Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 44


__ADS_3

Hansen membawa Olivia makan siang di sebuah restoran, yang berada di tempat yang berbeda, dari restoran miliknya yang pernah Olivia datangi.


Namun, ketika Olivia memasuki restoran itu, suasana di dalam tempat itu masih terasa familiar, seolah-olah Olivia pernah ke restoran itu sebelumnya.


Olivia sampai-sampai tidak bisa berhenti memandangi seluruh area di dalam restoran, yang terjangkau oleh penglihatannya.


"Ada apa?" tanya Hansen.


"Tempat ini, membuatku merasa seperti deja vu," jawab Olivia.


"Ooh ...! Benarkah? Mungkin kamu merasa seperti itu, karena ini juga restoran milikku.... 


... Atau mungkin saja, kamu memang pernah datang ke sini, tapi kamu tidak mengingatnya," sahut Hansen.


Penataan dan semua perlengkapan, hingga dekorasi di dalam restoran itu, berbeda dari restoran Hansen yang lain.


Namun kelihatannya, karena sensasi tenang dan menyenangkan yang terasa di sana, sama seperti yang Olivia rasakan saat dia berada di restoran Hansen yang lain, hingga membuat Olivia merasa, seolah-olah dia pernah mengunjungi tempat itu sebelumnya.


"Apa kamu nanti malam bisa bertemu denganku lagi?" tanya Hansen, tiba-tiba.


Menurut Olivia, gelagat Hansen hari ini, semakin aneh saja.


Seolah-olah, Hansen benar-benar ingin agar Olivia memberikan waktu luangnya hari ini, hanya untuk bersama-sama dengan Hansen saja.


Mungkin ada yang Hansen sembunyikan dari Olivia, namun laki-laki itu belum mau mengatakan ada apa, hingga dia bertingkah seperti sekarang ini.


"Maafkan aku ... Tapi aku sudah membuat janji, untuk nanti malam," jawab Olivia.


"Ooh! ... Kalau aku tahu akan begitu, seharusnya pagi tadi aku sudah membuat janji denganmu," kata Hansen, yang terlihat kecewa.


"Walaupun kamu memberitahu ku pagi tadi, tetap saja aku tidak bisa. Karena aku sudah terlanjur membuat janjinya sejak kemarin," ujar Olivia, menjelaskan situasinya.


"Apa aku boleh tahu? ... Kamu membuat janji dengan siapa?" tanya Hansen, tampak penasaran.


"Hansen ...! Ada apa sebenarnya? Bukannya kamu sendiri yang katakan, kalau aku masih bisa bebas untuk berinteraksi dengan orang lain?" Olivia balik bertanya, memancing agar Hansen mau bicara sejujurnya.


"Hmm ... Iya. Salahku ... Maafkan aku, Olivia," kata Hansen.


Hansen yang terlihat lesu, lalu hanya terdiam saja, dan membuat Olivia jadi semakin penasaran, akan apa yang sedang dipikirkan oleh Hansen.


"Hansen! Kalau aku memberitahumu, siapa yang membuat janji denganku, apa kamu juga mau memberitahuku, ada apa yang sebenarnya?"


Demi memuaskan rasa ingin tahunya, Olivia mau saja membuat tawaran perjanjian dengan Hansen, agar laki-laki mau terbuka kepadanya.


Karena bagi Olivia, gerak-gerik dari Hansen saat ini, sudah mulai terasa mengganggu, sekaligus membuat Olivia merasa tidak nyaman dan sedikit sebal.


Akan tetapi, walaupun Olivia sudah membuat tawaran, namun Hansen masih terlihat ragu, untuk menyetujui tawaran dari Olivia itu.


"Bagaimana? Mau tidak?" tanya Olivia.


"Okay!" sahut Hansen, tampak terpaksa saja.


"Jonah ... Anak dari Sir Andersen. Hari ini adalah hari ulang tahunnya, dan dia memintaku agar datang ke pestanya nanti malam," kata Olivia.


Hansen lalu mengangguk-anggukkan kepalanya, namun dia tidak segera bicara, tentang apa yang membuat Olivia jadi bertanya-tanya.

