
Keberadaan Angelo, yang walaupun tidur di satu tempat tidur yang sama dengan Olivia, namun laki-laki itu sama sekali tidak mengganggu Olivia.
Di sepanjang malam itu, Olivia bisa beristirahat dengan perasaan yang sedikit lebih tenang, hingga dia bisa tertidur dengan nyenyak sampai fajar merekah.
Karena malam tadi, Olivia yang mendapatkan informasi dari orang-orang yang dikerahkan oleh Angelo untuk mencari Claire, bahwa mereka telah menemukan di mana Claire berada, memang bisa membuat Olivia bernafas sedikit lebih lega.
Menurut Angelo, lokasi keberadaan Claire yang seolah-olah sedang bersembunyi, bukan hanya nama negaranya saja yang sudah didapatkan informasinya.
Melainkan hingga nama kota tempat Claire menetap sementara ini, juga sudah ada di tangan orang-orang yang diperintahkan oleh Angelo, untuk mencarinya itu.
Dengan demikian, menurut perkataan Angelo malam tadi kepada Olivia, paling lambat di siang hari ini, Claire sudah pasti akan tertangkap.
***
Ketika Olivia terbangun, lalu membuka matanya, dia sedang tersandar di dada Angelo yang memeluknya, dengan berbaring menyamping.
Angelo terlihat masih tertidur dengan nyenyak, dengan wajahnya yang menghadap ke arah Olivia.
Dengan perlahan-lahan, Olivia bergeser agar bisa menjauh dari Angelo, tapi Angelo tiba-tiba membuka matanya, lalu menarik Olivia, agar kembali mendekat kepadanya, sambil berkata,
"Biarkan aku memelukmu. Aku masih ingin seperti ini bersamamu sebentar lagi."
Olivia menatap lekat-lekat, mata Angelo yang berwarna hijau seperti batu permata zamrud, lalu berkata,
"Jangan bermanja-manja! Aku ingin kembali ke apartemenku, sekarang!"
"Why?" ujar Angelo, dengan suara yang dibuat-buat seperti suara anak kecil.
"Apa kamu tidak bisa melihat, apa yang aku pakai sekarang ini?" ujar Olivia, ketus.
Malam tadi, Olivia hanya mengganti atasannya dengan memakai kemeja Angelo, sedangkan untuk bawahannya, Olivia masih memakai celana panjang kain, yang dipakainya ke kantor Andersen's kemarin.
"Kamu masih terlihat cantik," sahut Angelo, sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Don't tease me! ... Bajumu ini, ukurannya terlalu besar untukku!" ujar Olivia, sambil mendorong Angelo agar menjauh darinya.
"Geez! ... Tenang saja! Kamu tidak perlu buru-buru kembali ke apartemenmu. Kamu mandi di sini saja. Aku yang akan mengurus pakaian gantimu," kata Angelo.
Angelo kemudian beranjak turun dari tempat tidur, lalu mengulurkan tangannya, untuk membantu Olivia bangkit dari tempat tidur itu.
"Tidak perlu membeli pakaian baru. Aku bisa kembali ke apartemenku saja," ujar Olivia, setelah dia sudah berdiri.
"Honey...! Just listen to me, okay?" Walaupun dia bicara dengan suara yang pelan, namun Angelo tampak tidak mau kalah.
"Fine! ... Just do, what you want to do!" sahut Olivia, lalu berjalan menuju ke kamar mandi.
Sembari berendam di dalam bathtub, Olivia rasanya tidak sabar lagi, untuk bisa mendengar kalau Claire sudah tertangkap.
__ADS_1
Di saat itu juga, Olivia memikirkan tentang bagaimana caranya dia akan berbicara, untuk menjelaskan kelalaian yang dilakukannya, bahkan rencananya untuk menikah dengan Angelo, kepada Johan dan Jericho.
Akan tetapi, semakin Olivia memikirkan tentang hal itu, justru hanya membuatnya semakin pusing.
