kata Angelo.


Olivia bergeming.

__ADS_1


"Honey...! Aku bukan hanya akan membuat ... Siapa namanya tadi?" ujar Angelo, terlihat bingung.


"Claire!" kata Dave.


"Ah, iya! Claire! ... Aku bukan hanya akan menyeret Claire kembali ke sini. Karena aku telah berjanji padamu, bahwa aku akan menopang Andersen's, sampai situasi mereka kembali normal....


...Aku bahkan bisa membantu Andersen's, untuk menarik investor yang lain, agar kembali menopang Andersen's....


... You marry me, and I'm gonna make you happy, ever after ... Apa tawaranku itu masih tidak cukup, agar kamu mau menerimanya?" kata Angelo.


"Bagaimana kamu bisa terpikir, untuk membuat perjanjian yang aneh seperti itu?" tanya Dave, sambil menatap Angelo. 


"Apa kamu tidak mempertimbangkan bagaimana perasaan Olivia?" lanjut Dave, lagi.


"Sshh! ... Just shut up! Kamu tidak tahu apa-apa. Ini antara aku, Olivia dan Andersen's," sahut Angelo.


Olivia tetap terdiam, dan rasanya berat jika harus menyetujui permintaan Angelo, untuk menikah dengannya.


Sementara Olivia sedang berpikir, tiba-tiba ponselnya berbunyi, dan ketika Olivia melihat layar ponselnya, kontak Johan lah yang muncul di tampilan layar ponselnya itu.


Olivia mungkin bisa saja memberitahu Johan, bahwa Claire adalah pelaku pencurian data, tapi tentu Olivia juga harus mengaku, kalau akibat kelalaiannya, hingga Claire bisa mengakses komputernya. 


Belum lagi waktu yang dibutuhkan, untuk menemukan informasi tentang di mana Claire berada, sedangkan sekarang ini, Andersen's sudah dalam situasi darurat.


Dan yang Olivia tahu, hanya Angelo yang bisa membantunya, baik untuk menangkap Claire, sekaligus mempercepat penanganan saham Andersen's, yang sekarang ini sedang terjun bebas.


Hingga ponselnya berhenti berbunyi, Olivia tidak berani menerima panggilan telepon dari Johan itu.


"Okay, Angelo! ... Aku setuju. Tapi, kamu harus menjamin kalau Andersen's akan kembali seperti semula," kata Olivia. 


"Olivia!" ujar Dave, seolah-olah hendak menahan Olivia, agar tidak menerima tawaran Angelo itu. 


"Jangan coba-coba untuk mengganggu percakapan kami lagi!" ujar Angelo, yang tampak geram kepada Dave.


Pada akhirnya, Dave hanya bisa terdiam, dan memandangi Olivia dan Angelo, di situ.


"Olivia! ... You promise?" tanya Angelo, memastikan, sambil mengulurkan tangannya, agar Olivia menyetujui perjanjian, dengan berjabat tangan.


"Yes, I promise!" jawab Olivia tanpa ragu, kemudian menyambut tangan Angelo, dan berjabat tangan dengannya.


"Fine! ... We have a deal!" sahut Angelo, sambil tersenyum lebar. 


"Berikan nama lengkapnya!" Angelo yang terlihat sudah siap dengan ponselnya, kemudian mengetikkan sesuatu di sana, saat Olivia menyebutkan nama lengkap Claire. 


Dave yang masih ada di situ, kemudian memberikan kepada Angelo, foto Claire yang tersimpan di ponselnya.


"Okay! ... Sekarang ini, kita tinggal menunggu saja," ujar Angelo, terdengar tanpa beban.


"Honey! ... Ucapkan selamat tinggal kepada temanmu ini. Karena ada yang harus kita lakukan," lanjut Angelo.

__ADS_1


 


__ADS_2