__ADS_1


"Hansen! Sekarang giliranmu bicara!" ujar Olivia mengingatkan, dengan agak memaksa.


Seketika itu juga, Hansen terlihat panik, dan seolah-olah dia memang kesulitan untuk berbicara kepada Olivia, hingga Olivia hampir kehilangan rasa sabarnya.


"Hmm ... Aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi aku harap, semoga saja aku tidak menakutimu. Karena apa yang aku ketahui, hanyalah kebetulan belaka," ujar Hansen.


"Ada apa? ... Kalau kamu tidak segera mengatakannya, justru jadi menakutkan bagiku," kata Olivia, dengan nada suara yang  tegas.


"Tunggu sebentar!" kata Hansen, lalu tampak sibuk sendiri, seolah-olah dia sedang berusaha mengambil sesuatu, dari saku bagian dalam jasnya.


"Ini untukmu!" Hansen lalu meletakkan sebuah kotak perhiasan berukuran kecil ke atas meja, kemudian mendorongnya, hingga mendekat kepada Olivia.


"Today is your birthday, right?" tanya Hansen, tampak berhati-hati.


Olivia terdiam, dan hanya melihat kotak perhiasan, lalu melihat ke arah mata Hansen, hingga beberapa kali secara berganti-gantian, sambil berpikir keras. 


Dari mana Hansen bisa tahu tanggal ulang tahun Olivia?


"Oh, gosh! ... Apakah aku menakutimu? Please, Olivia! Dengarkan dulu penjelasanku...." Hansen seolah-olah bisa membaca pikiran Olivia, dan di saat itu juga, Hansen terlihat cemas.


"Okay! ... Aku menunggu penjelasanmu,"  sahut Olivia, datar.


"Aku semalam tidak bisa tidur. Sebenarnya, aku ingin menghubungimu. Tapi karena sudah hampir jam dua malam, aku tidak mungkin mengganggu istirahatmu....


... Lalu, karena aku merindukanmu, aku mencari akun media sosialmu, dan melihat-lihat di sana. Dan tanpa sengaja, aku jadi mengetahui hari ulang tahunmu," kata Hansen.


Hansen bukan hanya menjelaskan dengan perkataannya saja, melainkan, dia juga memperlihatkan tampilan layar ponselnya.


Hansen menunjukkan beranda akun media sosial Olivia, yang mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari orang lain, kepada Olivia.


"Lihat...? Aku bukan penguntit, dan tidak berniat untuk menguntit. Benar-benar hanya kebetulan saja," kata Hansen, dengan nada suara dan raut wajah memelas.


Walaupun begitu, Olivia tidak segera merespon Hansen.


Olivia masih terdiam untuk beberapa saat, dan mencoba untuk meyakinkan dirinya, bahwa Hansen memang tidak berbohong.


"Hmm ... Okay! Aku percaya padamu," sahut Olivia.


"Huuffft ...! Thank's, God!" Hansen terlihat seolah-olah dia baru bisa bernafas lega. "Happy birthday, my baby!"


"Aku sebenarnya sudah menyusun rencana, agar aku bisa membuat kejutan untukmu, nanti malam. Tapi terus terang, aku memang khawatir, dan kebingungan....


...Aku tidak tahu bagaimana caranya mengatakannya padamu, agar kamu tidak akan salah paham, dan mengira bahwa aku adalah seorang penguntit....


... Karena aku yang tiba-tiba bisa mengetahui hari ulang tahunmu. Sedangkan kamu tidak pernah memberitahukannya padaku," kata Hansen menjelaskan.


Setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Hansen, Olivia jadi mengerti dan mewajarkan, tingkah Hansen yang seperti itu.


Dengan begitu juga, Olivia jadi semakin yakin, kalau Hansen tampaknya memang tidak berniat, untuk menutup-nutupi sesuatu dari Olivia.


Tapi....


"Hansen! ... Kita kesampingkan dulu hadiahmu ini. Karena aku ingin mengatakan sesuatu padamu," kata Olivia. 


"Hmm ... Okay! Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Hansen.

__ADS_1


"Aku berharap, agar di lain waktu, setiap kali ada sesuatu, kamu sebaiknya segera membicarakannya....


