Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 33


__ADS_3

"Kriiing! ... Kriiing!"


Suara ponsel Olivia yang tiba-tiba berbunyi, benar-benar mengejutkan Olivia, dan begitu juga Jericho yang tampaknya tidak kalah terkejutnya.


Jericho yang segera kembali duduk bersandar di kursinya, hingga terlihat benar-benar seperti orang yang sedang merasa salah tingkah.


Sambil memalingkan wajahnya dari olivia, Jericho yang menyandarkan salah satu sikunya di jendela mobil, tampak menggigit ujung jari jempol dari tangannya itu.


Dengan terburu-buru, Olivia memeriksa layar ponselnya, lalu segera menerima panggilan telepon yang masuk dari Louis.


"Halo, Louis!" sapa Olivia.


"Halo, Olivia!" Louis balas menyapa dari seberang telepon, lalu bertanya, "Di mana kamu sekarang?"


"Tunggu sebentar! Aku sudah di depan kantor," sahut Olivia.


Olivia lalu memutus sambungan telepon itu, tanpa menunggu tanggapan dari Louis lagi, dan segera menjauhkan ponselnya dari wajahnya.


Sembari berusaha keras, untuk menenangkan dirinya sendiri, Olivia lalu melihat ke arah Jericho, dan kemudian berkata,


"Terima kasih atas hadiahnya, Sir! ... Saya pergi dulu," kata Olivia, lalu bersiap untuk keluar dari mobil Jericho.


"Olivia!" Jericho berseru, seolah-olah masih berniat menahan Olivia, agar tetap di dalam mobil, dan bisa bersamanya lebih lama.


"Ada apa, Sir?" tanya Olivia, setenang mungkin.


Untuk beberapa saat kemudian, Jericho hanya terdiam, sambil menatap Olivia, sebelum akhirnya dia berkata,


"Kamu nanti tidak akan menghindariku, kan?!"


"Iya, Sir ... Anda bisa menghubungi saya kapan saja, seperti biasanya," kata Olivia, sambil berusaha agar bisa tetap tersenyum.


Di depan Jericho, walaupun yang sebenarnya jantung Olivia masih belum bisa berdetak dengan stabil, namun Olivia masih bisa memaksakan dirinya, untuk tetap terlihat tenang.


Seolah-olah tidak ada apa-apa, yang bisa membuat situasi antara Olivia dan Jericho menjadi terasa canggung.


Akan tetapi, berbeda keadaannya setelah Olivia sudah keluar dari mobil Jericho, dan berjalan mengarah masuk ke dalam gedung kantor.


Olivia bahkan merasa kalau seolah-olah dia akan jatuh pingsan, karena darah yang terpompa terlalu cepat, naik ke otaknya.


Berkali-kali Olivia menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, agar dirinya bisa kembali merasa tenang.


Olivia benar-benar tidak mengerti, akan apa yang terjadi dengan dirinya, hingga ketika di dalam mobil Jericho tadi, bisa-bisanya Olivia sempat terpikir dan berharap agar Jericho menciumnya.


Ketika mengingat dirinya sendiri, yang memejamkan matanya di depan Jericho yang mendekatinya, Olivia rasanya ingin menampar pipinya sendiri karena malu.

__ADS_1


Oh, gosh! Sungguh memalukan!


Ini semua, pasti karena Olivia yang sudah terlalu lama tidak pernah berkencan lagi.


Sehingga hanya dengan sedikit provokasi, dan suasana yang mendukung, hingga Olivia hampir berciuman dengan Jericho.


Sambil terus berjalan pelan, Olivia menggeleng-gelengkan kepalanya, karena rasa tidak percaya, kalau dia telah bertingkah konyol.


Olivia masih belum merasa tenang sepenuhnya, namun Jericho tampak sudah menyusulnya, dan akhirnya bersama-sama berjalan masuk ke dalam lift.


"Olivia!" ujar Jericho.


"Ugh! ... Iya, Sir?" sahut Olivia.


"Kamu baik-baik saja, kan?!" tanya Jericho.


"Iya, Sir," jawab Olivia.


Pertemuan ulang dan percakapan yang terasa kaku, menurut Olivia.


Tapi Olivia menyadari, kalau itu bukanlah kesalahan Jericho, melainkan karena Olivia yang masih terbawa perasaannya sendiri.


Dan Olivia juga tahu, kalau dia harus bisa segera mengatasinya, agar rasa canggung di antara mereka berdua, tidak berlangsung hingga berlarut-larut.


Sehingga sebelum pintu lift terbuka, di lantai yang menjadi tujuan Olivia dan Jericho, Olivia yang ingin mencairkan suasana antara dirinya dan Jericho lagi, kemudian terpikir untuk berkata,


Kelihatannya, perkataan Olivia itu memang berhasil untuk membuat keadaan kembali santai seperti semula.


