
Semalam, sepulangnya dari restoran, Johan masih mengantarkan Olivia sampai di depan pintu masuk gedung apartemennya, sebelum dia beranjak pergi di sana, memakai mobilnya yang dikemudikan oleh supir pribadinya.
"Aku benar-benar merasa senang, dan menikmati waktuku bersamamu malam ini," celetuk Johan.
"Tapi sejujurnya, aku masih merasa khawatir, kalau-kalau kamu mungkin tidak menyukainya, dan hanya merasa terpaksa saja untuk menemaniku malam ini," lanjut Johan ragu.
"Anda bicara apa, Sir?! ... Saya juga merasakan hal yang sama. Saya senang bisa makan malam, sambil berbincang-bincang dengan anda, Sir," sahut Olivia sambil tersenyum lebar.
"Besok pagi aku akan keluar kota, dan tetap berada di sana sampai dua hari ke depan. Saat aku ingin bicara denganmu, apa aku bisa menghubungimu?" ujar Johan.
"Kamu bisa menolak, kalau kamu merasa keinginanku terlalu membebanimu," lanjut Johan buru-buru, sebelum Olivia menjawab pertanyaannya.
"Anda bisa menghubungi saya kapan saja, Sir," sahut Olivia.
"Kamu bersungguh-sungguh mengatakannya?" Johan tampak antusias.
"Pffftt ...! Tentu saja, Sir," jawab Olivia, menahan rasa tertawanya melihat gelagat Johan yang tampak imut, menurut Olivia.
"Olivia ...! Kalau kamu butuh sesuatu dariku, tidak perlu merasa segan, kamu bisa menghubungiku lebih dulu," ujar Johan, sambil menatap Olivia lekat-lekat.
"Okay, Sir!" sahut Olivia.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan pulang setelah kamu masuk," ujar Johan.
"Bye, Sir! ... Hati-hati di jalan!" kata Olivia, lalu berbalik dan beranjak masuk ke dalam apartemennya.
"Bye, Olivia! ... Rest well!"
***
Seperti biasanya di hari kerja, pagi ini Olivia kembali ke rutinitasnya yang harus beraktifitas di kantor.
Ada sedikit perbedaan yang dirasakan Olivia hari ini.
Sembari menunggu lift bersama karyawan yang lain, Jericho yang terlihat berada di antara mereka, tampak mengembangkan senyuman lebar di wajahnya, saat matanya beradu pandang dengan Olivia.
Bukan baru kali itu Jericho ikut bergabung dengan karyawannya, namun biasanya bosnya itu tidak pernah terlihat tersenyum kepada siapa-siapa.
Tentu saja, Jericho yang tinggi badannya melebihi tinggi badan rata-rata karyawannya, jadi semakin mencolok dengan senyumannya, yang adalah pemandangan yang langka.
Olivia bisa mendengar bisik-bisik dari karyawan lain, yang tampaknya sempat menangkap raut wajah dari Jericho yang tidak biasa itu.
Olivia yang tidak mau kalau karyawan lain jadi tahu, jika Jericho tersenyum kepadanya, lalu nanti mungkin akan menjadi bahan gosip di kantor, segera memalingkan pandangannya ke arah lain.
Tapi Jericho seolah-olah tidak perduli dengan bisik-bisik dari para karyawannya itu.
Hingga beberapa dari mereka masuk ke dalam lift, dan Olivia juga Jericho yang mendapatkan lift yang sama, Jericho masih senyum-senyum sambil memandangi Olivia, ketika Olivia curi-curi pandang melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Ding!"
Olivia segera melihat ponselnya, ketika dia mendengar suara tanda ada pesan masuk di sana.
'Morning!'
Pesan yang masuk itu dari berasal dari Jericho.
Rasanya Olivia tidak bisa percaya, kalau bosnya yang menyapanya lebih dulu, walaupun hanya lewat teks pesan singkat.
'Morning, Sir!'
Walaupun merasa agak malu-malu, namun Olivia tetap membalas pesan dari Jericho itu.
"Ding!" Lagi, pesan masuk baru membuat ponsel Olivia berbunyi.
'You look great!'
Pesan singkat dari Jericho yang juga menyematkan emotikon senyum dan jempol di teksnya itu, sanggup membuat Olivia tersenyum lebar dan hampir tertawa.
Olivia kemudian mengangkat pandangannya, dan melihat ke arah Jericho, lalu saling tersenyum lebar untuk sesaat, sebelum Olivia mengalihkan pandangannya lagi.
'Terima kasih. You look great too, Sir.'
Sebelum pintu lift terbuka, Olivia masih sempat membalas pesan dari Jericho.
"Ding!" Lagi-lagi pesan singkat dari Jericho, masuk ke ponsel Olivia.
'Please contact me, kalau kamu butuh sesuatu.'