... Jadi aku tidak akan menduga-duga yang tidak-tidak, sampai merasa kesal kepadamu seperti tadi," kata Olivia. 


Reaksi dari Hansen, cukup mengejutkan bagi Olivia, karena Hansen tampak senang, hingga dia tersenyum lebar, sambil menatap Olivia lekat-lekat.


"Ada apa lagi denganmu?" tanya Olivia, bingung.


"Apa kamu tahu? ... Kata-katamu itu membuatku jadi semakin yakin, kalau kita akan jadi pasangan yang cocok," ujar Hansen.


"Huuufft ...!" Sambil mendengus pelan, Olivia menggeleng-gelengkan kepalanya, karena rasa tidak percayanya, akan apa yang baru saja di dengarnya dari Hansen.


"Apa sekarang aku sudah bisa memberikan hadiahmu?" tanya Hansen.


"Iya," jawab Olivia.


Hansen lalu mengeluarkan sebuah cincin, dari dalam kotak perhiasan, dan mengulurkan tangannya dengan telapaknya yang terbuka ke arah Olivia, seolah-olah dia sedang meminta tangan Olivia.


Ketika melihat hadiah dari Hansen itu, Olivia jadi ragu untuk menerimanya, hingga dia hanya terdiam, dan tidak segera memberikan tangannya kepada Hansen.


"Hansen—" Olivia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, namun Hansen sudah menyelanya.


"Aku tadi menghabiskan waktu hampir dua jam, ketika mencari hadiah ini untukmu," kata Hansen, sambil memasang raut wajah sedih. "Kamu mau menerimanya, kan?!"


Demi menghargai upaya Hansen yang mencarikan hadiah untuknya itu, Olivia lalu segera mengulurkan tangannya yang sebelah kiri, ke arah Hansen.


Namun Hansen malah tampak terkejut melihatnya, sambil bertanya,


"Serius? ... Kamu mau jadi tunanganku?"


Seketika itu juga Olivia tersadar, kalau dia telah salah memberikan tangannya kepada Hansen, lalu buru-buru menarik tangan kirinya, dan ganti mengulurkan tangan kanannya.


Hansen tersenyum lebar, dan tampak hampir tertawa, namun dia segera menyambut tangan Olivia, seolah-olah dia khawatir kalau-kalau Olivia nanti akan berubah pikiran.


Perlahan, Hansen memasukkan cincin, ke jari manis di tangan kanan Olivia.


Tapi menurut penilaian Olivia, dari raut wajahnya, Hansen terlihat cemas saat memasangkan cincin kepada Olivia itu, dan Hansen baru terlihat lega, setelah cincin itu sudah terpakai oleh Olivia.


"Perfect! ... Aku tadi sempat khawatir, kalau-kalau ukurannya tidak cocok di jarimu. Karena aku hanya mengira-ngira, dengan menggunakan jari kelingkingku," kata Hansen.


Setelah mendengarkan perkataan Hansen, barulah Olivia mengerti, akan apa alasannya, hingga Hansen sampai-sampai terlihat cemas.


"Blue sapphire ... Warnanya mengingatkanku pada matamu. Bagaimana menurutmu?" lanjut Hansen.


Olivia lalu memperhatikan tangannya, yang sudah terpasang cincin, yang berhiaskan batu permata safir berwarna biru, dengan ukurannya yang seperti satu tetesan air.


Baik bentuk dan warnanya, terlihat cocok dengan kulit Olivia yang putih kemerahan, hingga membuat tangan Olivia terlihat cantik.


"Cincin ini sangat indah," kata Olivia. "Tapi, apa aku pantas mendapatkannya?"


"Olivia! My baby ...! Apa yang tidak pantas kamu dapatkan?" ujar Hansen, mantap.


Dan seolah-olah dia tidak mau memberi kesempatan bagi Olivia, untuk menanggapi perkataannya barusan, Hansen lalu dengan terburu-buru bertanya,


"Jadi bagaimana? Apa kamu menyukainya?"

__ADS_1


"Tentu saja," jawab Olivia, sambil tersenyum. "Terima kasih atas hadiahnya!"


"Sama-sama," sahut Hansen, yang tampak bersemangat, sambil tersenyum lebar.


__ADS_2