Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 8


__ADS_3

Olivia baru saja selesai mandi dan berpakaian, tapi rambut panjangnya masih belum terlalu kering, meskipun dia sudah menggulungnya dengan handuk untuk beberapa waktu.


Untuk mempercepat proses pengeringannya, Olivia memanfaatkan angin panas yang berhembus dari alat pengering rambut, sambil menyisir rambutnya dengan tangan.


Pukul sepuluh tepat, ponsel Olivia berdering, menandakan kalau ada panggilan yang masuk di sana.


"Kriiing! ... Kriiing!"


Masih dengan alat pengering rambut yang menyala, Olivia memeriksa ponselnya yang hampir tidak bisa berhenti berbunyi.


Panggilan masuk dari Jericho sekarang ini, seolah-olah membuktikan, bahwa Jericho adalah orang yang disiplin dan tepat waktu.


"Halo, Sir!" sapa Olivia.


"Halo!" Jericho membalas sapaan Olivia dari seberang telepon. "Apa kamu sudah siap?"


"Sebentar lagi, Sir," jawab Olivia.


"Okay! Pergunakan saja waktumu. Aku akan menunggu di bawah," sahut Jericho.


Jericho berarti sudah di apartemen Olivia?


"Tunggu sebentar, Sir! Aku tidak akan lama." Tanpa menunggu tanggapan dari Jericho lagi, Olivia segera memutus sambungan telepon itu.


Sedikit pewarna bibir cair berwarna netral, dioleskan Olivia tipis-tipis di bibirnya, begitu juga bedak padat yang hanya dipakainya tipis di wajahnya, tanpa memakai alas bedak.


Rambutnya disisir dengan terburu-buru, lalu mengikatnya jadi ekor kuda.


Olivia menyambar tas selempang kecil miliknya, dan segera keluar dari apartemennya itu, dan menemui Jericho yang terlihat berdiri di depan pintu masuk apartemen Olivia.


Jericho terlihat berpenampilan sangat santai, memakai kaus oblong putih polos, dan dilapis dengan jaket sport yang tampak seperti jas, yang berwarna abu-abu yang tidak dikancing, celana jeans biru panjang, dan sepatu kasual berwarna putih.


Di bawah pencahayaan maksimal cahaya matahari, Jericho yang nilai ketampanannya di atas rata-rata, sekarang ini wajahnya seakan-akan berkilauan, apalagi saat dia tersenyum kepada Olivia.


Saat itu juga, Olivia menyadari kalau penampilannya tidak jauh berbeda dengan Jericho.


Olivia yang memakai kaus putih polos dengan ukuran yang pas badan, celana jeans biru panjang, dan sepatu kasual berwarna putih, terlihat seperti sudah janjian untuk memakai pakaian yang mirip-mirip dengan Jericho.


Tanpa Olivia sadari, dia yang memandangi Jericho saat ini, justru membuatnya tampak seolah-olah sedang memelototi Jericho yang berdiri di depannya.


"Apa ada yang salah?" tanya Jericho.


"Ugh ...? Tidak, Sir ... Saya hanya sedikit terkejut, karena saya tidak pernah melihat anda berpakaian seperti sekarang ini," jawab Olivia malu-malu.


Jericho tersenyum lebar. "Ayo kita pergi!"


Ketika Olivia sudah di dalam mobil Jericho, Olivia teringat akan Jonah, yang tidak terlihat di dalam situ.


"Di mana Jonah, Sir?" tanya Olivia bingung.

__ADS_1


"Dia nanti menyusul. Katanya, ada sesuatu yang ingin dia beli. Jadi, dia masih pergi berbelanja diantar oleh pengasuh dan supirnya," jawab Jericho.


***


Setibanya mereka berdua di rumah sakit, Johan terlihat sudah tersadar, sedang duduk berselonjor di atas ranjang perawatannya, dan wajahnya tampak segar, dan tidak sepucat seperti keadaannya malam tadi.


Tapi, Johan masih tampak sangat terkejut, ketika Olivia berjalan menghampirinya.


"Halo, Sir!" sapa Olivia sambil tersenyum.


"Ugh ...? Halo!" sahut Johan, dengan matanya yang melebar dan kedua alisnya yang terangkat.


"Bagaimana keadaan anda sekarang, Sir?" tanya Olivia.


Johan tidak menjawab pertanyaan Olivia, dan hanya memandangi Olivia, bahkan menatap Olivia lekat-lekat, untuk beberapa waktu lamanya.


"Daddy! ... Ada apa denganmu?" Jericho menegur Johan, hingga Johan tampak tersentak.


"Siapa namamu?" tanya Johan sambil tetap menatap Olivia.


"Olivia Lane, Sir." Olivia mengulurkan sebelah tangannya ke arah Johan.


"Olivia ... Kamu mirip sekali dengan teman saya, Vivia Amber," kata Johan, sambil berjabat tangan dengan Olivia.


