Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 84


__ADS_3

"Apa ada yang menarik, yang kalian lakukan di sini kemarin, selain pergi ke pertunjukan sirkus?" tanya Jericho.


"Tidak ada ... Kami hanya pergi berbelanja. Lalu malam tadi, kami membuat barbeque di belakang sini," jawab Olivia.


"Tempat ini membosankan ... Jadi, sebaiknya anda membatalkan niat anda, untuk berlibur di sini," lanjut Olivia, buru-buru.


Jericho tersenyum lebar, dan tampaknya hampir tertawa, sambil menggerakkan tempat tidur gantung itu, agar tetap berayun pelan.


Seolah-olah dia tidak mendengarkan perkataan Olivia, yang menolaknya untuk menghabiskan waktu di tempat itu lebih lama, Jericho kemudian lanjut berkata, 


"Membuat api unggun, membakar marshmellow, kelihatannya akan jadi lebih seru, jika kita juga mendirikan tenda."


Olivia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


"Apa kamu sangat lelah? Kamu bisa bersandar," ujar Jericho, lalu menarik pelan kepala Olivia agar tersandar di bahunya.


"Anda tidak perlu melakukannya, Sir," kata Olivia, sambil menghindari tangan Jericho.


"Geez! ... Memangnya apa yang bisa terjadi, jika kamu bersandar?" ujar Jericho.


"Kamu tahu? Malam itu, setelah kamu pergi bersama Angelo, aku dan Hansen sempat berbincang-bincang sebelum aku pulang," kata Jericho.


"Menurutnya, kemungkinan baginya untuk bisa menjadi kekasihmu, itu terlalu kecil. Karena katanya, kamu tidak pernah menghubunginya lebih dulu, jadi dia tahu kalau kamu tidak terlalu memikirkannya....


...Kata Hansen, saat kalian ada kesempatan untuk berbincang-bincang pun, kamu selalu ingin buru-buru mengakhiri perbincangan kalian itu. Kamu justru terlihat lebih bersemangat, jika kalian hanya membahas tentang bisnis....


... Tapi dia juga tidak menyesal. Justru menurutnya, kamu memang layak untuk ditunggu. Karena kamu tidak seperti wanita kebanyakan, yang biasanya dia temui," lanjut Jericho.


"Maafkan saya, Sir ... Tapi menurut saya, kalian adalah laki-laki yang paling aneh, yang pernah saya temui," sahut Olivia.


"Kamu menganggap kami aneh? Apa yang aneh dari kami?" tanya Jericho, sambil menautkan kedua alisnya, seperti orang yang kebingungan.


"Iya, Sir ... Karena saya tidak bisa mengerti, akan jalan pikiran orang seperti anda, Hansen ataupun Angelo....


... Dengan apa yang kalian semua miliki, wanita-wanita akan antri, demi mendapat kesempatan, agar bisa berkencan dengan kalian," jawab Olivia.


"Hmm ... Wanita-wanita seperti itu justru tidak menarik. Barang yang mudah didapatkan, biasanya itu kurang berharga," kata Jericho.


Spontan saja, Olivia menampar lengan Jericho, lalu berkata dengan nada ketus,


"Anda menyamakan orang dengan barang?" 


"Hahaha!" Walaupun sambil mengelus lengannya, namun Jericho masih bisa tertawa. 


"Tapi itu memang benar, bukan?" ujar Jericho, sambil mencubit hidung Olivia, dan Olivia segera menepis tangan Jericho dari wajahnya.


"Kamu pasti sudah tahu, bagaimana kemampuan Angelo dan Hansen dalam berbisnis. Bagaimana cara mereka berpikir, hingga bisnis mereka bisa berhasil....


... Tidak mungkin kamu bisa menganggap, kalau mereka berdua adalah orang yang bodoh atau aneh. Tapi kenapa, demi mendapatkanmu, tidak ada satupun dari mereka yang mau menyerah begitu saja?" ujar Jericho.


"Kamu adalah kesempatan bisnis yang bagus, dan sayang untuk dilewatkan oleh mereka," lanjut Jericho, sambil tersenyum lebar, seolah-olah sedang mengejek Olivia.


