
Jericho tampak seolah-olah tidak puas dengan apa yang dikatakan oleh Olivia, hingga dia kembali berkata,
"Olivia...! Aku tahu kesalahanku yang tidak menuruti permintaanmu, agar tidak masuk campur dalam urusanmu dengan Angelo. Tapi, apa hanya karena itu, hingga kamu tidak menyukaiku?
... Atau apa yang dikatakan oleh Angelo itu memang benar? Kalau kamu bisa menganggapku ada, hanya karena Jonah?"
"Oh, please! Maafkan saya, Sir ... Tapi anda jangan berlagak bodoh. Selama ini, saya menghargai dan menghormati anda sebagai Atasan saya....
... Tapi yang saya tahu, saya tidak pernah berkata kalau saya menyukai anda, apalagi dalam hal romantis, bukan?" ujar Olivia.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, agar kamu bisa benar-benar jatuh cinta padaku? Aku mencintaimu, dan aku tidak mau kamu bersikap acuh tak acuh padaku," tanya Jericho.
Olivia terbelalak, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan rasa tidak percaya, dan kemudian berkata,
"Kenapa kita harus membahas hal ini?"
"Apa anda tahu? Karena saya tidak mau membahas tentang hal seperti ini, hingga saya lebih suka untuk menghindari anda," lanjut Olivia.
"Olivia...!" ujar Jericho, yang tampak memelas.
"Sir! ... Saya masih kebingungan mencari cara baru untuk menghadapi Angelo, agar dia tidak mengacau. Apalagi kalau dia sampai melibatkan Andersen's....
... Jadi, saya harap anda bisa berhenti membahas tentang hal romantis seperti ini lagi, yang hanya membuat kepala saya semakin terasa sakit saja," sahut Olivia.
"Kalau aku bisa mengatasi ancamannya, apa kamu bisa melihatku?" tanya Jericho.
"Oh, gosh!" ujar Olivia, sambil menepuk dahinya sendiri.
"Aku akan membicarakannya dengan daddy," sahut Jericho.
"Saya sudah memberitahukannya kepada daddy anda. Semuanya. Selain pertemuan anda dan Angelo, di restoran Hansen waktu itu. Karena saya tidak mau anda 'kehilangan muka', di depan daddy anda," kata Olivia.
"Jadi saya rasa, anda mungkin bisa berhenti bertingkah seperti anak-anak. Karena pasti ada hal yang lebih penting, yang bisa anda bicarakan dengan daddy anda. Dan biarkan urusan Angelo, menjadi urusan pribadi saya," lanjut Olivia.
Olivia tahu kalau perkataannya kepada Jericho itu cukup kasar, tapi menurut Olivia, jika dengan begitu bisa menyadarkan Jericho, maka itu tidak akan jadi masalah.
"Aku tidak tahu, kalau kamu sampai sedekat itu dengan daddy," celetuk Jericho.
"Banyak hal yang anda tidak ketahui tentang saya. Justru itu, sebaiknya anda harus memikirkan ulang, apa yang membuat anda merasa kalau anda mencintai saya....
... Karena bisa saja, kalau apa yang anda pikir, bahwa anda rasakan kepada saya, yang sebenarnya itu hanyalah sebuah delusi," sahut Olivia.
"You think I'm stupid? ... Aku sudah jatuh cinta padamu, sejak pertama kali aku melihatmu. Aku bahkan bisa merasa sangat cemburu, karena kamu memegang tangan daddy, dan kamu tampak sangat perhatian kepadanya....
...Aku hanya menahan diri untuk tidak mengutarakannya kepadamu, karena aku tidak percaya diri dengan statusku, yang adalah seorang duda beranak satu....
... Apalagi setelah beberapa waktu yang aku habiskan denganmu, lalu aku jadi tahu, kalau kamu ternyata telah jatuh cinta kepada Louis," kata Jericho.
__ADS_1
"Apa kamu tidak pernah memikirkan, kenapa sampai aku berusaha melindungimu, waktu kamu hampir mempermalukan dirimu di depan Louis dan teman wanitanya....
