
Sejak Olivia tiba di kantornya pagi ini, Olivia tidak menyentuh pekerjaannya yang lain, dan hanya terfokus pada rapat yang akan berlangsung pada jam sepuluh nanti.
Sebagai persiapan, sembari menggumamkan apa saja yang kira-kira bisa dia katakan, Olivia membaca ulang berkas dari daerah xxx yang akan jadi bahan presentasinya.
Di ruang kerja Olivia itu, Louis juga terlihat sibuk sendiri dengan pekerjaannya, dan begitu juga rekan-rekan kerja Olivia yang lain.
Walaupun demikian, Olivia masih bisa melihat dengan ujung matanya, kalau Louis sesekali tampak melirik ke arahnya.
Semalam, hingga Louis mengantarkan Olivia kembali ke apartemennya, Olivia masih tidak memberikan kepastian kepada Louis, kalau dia akan ikut dengan laki-laki itu ke luar negeri.
Selain merasa malu karena Olivia yang tidak mengenal keluarga Louis dengan baik, Olivia juga khawatir kalau-kalau nanti dia hanya akan membuat keluarga Louis jadi salah paham, dengan keberadaan Olivia di sana.
Rasanya wajar saja jika Olivia cemas kalau suasananya nanti bisa jadi canggung, seandainya keluarga Louis sampai mengira, kalau Olivia dan Louis memiliki hubungan yang lebih dari teman.
Daripada Olivia sudah berada di sana, lalu jadi salah tingkah di antara orang-orang yang tidak dia kenali, rasanya akan lebih baik kalau dia mempertimbangkannya secara matang-matang lebih dulu, sebelum dia mengambil keputusan untuk ikut dengan Louis.
Lagi pula, waktu keberangkatan Louis ke luar negeri masih ada kurang lebih dua minggu lagi, dengan begitu, Olivia masih memiliki cukup waktu untuk memikirkannya.
Olivia mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan ujung jari telunjuknya, hingga mirip seperti bunyi yang dikeluarkan oleh *Metronome, yang bertempo *Andante, yang stabil.
(*Metronome : alat pengukur ketepatan tempo pada lagu.
*Andante : tanda tempo/ketukan dengan kecepatan sedang, kurang lebih secepat orang yang berjalan.)
Jika Olivia bisa jujur, saat ini dia merasa cukup gugup, apalagi sekarang sudah semakin mendekati waktunya rapat akan digelar.
Walaupun waktu dia masih berkuliah dulu, Olivia sering melakukan presentasi, namun kali ini rasanya tetap berbeda saat dia sudah berada di dalam lingkungan kerja.
Dan Olivia tidak mau melakukan kesalahan, saat menjadi presentator di depan para manajer perusahaan, yang juga akan dihadiri oleh Jericho, selaku Direktur perusahaan itu.
"Olivia!"
Suara Sir Hart yang berseru memanggil namanya, membuat Olivia mengangkat pandangannya, dan melihat ke ujung pintu ruang kerjanya.
Sir Hart, manajer Olivia itu tampak berjalan mendekat ke meja kerja Olivia.
Olivia buru-buru berdiri dari tempat duduknya. "Iya, Sir!"
__ADS_1
"Kamu sudah siap?" tanya Sir Hart.
"Iya, Sir ... Saya sudah siap," sahut Olivia.
"Ayo kita ke ruang konferensi, sekarang!" ajak Sir Hart, lalu tampak melihat ke arah Louis.
Ketika Olivia ikut melihat ke arah Louis, laki-laki itu juga terlihat sudah berdiri dari tempat duduknya, dan siap untuk ikut bersama Sir Hart dan Olivia, menuju ke ruang konferensi.
Sambil terus berjalan, Sir Hart tampak memperlambat langkahnya, agar Olivia bisa berjalan di sebelahnya.
"Saya tadi ingin memastikan, kalau kamu tidak melarikan diri, karena rapat hari ini," ujar Sir Hart, yang bagi Olivia terdengar kalau manajernya itu sekarang ini sedang bercanda.
"Hmm ... Saya tadi memang sempat berencana untuk pergi dari kantor, Sir," kata Olivia, membalas lelucon Atasannya itu.
Dan memang benar saja dugaan Olivia, kalau Atasannya itu tadi memang sedang bercanda, karena seketika itu juga, Sir Hart tampak tertawa lepas.
"Hahaha ...! Bagus, bagus ...!"