"Don't tease me!" ujar Olivia, ketus, sambil menampar lengan Jericho, lagi.


"Pffftt...! Okay, okay! Aku hanya bercanda!" ujar Jericho, sambil mengelus lengannya.


"Seandainya kamu adalah bisnis, maka aku benar-benar tidak akan percaya diri, jika harus bersaing dengan Angelo dan Hansen. Sampai sekarang ini pun, aku masih kurang percaya diri....

__ADS_1


... Yang membuat aku masih bisa memiliki sedikit keberanian, karena aku sekarang sudah tahu, kalau kamu tampaknya memang tidak menilai seseorang, hanya dari luarnya saja," lanjut Jericho.


"Don't be silly, Sir! ... Baik anda, Hansen ataupun Angelo, hanya buang-buang waktu saja," sahut Olivia.


"Ugh? ... Apa sudah ada orang lain yang membuatmu tertarik? Jangan katakan, kalau kamu masih mencintai Louis," ujar Jericho.


"Bukan Louis ... Aku hanya menganggapnya sebagai temanku saja," kata Olivia.


"Hmm ... Berarti ada orang lain," ujar Jericho, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. 


"Aku harap laki-laki yang membuatmu tertarik itu menolakmu. Jadi, mau tidak mau, kamu harus melihat kami lagi," lanjut Jericho buru-buru, lalu tersenyum lebar.


"Geez! ... What's wrong with you, sir?" ujar Olivia, ketus.


"Pffftt...!" Jericho hanya menanggapi kekesalan Olivia, dengan tertawa.


"Kamu mau camilan atau minum? Biar aku ambilkan," kata Jericho, lalu beranjak turun dari atas tempat tidur gantung.


"Pringles and Cola!" 


Setelah Olivia menjawab pertanyaan Jericho, laki-laki itu kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.


Tidak berapa lama, dia kembali sambil membawa satu kaleng keripik kentang, dan dua kaleng minuman bersoda.


"Ini!" kata Jericho, menyodorkan tabung kaleng berisi keripik kentang itu kepada Olivia, lalu mendekatkan meja, untuk meletakkan kaleng minuman bersoda.


Ketika Olivia membuka tutup keripik kentang dan mulai memakannya, Jericho yang sudah kembali duduk di samping Olivia, lalu berkata,


"Can I have some?" 


Tanpa sempat Olivia menjawabnya, tangan Jericho sudah mengambil sedikit keripik kentang itu, dan memakannya.


Tapi untung saja tidak terjadi apa-apa, dan Jericho masih terlihat santai mengunyah keripik kentang di dalam mulutnya.


"Anda tahan pedas?" tanya Olivia, bingung.


"Tentu saja! ... Aku justru suka makanan pedas," jawab Jericho, tanpa beban.


Olivia tidak sempat berpikir apa-apa lagi, Jericho sudah lanjut berkata,


"Aku tadi memikirkan bodohnya Louis. Kesempatan bagus di depan mata, tapi dia melewatkannya begitu saja."


Tepat saat Jericho selesai berbicara, Johan tiba-tiba terlihat melalui pintu belakang rumah, dan menghampiri Olivia dan Jericho.


Dari raut wajahnya, kelihatannya ada sesuatu yang sedang dikhawatirkan oleh Johan, ketika dia berjalan mendekat ke tempat tidur gantung, di mana Jericho dan Olivia berada.


"Olivia! ... Jericho! Aku akan pergi ke kota xxx, sekarang ini," ujar Johan.


"Ugh? ... Kenapa mendadak, Sir?" tanya Olivia.


"Ada apa, Dad?" tanya Jericho.


Kelihatannya, bukan hanya Olivia yang terkejut dengan rencana perjalanan, yang tiba-tiba dari Johan.


Sehingga Jericho juga melontarkan pertanyaannya, secara bersamaan dengan Olivia.


Olivia maupun Jericho, juga secara serentak, beranjak turun dari tempat tidur gantung, dan berdiri menghadap Johan.

