
"Kamu datang terlambat lagi? ... What happened to you? ... Kenapa beberapa hari belakangan ini, kamu jadi terlihat semakin buruk?" tanya Louis, sambil menatap Olivia lekat-lekat.
Karena pertanyaan Louis itu, Olivia bisa menyadari, kalau dia pasti terlihat benar-benar buruk sekarang ini, hingga Louis sampai lupa menyapanya, ketika Olivia berjalan masuk ke ruang kerja mereka.
"Hai, Louis!" sapa Olivia, lebih dulu.
"Hai, Olivia!" Louis balas menyapa.
Sebelum Louis mengajukan lebih banyak pertanyaan, Olivia berjalan dengan terburu-buru pergi ke meja kerjanya, dan melihat pekerjaan apa yang harus dilakukannya pagi ini.
Walaupun dia merasa sangat lelah, namun Olivia justru sangat berharap, agar dia memiliki banyak pekerjaan hari ini, agar dia bisa mengalihkan pikirannya, hingga bisa terpusat pada pekerjaannya saja.
Tetapi harapan Olivia itu tidak terjadi, karena saat ini, Olivia justru belum ada pekerjaan baru yang harus dia kerjakan.
Olivia kemudian melihat ke sana kemari, jika saja ada dari rekan kerjanya, yang membutuhkan bantuan dengan pekerjaan mereka.
Louis tiba-tiba terlihat berdiri dari meja kerjanya, dan seolah-olah akan pergi ke luar dari ruang kerja mereka itu.
"Louis!" Olivia berseru memanggil Louis, hingga Louis berbalik dan melihatnya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Olivia.
Louis memperlihatkan beberapa lembar berkas yang dipegangnya, sambil berkata,
"Ruangan Sir Hart!"
Dengan tergesa-gesa, Olivia berdiri dari tempat duduknya, lalu mengulurkan tangannya kepada Louis.
"Biar aku saja yang membawanya! ... Aku belum ada pekerjaan," kata, Olivia menawarkan diri.
"Ugh...? Okay!" sahut Louis, kemudian menyerahkan berkas-berkas itu kepada Olivia. "Kelihatannya, kamu terlalu memaksakan diri untuk bekerja."
"Tidak masalah ... Daripada nanti aku hanya tertidur," sahut Olivia, asal-asalan.
Segera setelah menerima berkas-berkas itu dari tangan Louis, Olivia berjalan menuju ke ruang kerja manajernya, dan masuk ke dalamnya.
"Hai, Sir!" sapa Olivia kepada Sir Hart, setelah dia diizinkan untuk masuk ke dalam ruangan itu.
"Hai, Miss Lane!" Sir Hart balas menyapa Olivia, dengan raut wajah yang tampak heran. "Di mana Louis?"
"Dia sedang ada pekerjaan lain," jawab Olivia, berbohong, lalu menyerahkan lembaran berkas itu kepada Sir Hart.
Tetapi manajer Olivia itu kelihatannya tidak terlalu perduli, asalkan semua pekerjaan bisa tetap berjalan.
Ketika Olivia hendak berjalan keluar dari situ, manajer Olivia itu kemudian menahannya, dengan berkata,
"Apa kamu bisa membantuku dengan itu?"
Sir Hart menunjuk beberapa berkas, yang tampak tersusun rapi, di salah satu sudut meja kerjanya.
"Iya, Sir!" sahut Olivia. "Apa yang harus saya lakukan?"
"Asistenku cuti sakit hari ini. Berkas-berkas itu harus diantarkan kepada direktur. Apa kamu bisa melakukannya?" ujar Sir Hart.
Olivia terbelalak.
Oh, gosh!
Olivia sedang tidak ingin bertemu dengan Jericho hari ini, tapi Olivia sudah terlanjur menyetujui permintaan Sir Hart untuk membantunya.
Dengan berat hati, Olivia memaksakan diri, agar tetap terlihat tidak keberatan, untuk mengerjakan apa yang diminta oleh manajernya itu.
"Iya, Sir ... Saya bisa melakukannya," kata Olivia, lalu mengambil semua berkas-berkas di atas meja.
"Terima kasih, Miss Lane!" ucap Sir Hart.
"Sama-sama, Sir! ... Permisi!" sahut Olivia, lalu berjalan ke luar dari ruangan itu, setelah manajernya itu terlihat menganggukkan kepalanya.
Sembari berjalan menuju ke ruangan direktur, Olivia berharap agar asisten Jericho, sedang berada di meja kerjanya, jadi Olivia bisa menitipkan berkas-berkas itu di situ saja.
Apalagi, ruang kerja direktur dan CEO yang bersebelah-sebelahan di situ, hingga Olivia benar-benar berharap, agar dia tidak bertemu dengan Jericho maupun Johan.
Tapi, lagi-lagi, harapan Olivia tidak terjadi.
