Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 56


__ADS_3

Olivia ingat kalau daddy Hansen sedang sakit, dan Hansen lah yang bekerja menggantikannya.


Akan tetapi, yang tidak di sangka-sangka oleh Olivia, adalah kalau Hansen akan datang memeriksa pekerjaan anak buahnya di tempat itu, dengan waktu yang bersamaan, dengan kedatangan Olivia bersama Johan.


Di belakang Hansen, terlihat dua orang pegawainya yang sedang berdiri, menemani laki-laki itu.


Seketika itu juga, Olivia merasa kalau dia telah melakukan kesalahan, dengan cara bicaranya kepada Hansen, yang seolah-olah mereka hanya sedang berdua saja di situ.


"Kapan anda tiba di sini, Sir?" tanya Olivia kepada Hansen, sambil berusaha agar dia tidak tertawa, dan dia bisa tetap terlihat profesional.


"Ugh ...?" Hansen malah terlihat bingung, dengan cara bicara Olivia kepadanya.


Olivia lalu memberi tanda dengan gerakan matanya, untuk mengingatkan Hansen, bahwa ada pegawai Hansen yang sedang bersamanya.


Hansen yang segera mengerti maksud Olivia, lalu tersenyum dan berkata,


"Aku sudah berada di kota ini, sejak pagi tadi ... Apa yang kamu lakukan di sini?" 


"Saya menjadi asisten sementara untuk CEO kami, Sir," jawab Olivia.


Hansen lalu melihat ke arah Johan, lalu sambil menatap Johan, Hansen kemudian berkata,


"Sir! ... Tolong, anda jangan memanfaatkan kekuasaan anda!" 


"Karena kalau Olivia sudah berhenti menjadi wakil kepala bagian Humas di kantor anda, aku sudah memintanya lebih dulu, agar dia bekerja denganku," lanjut Hansen kepada Johan.


Kalau hanya dari kata-katanya saja, saat ini, Hansen seolah-olah sedang menantang Johan.


Namun jika melihat raut wajah, dan mendengar nada suara dari Hansen, maka akan tampak dengan jelas, kalau Hansen hanya sedang mengejek Johan.


Dan kelihatannya, Johan mengerti akan maksud dari Hansen itu. Karena Johan malah tertawa, lalu berkata,


"Walaupun kamu mengajaknya lebih dulu, lalu apa? ... Apa Olivia sudah setuju, untuk berkerja denganmu?" 


"Tsk! ... Sir...! Bagaimana Olivia bisa setuju, kalau anda yang ikut mempengaruhi keputusannya?" ujar Hansen, yang tampak berpura-pura, seolah-olah dia sedang frustrasi.


"Kalau begitu, kamu yang seharusnya berusaha lebih gigih lagi! ... Agar bisa menjadi pesaing, yang seimbang denganku," sahut Johan, sambil tersenyum lebar.


"Nevermind! ... Aku tentu akan kesulitan untuk bisa menang, jika harus melawan CEO Andersen's," kata Hansen.


"Tapi aku juga tidak akan menyerah begitu saja, untuk mendapatkan Olivia," lanjut Hansen, sambil tersenyum, dia menatap Olivia, dan menggerakkan kedua alisnya, naik turun dengan cepat berkali-kali.


"Yeah, right! ... Pffftt...!" Olivia mengejek Hansen, lalu tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangannya. 


Walaupun Olivia mengejeknya, tetapi Hansen tampaknya tidak marah kepadanya.


Hansen justru terlihat seperti dia sedang merasa gemas, lalu memicingkan matanya, sambil melihat ke arah Olivia, hingga Olivia tersenyum lebar melihatnya.


"Bagaimana kabar daddy-mu? Aku belum ada kesempatan untuk menjenguknya," kata Johan kepada Hansen, tiba-tiba.


"Sekarang ini kondisinya sudah mulai membaik. Tapi daddy masih butuh banyak istirahat," jawab Hansen. 


"Menurutku, memang sebaiknya kamu saja yang melanjutkan pekerjaannya," kata Johan. "Biarkan daddy-mu beristirahat."


