
Yang akan menjadi tujuan pertama bagi Olivia dan Johan, untuk menghabiskan waktu mereka, adalah rumah lama dari keluarga Olivia.
Olivia menceritakan kepada Johan, tentang apa yang terjadi, hingga rumah Olivia harus berpindah tangan.
Johan saat itu tidak banyak bicara, dan hanya mendengarkan saja, apa yang Olivia katakan.
Dan ketika mereka tiba di depan rumah lama Olivia, di bagian halaman depannya, terpasang papan penanda, kalau rumah itu sedang dijual.
"Apa kamu mau melihatnya lebih dekat?" tanya Johan.
Olivia menganggukkan kepalanya. "Iya, Sir."
Supir pribadi Johan yang menghentikan mobil yang dikemudikannya, lalu membukakan pintu mobil bagi Olivia.
Olivia bersama dengan Johan, lalu berjalan mendekat ke rumah lama Olivia, yang sekarang ini, tampaknya sudah tidak berpenghuni lagi, meskipun bangunan dan halamannya, masih terlihat terawat.
Kalau begitu, berarti orang yang membeli rumah lama Olivia itu, sudah tidak tinggal di sana lagi, dan kembali menjual properti itu, kepada siapa saja yang tertarik untuk memilikinya.
Di papan penanda, selain bertuliskan kalau rumah itu dijual, juga tertera di sana nama dan nomor kontak realtor, yang bertanggung jawab atas penjualan rumah itu.
Ketika Olivia sedang melihat-lihat di bagian depan rumah, seorang wanita paruh baya, kemudian menghampiri Olivia dan menyapanya.
Ternyata wanita tua itu, adalah tetangga Olivia yang masih menetap di sekitar situ, dan dia masih mengenali Olivia sekarang ini.
Olivia lalu berbincang-bincang dengan wanita berusia senja itu.
Dan dari percakapan mereka, Olivia jadi tahu, kalau pemilik rumah lama Olivia, dimasukkan anak-anaknya ke dalam panti jompo.
Sementara anak-anaknya yang tinggal di kota lain, tidak ada yang mau tinggal di rumah lama Olivia itu.
Oleh karena itulah, sehingga rumah itu kembali dijual.
Sebenarnya, sekarang ini, adalah kesempatan bagi Olivia, untuk memiliki kembali rumah peninggalan mendiang orang tuanya.
Akan tetapi, setelah Olivia mendengar perkiraan harga, yang diberitahu oleh wanita paruh baya tetangga lamanya itu, Olivia hanya bisa menelan kekecewaannya.
Harga jual kembali rumah itu, masih jauh dari jangkauan simpanan Olivia selama ini.
Tabungan yang Olivia miliki, hanya mencapai dua dari satu pertiga, dari harga rumah itu.
Memang hal yang wajar, jika semakin bertambahnya tahun, maka nilai properti berupa rumah dan tanah, juga pasti akan menjadi semakin mahal.
Olivia tahu dengan benar tentang hal itu.
Tapi tetap saja, rasa kecewa karena usahanya, yang telah menabung selama lima tahun dia bekerja, yang belum membuahkan hasil, terasa sangat melelahkan bagi Olivia.
Walaupun demikian, Olivia tidak akan menyerah begitu saja, dan tetap bertekad, agar dia nanti tetap bisa membeli kembali rumah itu.
Olivia lalu mencatat nomor kontak milik realtor, yang tertera di papan penanda, dan menyimpannya ke dalam ponselnya.
Saat itu juga, ketika Olivia menggunakan ponselnya, beberapa pesan masuk dari Jericho, terlihat di sana.
Olivia yang mengatur ponselnya di mode hening, memang tidak menyadari, kalau ponselnya itu telah menerima pesan baru, dan juga beberapa panggilan yang tidak terjawab dari Jericho.
Jericho yang bertanya di mana Olivia, dan berbagai pesan lain yang dia tuliskan di sana, hanya membuat Olivia mengerutkan keningnya, saat membacanya.
Ada apa dengan bosnya yang satu itu?
Jika Jericho mencari Olivia untuk sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan, maka Jericho seharusnya bisa bertanya saja kepada Sir Hart.