Baru saja Olivia menitipkan berkas-berkas yang dibawanya kepada asisten Jericho, bahkan belum sempat menyelesaikan kalimat sapaannya kepada asisten Jericho itu, Johan terlihat membuka pintu ruang kerjanya, dan bertatap-tatapan dengan Olivia untuk beberapa saat.
__ADS_1
Olivia hampir berlalu pergi dari situ, ketika Johan kemudian memanggilnya, hingga Olivia menghentikan langkahnya.
"Olivia! ... Bisa ke ruanganku, sebentar?" ujar Johan.
Dengan mendengar sebutan yang dipakai oleh Johan untuk memanggilnya, Olivia sudah tahu, kalau Johan pasti akan mengajaknya berbincang-bincang tentang persoalan pribadi.
Walaupun merasa enggan, namun Olivia tidak bisa berkata tidak.
"Iya, Sir!" sahut Olivia.
Olivia kemudian berjalan menuju ke ruang kerja Johan, lalu masuk ke dalamnya melalui pintu yang terbuka lebar, karena masih ditahan oleh Johan.
"Ada apa, Sir?" tanya Olivia.
Johan tidak segera menjawab pertanyaan Olivia, melainkan menunjuk ke arah sofa yang ada di dalam ruangan itu.
"Silahkan duduk!" kata Johan.
Olivia kemudian duduk di sofa, sesuai dengan arahan dari Johan, sementara Johan ikut duduk di dekatnya.
Johan lalu membuka percakapan dengan bertanya,
"Apa mungkin kamu marah kepadaku?"
"Maafkan saya, Sir ... Tapi saya tidak mengerti, akan apa yang anda bicarakan," kata Olivia.
"Aku telah memberikan informasi yang salah tentang Angelo. Aku mengatakan kalau Angelo sudah bertunangan, tapi aku juga tidak tahu, kalau dia telah membatalkan pertunangan itu....
...Aku tahu kalau kamu masih mencintainya. Dan mungkin karena informasi yang salah yang aku berikan, maka aku hanya membuatmu merasa kecewa kepadanya....
... Maafkan aku, Olivia ... Aku benar-benar merasa bersalah karena hal itu, hingga aku merasa ragu-ragu untuk bertemu denganmu," kata Johan, menjelaskan.
"Saya sudah tahu akan hal itu, Sir ... Saya bertemu dengan Angelo kemarin, sepulangnya saya bekerja," kata Olivia.
"Anda tidak perlu merasa terbeban dengan hal itu. Karena walaupun Angelo tidak terikat hubungan dengan siapa-siapa, saya tetap tidak bisa untuk kembali bersamanya begitu saja," lanjut Olivia, buru-buru.
"Apa aku boleh tahu kenapa?" tanya Johan, terdengar berhati-hati.
"Hmm ... Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan saya, yang saya pikirkan," jawab Olivia.
Walaupun Olivia sudah menjawab pertanyaannya, namun Johan seolah-olah masih menunggu penjelasan tambahan dari Olivia.
"Ada apa, Sir?" tanya Olivia, yang sudah kehilangan kesabarannya.
"Hmm ... Entah ini hanya perasaanku saja. Tapi kamu kelihatannya tidak seperti biasanya. Seakan-akan, kamu sedang tidak ingin bertemu denganku. Maafkan aku....
... Seharusnya aku memang segera mengakui kesalahanku. Tapi aku justru jadi pengecut, hingga membatalkan rencana untuk ikut dengan kalian ke taman hiburan. Karena aku terlalu takut, untuk berhadapan denganmu," kata Johan.
"Jadi itu alasan anda? ... Tidak perlu dipikirkan lagi, Sir ... Tidak apa-apa," sahut Olivia.
"Apa kamu bersungguh-sungguh? Kamu tidak marah kepadaku?" ujar Johan.
"Iya, Sir ... Saya tidak menyalahkan anda. Hari ini saya hanya merasa lelah, karena saya kurang tidur," jawab Olivia.
Sekarang ini, Olivia mulai merasa gelisah, saat berbicara kepada Johan.
Dan yang jadi penyebabnya, adalah ingatan Olivia akan apa yang terjadi malam tadi, yang kini melintas di pikirannya lagi.
"Apa ada sesuatu yang terjadi kemarin, yang membuatmu tidak bisa tidur dengan baik? Apa ada hubungannya dengan Angelo?" tanya Johan.
Olivia terbelalak.
Kenapa Johan perlu menanyakan hal itu? Di saat Olivia sedang benar-benar tidak ingin untuk mengingatnya.
"Maafkan saya, Sir ... Tapi saya rasa anda pasti sibuk, dan saya juga harus melanjutkan pekerjaan saya," ujar Olivia.
"Hmm ... Apa kamu mau keluar makan siang bersamaku, nanti?" tanya Johan.
"Maafkan saya, Sir ... Saya harus menolaknya, karena saya hanya ingin makan di kafetaria saja," jawab Olivia.
Seketika itu juga, Johan lalu terdiam, dan dari raut wajahnya, Johan sekarang ini tampaknya sedang merasa sedih.
