
"Anda bisa mengawasi saya. Karena saya jamin, kalau saya tidak akan ke mana-mana," kata Louis kepada Jericho, seolah-olah sedang mengharapkan keyakinan dari Jericho kepadanya.
Jericho hanya terdiam, dan tidak menanggapi perkataan Louis itu.
Olivia yang juga tidak berkata apa-apa, untuk beberapa waktu lamanya, hanya membuat suasana di ruangan itu jadi hening.
Seolah-olah semua orang di situ sedang tenggelam dalam pikirannya masing-masing, dan hanya Angelo yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Kamu bisa kembali ke ruanganmu, Louis!" ujar Jericho, tiba-tiba. "Saya harap, saya bisa memegang janjimu."
"Baik, sir! ... Terima kasih! ... Saya permisi dulu!" ucap Louis, dengan memasang raut wajah kecewa, lalu beranjak pergi dari ruang kerja Jericho itu.
"Angelo! ... Ada apa sampai kamu mengikuti Olivia?" tanya Jericho.
Sebelum Angelo menjawab pertanyaan Jericho itu, Olivia sudah lebih dulu menjawabnya, dengan berkata,
"Saya yang memintanya, untuk menemani saya."
Jericho tampak sangat terkejut dengan pernyataan dari Olivia, hingga matanya tampak melebar, begitu juga dengan alisnya yang mengerut.
"Pffftt...! Kelihatannya kamu terlalu sibuk dengan pemeriksaan, sampai-sampai kamu mungkin belum melihat, kalau Sullivan's masih menahan investasinya di Andersen's," kata Angelo.
"Aku mau melakukannya, bukan karena aku ingin membantumu. Melainkan karena Olivia, yang memintaku untuk melakukannya. Apa kamu tidak bisa berterima ka—" Angelo tidak bisa menyelesaikan perkataannya.
Karena dengan nada suara yang sedikit meninggi, Olivia segera menyelanya untuk menghentikan Angelo agar tidak lanjut berbicara, dengan berkata,
"Angelo! ... Sudah cukup!"
"Olivia?" Jericho tampak kebingungan.
"Tsk! ... Anda tidak perlu mempercayai perkataannya. Angelo memang mau membantu Andersen's, dan itu tidak ada hubungannya dengan saya," kata Olivia, menutup-nutupinya dari Jericho.
"Pffftt...! Ayo kita pergi dari sini, honey!" kata Angelo, mengajak Olivia untuk keluar dari ruang kerja Jericho, sambil berdiri dari tempat duduknya.
Olivia kemudian ikut berdiri, dan bersiap untuk pergi dari situ bersama Angelo.
"Angelo! ... Aku ingin bicara dengan Olivia sebentar," kata Jericho menahan langkah Angelo dan Olivia. "Apa kamu bisa menunggu di luar?"
Angelo lalu melihat arloji di pergelangan tangannya, lalu mendekat ke salah satu sisi wajah Olivia, kemudian berbisik-bisik, dengan berkata,
"Kalau kamu berdua saja dengannya, maka tenggat waktumu hanya akan tertinggal satu jam saja."
"Maafkan saya, Sir ... Tapi, saya harus pergi sekarang. Saya akan mencoba mencari informasi, yang mungkin bisa membantu tim investigasi," kata Olivia.
"Olivia...!" Jericho tampak masih ingin menahan langkah Olivia dan Angelo, namun lagi-lagi Olivia berkata,
"Please, Sir...!"
Jericho akhirnya terdiam, dan membiarkan Olivia serta Angelo melewatinya, dan berlalu pergi dari ruang kerjanya itu.
Olivia bergegas kembali ke ruang kerjanya, lalu menemui Louis.
"Olivia! ... Kenapa kamu tidak membelaku? Apa kamu pikir aku akan melakukan hal kotor seperti itu?" ujar Louis, sambil menghampiri Olivia, seketika saat dia melihat Olivia, yang berjalan masuk ke ruang kerja mereka itu.
Angelo yang tampak geram, segera bergerak maju, namun Olivia buru-buru menahan Angelo, dengan memegang tangannya.
"Louis! ... Aku tidak mungkin memberikan pembelaan, jika aku tidak memiliki bukti. Apalagi, sekarang ini bukan hanya kamu yang dicurigai. Apa kamu tidak bisa mengerti hal itu?" ujar Olivia.