...Itu aku lakukan, karena aku mencintaimu. Aku bahkan membenci diriku, karena terlambat bertemu denganmu, sedangkan kamu ada di dalam kantor yang sama denganku....
...Jika saja tidak ada telepon bodoh dari Louis, waktu aku memasangkan kalung di lehermu, aku pasti sudah menciummu saat itu juga, hingga Hansen pasti tidak ada kesempatan untuk mendekatimu....
... Aku bertingkah bodoh, dengan menemui Angelo, karena aku tidak mau terlambat lagi, dari antara mereka yang menyukaimu, lalu aku mungkin akan benar-benar kehilanganmu," lanjut Jericho.
"Sir—" Olivia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena Jericho menyelanya, dengan berkata,
"Bukan aku yang harus memastikan perasaanku kepadamu. Tapi kamu justru yang harus memastikannya. Coba saja kamu pikirkan ulang....
... Seandainya waktu itu aku menciummu, tanpa memperdulikan ponselmu yang berbunyi karena telepon dari Louis, kamu pasti menginginkan hal yang sama denganku, bukan?"
"Saya tidak memikirkan hal itu, dan saya juga tidak mau memikirkannya," sahut Olivia, tegas.
"Olivia...! Apa aku memang serendah itu di matamu?" tanya Jericho.
"Kamu bisa jatuh cinta kepada Louis, bahkan mau mempertimbangkan Hansen, tapi kamu tidak bisa melihatku?" lanjut Jericho, lagi.
"Lalu apa yang anda inginkan dari saya?" Olivia balik bertanya, dengan nada suara yang sinis.
"Aku tidak akan memaksamu untuk jatuh cinta kepadaku. Tapi paling tidak, berikan aku kesempatan yang sama, agar aku bisa membuktikan, bahwa aku juga layak untuk mendapatkan cintamu," jawab Jericho.
"Oh, my gosh!" ujar Olivia frustrasi. "Seperti saya akan memilih sepatu, lalu anda ingin agar anda bisa ikut terpajang dipajangan? Begitu maksud anda?"
"You've got to be kidding! ... Kenapa anda mau hal seperti itu? Bagaimana jika saya nantinya tidak memilih anda? Bukankah, yang anda lakukan itu jadi sia-sia?" ujar Olivia.
"Tapi paling tidak, aku masih diberi kesempatan untuk ikut. Terpilih atau tidak, itu urusan nanti," jawab Jericho.
Olivia menghela nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, hingga berulang kali untuk menenangkan dirinya, sebelum dia akhirnya berkata,
"Saya tidak sedang mengadakan kontes, untuk memilih siapa yang terbaik, hingga anda harus berusaha tampil."
"Sir...! Saya rasa, anda orang yang baik. Jonah, anak anda, juga adalah anak yang baik. Terlepas dari status duda, anda tetaplah pria yang tampan, pintar, dan sukses. Pasti banyak wanita yang tertarik dengan anda....
... Daripada menunggu yang tidak pasti, bukankah lebih baik jika anda melupakan pikiran bodoh itu? Lalu mencoba melihat wanita lain, yang sudah pasti akan menerima anda, tanpa dia akan menunda-nunda, dan membuat anda harus menunggu?"
Rasanya, Olivia sudah berusaha berbicara sejelas mungkin, untuk membuat Jericho bisa berpikir panjang.
Namun Jericho tampaknya tidak mau mendengarkannya, dan justru berkata,
"Kelihatannya, kamu melewatkan satu hal yang paling penting. Kamu justru melupakan, kalau aku sudah berpengalaman. Aku tidak mau tertipu lagi, dan masuk ke dalam lubang berlumpur yang sama...
... Dengan begitu aku jadi lebih tahu, bahwa akan lebih baik jika aku memilih untuk menunggumu, yang aku anggap adalah orang tepat, daripada aku mencoba untuk membuka hatiku kepada orang yang salah."
Olivia kehabisan kata-kata untuk membantah pernyataan Jericho itu, karena Olivia justru memang harus mengakui, kalau apa yang dikatakan Jericho itu ada benarnya.
