
Sebagai tamu di rumah Jericho, Olivia tentu tidak bisa bertingkah sesukanya, demi menghargai si pemilik rumah.
Sehingga setelah mendengar perkataan Jericho yang terdengar seperti sebuah perintah, yang menyuruh agar mereka berhenti bermain, Olivia segera menurutinya, agar Jericho tidak perlu mengulang perkataannya lagi.
Sebelum yang lain berdiri dari lantai, Olivia dengan terburu-buru, berdiri lebih dulu di situ.
Berbeda jauh dengan Olivia, respon yang diperlihatkan oleh Johan dan Jonah, justru memperlihatkan keengganan mereka, untuk menuruti perkataan Jericho.
Johan dengan senyumannya, yang bagi Olivia terasa tidak tulus, dan lebih seperti sedang tersenyum sinis, hanya bergerak perlahan untuk berdiri dari lantai.
Sedangkan Jonah, malah hanya memalingkan wajahnya, seolah-olah dia tidak mau melihat ke arah Jericho, dan tetap menyusun kepingan permainan Lego-nya.
Agak mengherankan bagi Olivia, ketika melihat Jonah yang seperti sedang membangkang, dan melawan perkataan Jericho.
Menurut penilaian Olivia, baik Johan dan Jonah, tampaknya sama-sama sedang merasa tidak senang dengan situasi di saat itu.
Ada apa? Apa yang salah?
Kalau hanya Jonah saja, yang bereaksi seperti itu, Olivia mungkin bisa memaklumi. Karena bisa saja, kalau Jonah memang masih ingin bermain, dan dia tidak ingin diganggu.
Dan rasanya, bukanlah hal yang terlalu mengherankan jika anak-anak seperti Jonah, menolak arahan orang tuanya, saat mereka sedang keasyikan bermain.
Tapi, bagaimana dengan Johan?
Walaupun Jericho berkata kalau hubungannya dengan Johan tidak terlalu baik, namun menurut Olivia, orang seperti Johan, tidak mungkin akan memperlihatkan tentang hal itu kepada orang lain.
Apalagi, untuk beberapa kesempatan, saat Olivia bisa bertemu secara bersamaan dengan Jericho dan Johan, kelihatannya, tidak ada satupun di antara daddy dan anak itu, yang bertingkah seperti sekarang ini.
Lalu apa yang berbeda?
Dengan rasa penasaran, Olivia secara sembunyi-sembunyi, mencoba mengamati keadaan di tempat itu, dengan memperhatikan gerak-gerik Jericho, Johan, dan seorang wanita yang bersama Jericho, secara bergantian.
Johan yang telah merapikan seadanya, kemeja dan celananya yang sedikit berantakan, lalu menghampiri Olivia, dan saat itu juga, senyuman Johan sambil menatap Olivia, kembali terasa tulus.
Sedangkan Jericho, masih memasang raut wajah tidak senang, sambil memandangi Jonah, dan tidak jauh berbeda, begitu juga yang bisa terlihat, pada wanita yang sedang bersamanya itu.
"Jonah! Berhentilah bermain!" ujar Jericho, yang terlihat semakin kesal.
Akan tetapi, Jonah bertingkah seolah-olah dia tidak mendengarkan perkataan daddy-nya itu, dan tetap sibuk dengan permainannya.
Jonah bahkan tidak mau mengangkat pandangannya, untuk melihat ke arah Jericho, yang baru saja mengulang tegurannya.
"Apa yang kamu ajarkan padanya?" Wanita yang bersama Jericho, melontarkan pertanyaan, yang kemungkinan besar, kata-katanya itu sedang diarahkannya kepada Jericho.
Pengasuh Jonah yang berdiri tidak jauh dari situ, kemudian menghampiri Jonah, dan berjongkok di sampingnya.
Kelihatannya, pengasuh Jonah sedang berusaha untuk membujuk anak itu, agar menuruti perkataan daddy-nya.