Seketika itu juga, dari raut wajahnya yang berubah drastis, Louis tampak menyesali perkataannya kepada Olivia tadi.
"Maafkan aku ... Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Karena aku khawatir, kalau-kalau memang mungkin ada kesalahanku, hingga data-data itu bisa bocor," kata Louis.
"Asal kamu tahu saja. Aku juga merasa khawatir. Karena di hari terakhir sebelum aku mengambil cuti, aku kurang berkonsentrasi saat bekerja," kata Olivia.
__ADS_1
Olivia lalu terdiam untuk beberapa saat, kemudian lanjut berkata,
"Tapi ... Kenapa kamu bisa merasa, kalau kamu mungkin telah melakukan kesalahan?"
"Tsk! ... Kamu tahu aku. Kalau aku sudah sibuk dengan pekerjaanku, aku sering lupa untuk mematikan komputerku. Tapi aku tidak menyangka, kalau akan ada kejadian seperti ini," jawab Louis.
Olivia tersentak, seolah-olah ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak beres, yang cocok dengan keadaan yang mereka hadapi sekarang.
"Di mana Claire?" tanya Olivia, sambil melihat ke sana kemari.
"Dia tidak datang ke kantor hari ini. Aku rasa dia mungkin sedang sakit. Karena di hari Jumat kemarin, dia terlihat pucat," jawab Louis.
"Apa kamu kemarin jadi pergi ke luar negeri? Apa kamu membawa Claire ikut bersama denganmu?" tanya Olivia, buru-buru.
"Wow, wow! Pelan-pelan! ... Ada apa dengan pertanyaanmu itu?" ujar Louis, yang tampak bingung.
"Jawab saja pertanyaanku!" sahut Olivia, dengan nada suara meninggi.
"Tidak ... Hmm ... Maksudku, aku jadi ke luar negeri, tapi Claire tidak ikut denganku. Dia memang memintaku untuk mengajaknya, tapi aku menolak....
... Karena aku belum seakrab itu dengannya, hingga bisa aku ajak bertemu dengan keluargaku," jawab Louis.
"Jadi, apa kamu yang memberitahunya, kalau aku akan bertemu keluargaku?" lanjut Louis, buru-buru.
"Iya ... Maafkan aku," jawab Olivia. "Tapi...."
"Ada apa? Apa kamu mencurigai Claire?" tanya Louis, sambil menautkan kedua alisnya.
Ketika melihat tatapan Louis, yang seolah-olah tidak percaya, kalau Olivia mencurigai Claire, Olivia pun menjadi ragu dengan dirinya sendiri.
"Hmm ... Tsk! ... Aku mungkin terlalu terbawa suasana," kata Olivia, pelan.
"Tapi ... Apa kamu bisa mencoba untuk menghubunginya?" tanya Olivia.
... Sebelum jam makan siang tadi, Mona mencoba menghubunginya lagi. Dan hasilnya sama saja. Kemungkinan, ponselnya sedang dimatikan," jawab Louis.
Untuk beberapa saat kemudian, baik Olivia maupun Louis hanya terdiam, hingga Angelo lalu berkata,
"Apa kamu masih mau berada di sini? ... Aku ingin secangkir kopi."
"Ugh? ... Okay! Ayo kita pergi!" sahut Olivia, lalu kembali melihat ke arah Louis. "Louis! ... Kami pergi dulu!"
***
Di dalam sebuah kafe, di mana Angelo mengajak Olivia pergi bersamanya, Angelo lantas memesan dua cangkir kopi dan camilan, untuk mereka berdua.
Walaupun hanya sedikit, namun Olivia tetap merasa, kalau Claire mungkin ada hubungannya, dengan pencurian data dari komputer Louis atau Olivia.
Tapi Olivia masih tidak menemukan sedikitpun petunjuk, yang bisa jadi alasan bagi Claire untuk melakukan hal itu, hingga Olivia jadi terus-menerus memikirkannya.
"Honey! ... Apa kamu masih ingat dengan perjanjian kita?" tanya Angelo.
"Ugh?" Olivia tersentak dari lamunannya.