"Iya, Sir! ... Aku juga sudah mempertimbangkannya," sahut Hansen.

__ADS_1


Salah satu dari pegawai Hansen, lalu terlihat berbisik-bisik kepada kepada Hansen.


"Sir! ... Olivia! ... Aku harus pergi sekarang. Ada yang masih harus aku periksa," kata Hansen, berpamitan.


"Okay!" sahut Olivia, dan Johan juga terlihat menganggukkan kepalanya.


"Olivia! ... Kapan kamu pulang?" Hansen masih menyempatkan diri, untuk bertanya lagi kepada Olivia, sebelum dia beranjak pergi.


"Besok, Sir!" jawab Olivia.


"Okay! ... Aku akan menghubungimu nanti," kata Hansen, kemudian berjalan pergi bersama dua pegawainya, yang masih mengikuti langkahnya.


Setelah Hansen sudah berada di jarak yang cukup jauh dari Olivia dan Johan, tiba-tiba, Johan kemudian berkata,


"Kelihatannya kamu cukup dekat dengan Hansen ... Apa kamu sudah lama berteman dengannya?" 


"Hmm ... Baru saja, Sir," jawab Olivia. "Tapi anda lihat sendiri, bagaimana tingkahnya. Karena itulah, sampai saya bisa cepat akrab dengannya."


Johan lalu tidak berkata apa-apa lagi, dan Olivia pun, segera melanjutkan pengamatannya, di lokasi pembangunan jembatan layang itu.


***


Jam makan siang, sudah terlewatkan.


Tapi karena Olivia dan Johan, yang tadinya sempat menikmati sarapan siang di coffee shop, sehingga baik Olivia maupun Johan, tidak ada yang merasa terlalu lapar.


Walaupun demikian, Johan tetap mengajak Olivia untuk pergi dari lokasi pekerjaan itu, dan mendatangi sebuah restoran yang berada di tengah kota.


"Saya ingin menambahkan sedikit catatan baru, ke dalam catatan yang anda buat, untuk presentasi besok, Sir," kata Olivia.


"Iya. Silahkan saja!" sahut Johan. 


"Okay! ... Kamu bisa memperlihatkannya padaku, nanti," sahut Johan lagi. 


Pelayan restoran sudah menyajikan pesanan Olivia dan Johan ke atas meja, dan mereka berdua kemudian mulai menikmati sajiannya.


Sembari menikmati makan siangnya, Olivia yang tidak sabaran untuk mendapatkan tanggapan dari Johan, akan catatan kecil yang dibuatnya, kemudian untuk sesekali, Olivia bertanya kepada Johan.


Sehingga Olivia dan Johan, masih tetap membahas tentang urusan pekerjaan, walaupun mereka berdua sedang makan siang.


"Apa kamu selalu seperti ini?" tanya Johan.


"Ugh? ... Apa maksud anda, Sir?" jawab Olivia, kebingungan.


"Kamu tidak sedang di kantor. Tapi kamu tetap terkonsentrasi pada pekerjaan," kata Johan.


"Hmm ... Maafkan saya, Sir ... Apakah saya hanya membuat makan siang anda terganggu?" ujar Olivia, hati-hati.


Olivia memang merasa agak menyesal, karena dia yang terlalu bersemangat dengan pekerjaannya, hingga dia tidak mempertimbangkan waktu dan tempatnya lagi, untuk membahas tentang pekerjaan.


"Geez! ... Kelihatannya, aku telah membuatmu salah paham. Aku tidak mempermasalahkan tentangmu, yang membicarakan pekerjaan sekarang ini....


...Aku hanya merasa heran. Karena menurutku, jika seseorang sedang tidak berada di tempat kerja, mungkin dia akan jadi lebih santai....


... Tapi kelihatannya tidak denganmu. Baik di kantor ataupun di luar, kamu masih tetap fokus dengan pekerjaanmu," kata Johan, menjelaskan.

__ADS_1


"Hmm ... Jadi apa menurut anda, saya ini terlalu tegang?" tanya Olivia.


"Iya ... Kurang lebih seperti itu," jawab Johan.