Jericho tidak perlu bertingkah seperti anak ayam yang kehilangan induknya, hingga harus menghubungi Olivia sampai berkali-kali.
__ADS_1
"Huuufft...!" Olivia mendengus pelan.
Kelihatannya, Johan sempat menangkap suara nafas berat, yang dikeluarkan oleh Olivia, yang membuat Olivia seperti orang yang sedang mengeluh.
Karena tiba-tiba, Johan lalu bertanya, kepada Olivia. "Ada apa?"
"Ugh ...? Hmm ... Tidak ada apa-apa, Sir," kata Olivia, ragu-ragu.
Mau tidak mau, Olivia memang harus menutup-nutupinya dari Johan.
Karena rasanya tidak nyaman bagi Olivia, untuk membicarakannya kepada Johan, tentang pesan-pesan yang dikirimkan oleh Jericho, dalam tiga hari belakangan ini.
Tentu Olivia tidak mungkin memberitahu Johan, kalau Jericho mengirimkan pesan dengan kata-kata yang aneh, bukan?
Apa yang akan dipikirkan oleh Johan nantinya?
Karena sedangkan Olivia saja, merasa kebingungan dan masih tidak mengerti, dengan apa maksud dari pesan, yang ditulis dan dikirimkan oleh Jericho, untuknya.
Tapi kelihatannya, Johan telah salah menduga, dan mengira kalau Olivia sedang berberat hati, sebab rumah lamanya itu, karena Johan lalu berkata,
"Maafkan aku, Olivia! ... Tapi, Apa kamu masih merasa sulit, untuk merelakan rumah ini?"
"Ugh ...? Hmm ... Iya. Harga jualnya masih tinggi. Dan aku belum bisa membelinya kembali," jawab Olivia, mengiyakan saja pertanyaan Johan.
"Apa kamu akan keberatan, kalau aku yang membelinya?" tanya Johan lagi.
"Tentu saja tidak, Sir ... Anda bisa membelinya, jika anda memang tertarik untuk memilikinya," jawab Olivia.
"Hmm ... Maksudku, apa kamu tidak akan tersinggung? Kalau aku yang membeli rumah ini, lalu memberikannya kepadamu?" ujar Johan, tampak berhati-hati.
"Sir ...?" Olivia terbelalak.
...Jika ditunda pembeliannya, mungkin nanti akan lebih sulit dibeli kembali, kalau sudah dimiliki oleh orang lain....
... Dan jika kamu tidak mau menerimanya secara cuma-cuma, kamu bisa mencicilnya nanti." Johan menjelaskan, apa yang dipikirkannya kepada Olivia.
"Terima kasih atas niat baik anda, Sir ... Saya memang menginginkan rumah ini. Tapi saya tidak mau membebani anda," kata Olivia.
"Apa kamu terbeban olehku?" tanya Johan.
"Bukan begitu, Sir!" sahut Olivia.
"Kalau begitu, aku anggap kamu setuju," kata Johan, lalu segera berjalan menjauh dari Olivia, dan tampak menghubungi seseorang, dengan menggunakan ponselnya.
Dan menurut apa yang masih bisa didengar oleh Olivia, Johan kedengarannya sedang berbicara dengan realtor, yang menjual rumah lama Olivia itu.
"Sir ...?" ujar Olivia.
"Sshh!" Johan mendesus, sambil meletakkan jari telunjuknya ke atas bibirnya, seakan-akan memberi tanda, agar Olivia jangan berbicara dulu.
Mau tidak mau, Olivia hanya memandangi Johan, yang masih berbincang-bincang dengan seseorang di ponselnya itu, tanpa bisa berkomentar banyak.
Untuk beberapa waktu lamanya, Johan masih berbincang-bincang di ponselnya, dan seolah-olah dia sedang bernegosiasi harga, dengan orang di seberang telepon.
Dan kedengarannya, Johan berhasil membuat kesepakatan dengan orang yang berbicara dengannya, sebelum Johan akhirnya berhenti bicara di ponsel, lalu menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku jasnya.
"Apa yang anda lakukan, Sir?" tanya Olivia, pelan.