Seolah-olah tidak pernah ada sesuatu yang membuat suasana jadi sedikit tegang, saat itu juga, Jericho lalu tampak tersenyum lebar.


"Harganya tidak mahal. Hanya senilai uang saku ku untuk sebulan," sahut Jericho, bercanda.


"Pffftt ...! Kalau begitu anda tidak bisa jajan, untuk satu bulan ke depan. Apa yang akan anda lakukan nanti?" ujar Olivia, membalas lelucon Jericho.


"Hmm ... Benar katamu. Kelihatannya aku harus meminta uang saku tambahan, kepada daddy," sahut Jericho, sambil tetap tersenyum.


Pintu lift akhirnya terbuka, lalu Jericho dan Olivia harus berpisah jalan, setelah melangkah keluar dari dalam lift.


"Bye, Olivia! Aku harus segera kembali bekerja, agar daddy-ku mau memberiku uang lebih," kata Jericho.


"Pffftt ...! Okay! ... Bye, Sir!" sahut Olivia, sambil tertawa tertahan, dan akhirnya sama-sama berjalan, dengan arah yang berlawanan.


***


Di dalam ruang kerja Olivia, Louis tampak berdiri di dekat meja kerja Olivia, dan seolah-olah dia memang sedang menunggu kedatangan Olivia di sana.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Olivia, sebelum Louis berbicara apa-apa.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa bingung, karena kamu melewatkan jam makan siangmu," jawab Louis.


"Kamu dari mana saja? Apa kamu sudah makan siang?" lanjut Louis, buru-buru.


"Sudah. Aku justru baru kembali dari makan siang di luar," jawab Olivia, lalu duduk di kursi kerjanya.


Louis tampak masih berdiri di dekat meja kerja Olivia, walaupun dia tidak berkata apa-apa.


Namun tingkah Louis itu, justru membuat Olivia jadi makin penasaran, kenapa Louis masih di situ, dan tidak segera kembali ke meja kerjanya.


"Louis ...! Ada apa?" tanya Olivia, pelan.


"Aku menunggumu di sini, sepanjang jam istirahat makan siang tadi. Tapi ternyata kamu tidak kembali, walaupun dompetmu masih ada didalam tasmu," kata Louis.


"Ugh ...? Kenapa kamu hanya menunggu, tanpa menghubungiku? Jadi kamu sekarang masih belum makan siang?" tanya Olivia, yang tidak mengerti akan jalan pikiran Louis.


"Aku tadinya hendak menghubungimu. Tapi, aku khawatir kalau-kalau kamu masih berbincang-bincang dengan Sir Andersen di ruang konferensi....


... Makanya aku menahan diri untuk tidak segera meneleponmu. Apalagi aku tahu kalau kamu tadi tidak membawa dompetmu, jadi aku pikir kamu pasti akan kembali ke sini, sebelum kamu pergi makan siang."


Louis berbicara dengan nada suara dan raut wajahnya yang tampak kecewa, atau mungkin saja kalau Louis sudah merasa sangat lapar sekarang ini, menurut penilaian Olivia.


Olivia lalu memperhatikan meja kerjanya, dan kelihatannya, belum ada pekerjaan yang baru masuk, yang harus dia kerjakan sekarang ini.


Olivia kemudian berdiri kembali dari kursi kerjanya, dan sambil menatap Louis, Olivia lalu berkata,


"Seharusnya ini bukan salahku, hingga kamu tidak pergi makan siang. Tapi aku akan menemanimu, untuk pergi ke kafetaria sekarang."


Seperti seekor anak anjing yang kegirangan karena diajak tuannya untuk berjalan-jalan, Louis tampak senang, ketika Olivia berjalan bersamanya, keluar dari ruang kerja mereka.


"Terima kasih sudah mau menemaniku," ujar Louis, setelah mereka berdua memasuki lift.


"Hmm ... kamu tidak perlu berterima kasih. Aku memang sengaja mengajakmu pergi untuk makan siang. Karena aku tidak mau membiarkanmu bekerja dengan perut lapar....


... Lalu kamu nanti akan jadi sensitif, dan mudah marah saat bekerja, walaupun mungkin hanya terjadi kesalahan yang kecil saja," sahut Olivia.


Louis tersenyum lebar, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berkata,


"Aku tidak mau makan di kafetaria. Kita berdua nanti akan jadi pusat perhatian, dari karyawan yang lain."


"Ugh ...? Jadi kamu mau makan di luar?" tanya Olivia, bingung.


"Iya ... Tenang saja! Aku hanya akan memilih restoran yang dekat dari kantor, jadi kita tidak akan berada terlalu lama di luar," kata Louis, tanpa beban.

__ADS_1


"Tsk! ... Terserah kamu saja kalau begitu," sahut Olivia, yang merasa kalau sudah kepalang tanggung, jika dia harus menolak keinginan Louis sekarang ini.


__ADS_2