Namun tidak ada yang berubah di sana.
__ADS_1
Untuk beberapa waktu yang telah berlalu, Jonah tetap dengan dunianya sendiri, hingga membuat wanita yang bersama Jericho, terlihat semakin kesal.
"Jonah! Sudah waktunya kita makan malam! Kamu tidak bisa membuat para tamu, jadi menunggu lebih lama!" kata wanita yang bersama Jericho itu, dengan nada suara yang tegas.
"Aku tidak lapar, mommy!" sahut Jonah, tanpa mengalihkan pandangannya dari permainan Lego.
Mendengar perkataan Jonah, barulah Olivia mengetahui kalau wanita yang bersama Jericho itu, ternyata adalah mantan istri dari Jericho.
"Jonah! Di mana sopan santunmu? Tamu yang datang, karena ulang tahunmu! Bagaimana mungkin, kamu tidak mau menyambut mereka!" Mommy dari Jonah, tampak semakin geram.
Walaupun demikian, Jonah tetap tidak bereaksi, dan seketika itu juga, kelihatannya, mommy dari Jonah yang menghampiri Jonah, terlihat seolah-olah akan menyeret Jonah yang masih terduduk di lantai, secara paksa.
Entah apa yang merasuki Olivia, sampai-sampai tanpa dia sadari, dia telah bergerak secara spontan, ikut menghampiri Jonah, dan berjongkok di dekatnya.
"Jonah ...! Aku akan menemanimu bermain. Tapi nanti setelah kita selesai makan malam, karena aku sudah sangat lapar. Jonah mau menemaniku makan malam, kan?!"
Sambil berbicara dengan suara yang pelan, Olivia beralasan untuk membujuk Jonah, agar anak itu mau berdiri dari situ, dan ikut makan malam bersama.
Dan kelihatannya, niat Olivia agar Jonah tidak membuat orang tuanya semakin kesal, dan menghindarkan dari situasi yang kemungkinan bisa menjadi semakin tegang itu, memang berhasil.
Karena Jonah lalu menatap Olivia lekat-lekat, dan berkata,
"Apa Miss Olivia mau berjanji?"
Sambil tersenyum, Olivia lalu mengacungkan jari kelingkingnya, mengajak Jonah untuk melakukan janji kelingking dengannya. "Tentu saja!"
Jonah kemudian berdiri dari lantai, dan saat itu juga, Jericho segera memegang tangannya, lalu membawa Jonah berjalan pergi dari situ bersamanya.
Kemudian, Jericho juga mengajak orang-orang lain yang berada di ruangan itu, agar ikut dengannya, ke ruangan yang sudah dipersiapkan, untuk dilangsungkannya makan malam bersama.
Seperti iring-iringan gerombolan biri-biri, mommy dari Jonah, dan Jericho yang masih memegang tangan Jonah, berjalan bersebelah-sebelahan di bagian paling depan.
Lalu menyusul tidak jauh di bagian belakang mereka, Olivia dan Johan yang juga berjalan bersebelah-sebelahan.
Dan begitu juga para tamu yang lain, yang juga ikut menyusul, dengan berjalan di bagian paling belakang barisan.
Johan mungkin menyadari, kalau Olivia sedang memperhatikan wanita yang ada di depannya, yang adalah mommy dari Jonah, sehingga Johan secara tiba-tiba berceletuk,
"Laura."
"Ugh ...? Apa yang anda katakan barusan, Sir?" tanya Olivia, bingung.
"Namanya adalah Laura." Johan mengulang perkataannya. "Apa kamu tidak mengenalnya?"
Olivia menggelengkan kepalanya. "Tidak, Sir."
"Sungguh? Dia adalah seorang model papan atas yang terkenal," kata Johan, seolah-olah tidak percaya dengan jawaban Olivia.
"Saya tidak terlalu memperhatikan tentang tren permodelan," kata Olivia, sambil tersenyum.
