Yes! I Love You, Sir!

Yes! I Love You, Sir!
Part 81


__ADS_3

Johan yang mendengar permintaan dari Jericho itu, kemudian berkata, 


"Okay! ... Tapi sebaiknya kamu mengajaknya bicara di dalam saja. Atau mungkin di halaman belakang, agar tidak menarik perhatian dari warga sekitar."


Menurut Olivia, jika dia tidak mau ada keributan di situ, maka dia tidak bisa berkata tidak mau, untuk melakukan perbincangan dengan Jericho.


Sehingga ketika Jericho berjalan mengarah kepadanya, Olivia segera berbalik dan kembali menyusuri jalan kecil di bagian samping rumah, menuju ke halaman belakang.


Sebenarnya, agak membingungkan bagi Olivia, ketika melihat reaksi dari Johan, dan dari kata-kata yang diucapkan oleh Johan tadi, yang kelihatannya terlalu tenang.


Namun Olivia tidak sempat memikirkan hal itu lebih lama, karena ketika mereka tiba di halaman belakang, Jericho segera berkata, 


"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Kamu ingin mempermainkan perasaanku?"


"Apa maksud anda, Sir?" Olivia balik bertanya.


"Kamu menjadi kekasih Angelo lagi, bukan? Lalu untuk apa kamu masih membawa-bawa Jonah bersamamu?" 


Jericho yang masih tampak gusar, tidak menjawab pertanyaan Olivia, melainkan mengajukan pertanyaan baru.


Dan menurut apa yang bisa ditangkap oleh Olivia, akan apa yang dikatakan oleh Jericho barusan, Olivia jadi tahu, kalau Jericho saat ini sedang tenggelam dalam kesalahpahaman.


"Huuffft...!" Olivia mendengus kasar, untuk menenangkan dirinya sendiri, agar tidak ikut terpancing kekesalannya, dan akhirnya hanya akan membuatnya berdebat habis-habisan dengan Jericho.


Olivia kemudian menunjuk dua buah bangku di dekat api unggun, yang tadinya belum sempat dipindahkan oleh Johan.


"Apa kita masih bisa bicara sambil duduk dulu, Sir?" ujar Olivia, yang berusaha agar bisa bicara dengan setenang mungkin.


Walaupun Jericho masih terlihat gelisah, namun dia mau saja untuk menuruti perkataan Olivia, dan segera duduk di salah satu bangku yang kosong.


"Tunggu di sini sebentar, Sir! ... Saya tidak akan lama," kata Olivia.


Olivia berjalan masuk ke dalam rumah, melewati pintu bagian belakang, lalu mengambilkan sebotol air mineral untuk Jericho, sebelum dia kembali berjalan ke luar.


"Diminum dulu, Sir!" kata Olivia, sembari menyodorkan kepada Jericho, botol air yang dibawanya itu, lalu duduk di bangku yang ada di dekat Jericho.


Seolah-olah sedang dalam pengaruh hipnotis, lagi-lagi, tanpa berkomentar, Jericho menuruti perkataan Olivia, dan terlihat segera membuka tutup botol, lalu meminum isinya sedikit.


"Anda sudah merasa lebih baik?" tanya Olivia.


Jericho menganggukkan kepalanya.


"Apa anda tahu? Seharusnya saya yang memarahi anda. Karena anda yang keras kepala, sampai-sampai membuat rencana saya, agar Angelo bisa berhenti mengganggu saya, jadi berantakan," kata Olivia.


"Jadi kamu tidak kembali—" Jericho tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena Olivia segera menyelanya, dengan berkata,


"Saya belum selesai bicara. Anda sebaiknya mendengarkan semua perkataan saya dulu, sebelum anda menanggapinya."


Seperti seorang anak kecil yang sedang ditatar oleh orang tuanya, Jericho memang jadi anak manis yang penurut, saat ini.


