Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 40


__ADS_3

Semenjak Olivia tiba di kantor pagi tadi, sampai sekarang ini saat hampir mendekati jam istirahat makan siang, Olivia benar-benar disibukkan dengan pekerjaannya.


Sampai-sampai, Olivia tidak sempat memikirkan hal yang lain, dan benar-benar terkonsentrasi di layar komputer, dan lembaran kertas yang menumpuk di atas meja, untuk mengerjakan tugasnya.


Begitu juga dengan keberadaan Louis, yang beberapa kali terlihat mencoba mencari kesempatan, untuk berbincang-bincang dengan Olivia, namun Olivia selalu menghindar dan mengabaikannya.


Olivia memang tidak ingin ada satupun hal pribadi, yang bisa mengganggu kinerjanya saat itu.


Karena Olivia yang diminta secara langsung oleh Sir Hart, agar bisa segera menyelesaikan beberapa berkas, yang dibutuhkan oleh Sir Hart, secepatnya.


Bahkan, pembicaraan antara Olivia dan Hansen malam tadi, walaupun hanya sedikit, tidak sempat terlintas di dalam pikirannya, sekarang ini.


Padahal semalam, Olivia sempat dibuat sedikit gelisah, karena pemikirannya tentang hal itu.


Bukan apa-apa. Olivia hanya merasa kalau kejutan demi kejutan, yang dia alami dalam beberapa waktu belakangan ini, terasa benar-benar sulit untuk bisa dia percaya.


Sampai pada pengakuan Hansen, kalau dia menyukai Olivia, dan ingin menjadi kekasihnya, bahkan Hansen ingin agar bisa  menikahinya, membuat Olivia merasa seolah-olah dia hanya seperti sedang bermimpi saja.


Olivia bisa menjadi kekasih Hansen, bahkan sampai menikah dengannya?


Bagaimana Olivia bisa mempercayainya dengan semudah itu?


Olivia tidak mau besar kepala, apalagi sampai tenggelam dalam mimpi yang terlalu indah seperti itu.


Karena Olivia masih sadar diri, kalau dia bukanlah siapa-siapa.


Sedangkan Hansen, laki-laki itu seperti sebuah paket yang mewah dan lengkap.


Iya ... 'Satu Paket Mewah dan Lengkap'.


Begitulah kira-kira, yang cocok untuk menggambarkan bagaimana Hansen, di mata Olivia sekarang ini.


Dan rasanya, jika saja ada yang bertanya, kepada wanita-wanita yang melihat dan bisa mengenal Hansen, tentu para wanita itu akan memberi jawaban yang sama seperti tanggapan Olivia.


Bagaimana tidak?!


Menurut penilaian Olivia untuk sementara ini, kelihatannya, Hansen pada dasarnya memang memiliki sifat yang humoris, hingga membuat Olivia tidak merasa bosan saat sedang bersamanya.


Bagaimana cara Hansen memperlakukannya, dan menunjukan perasaan tertariknya kepada Olivia, juga dianggap Olivia sangatlah romantis.


Lalu, dengan otaknya yang encer, Hansen bahkan bisa menjadi seorang laki-laki yang sukses dalam berbisnis, tanpa mengandalkan atau memanfaatkan privilese.


Selain dari itu semua, Hansen juga masih dilengkapi dengan wajah yang tampan, dan bentuk tubuh yang menarik, dan masih ditambah lagi dengan kekayaan yang dia miliki.


Baik kekayaan yang dihasilkan oleh Hansen sendiri, maupun harta dari warisan keluarganya, yang nantinya tentu akan jatuh ke dalam kekuasaan Hansen.

__ADS_1


Dengan demikian, siapa kira-kira wanita yang tidak akan tertarik kepada Hansen?


Walaupun lamaran Hansen itu sebenarnya sangat menarik, namun Olivia tidak mau terburu-buru untuk mengiyakannya.


Manalah tahu, kalau ada sesuatu pada Hansen, yang tidak cocok dengan Olivia, lalu mungkin hanya akan membuat Olivia menyesali keputusannya, yang terlalu tergesa-gesa.


Setelah mempertimbangkannya baik-baik, Olivia masih tetap merasa, kalau dia belum siap untuk membuka hatinya, untuk menerima Hansen, dan menjalani hubungan yang serius dengannya.


Olivia memilih untuk tetap berpegang pada pendirian awalnya, kalau dia harus lebih mengenal Hansen lebih dulu, dan begitu juga sebaliknya, barulah dia akan menentukan keputusannya.


Apalagi, Hansen juga berkata kalau dia mau menunggu, hingga Olivia merasa siap, untuk menjalin hubungan romantis dengannya.


Dengan begitu, Olivia berarti tidak perlu, untuk merasa terlalu khawatir akan hal itu, bukan?!


Sebelum Olivia tertidur malam tadi, Hansen masih saling berkirim pesan dengan Olivia, hingga Hansen lalu mengajaknya, untuk bertemu lagi saat libur akhir pekan nanti.


Dan Olivia pun menyetujuinya, tanpa sedikitpun merasa ragu, karena Olivia masih cukup percaya diri, jika hanya menjalani hubungan pertemanan saja, dengan Hansen untuk sementara ini.


***


"Kriiing! ... Kriiing!"


