
"Olivia!"
Olivia yang sedang memeriksa bagan statistik yang baru saja diantar oleh salah satu rekan kerjanya, dikejutkan dengan suara Claire yang menyapanya.
"Aku tadi sudah meminta bantuan Louis, Tapi Louis malah menyuruhku, agar meminta bantuan padamu, untuk memeriksa pekerjaanku."
Ketika Olivia mengangkat pandangannya dan melihat ke arah Claire yang berdiri di dekat meja kerjanya, Claire dengan raut wajah yang tidak bisa mengerti oleh Olivia, segera mengutarakan maksud dan tujuannya, menemui Olivia.
Tanpa langsung menanggapi perkataan Claire, Olivia justru memiringkan kepalanya, agar bisa melihat Louis yang duduk di meja kerjanya, yang ada di sudut ruangan.
Louis kelihatannya sedang sibuk dengan pekerjaannya sendiri, dan sama sekali tidak ada tanda-tanda kalau dia akan melihat ke arah Olivia saat itu.
"Aku masih memeriksa ini!" Olivia menunjuk ke layar komputernya yang menyala.
"Maafkan aku yang mungkin hanya mengganggumu, Olivia. Tapi, aku sama sekali tidak yakin dengan apa yang aku kerjakan," ujar Claire tampak memaksa.
Jika Olivia bisa bicara jujur, Olivia tidak berminat untuk membantu Claire, yang kelihatannya hanya daripada saja, hingga dia datang menemui Olivia.
Apalagi, bagian Claire di divisi itu pekerjaannya sangat ringan, hanya mengetikkan berkas catatan yang sudah ada, dan memasukkannya ke dalam basis data utama.
Lalu, apa yang Claire tidak tahu?
Apa Claire tidak bisa menggunakan program komputer? Tapi tentu saja itu tidak mungkin.
Jadi Olivia menduga, kalau Claire memang hanya mencari-cari alasan saja, untuk meminta bantuan dari Louis, demi mencari perhatian laki-laki itu.
Dan agar tidak tampak jelas kepura-puraannya, mau tidak mau, Claire harus menemui Olivia, setelah Louis menyuruhnya seperti itu.
"Tunggu sebentar lagi! Aku nanti menyusul ke meja mu," sahut Olivia, sambil menatap layar komputernya kembali.
Walaupun merasa enggan, namun Olivia tetap pergi ke meja kerja Claire, sekalian untuk memuaskan keingintahuannya, akan apa yang jadi alasan Claire, agar dibantu oleh Louis atau Olivia.
Setelah melihat pekerjaan Claire selama kurang lebih lima menit saja, Olivia sudah bisa menyimpulkan bahwa memang benar dugaannya.
Claire memang hanya mencari-cari alasan saja, dan itu benar-benar hanya membuat Olivia merasa kesal.
Tingkah Claire yang pura-pura bodoh itu, walaupun sangat menyebalkan, karena hanya membuang-buang waktu Olivia, namun Olivia berusaha sebisanya agar dia tetap terlihat tenang.
"Begini caranya!" ujar Olivia, lalu menunjukkan metode pengetikan di komputer, kepada Claire. "Kamu pasti bisa kan?!"
"Oh, iya. Aku bisa. Terima kasih," sahut Claire, datar.
"Kalau hanya seperti ini saja, lain kali, kamu tidak perlu menungguku untuk membantumu....
... Semua orang yang ada di sini yang bisa menggunakan komputer, maka mereka juga bisa kamu mintakan bantuannya," ujar Olivia.
__ADS_1
"Iya," jawab Claire, singkat dan datar.
Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Olivia berjalan ke meja kerja Louis, lalu, dengan sedikit membungkuk di dekat Louis, Olivia kemudian berkata,
"Lain kali, sebaiknya kamu saja yang membantu Claire! Atau suruh orang lain saja! Jangan melibatkan aku! Aku sudah cukup lelah dengan pekerjaanku!"
Louis tampak tersentak, saat mendengar perkataan Olivia, dan seolah-olah ada yang ingin dia sampaikan kepada Olivia.
Namun sebelum Louis sempat berkata apa-apa, dengan cepat Olivia berjalan pergi, kembali ke meja kerjanya, untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Louis tampaknya tidak menyerah, dan segera menyusul Olivia, lalu berkata,
"Kenapa kamu seolah-olah menyalahkanku atas ketidakmampuannya? Bukan aku yang menerimanya bekerja!"
Olivia mengangkat pandangannya, dan menatap Louis lekat-lekat.
"Tapi kamu yang mengarahkannya, untuk meminta bantuan padaku!" sahut Olivia, sinis.