Jericho terdiam, sambil menatap Olivia lekat-lekat, menunggu apa yang akan dikatakan oleh Olivia selanjutnya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang anda pikirkan, saat datang menyusul ke tempat ini? Tapi saya berharap agar anda bisa bicara dengan baik. Agar kita tidak perlu berdebat kosong," ujar Olivia.


"Sejujurnya, aku mengira kalau kamu kembali berkencan dengan Angelo. Karena di malam itu, kamu terlihat menurutinya saja....


...Apalagi, aku sempat terpikir tentang perkataan Angelo, kalau kamu hanya mengasihaniku. Seolah-olah jika tidak ada Jonah, maka kamu tidak akan pernah melihatku....


... Karena itu, aku rasanya sangat kesal saat mengetahui kalau Jonah bersamamu. Aku menganggap, kalau kamu memang sengaja melakukannya, untuk mengejekku," kata Jericho.


"Sir! ... Saya tidak berniat untuk kembali dengan Angelo. Tapi, saya juga tidak mungkin menghindarinya begitu saja. Karena anda bisa lihat sendiri....


...Setelah bertahun-tahun kami berpisah, dia masih tidak bisa menerima, kalau saya sudah tidak mau menjadi kekasihnya lagi....


...Dengan begitu keadaannya, maka saya harus mencari cara lain, untuk meyakinkannya, bahwa kami tidak bisa bersama....


...Asal anda tahu saja, Angelo mengira kalau saya hanya lupa, bagaimana kami yang saling mencintai di masa lalu, dan dia bersikeras untuk membuat saya bisa mengingatnya kembali....


...Angelo juga mengira kalau saya tidak mau kembali kepadanya, karena saya terpengaruh dan salah menilai, antara rasa iba atau cinta....


...Itu sebabnya, sehingga saya mau bertemu dan menghabiskan waktu dengannya, agar dia mau mengerti dan menyadari, kalau saya tidak sedang terpengaruh akan sesuatu, yang membuat saya tidak bisa mencintainya....


...Dengan demikian, dia mungkin bisa merelakan perpisahan kami, dan menghentikan obsesinya yang berlebihan....


... Sehingga dia tidak melibatkan siapa-siapa, untuk menjadi kambing hitam atas kekecewaannya, karena saya yang tetap tidak bisa menerimanya sebagai kekasih saya lagi."


Olivia menjelaskan panjang lebar kepada Jericho, akan apa alasannya, hingga dia tampak seolah-olah berpihak kepada Angelo malam itu.


"Sekarang ini ... Saya tidak bisa mengikuti jalan pikiran anda, yang mengira kalau saya ingin mengejek anda, dengan menggunakan Jonah....


... Saya sungguh-sungguh menyayangi Jonah, dan itu tidak ada hubungannya dengan anda, ataupun Andersen's. Apa anda tidak bertanya kepada daddy anda lebih dulu?


"Maafkan aku, Olivia ... Karena kalau begitu, aku telah salah paham kepadamu," ujar Jericho, pelan.


"Huuufft...!" Olivia mendengus kasar, lalu berdiri dari tempat duduknya.


"Olivia...! Kamu mau ke mana? Aku masih ingin berbicara denganmu!"


"Maafkan saya, Sir. Tapi saat ini sudah sangat larut, dan saya juga sudah sangat lelah. Saya ingin segera beristirahat," sahut Olivia.


Olivia baru saja akan melangkahkan kakinya, berniat untuk masuk ke dalam rumah, namun tepat di saat itu, suara bergemuruh dari perut Jericho, bisa terdengar oleh Olivia.


"Anda belum makan malam?" tanya Olivia, menahan langkahnya untuk meninggalkan Jericho.


Jericho yang tampak malu-malu, kemudian mengangguk pelan.


Olivia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Saya rasanya tidak percaya, kalau saya akan mengatakan hal ini ... Ayo masuk! ... Saya akan membuatkan anda makan malam....


... Tapi jangan pernah berpikir untuk membahas sesuatu, yang hanya akan membuat saya menjadi kesal," kata Olivia.