Bunyi telepon yang ada di atas meja kerja Olivia yang berdering, mengganggu konsentrasi Olivia, dan membuatnya untuk segera menerima panggilan telepon itu.


"Halo! ... Olivia Lane! ... Divisi Humas!" sapa Olivia, setelah menempelkan gagang telepon ke telinganya.


"Tinggal sedikit lagi, Sir! ... Tunggu sebentar! Kurang lebih sepuluh menit lagi, akan saya antarkan ke ruangan anda!" sahut Olivia.


"Okay! ... Aku menunggu!" ujar Sir Hart.


Olivia lalu meletakkan gagang telepon, kembali ke tempatnya, dan dengan tergesa-gesa, memeriksa ulang berkas-berkas yang dipercayakan oleh Sir Hart kepadanya.


Setelah merasa yakin, kalau dia tidak melakukan kesalahan, Olivia segera merapikan berkas-berkas itu dari atas meja kerjanya.


Dan tanpa berlama-lama lagi, Olivia lalu mengantarkan semua berkas itu ke ruang kerja Sir Hart, yang tampak sudah menunggunya di sana.


Sembari menyerahkan semua berkas di tangannya kepada Sir Hart, dan Sir Hart yang segera memeriksanya, Olivia masih sempat sedikit berbasa-basi dengan manajernya itu, yang mengajaknya bercakap-cakap.


Hingga akhirnya, setelah semuanya sudah dianggap beres oleh Sir Hart, Olivia kemudian beranjak pergi dari ruang kerja Sir Hart, dan kembali ke ruang kerjanya sendiri.


"Huuffft ...!" Olivia menghembuskan nafasnya, hingga paru-parunya benar-benar mengempis.


Lega rasanya, setelah tugas Olivia sudah selesai dia kerjakan, dan Sir Hart juga tampak puas, saat melihat hasil kerjanya.


Olivia yang terduduk tersandar di kursi kerjanya, lalu melihat penunjuk waktu di arloji di pergelangan tangannya.

__ADS_1


Tidak sampai sepuluh menit lagi, sudah waktunya bagi para karyawan untuk menikmati jam istirahat makan siangnya.


Sebenarnya, Olivia sudah bisa keluar untuk pergi makan siang sekarang ini, namun Olivia masih merasa enggan untuk beranjak dari tempat duduknya.


Olivia memijat-mijat pelan keningnya, sambil memejamkan matanya yang terasa kering dan agak sakit, karena kebiasaan buruknya, saat dia terlalu fokus bekerja seperti tadi, Olivia terkadang lupa untuk berkedip.


"Ada apa? ... Apa kamu sakit?"


Olivia sudah menghapal dengan baik, akan suara Louis, yang sekarang ini sedang bertanya kepadanya.


"Tidak ... Aku hanya lelah," jawab Olivia, sambil tetap memejamkan matanya, sehingga Olivia tidak tahu, apa yang sedang dilakukan Louis di dekatnya.


"Apa kamu tidak keluar makan siang?" tanya Louis lagi.


"Kamu duluan saja! ... Aku nanti menyusul," jawab Olivia, yang masih menikmati sensasi pijatan dari jari-jari tangannya di keningnya.


Tidak berapa lama, Olivia bisa mendengar seruan dari rekan-rekan kerjanya yang lain, yang mengajaknya istirahat makan siang.


Namun Olivia tetap bersandar di kursinya, memejamkan matanya, dan tidak berhenti memijat keningnya, sambil menanggapi ajakan rekan-rekannya itu.


"Iya! ... Kalian pergi duluan saja! Aku nanti menyusul!" sahut Olivia.


Ruang kerjanya itu, kini terdengar sepi.


Tampaknya, semua karyawan yang bekerja di bagian yang sama seperti Olivia itu, sudah keluar untuk menikmati makan siang mereka.


Beberapa menit kemudian telah berlalu, Olivia kemudian berencana untuk segera pergi ke kafetaria, menyusul rekan-rekan kerjanya yang lain.


Betapa terkejutnya Olivia, ketika dia membuka matanya, dan ternyata Louis masih berada di situ, dengan berdiri bersandar di meja kerja Olivia, sambil memandangi Olivia.


"Louis? ... Kenapa kamu masih di sini?" tanya Olivia, heran.


"Tentu saja, untuk menunggumu! ... Untuk apa lagi?" sahut Louis, dengan memasang raut wajah masa bodoh.


Olivia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, lalu bersiap untuk pergi, dengan mengambil dompet dan ponselnya.


"Ayo pergi sekarang!" ajak Olivia sambil berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan keluar dari ruang kerja, bersamaan dengan Louis.


"Apa yang ingin kamu bicarakan? ... Kamu sampai tahan menungguku. Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Olivia, ketika pintu lift sudah terbuka, lalu dirinya dan juga Louis melangkah masuk ke dalam sana.


"Apa kamu tidak mau tahu, apa yang menjadi pembahasanku dan Claire?" tanya Louis.


"Kamu mau jawabanku yang jujur? ... Aku tidak terlalu tertarik untuk mengetahuinya," sahut Olivia, datar.


Louis lalu tampak memasang raut wajah kecewa.

__ADS_1


"Tapi kalau kamu membutuhkan tempat untuk bercerita, aku tetap akan menjadi pendengar yang baik," lanjut Olivia lagi.


__ADS_2