__ADS_1


"Ada sesuatu yang terjadi di sana. Pekerjaan yang sedang berlangsung di sana, dihentikan total untuk sementara ini. Asistenku baru saja menghubungiku, tapi dia juga belum bisa memastikan, apa yang sebenarnya terjadi.... 


... Besok pagi akan dilakukan rapat koordinasi di kantor cabang kota itu, dan aku diminta untuk ikut menghadirinya," jawab Johan.


"Jonah masih tidur, jadi aku tidak sempat berpamitan. Sampaikan saja kepadanya, kalau aku minta maaf, karena harus meninggalkannya secara tiba-tiba," lanjut Johan.


"Baik, Sir!" sahut Olivia.


"Iya," sahut Jericho.


"Aku sudah berkemas seperlunya. Jadi, aku akan segera pergi, untuk mengejar waktu," kata Johan, lalu berbalik dan berjalan menuju ke pintu belakang rumah itu.


Dengan terburu-buru, Olivia dan Jericho kemudian segera menyusul langkah Johan.


Olivia berjalan bersebelahan dengan Johan, hingga ke bagian luar di halaman depan rumah, lebih dulu.


Sementara Jericho, pergi mengambil koper Johan dari dalam kamar, baru kemudian terlihat ikut menyusul ke sana.


"Hati-hati di jalan, Sir!" kata Olivia.


Olivia benar-benar cemas, karena Johan yang bepergian secara mendadak seperti itu. Apalagi, perjalanan ke kota yang jadi tempat tujuan Johan itu, berjarak lumayan jauh dari tempat mereka berada sekarang.


"Apa anda bisa mengabari, kalau anda sudah tiba nanti? Saya akan menyalakan ponsel saya kembali," lanjut Olivia, buru-buru.


"Tentu saja! ... Aku akan mengabarimu, jika aku sudah tiba di sana," sahut Johan.


Seolah-olah tidak perduli dengan adanya Jericho di situ, Johan yang tersenyum, kemudian memeluk Olivia, lalu mencium mercu kepalanya.


"Maafkan aku yang mengacau liburanmu," lanjut Johan, dengan suara berbisik-bisik. "Kalau semua urusan pekerjaan sudah selesai, dan kamu masih di sini, aku nanti datang ke sini lagi."


"It's okay, Sir! ... Please be careful, and take care of yourself ... I hope everything will be fine," sahut Olivia, yang juga memeluk Johan dengan erat.


"Okay! ... I have to go, now!" kata Johan.


Johan kemudian melepaskan pelukannya dari Olivia, dan menoleh ke arah Jericho.


"Jericho! ... Tolong jaga Olivia and Jonah! Ajak mereka untuk bersenang-senang! Dan jangan hanya membuat Olivia menjadi kesal!" kata Johan kepada Jericho.


"Yes, daddy!" sahut Jericho, sambil membuat gerakan dengan tangannya, seperti sedang memberi hormat kepada Johan.


Seketika itu juga, Olivia hampir tertawa, saat mendengar pesan dari Johan, dan melihat reaksi Jericho yang menanggapinya.


"Bye, Sir! ... See you soon," kata Olivia.


"Bye, daddy! ... See ya!" kata Jericho.


"Bye, Olivia! ... Jericho!" sahut Johan, sambil tersenyum.


Johan kemudian masuk ke dalam mobilnya, di mana supir pribadinya juga tampak sudah siap, untuk membawa Johan pergi.


Olivia masih berdiri di halaman depan rumah itu, memandangi mobil Johan yang berlalu pergi, hingga tidak terlihat lagi di ujung jalan.


"Ayo kita masuk!" kata Jericho, yang ternyata juga masih berada di situ, tanpa Olivia sadari, karena mengira, kalau Jericho sudah masuk lebih dulu ke dalam rumah.


Sembari berjalan pelan, bersebelah-sebelahan dengan Jericho, rasa penasaran Olivia, membuatnya jadi berpikir keras.


Karena menurut Olivia, ada sesuatu yang dia ketahui, tentang pekerjaan di kota yang sekarang sedang dituju oleh Johan. 

__ADS_1


Namun dia tidak ingat, apa yang membuatnya bisa merasa seperti itu.


__ADS_2