"Sudahlah! ... Jangan menggangguku! Aku tidak mau bekerja lembur lagi hari ini," lanjut Olivia, lalu kembali menatap layar komputernya yang masih menyala.
"Berkasnya sudah selesai aku periksa. Tapi, kamu tidak perlu mengantarnya kepada manajer....
... Aku yang akan melakukannya, karena ada yang ingin aku bicarakan dengannya," ujar Louis, yang masih berdiri di dekat meja kerja Olivia.
"Terserah kamu saja!" sahut Olivia, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputernya.
"Huuufft ...!" Olivia mendengus kesal, setelah dia merasa yakin kalau suara nafas beratnya itu, tidak akan terjangkau oleh pendengaran Louis.
***
"Olivia! Kamu jadi makan siang denganku, kan?" tanya Louis.
Olivia yang baru saja mematikan komputernya, di saat jam istirahat makan siang itu, hanya melihat ke arah Louis, dan tidak segera menjawabnya.
Olivia lalu mengambil dompet dan ponselnya, kemudian berdiri dari tempat duduknya. "Iya. Ayo kita pergi!"
Sebelum memasuki lift, Olivia sempat memeriksa layar ponselnya, namun tidak ada yang terlalu menarik di sana.
Dengan demikian, Olivia akhirnya hanya memegang ponsel bersama dompetnya begitu saja.
"Kita makan siang di mana?" tanya Olivia.
"Hmm ... Apa kamu mau makan di luar? Aku traktir," ajak Louis.
"Terserah kamu saja," sahut Olivia datar.
__ADS_1
Itu adalah percakapan terakhir, antara Louis dan Olivia, dan keduanya sama-sama tidak mau memulai percakapan baru.
Dengan menggunakan mobil Louis, mereka berdua kemudian pergi ke sebuah restoran yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantor.
Setibanya di restoran, dan mereka berdua sudah mendapatkan tempat duduk di sana, barulah Louis mengajak Olivia untuk berbincang-bincang dengannya.
"Kamu terlihat berbeda sejak siang kemarin. Ada apa denganmu?" ujar Louis membuka percakapan.
"Huuufft ...!" Olivia mendengus kasar. "Kamu bisa lihat pekerjaanku, kan?! Apa aku harus tetap tampak bersemangat, walaupun aku sedang merasa lelah?"
"Hmm ... Maafkan aku ... Aku pikir kamu sedang marah padaku. Atau karena kamu yang sudah memiliki teman yang baru," ujar Louis.
"Louis! Apa maksudmu?" sahut Olivia ketus, sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam.
"Geez ...! Aku hanya bercanda, Olivia ...!" kata Louis pelan.
"Huuufft ...!" Lagi-lagi Olivia mendengus.
"Maafkan aku juga. Aku tahu kalau aku mungkin terlalu sensitif. Sudah lama aku tidak mengambil lembur, dan rasanya benar-benar melelahkan....
... Sampai-sampai, pagi tadi aku hampir terlambat berangkat kerja," ujar Olivia beralasan.
"Olivia ...! Kamu tahu kalau kamu bisa menghubungiku. Aku bisa menjemputmu," sahut Louis.
"Yeah, right! Bisa-bisa, kita malah sama-sama terlambat," ujar Olivia.
Tempat tinggal Olivia dan Louis, berlawanan arah, dan kantor tempat mereka bekerja itu, berada di tengah-tengahnya.
Jadi, kalau Louis menjemput Olivia agar bisa berangkat kerja bersama-sama, maka dia justru akan melewati gedung kantor, untuk pergi ke apartemen Olivia.
"Aku bisa berangkat lebih pagi," sahut Louis.
"Sudahlah! Tidak apa-apa. Aku tidak mau merepotkanmu saja," kata Olivia, lalu melihat buku menu makanan yang ada di restoran itu.
"Apa aku bisa memesan apa saja?" tanya Olivia.
"Iya. Pesan saja apa yang kamu inginkan," jawab Louis.
Ketika pelayan restoran mendekat, Olivia lalu menyampaikan pesanannya, dan begitu juga Louis, yang ikut menyebutkan makanan yang dia inginkan.
"Sir Andersen tampaknya dekat denganmu," celetuk Louis. "Sejak kapan kamu bisa berhubungan dengan dengannya?"
"Baru saja. Kami bisa bertemu langsung saat itu, secara tidak sengaja," jawab Olivia. "Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa heran. Karena sebelum-sebelumnya, Sir Andersen tidak pernah terlihat bersamamu," sahut Louis.
__ADS_1
"Apa kamu tertarik padanya?" lanjut Louis, yang terdengar bertanya dengan berhati-hati.
"Siapa wanita di kantor kita, yang tidak tertarik kepadanya?" sahut Olivia.