Sembari Olivia berjalan mengarah masuk ke dalam rumah, Jericho terlihat menyusulnya, dengan berjalan di dekatnya.

__ADS_1


Di dalam dapur, Olivia lalu merebus sedikit brokoli dan wortel yang sudah dipotong-potong.


Berikut juga dengan kentang yang direbusnya, untuk dijadikan kentang tumbuk, sambil menghangatkan sisa daging dan sosis, yang dipanggang oleh Johan tadi.


Sementara itu, Jericho duduk terdiam di salah satu kursi yang ada di dekat meja dapur, dan hanya memandangi Olivia yang menyiapkan makan malamnya.


Ketika Olivia sedang menghancurkan kentang yang sudah matang, Olivia kemudian terpikir untuk bertanya kepada Jericho.


"Bagaimana anda bisa menemukan tempat ini?" tanya Olivia.


Bertepatan saat Olivia bertanya kepada Jericho, Johan terlihat berjalan masuk ke dalam dapur.


"GPS ... Aku mengikuti GPS yang terpasang di ponsel Jonah," jawab Jericho.


Olivia yang melihat kedatangan Johan barusan, kemudian memperlihatkan kentang yang sedang dihaluskannya kepada Johan, lalu Olivia berkata,


"Apa anda ingin sesuatu, Sir?"


"Iya ... Aku mau itu sedikit," jawab Johan, lalu ikut duduk di dekat Jericho.


"Okay! ... Tunggu sebentar, Sir!" sahut Olivia, lalu mempersiapkan dua piring makan, untuk Johan dan Jericho.


"Kamu akan menginap di sini?" tanya Johan, yang kedengarannya sedang mengajak Jericho, untuk berbincang-bincang dengannya.


"Hmm ... Aku tidak tahu," jawab Jericho. "Apa ada kamar kosong untukku?"


"Masih ada kamar kosong. Tapi kamu harus meminta izin kepada Olivia," ujar Johan.


Makan malam yang sudah tertata di dalam dua buah piring, kemudian diletakkan Olivia di atas meja, di depan Jericho dan Johan.


"Terima kasih, Olivia!" kata Johan.


"Terima kasih!" kata Jericho, yang berucap hampir bersamaan dengan Johan. "Olivia! ... Apa aku bisa menginap di sini?"


Walaupun Olivia tidak langsung menjawab pertanyaan Jericho, namun baik Jericho maupun Johan, terlihat segera menyantap makan malam yang disajikan oleh Olivia.


Sembari berdiri bersandar di meja konter dapur, Olivia memandangi Johan dan Jericho berganti-gantian.


Olivia pernah makan bersama dengan kedua orang laki-laki itu, tapi Olivia tidak memperhatikan gerak-gerik mereka saat itu.


Kali ini, Olivia bisa menyadari, kalau baik Johan maupun Jericho, memang memiliki persentase kemiripan yang tinggi, hingga gaya mereka saat makan pun, terlihat tidak jauh berbeda.


"Like father like son...." celetuk Olivia, tanpa sadar.


"Ugh? ... Apa katamu?" tanya Jericho.


"Tidak ada apa-apa," jawab Olivia, lalu membuka celemek yang masih terpakai di badannya.


"Nanti kalau anda berdua sudah selesai makan, letakkan saja piringnya di dalam bak. Biar besok saja dibersihkannya....


... Saya akan pergi tidur lebih dulu, karena saya sudah sangat mengantuk," kata Olivia.

__ADS_1


"Olivia! ... Apa aku bisa menginap di sini?" tanya Jericho, buru-buru mengulang permintaan izinnya, sebelum Olivia beranjak pergi dari situ.


"Iya, Sir ... Anda bisa meminta kepada daddy anda, untuk menunjukkan kamar mana yang masih kosong.... Permisi, Sir! Good night!" ujar Olivia, lalu berjalan pergi dari dapur itu.


__ADS_2