"Huuffft...! Just let it flow!" kata Olivia, bicara sendiri, sambil berharap, agar dia nanti bisa tahu apa yang harus dia katakan, saat dia bertemu dengan Johan dan Jericho.
***
Rencananya setelah selesai sarapan di pagi itu, Olivia ingin pergi melihat langsung, keadaan di gedung kantor Andersen's tempatnya bekerja.
Karena tadinya, sementara Olivia memakai pakaian yang dibelikan oleh Angelo, sambil menunggu Angelo mandi dan bersiap-siap, Olivia sempat melihat di tayangan berita bisnis di televisi.
Di mana kantor tempat Olivia bekerja itu, didatangi oleh beberapa anggota pers, yang ingin mewawancarai Johan secara langsung.
Johan terlihat menghindari para pengumpul berita untuk media masa, dan hanya berlalu masuk ke dalam gedung kantor, sambil tersenyum.
Menurut penuturan Angelo, dan apa yang bisa Olivia lihat di data pergerakan pasar modal yang ada di laptop Angelo, pengambil alihan sebagian besar saham Andersen's yang dilakukan Sullivan grup, berpengaruh baik di reaksi pasar modal di hari ini.
Dalam satu jam pertama pembukaan pasar modal, penjualan saham Andersen's secara besar-besaran, terlihat sudah terhenti, hingga harga saham Andersen's bertahan, walaupun masih belum kembali ke harga awalnya.
Saking senangnya melihat hal itu, sambil berterima kasih kepada Angelo, Olivia bahkan tanpa sadar, telah memeluk dan mencium Angelo lebih dulu.
Akibatnya, Angelo hampir tidak bisa berhenti tersenyum sambil menatap Olivia, sampai mereka hampir selesai menikmati makan paginya, saat ini.
"Can you stop it? ... Aku sudah tidak tahan lagi melihatmu, yang terus saja tersenyum," ujar Olivia, ketus.
"Apa kamu akan melihat-lihat di kantor Andersen's?" tanya Angelo.
"Iya ... Aku tidak akan masuk ke dalam kantor. Aku hanya ingin melihat situasinya dari luar saja," jawab Olivia.
"Okay! ... Kamu tidak apa-apa, jika kamu hanya menunggu di mobil saja? Karena aku akan bertemu dengan Sir Johan," kata Angelo.
Perkataan Angelo itu, seolah-olah dia sedang mengingatkan Olivia, akan janji pertemuannya dengan Johan, yang telah disepakati oleh Angelo dan Johan, malam tadi.
"Iya ... Tidak apa-apa," jawab Olivia.
"Hmm ... Padahal rasanya mungkin akan lebih baik, jika kamu bertemu dengan Sir Johan Andersen, sekarang. Menyimpan rasa bersalah, tentu tidak nyaman, bukan?" ujar Angelo.
"Benar katamu, tapi...." Olivia tidak tahu harus berkata apa, hingga dia membiarkan kalimatnya menggantung.
"Aku akan membantumu menjelaskannya. Kalau rekan kerjamu itu, juga sudah pasti tertangkap. Jadi, kamu tidak perlu terlalu khawatir, untuk bicara dengan Sir johan," kata Angelo, lagi.
"Tapi kalau kamu masih merasa ragu-ragu, maka aku juga tidak akan memaksamu," lanjut Angelo.
Baru saja Angelo selesai berbicara, ponselnya kemudian berbunyi, dan Angelo segera mengeluarkan benda itu dari kantong jasnya, dan segera memeriksanya.
Setelah beberapa saat dia menatap layar ponselnya, Angelo kemudian terlihat tersenyum lebar, lalu menatap Olivia.
__ADS_1
"Mereka sudah menemukannya!" ujar Angelo, kemudian memperlihatkan tampilan layar ponselnya, kepada Olivia.
"Lihat! ... Ini orangnya, bukan?" lanjut Angelo.