Sebenarnya, Olivia tidak tega melihatnya, dan bahkan rasanya, Olivia ingin segera memeluk Johan, untuk menghiburnya.
Tapi Olivia tahu, kalau sekarang ini bukanlah saat yang tepat, karena masih ada permasalahan lain yang lebih penting, yang harus dia selesaikan lebih dulu.
__ADS_1
Ditambah lagi, Olivia merasa cemas, jika dia tanpa sadar, lalu mengutarakan sesuatu tentang perasaan tertariknya kepada Johan, sedangkan hal itu masih belum pasti, dan masih membingungkan baginya.
"Saya harus pergi sekarang, Sir ... Saya tidak mau mengganggu pekerjaan anda, untuk lebih lama lagi," kata Olivia, lalu berdiri dari tempat duduknya.
Sembari menundukkan pandangannya, Johan hanya menganggukkan kepalanya, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Permisi, Sir!" kata Olivia lagi, kemudian berjalan keluar dari ruang kerja Johan.
***
"Ada apa denganmu? Apa kamu ada masalah?" tanya Louis, pelan.
Louis seharusnya sudah keluar untuk istirahat makan siang, bersama rekan-rekan kerja mereka yang lain.
Tapi, mungkin karena melihat Olivia yang tidak bersemangat, dan mungkin juga terlihat frustrasi, sehingga Louis justru menghampiri Olivia, lalu berdiri bersandar di meja kerja Olivia.
Olivia yang masih duduk di kursi kerjanya, hanya menatap Louis untuk sesaat, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kamu tidak pergi makan siang?" Olivia balik bertanya.
"Claire dan Mona, mengajakku makan siang bersama mereka, di luar. Tapi...." ujar Louis, terdengar ragu-ragu.
"Kamu pergi saja bersama mereka ... Aku nanti akan ke kafetaria," kata Olivia.
"Aku tidak—" Louis tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena terdengar suara seseorang yang menyebut nama Olivia.
"Olivia!" Jericho terlihat berjalan menghampiri meja kerja Olivia. "Louis!"
"Hai, Sir!" sapa Louis.
Sementara Olivia, tidak membalas sapaan Jericho, hingga Louis menendang kaki Olivia, seolah-olah dia hendak menyadarkan Olivia di situ.
"Hai, Sir!" sapa Olivia, lemas.
"Olivia! Apa kamu mau makan siang bersamaku?" tanya Jericho.
"Maafkan saya, Sir ... Tapi saya belum lapar, karena saya baru saja makan sandwich. Anda bisa pergi lebih dulu," jawab Olivia, beralasan, sambil menundukkan pandangannya, tanpa mau melihat ke arah Jericho maupun Louis.
Tidak berapa lama, Louis lalu berkata,
"Saya pergi makan siang dulu ... Sir! ... Olivia!"
Olivia hanya menganggukkan kepalanya, dan tetap memandangi lantai di bawah meja kerjanya.
Jika mendengar dari suara langkahnya, sepertinya hanya Louis saja yang pergi dari situ, sementara Jericho masih bertahan di tempat itu.
"Olivia...! Are you mad at me?" tanya Jericho.
"Tidak, Sir ... Tapi saya benar-benar sedang ingin sendirian saja ... So, please, Sir!" ujar Olivia.
"Olivia—" Jericho tidak menyelesaikan kalimatnya, karena Olivia menyelanya, dengan berkata,
"Please, Sir! ... I'm begging you!"
Olivia masih bisa mendengar suara nafas yang berat dari Jericho, sebelum Jericho berkata,
"Aku pergi dulu."
Hanya dengan menganggukkan kepalanya, Olivia menanggapi perkataan Jericho itu, hingga Jericho akhirnya berlalu pergi dari situ.
***
Dengan pekerjaan yang hampir tidak ada, Olivia lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor dengan melamun, hingga sudah waktunya bagi semua pegawai untuk pulang.
Setibanya Olivia di depan gedung apartemennya, Angelo terlihat berdiri di sana, namun Olivia sudah tidak merasa heran lagi, untuk melihat keberadaan Angelo.
Orang seperti Angelo, pasti bisa dengan mudahnya untuk menemukan informasi tentang Olivia, asalkan dia memiliki sedikit petunjuk saja untuk membantunya.
"Hai, Olivia! ... Honey!" sapa Angelo, dengan senyumannya yang mengembang lebar.
"Hai, Angelo!" Olivia balas menyapa. "Apa kamu masih tidak mau menyerah?"
"Pffftt...! Tentu saja tidak, honey!" jawab Angelo, sambil tertawa.
"Bagaimana caranya, agar kamu berhenti mencariku?" tanya Olivia.
__ADS_1
"Honey! Kamu tahu, kalau aku pasti tidak akan berhenti ... Kamu justru yang harus berhenti bekerja di perusahaan Andersen's, dan ikut denganku," jawab Angelo.