"Kelihatannya kamu tidak terlalu gugup. Dengan begitu, saya jadi yakin kalau kamu bisa melakukan presentasi dengan lancar. Karena di rapat kali ini, juga akan dihadiri oleh CEO," ujar Sir Hart.
"Sir Andersen sudah kembali malam tadi," jawab Sir Hart.
"Tapi ... Bagaimana kamu bisa tahu, kalau CEO sedang bepergian ke luar kota?" lanjut Sir Hart, setelah dia sempat terdiam untuk beberapa saat.
Seketika itu juga, Olivia merasa kalau seolah-olah dia telah salah bicara.
"Hmm ... Saya tidak sengaja bertemu dengan beliau, saat libur akhir pekan kemarin...." sahut Olivia, ragu-ragu.
Sir Hart lalu tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kalau Sir Andersen sampai bisa memberitahu rencana kegiatannya padamu, berarti saya bisa menganggap, kalau hubunganmu cukup baik dengannya," kata Sir Hart.
Olivia tidak tahu harus berkata apa, hingga akhirnya, Olivia hanya bisa terdiam setelahnya.
Sampai mereka bertiga tiba di ruang konferensi, yang berada di lantai yang sama dengan ruang kerja Olivia, tidak ada lagi dari mereka yang bicara apa-apa.
Di dalam ruang konferensi, masih belum ada satupun peserta rapat itu yang sudah datang, hingga ruangan yang masih kosong itu, jadi terlihat sangat luas.
__ADS_1
Olivia dan Louis mempersiapkan laptop dan proyektor untuk presentasi, sedangkan Sir Hart, terlihat sudah duduk di kursinya.
"Jadi kamu mengenal CEO dan Direktur kita?" tanya Louis tiba-tiba, dengan suara berbisik-bisik.
"Kebetulan saja," sahut Olivia, yang tidak mau menjelaskannya lebih jauh.
Tidak berapa lama kemudian, satu persatu manajer perusahaan, terlihat memasuki ruang konferensi, dan duduk di kursi mereka masing-masing.
Jericho juga terlihat memasuki ruang di mana rapat itu akan berlangsung, sebelum semua manajer perusahaan itu tiba di ruangan itu.
Ketika Olivia dan Jericho beradu pandang, Jericho lebih dulu tersenyum lebar, dan Olivia ikut tersenyum melihatnya.
Jericho juga tampak mengacungkan jempolnya, meskipun secara sembunyi-sembunyi, agar hanya Olivia saja yang bisa melihatnya.
Semua manajer sudah terkumpul, dan tertinggal satu kursi kosong untuk Johan, karena dia yang selaku CEO perusahaan saja, yang masih belum datang.
Kurang lebih lima sampai sepuluh menit kemudian, Johan lalu terlihat melewati pintu, dan berjalan masuk ke dalam ruang konferensi.
Saat itu juga, semua orang yang ada di ruangan itu, secara serentak berdiri dari tempat duduknya, lalu menyapa Johan. "Selamat siang, Sir!"
"Selamat siang! ... Maafkan kedatangan saya yang terlambat," kata Johan, lalu mengambil tempat duduk yang disediakan untuknya.
Ketika Johan melihat ke arah Olivia, dan seolah-olah dia baru menyadari keberadaan Olivia di situ, Johan yang tampak sedikit terkejut, lalu mengembangkan senyuman yang lebar di wajahnya.
'Hai!' Gerakan mulut Johan yang tidak mengeluarkan suaranya, masih bisa dimengerti oleh Olivia.
'Hai, Sir!' Olivia juga membalas sapaan Johan, dengan menggerakkan mulutnya saja, tanpa mengeluarkan suaranya.
Johan seakan tidak bisa berhenti tersenyum, dan dia juga terus menatap Olivia yang berdiri di dekat layar, yang menjadi latar tampilan proyektor.
Tidak jauh berbeda dengan Johan, Jericho juga tampak bertingkah sama, setiap kali Olivia melayangkan pandangannya ke segala arah di ruang itu, dan melihat Jericho di tempat duduknya.
Hingga kegiatan rapat itu dimulai, dengan dibuka oleh Louis yang menyampaikan materi rapat, gerak-gerik Jericho dan Johan masih sama saja.
Dengan begitu, Olivia juga hampir tidak bisa berhenti tersenyum, setiap kali dia memandangi CEO dan Direkturnya itu berganti-gantian.
Olivia hanya bisa berhenti tersenyum, jika dia melihat ke arah para manajer yang tampak memasang raut wajah penasaran, akan bagaimana presentasi yang akan berlangsung di situ nantinya.
__ADS_1