"Geez! ... Kelihatannya, kamu benar-benar melupakan adanya aku bersamamu," ujar Angelo.
"Maafkan aku ... Aku masih memikirkan sesuatu," sahut Olivia.
"Yang pastinya bukan perjanjian kita, bukan?" ujar Angelo.
Olivia terdiam.
"Huuufft...!" Angelo mendengus kasar. "Apa yang kamu pikirkan? Tidak semudah itu, bisa menemukan orang yang membocorkan data, seperti yang terjadi di Andersen's itu."
__ADS_1
"Aku tidak tahu ... Tapi aku merasa, kalau Claire mungkin ada hubungannya," kata Olivia.
"Claire...." Angelo seolah-olah sedang memikirkan sesuatu, hingga dia tidak melanjutkan perkataannya.
"Apa dia rekan kerjamu, yang mengantarku ke ruang CEO waktu itu?" tanya Angelo.
"Iya," jawab Olivia.
"Jangan marah, honey! Tapi aku bisa mendapatkan alamat apartemenmu, itu karena dia yang memberitahuku....
... Hmm ... Aku baru ingat, kalau aku bahkan belum memberikannya sesuatu, untuk berterima kasih," ujar Angelo.
Angelo masih berbicara, namun Olivia sudah sibuk membongkar isi dalam tasnya, berharap agar kartu nama Dave masih ada di sana.
"Please...!" ujar Olivia, bicara sendiri, sambil mencari-cari kartu nama Dave, yang entah terselip di mana.
"Found it!" ujar Olivia, bersemangat.
"Ada apa, honey?" tanya Angelo, yang terlihat bingung.
"Aku harus menghubungi seseorang. Tolong jangan menyela," kata Olivia, sambil menekan tombol angka di layar ponselnya, mencoba untuk menghubungi Dave.
Setelah beberapa kali berdering, Dave masih belum menerima panggilan telepon Olivia itu, hingga Olivia harus mengulanginya lagi.
Untuk beberapa saat kemudian, terdengar suara Dave yang menyapa dari seberang telepon, dengan berkata,
"Halo! ... Dave Curtis! ... Dengan siapa saya bicara?"
"Halo, Dave! ... Ini aku Olivia," sahut Olivia.
"Ooh! ... Halo, Olivia! Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Dave.
"Apa aku bisa bertemu denganmu sekarang? Ada yang ingin aku bicarakan," ujar Olivia, penuh harap.
"Hmm ... Di mana?" tanya Dave.
Olivia kemudian memberitahu alamat kafe tempatnya berada sekarang, dan Dave lalu berjanji, kalau dia akan segera pergi ke tempat di mana Olivia menunggu.
"Siapa lagi yang bernama Dave ini?" ujar Angelo, yang terlihat kesal, setelah Olivia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tasnya.
"Nanti saja! Kamu pasti akan mengerti, kalau dia sudah berada di sini," sahut Olivia.
***
Hampir setengah jam kemudian, barulah batang hidung Dave terlihat memasuki kafe, sambil melihat-lihat ke sana kemari, seolah-olah dia sedang mencari di mana Olivia duduk.
Ketika Olivia mengangkat tangannya, dan melambai pelan, Dave kemudian segera menghampiri Olivia.
"Hai, Olivia!" sapa Dave.
Angelo dengan raut wajah tidak senang, segera menyela tangan Dave yang ingin berjabat tangan dengan Olivia, agar Dave hanya berjabat tangan dengannya saja.
Dave terlihat bingung, namun dia tidak berkata apa-apa, selain memperkenalkan dirinya sendiri.
"Nama saya Dave Curtis."
"Angelo Sullivan." Angelo ikut memperkenalkan dirinya sendiri, lalu mempersilahkan Dave untuk duduk.
"Maafkan aku, yang menghubungimu secara tiba-tiba. Tapi aku benar-benar butuh bantuanmu," kata Olivia, membuka percakapan.
"Hmm ... It's okay! ... Ada apa?" sahut Dave.
"Katamu waktu itu, jika ada sesuatu yang janggal di tempat kerjaku, aku bisa menghubungi dan membicarakannya denganmu," kata Olivia.
__ADS_1
Raut wajah Dave segera berubah drastis, setelah mendengar perkataan Olivia itu.