"Maafkan saya, Sir ... Memang yang hanya terpikirkan oleh saya, bahwa saya datang ke sini untuk bekerja....


... Sehingga saya seolah-olah melupakan, kalau anda mungkin butuh waktu untuk istirahat," kata Olivia, pelan.


"Itu cara berpikir yang bagus. Tapi untuk beberapa waktu ini, cobalah untuk bisa sedikit lebih santai....


... Kamu akan kelelahan nantinya. Dan aku yang nanti akan merasa bersalah, melihatnya," sahut Johan, sambil tersenyum.


"Baik, Sir," kata Olivia.


Setelah itu, pembahasan tentang pekerjaan, dihentikan oleh Olivia, dan membiarkan Johan, agar bisa menikmati makanan penutupnya dengan tenang.


***


Olivia dan Johan, masih berada di dalam restoran itu, meskipun mereka sudah selesai makan siang. 


Johan bahkan memesan dua cangkir kopi, untuk mereka berdua di situ, sembari Johan membaca catatan yang dibuat oleh Olivia, yang baru saja dimintanya.


"Apa sekarang kamu sudah mendapatkan kekasih?" tanya Johan, tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangannya, dari lembaran kertas yang ada di tangannya.


"Ugh ...?" Olivia yang tidak menyangka, kalau Johan akan bertanya tentang urusan pribadinya, sempat kebingungan untuk menjawabnya.


"Tidak apa-apa, kalau kita membicarakan tentang hal pribadi?" tanya Johan. "Aku ingin mengalihkan pikiranku dari pekerjaan, walaupun hanya sejenak."


Johan kemudian meletakkan lembaran kertas yang dipegangnya, ke atas meja di depannya.


Untuk beberapa saat, Olivia masih memikirkannya lebih dulu, apakah pantas baginya, untuk membicarakan tentang hal pribadinya kepada Johan. 


Tapi ketika Olivia mendengar perkataan Johan, dan melihat Johan yang memang tampak kelelahan, Olivia akhirnya mau saja untuk menjawab pertanyaan Johan.


"Belum, Sir ... Saya belum memiliki kekasih," kata Olivia.


"Bagaimana dengan Hansen?" tanya Johan, lagi. "Menurutku, Hansen adalah laki-laki yang baik. Dan kelihatannya, dia juga menyukaimu."


"Hmm...." Olivia ragu-ragu, untuk menanggapi pertanyaan Johan kali ini.


Tapi Johan tetap terdiam sambil menatap Olivia lekat-lekat, seolah-olah dia memang masih menunggu jawaban dari Olivia. 


"Hansen sudah mengakui perasaannya kepada saya. Dia bahkan meminta saya, agar menjadi kekasihnya."


Olivia akhirnya bicara apa adanya, karena menurutnya, mungkin tidak akan ada masalah apa-apa, jika hanya membicarakannya seperti itu saja.


"Benarkah? Lalu kenapa kamu tidak menerimanya? Apa kamu tidak menyukainya?" tanya Johan, yang tampaknya justru semakin tertarik, untuk membahas masalah pribadi Olivia.


"Hmm ... Saya belum terlalu mengenalnya dengan baik. Jadi saya lebih memilih, agar kami tetap berteman saja dulu," jawab Olivia.


"Lalu bagaimana tanggapan Hansen?" tanya Johan, tampak penasaran.


"Dia mau mengerti, dan tidak memaksa agar saya mau menerimanya. Dia justru memberi saya kesempatan, untuk memikirkannya lebih dulu....


... Dia juga berkata, kalau dia tetap akan menunggu, sampai saya merasa yakin kalau kami bisa menjadi pasangan kekasih. Atau mungkin nanti, saya malah memilih orang lain," jawab Olivia.

__ADS_1


Johan kemudian tampak tersenyum lebar, lalu berkata, 


"That's great! ... Sebaiknya, memang tidak perlu terburu-buru, dalam mengambil sebuah keputusan. Tapi ... Apa mungkin, jika sudah ada seseorang, yang membuatmu tertarik?" 


__ADS_2