"Aku membeli rumah ini. Kita akan ke sini besok setelah rapat berakhir, untuk menandatangani berkas pembelian rumah ini," jawab Johan.
"Sir...!" Olivia menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Olivia benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi, kepada Johan yang keras kepala, dan melakukan sesuatu, yang sesuai dengan keinginannya sendiri.
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku hanya membantumu untuk mengulur waktu. Jika aku yang memilikinya, maka nanti kamu bisa membelinya dariku...,
... dengan harga yang sama saja seperti sekarang ini. Setelah tabunganmu sudah cukup," kata Johan, mencoba untuk menenangkan Olivia.
"Bagaimana menurutmu? Bisa diterima, bukan?" lanjut Johan yang tampak yakin, seolah-olah keputusannya adalah yang terbaik.
"Terserah anda saja kalau begitu, Sir! ... Terima kasih sebelumnya!" kata Olivia, menyerah.
"Apa kamu masih mau melihat-lihat di sini? Atau mau pergi ke tempat lain? Atau mungkin kamu mau melihat pekerjaan perusahaan kita? Lokasinya tidak jauh dari sini." Johan memberikan pilihan kepada Olivia.
Untuk sesaat, Olivia hanya terdiam, sambil berpikir.
Olivia tidak tahu mau pergi ke mana lagi, dan menurutnya jika mendatangi lokasi kerja, mungkin dia bisa menemukan sesuatu di sana, yang bisa jadi tambahan catatan, untuk presentasinya besok.
"Hmm ... Kita ke lokasi proyek saja, Sir!" jawab Olivia.
"Okay! ... Ayo kita pergi!" kata Johan.
***
Di sepanjang perjalanan mengarah ke lokasi pekerjaan, yang dilakukan oleh perusahaan Andersen's, Olivia masih terpikir akan Johan yang membeli rumah lamanya.
Olivia merasa sedikit bersalah kepada Johan, karena Olivia yang bernafas berat tadi, bukanlah karena rumah lamanya itu, melainkan karena Jericho.
Tapi karena Olivia tidak bisa mengutarakannya kepada Johan, sehingga Olivia hanya menjadi beban bagi Johan.
Mau bagaimana lagi? Sudah terlanjur terjadi.
Satu-satunya jalan, adalah Olivia harus lebih gigih lagi, untuk menyimpan uangnya, agar dia bisa segera mengganti uang Johan.
"Kita sudah sampai!"
Olivia yang sedang melamun, dikejutkan dengan suara Johan yang memberitahu, kalau mereka sudah tiba di tujuan.
"Iya, Sir!" sahut Olivia, lalu beranjak keluar dari dalam mobil, bersama-sama dengan Johan.
Mobil Johan di parkir di depan sebuah bangunan, yang dijadikan sebagai kantor sementara.
Johan membawa Olivia masuk ke dalam bangunan itu, dan bertemu dengan beberapa pegawai, yang tampak terkejut melihat adanya Johan di situ.
Beberapa pegawai yang bertanggung jawab atas pekerjaan di situ, terlihat panik menyambut kedatangan Johan.
Namun Johan segera menenangkan mereka, dan berkata, kalau dia membutuhkan helm dan rompi khusus, agar dia dan Olivia bisa melihat-lihat dari jarak dekat, proses pekerjaan di tempat itu.
Setelah memakai perlengkapan keamanan diri, Olivia dibawa Johan berkeliling, melihat-lihat proses pengerjaan jalan layang, yang menjadi salah satu proyek, yang dipegang oleh Andersen's Construction.
"Olivia!"
Suara yang sangat familiar di telinga Olivia, yang sedang memanggilnya, membuat Olivia berbalik, dan melihat Hansen, yang terlihat sedang berjalan menghampirinya.
"Ternyata memang benar kamu," ujar Hansen, sambil tersenyum lebar.
"Hansen?" Olivia terkejut melihat adanya Hansen di tempat itu. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
Sebelum dia menjawab pertanyaan Olivia, Hansen lebih dulu menyapa Johan. "Halo, Sir!"
"Halo, Hansen!" Johan balas menyapa.
"Aku menggantikan daddy-ku. Apa kamu lupa?" ujar Hansen, kepada Olivia.
__ADS_1