Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 26


__ADS_3

Pekerjaan Olivia setelah selesai jam makan siang tadi, tidak mendapatkan tambahan yang berarti, yang bisa membuat kesibukannya bertambah-tambah.


Olivia bahkan jadi memiliki sedikit waktu, untuk bersantai saja di dalam ruang kerjanya itu, dengan melihat-lihat akun media sosial di layar ponsel miliknya.


"Ding!"


Karena Olivia yang terlalu santai, sehingga bunyi pesan baru yang masuk ke ponselnya, membuat Olivia sedikit tersentak.


'Apa yang sedang kamu lakukan?'


Pesan dari Jericho, seolah-olah Direktur Olivia itu tahu, kalau Olivia hanya sedang bersantai dan bermain-main dengan ponselnya.


'Tidak ada, Sir.'


'Saya hanya melihat-lihat di ponsel saya saja.'


Olivia mengetik pesan balasan yang jujur kepada Jericho.


"Ding!"


Pesan dari Jericho kembali masuk ke ponsel Olivia.


'Jangan hanya terus-terusan menunduk!' 


'Coba kamu angkat wajahmu!'


Setelah Olivia membaca pesan dari Jericho itu, seketika itu juga Olivia mengangkat pandangannya, dan melihat lurus ke depannya, melewati bagian atas pembatas meja kerjanya.


Jericho terlihat berada di depan ruang kerja Olivia, dan sedang berdiri di sana bersama sekertarisnya dan manajer Olivia.


Manajer dari bagian divisi Humas, tampak sedang berbincang-bincang dengan sekertaris Jericho.


Sedangkan Jericho, kelihatannya dia hanya terdiam, seolah-olah dia hanya mendengarkan perbincangan kedua orang di dekatnya itu, sambil sesekali melirik ke arah Olivia.


Dan setiap kali Jericho melirik ke arah Olivia, laki-laki itu pasti tampak curi-curi untuk tersenyum tipis, hingga Olivia juga jadi ikut tersenyum melihatnya.


Beberapa waktu kemudian, Jericho terlihat berjalan pergi dengan sekertarisnya, menjauh dari ruang kerja Olivia, hingga akhirnya menghilang dari pandangan Olivia.


"Ding!"


Jericho masih mengirimkan satu pesan lagi untuk Olivia, meskipun Olivia sudah tidak bisa melihat bayangan dari Jericho lagi.


'Sampai ketemu lagi!'


Olivia lalu mengetikkan pesan balasan. 


'Iya, Sir.'

__ADS_1


Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Olivia senyum-senyum sendiri karena mengingat-ingat tingkah Jericho tadi.


"Olivia!"


Olivia yang masih setengah melamun, dikejutkan dengan suara manajernya, yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat meja kerja Olivia.


"Iya, Sir ...?" Olivia buru-buru berdiri dari tempat duduknya.


"Sir Andersen meminta agar kamu yang mempresentasikan data dari daerah xxx, dalam rapat koordinasi besok. Apa kamu sudah tahu?" kata manajer divisi Humas, Atasan Olivia itu.


Sir Hart yang adalah manajer Olivia, adalah seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun, bertubuh kecil dengan rambutnya yang hampir habis, dan menampilkan kulit kepalanya dengan jelas.


Sir Hart terkenal akan sifat sabar dan tegasnya, walaupun dia selalu bicara dengan nada suara yang datar, hingga semua karyawan yang bekerja langsung kepadanya, sangat menghormati laki-laki itu.


"Iya, Sir! Saya sudah mendengarnya," jawab Olivia.


"Okay! Kalau begitu tolong persiapkan dirimu, agar presentasinya bisa berjalan lancar," kata Sir Hart.


"Baik, Sir! Saya akan berusaha untuk melakukan yang terbaik," sahut Olivia.


"Bagus! Tidak perlu merasa gugup. Kamu harus yakin kalau kamu pasti bisa," ujar Sir Hart lagi. "Saya pergi dulu!"


"Baik, Sir ... Terima kasih!" ucap Olivia, sambil memandangi Sir Hart yang berlalu pergi dari ruang kerja Olivia.


Baru saja Olivia kembali duduk di kursi kerjanya, salah satu rekan kerja Olivia yang tempat duduknya berdekatan dengan Olivia lalu berujar dengan bersemangat,


Rekan kerja Olivia itu tampak tersenyum lebar, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dan bertepuk tangan meskipun tidak sampai bersuara.


"Lebih hebatnya lagi, Sir Andersen yang memintamu secara langsung ... Ckckck! ... Aku sangat bangga padamu, cantik!" kata rekan kerja Olivia itu, seolah-olah dia tidak merasa bosan untuk memuji Olivia.


"Kamu terlalu memuji. Aku masih belum tahu, apakah aku bisa melakukannya dengan baik," ujar Olivia.