"Dia itu mendiang mommy saya, Sir," sahut Olivia.


"Ugh ...? Vivia sudah wafat?" Johan tampak gusar, setelah mendengar perkataan Olivia barusan.


"Oh ... Gosh! ... Maafkan saya," ucap Johan yang seketika itu juga terlihat sedih.


"Tidak apa-apa, Sir," kata Olivia pelan.


"Beliau menjadi teman baik saya, ketika kami masih di High School. Kami sempat berpisah, karena berkuliah di universitas yang berbeda....


... Tapi akhirnya kami bertemu kembali, dan bekerja bersama-sama di Andersen's," ujar Johan menjelaskan, bagaimana dia bisa mengenal mommy dari Olivia.


"Jadi, kamu adalah anak dari Vivia?" lanjut Johan terburu-buru.


"Iya, Sir ... Saya anaknya satu-satunya," jawab Olivia.


"Olivia juga yang menolong daddy ketika jatuh pingsan, semalam." Jericho menimpali.


"Daddy juga membuatnya kerepotan, dengan salah mengira kalau dia adalah Vivia, mendiang mommy-nya, lalu meminta agar dia menemani daddy, dan tidak boleh pergi ke mana-mana," lanjut Jericho.


Raut wajah Johan mendadak berubah drastis, setelah mendengar perkataan Jericho.


Johan tampaknya merasa sangat malu, hingga kulit wajahnya yang putih kemerahan, jadi semakin merah padam seperti kepiting rebus.


Dengan menundukkan kepalanya, Johan berkata, "Maafkan, saya."

__ADS_1


"Tidak masalah, Sir ... Anda tidak perlu memikirkannya," kata Olivia menenangkan Johan.


"Apa daddy tidak melupakan sesuatu?" tanya Jericho.


Johan mengangkat wajahnya, lalu menatap Jericho dan Olivia bergantian.


"Olivia yang menolongmu, daddy!" kata Jericho, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Olivia menatap Jericho lekat-lekat. "Please, Sir!"


"Oh ... My ... Terima kasih, Olivia," ucap Johan pelan, dan tampak makin salah tingkah.


"Huuufft ...!" Olivia mendengus pelan.


"Sama-sama, Sir ... Saya senang bisa membantu anda....


... Dan saya rasa sudah lebih dari cukup, saya menerima ucapan terima kasih dan permintaan maafnya. Tolong jangan mengungkitnya lagi," ujar Olivia pelan.


"Hmm ... Okay!" sahut Johan. "Apa kamu bekerja di Andersen's?"


"Iya, Sir ... Saya bekerja di divisi humas, di kantor utama," jawab Olivia.


"Jericho! Tolong ambilkan tempat duduk untuk Olivia!" ujar Johan.


Setelah Johan memberi perintah kepada Jericho, dia kemudian menatap Olivia.


"Rasanya ada yang salah, kalau saya memintamu untuk duduk di sampingku, di atas sini." Johan menepuk bagian kosong di sampingnya, di atas ranjang perawatannya.


"Tentu saja salah, kalau sampai daddy meminta Olivia, agar duduk terlalu dekat dengan daddy," kata Jericho menimpali.


Jericho lalu memberi kesempatan bagi Olivia untuk duduk di kursi, yang baru saja diambilnya.


"Pffftt ...!" Olivia tertawa tertahan, dan Johan pun tampak tersenyum lebar.


Walaupun garis halus di kulit pipi di sudut bibirnya tampak jelas saat Johan mengembangkan senyumannya, namun Johan justru terlihat jauh lebih tampan, di mata Olivia.


Hingga membuat Olivia benar-benar merasa kagum dengan CEO dari Andersen's Construction itu.


"Terima kasih, Sir," ucap Olivia, sambil duduk di kursi yang diletakkan Jericho, di samping ranjang perawatan Johan.


"Apa mendiang mommy-mu tidak pernah menceritakan tentang saya?" tanya Johan.


"Hmm ... Maafkan saya, Sir ... Mommy memang pernah bercerita tentang sahabat-sahabatnya....


... Tapi, mommy tidak pernah bercerita, kalau salah satu dari sahabatnya itu, adalah CEO dari perusahaan Andersen's," jawab Olivia.


Olivia berkata jujur, karena seingatnya, mendiang mommy-nya kalau tidak salah memang pernah menyebut nama Johan, di antara nama teman-teman mommy-nya yang lain.


Tapi, Olivia sama sekali tidak tahu, kalau maksud dari mommy-nya itu adalah Johan Andersen.

__ADS_1


"Pembawaan mommy-mu yang ceria dan ramah, memang menyenangkan. Sehingga dia memiliki banyak teman yang akrab dengannya, baik itu perempuan maupun laki-laki....


... Jadi saya tidak terlalu heran, kalau dia tidak menganggap saya terlalu spesial," ujar Johan, sambil tersenyum menatap Olivia.


__ADS_2