__ADS_1
Lalu, hanya berniat untuk sekedar bercanda, Olivia mengayunkan tangannya sekali, menunjuk dirinya sendiri, dari bagian atas ke bawah.
Johan kelihatannya mengerti maksud dari isyarat Olivia barusan, kalau Olivia hanya memakai pakaian yang bergaya sederhana yang biasa saja, dan tidak mengikuti tren model masa kini.
"The simpler, the better!" kata Johan, sambil tersenyum, dan Olivia juga ikut tersenyum melihatnya.
Mereka semua terus berjalan, hingga memasuki sebuah ruangan dengan meja panjang, dan kursi yang berjejer rapi di tiap sisinya.
Johan lalu mempersilahkan Olivia, agar duduk di kursi yang ada di sampingnya, yang tata letaknya berseberangan dengan tempat duduk, yang dipakai oleh Jericho, Laura dan Jonah.
Para tamu yang lain, juga ikut duduk dengan mengambil kursi kosong yang tersedia di situ.
Sebelum mereka memulai makan malamnya, sebuah kue tart ulang tahun berukuran sedang, diantar oleh pekerja di rumah Jericho, ke dekat meja makan.
Semua orang yang hadir di situ, kemudian menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
Dan setelah Jonah meniup lilin yang menyala di atas kue, hingga semua lilin itu padam, secara serempak, semua orang yang ada di situ, kemudian memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Jonah.
Pada umumnya, anak-anak tentu akan terlihat senang, saat ulang tahunnya dirayakan, dengan adanya kedua orang tuanya, dan hadirnya orang-orang lain terdekatnya.
Tapi kenyataannya tidaklah demikian, menurut penilaian Olivia.
Jonah justru terlihat seolah-olah dia hanya terpaksa saja, saat dia meniup lilin, lalu memotong kue ulang tahunnya, dan memberikan potongan kue kepada Jericho dan Laura.
Bahkan, sampai waktunya Jonah menerima ucapan selamat ulang tahun, dari semua orang yang dia undang, walaupun hanya sedikit, tidak terlihat adanya senyuman di wajah Jonah.
Hingga makan malam mulai disajikan, dan semua orang mulai menikmati makanannya, Jonah masih terlihat lesu, dan tampak tidak berselera untuk makan.
Olivia yang memperhatikan gerak-gerik Jonah sedari tadi, lalu melambaikan tangannya pelan, mengajak Jonah agar mendekat kepadanya, ketika matanya beradu dengan Jonah.
Seakan-akan Jonah memang berharap agar Olivia memanggilnya, hingga tanpa berlama-lama, Jonah segera beranjak dari tempat duduknya, lalu menghampiri Olivia.
Johan yang kelihatannya juga mengerti, akan apa yang dipikirkan oleh Olivia dan Jonah, lalu berpindah tempat duduk, dan membiarkan Jonah duduk di bagian tengah, di antara dirinya dan Olivia.
"Jonah harus makan ...! Agar kita nanti bisa bermain lebih lama," kata Olivia pelan, membujuk Jonah.
"Okay, Miss!"
Sambil menganggukkan kepalanya, Jonah menyetujui permintaan Olivia, walaupun anak itu masih tetap terlihat lesu.
Dan sebelum Jonah berubah pikiran, Olivia segera mengambilkan makanan untuk anak itu.
Ketika Jonah mulai memakan makanannya, tiba-tiba terdengar suara Laura yang berkata,
"Pengasuh sepertimu, dibayar berapa?"
Sontak pertanyaan dari Laura, menarik perhatian Olivia, hingga melihat ke arah wanita itu, yang sekarang ini terlihat memasang raut wajah tidak senang, dan sedang menatap Olivia lekat-lekat.
"Apa kamu tidak mendengarku? Berapa bayaranmu?" tanya Laura lagi, dengan nada suaranya yang seolah-olah sedang meremehkan Olivia.
__ADS_1