Olivia bukan hanya sekedar merendah, tapi dia memang merasa agak ragu, karena itu akan menjadi kali pertamanya melakukan presentasi, di depan semua manajer perusahaan konstruksi Andersen's itu.


"Semangat, cantik! Yakin saja, kalau kamu pasti bisa melakukannya. Okay?!" kata rekan kerja Olivia itu lagi.


"Okay! Terima kasih!" ucap Olivia, sambil tersenyum.


Tidak berapa lama kemudian, salah satu rekan kerja Olivia yang lain, lalu terlihat menghampiri meja kerja Olivia.


"Aku sudah selesai menyusun berkas ini, kamu sudah bisa memeriksanya," ujar rekan kerja Olivia yang lain itu.


Rekan kerja Olivia itu, menyodorkan satu buah flashdisk, dan satu lembar map berisi beberapa lembar kertas berkas, kepada Olivia.


"Okay!" sahut Olivia, lalu menerima semua yang diberikan rekan kerjanya itu, yang tampak segera berjalan kembali ke meja kerjanya lagi.


Olivia melihat jam di layar ponselnya, dan masih tersisa satu setengah jam lagi, sebelum jam pulang kantor.

__ADS_1


Tanpa berlama-lama lagi, Olivia menyalakan komputernya kembali, dan segera memeriksa berkas yang baru saja diberikan kepadanya.


***


"Kamu sudah selesai? Aku akan mengantarkanmu pulang," ujar Louis, yang berdiri di dekat meja kerja Olivia.


Olivia melihat jam di layar ponsel, yang sudah menunjukkan kalau tidak sampai lima belas menit lagi, maka jam kerja akan usai.


Berkas yang diperiksa Olivia tadi, baru saja selesai dia kerjakan, dan seharusnya dia memang sudah bisa pulang sekarang.


Olivia mengangkat pandangannya dan melihat ke arah Louis, yang tampak sudah siap untuk pergi.


"Tunggu sebentar ...!" Olivia lalu merapikan meja kerjanya. "Apa tidak hanya merepotkanmu saja? Aku bisa pulang memakai bus."


"Tidak apa-apa. Aku mau mengantarkanmu. Aku juga tidak terlalu lelah hari ini," sahut Louis, terdengar memaksa.


"Okay!" sahut Olivia sambil mempercepat gerakannya, agar dia bisa segera pergi dari meja kerjanya itu.


Olivia mengambil tasnya, dan ponsel miliknya yang hanya dipegangnya, tanpa dimasukkan ke dalam tas. "Ayo! Aku sudah siap!"


Ketika mereka memasuki lift, Claire tampak setengah berlari, buru-buru ikut masuk ke dalam lift bersama dengan Olivia dan Louis.


"Olivia! Apartemenmu di kawasan xx, ya?! Apa kita bisa sama-sama ke sana memakai bus? Aku ada keperluan di daerah xx," ujar Claire, tidak lama setelah lift bergerak turun.


"Olivia tidak bisa pergi bersama denganmu. Aku yang akan mengantarkannya pulang." Sebelum Olivia sempat menyahut perkataan Claire, Louis sudah berbicara lebih dulu.


"Benarkah? Kalau begitu, apa aku bisa ikut menumpang di mobilmu?" tanya Claire kepada Louis.


"Aku rasa tidak. Karena aku hanya akan pergi ke apartemen Olivia, lalu segera pulang," sahut Louis, terdengar datar.


Sebenarnya, Olivia merasa kalau suasana di situ sekarang ini agak sedikit canggung, namun dia tidak berkata apa-apa.


Olivia juga lebih memilih, untuk tidak terlalu memperdulikan situasi antara Louis dan Claire di dalam lift itu, yang sebenarnya terlihat sedikit aneh.


Setelah pintu lift terbuka, mereka semua yang ada di dalamnya kemudian berjalan keluar dari sana, hingga mencapai lobi gedung kantor.


Saat itu juga, Louis segera mengajak Olivia untuk pergi bersamanya menuju ke mobilnya yang terparkir, tanpa menghiraukan keberadaan Claire yang ada di dekat mereka.


Olivia sedikit merasa kasihan, ketika melihat raut wajah Claire yang tampak lesu, tapi dia juga tidak mau mencampuri urusan antara Louis dan Claire, yang Olivia juga tidak tahu ada apa sebenarnya di antara kedua orang itu.


Karena seingat Olivia, saat makan siang kemarin kelihatannya Louis dan Claire baik-baik saja, bahkan sangat akrab.


Entah apa yang terjadi sesudahnya, hingga hari ini Louis dan Claire lebih mirip seperti orang yang sedang bertengkar, namun Olivia tidak terlalu memusingkan hal itu.


"Apa kamu jadi hang out denganku malam ini?" tanya Louis, setelah mobilnya mulai melaju di jalan raya.


"Hmm ... Iya, bisa!" sahut Olivia.

__ADS_1


Louis lalu tampak tersenyum lebar.


__ADS_2