Olivia tidak puas, jika hanya melihat tampilan layar ponsel dari tangan Angelo, hingga Olivia mengambil ponsel itu, kemudian melihatnya dari jarak dekat.
"Iya ... Dia orangnya," jawab Olivia, setelah melihat foto Claire, yang diambil gambarnya dalam posisi terduduk.
"Kalau begitu, kita bisa menunggu sebentar lagi, sebelum pergi ke kantor Andersen's....
... Sampai mereka bisa memastikan, kalau ada barang bukti yang bisa menunjukkan, bahwa dia ada hubungannya dengan pencurian data," kata Angelo.
Olivia kemudian mengembalikan ponsel Angelo, lalu berkata,
"Hmm ... Kenalanmu itu bisa menemukan Claire dengan cepat. Lalu kenapa kamu tidak memakai jasa mereka, untuk mencariku?"
"Honey...! Apa kamu tahu? Mereka itu bukanlah orang-orang yang baik. Mereka adalah sekumpulan pemburu hadiah. Aku tidak mungkin membiarkan mereka, sampai mencari tahu informasi tentangmu....
... Coba kamu bayangkan saja! Bagaimana jika mereka sudah menemukanmu, kemudian mereka justru memanfaatkan keberadaanmu untuk melawanku?" ujar Angelo.
Olivia menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian berkata,
"Lalu kenapa kamu sampai bisa memiliki kenalan, dengan orang-orang seperti itu? Bukankah mereka bisa dibilang sebagai orang-orang yang berbahaya?"
"Hmm ... Mereka memang orang-orang yang berbahaya. Tapi selama aku bisa memberi mereka 'makan', setiap kali aku membutuhkan bantuan mereka, itu tidak akan jadi masalah," jawab Angelo.
"Oh, gosh! ... Apa yang kamu lakukan, dalam beberapa tahun belakangan ini?" Olivia rasanya tidak percaya, dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Angelo.
"Pffftt...! Aku tidak melakukan kejahatan. Jasa mereka aku pakai, untuk mengejar orang-orang tidak berguna, yang mencoba menipuku," jawab Angelo.
"Kamu pernah tertipu?" tanya Olivia, yang jadi penasaran.
"Apa kamu tahu? Selama aku di luar negeri, dan terpisah darimu, walaupun aku bekerja mengurus Sullivan grup, tapi di malam hari, aku sering mabuk-mabukan....
... Ketika aku sedang tidak sadar itulah, hingga aku bisa dimanfaatkan oleh para penipu, untuk menandatangani dokumen yang mereka inginkan," kata Angelo.
"Apa yang kamu pikirkan saat itu? Yang aku tahu, kamu bukanlah seorang pemabuk. Kamu bahkan tidak pernah minum lebih dari satu gelas wine," ujar Olivia, kebingungan.
Angelo kemudian mengambil sebelah tangan Olivia yang ada di atas meja, dan menggenggamnya dengan erat, lalu lanjut berkata,
"Jika kamu tidak mengungkit tentang 'Bounty Hunter' itu, aku sebenarnya juga tidak ingin memberitahumu tentang tingkah buruk, yang aku lakukan dalam beberapa tahun belakangan ini....
...Karena aku pasti akan terlihat menyedihkan, jika kamu sampai tahu, bahwa aku menjalani hidupku dengan kekacauan, hanya karena terpisah darimu. Lalu, kebiasaan buruk itu seolah-olah tidak pernah ada, sejak aku bisa bertemu kembali denganmu....
... Tapi, Olivia! Aku tidak mau kamu mengasihaniku. Aku bisa kembali menjadi diriku lagi, karena aku memang benar-benar mencintaimu, hingga aku tidak mau terlihat buruk di matamu."
"Maafkan aku...." kata Olivia, yang tidak tahu harus berkata apa, selain meminta maaf kepada Angelo.
__ADS_1