Olivia yang membaca pesan dari Jericho sambil berjalan ke arah ruang kerjanya, hampir tidak bisa berhenti tersenyum.
"Olivia!"
Suara Louis yang berseru memanggil namanya, membuat Olivia segera mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, dan tidak sempat mengetik pesan balasan untuk Jericho.
"Ada apa?" tanya Olivia.
"Tolong kamu periksa ulang analisa statistik ini!" Louis menyodorkan sebuah flashdisk kepada Olivia.
"Jam sepuluh nanti, data ini harus sudah diserahkan pada manajer. Tapi aku masih harus memeriksa beberapa data dari daerah xxx," lanjut Louis.
"Okay!" sahut Olivia, lalu segera mengambil flashdisk dari tangan Louis, dan bergegas pergi ke meja kerjanya.
"Kalau sudah selesai, langsung berikan saja kepada manajer. Okay?!" ujar Louis, yang juga sudah duduk di depan komputer, yang menyala di meja kerjanya.
Olivia yang sudah tenggelam dalam pekerjaannya, melupakan niatnya tadi yang ingin membalas pesan dari Jericho.
__ADS_1
Ketika menjelang akhir tahun seperti sekarang ini, pekerjaan di divisi Olivia biasanya memang akan jadi semakin padat.
Apalagi, perusahaan Andersen's tempat Olivia bekerja itu, sedang dalam tahap perencanaan untuk membuka kantor cabang baru di kota lain.
Sampai waktunya ke jam istirahat makan siang, Olivia masih tidak ingat untuk membalas pesan dari Jericho, saking sibuk dengan pekerjaannya.
***
"Ayo kita pergi makan siang!" ajak Louis.
Ketika beberapa rekan kerja Olivia mengajaknya tadi, agar pergi ke kafetaria kantor bersama-sama dengan mereka, Olivia sempat melihat Claire yang menghampiri Louis di meja kerjanya.
Sekarang ini, rekan-rekan kerja Olivia terlihat sudah berjalan keluar dari ruang kerja mereka itu lebih dulu, hingga ruang kerja itu tampak lengang, dan tertinggal Louis yang berdiri bersama Claire di dekat meja kerja Olivia.
Olivia yang masih memeriksa catatan analisa yang belum lama diantar ke mejanya tadi, sebenarnya merasa enggan untuk pergi bersama-sama dengan Louis dan Claire.
Olivia bahkan sempat berpikir untuk menjadikan pekerjaannya yang belum selesai, sebagai alasan untuk menolak ajakan dari Louis.
Akan tetapi, Olivia juga tidak mau menampakkan dengan jelas, kalau dia sudah tidak merasa nyaman lagi untuk tetap dekat dengan laki-laki itu.
Apalagi di depan Claire, yang mungkin akan menyadari kalau Olivia tertarik dengan Louis, dan sejujurnya Olivia masih merasa sedikit cemburu, meskipun dia sudah bertekad untuk melupakan perasaan sukanya kepada Louis.
Olivia bisa berpikir begitu, karena dia sendiri bisa menyadari kalau Claire tampaknya tertarik kepada Louis, hanya dengan melihat gerak-gerik dari Claire saja.
Dengan demikian, kalau Olivia tidak mau ada yang mencurigai apa-apa karena sikapnya yang berubah secara tiba-tiba, maka Olivia harus bertingkah biasa di depan semua orang.
"Tunggu sebentar!" Olivia lalu mengambil dompet dan ponselnya, lalu ikut berdiri, dan berjalan bersama dengan Louis dan Claire, menuju ke kafetaria.
Sembari menunggu lift terbuka, Olivia yang tidak terlalu mau memperdulikan perbincangan antara Louis dan Claire, lalu memeriksa ponselnya.
Dan ternyata, ada pesan masuk dari Jericho di jam sepuluh tadi.
Berarti, Jericho mengirimkan pesan saat Olivia sedang berada di ruang kerja manajer, itu sebabnya hingga Olivia tidak tahu kalau ada pesan masuk di ponselnya, yang tadi dia tinggalkan di atas meja kerjanya.
'Apa kamu nanti mau makan siang bersamaku?'
Begitu isi pesan dari Jericho kepada Olivia.
'Maafkan saya, Sir.'
'Saya baru melihat pesan anda, dan sekarang saya sudah terlanjur ikut makan siang bersama rekan kerja saya.'
Olivia mengetikkan pesan balasan itu, lalu mengirimkannya kepada Jericho.
"Ding!" Ponsel Olivia berbunyi, dan Olivia yang masih menatap layar ponselnya, segera membaca pesan yang dikirimkan Jericho kepadanya.
'Kamu makan siang di mana?'
__ADS_1
Olivia lantas mengetikkan pesan balasan baru, lalu segera menekan tombol kirim. 'Di kafetaria, Sir.'