__ADS_1
Untuk beberapa saat kemudian, tidak ada yang berkata apa-apa, dan tampaknya Jericho telah merasa menang dalam beradu argumen dengan Olivia, karena dia akhirnya terlihat mengembangkan senyumannya yang lebar.
"Jangan menghindariku lagi, okay? Aku hanya akan meminta itu saja darimu. Aku berjanji tidak akan memaksakan perasaanku kepadamu....
... Walaupun mungkin di akhirnya kamu tidak memilihku, tapi paling tidak, aku bisa merasa sedikit berharga, karena kamu masih ikut mempertimbangkan keberadaanku," kata Jericho.
"Huuufft...!" Olivia tidak mau menanggapi perkataan Jericho, dan hanya mendengus kasar.
Jericho tiba-tiba berdiri, lalu berjalan masuk ke dalam rumah, melalui pintu bagian belakang, dan untuk beberapa waktu lamanya, dia tidak terlihat kembali ke teras belakang rumah itu lagi.
Olivia yang lelah dengan pikirannya sendiri, kemudian berbaring di atas tempat tidur gantung, sambil memejamkan matanya.
Seandainya saja bisa tertidur, mungkin Olivia bisa merasa sedikit lebih baik, ketika terbangun nanti.
"Apa kamu sudah tidur?"
Suara berbisik di telinganya yang tiba-tiba, hingga hembusan nafas yang mengenai pipinya, membuat Olivia buru-buru membuka matanya.
Wajah Jericho yang sedang tersenyum, terpampang dengan jarak yang sangat dekat dengan wajah Olivia, hingga Olivia mendorongnya untuk menjauh.
"Apa yang anda lakukan, Sir?" ujar Olivia, lalu berusaha untuk duduk.
Olivia yang kesulitan untuk bangkit karena tempat tidur gantung itu yang bergoyang-goyang, akhirnya dibantu oleh Jericho.
"Aku tadi memeriksa Jonah dan daddy. Mereka berdua sedang tidur siang. Apa kamu juga mengantuk?" ujar Jericho, sambil ikut duduk di atas tempat tidur gantung.
"Anda melihat saya berbaring dan memejamkan mata, bukan? Kira-kira kalau bukan mengantuk, lalu apa lagi? Tapi anda tetap saja mengganggu saya," sahut Olivia, ketus.
Karena Jericho yang duduk di sampingnya, Olivia terpikir untuk berpindah tempat duduk, namun Jericho menahannya.
"Duduk di sini saja ... Aku tidak akan menggigitmu," kata Jericho, lalu menggerakkan tempat tidur gantung itu, hingga berayun pelan.
"Apa anda tidak lelah? Perjalanan ke tempat ini lumayan jauh, sedangkan anda berkendara sendiri. Lebih baik anda beristirahat saja dulu," ujar Olivia.
"Aku memang lelah, karena aku melakukan perjalanan dengan perasaan kesal. Tapi saat bisa berbaikan denganmu lagi, rasa lelahku langsung menghilang," kata Jericho.
"Yeah, right!" sahut Olivia, asal-asalan.
"Pffftt...!" Jericho tertawa tertahan. "Kalau aku tahu tempat ini menyenangkan, maka aku akan datang ke sini lebih cepat."
"Kamu akan kembali bersama kami besok?" lanjut Jericho.
"Saya masih libur, karena saya baru mengambil cuti tahunan. Jadi, saya akan tetap di sini, sampai masa cuti saya habis," jawab Olivia.
"Kalau begitu, saya akan meminta asistenku, agar menguruskan cuti untukku. Sehingga aku dan Jonah, bisa bersamamu di sini lebih lama," sahut Jericho, sambil tersenyum.
"You've got to be kidding! Anda hanya mengganggu hari libur saya saja!" ujar Olivia, ketus.
__ADS_1
"Please...! Satu atau dua hari saja ... Aku butuh istirahat dari pekerjaanku, sekaligus berlibur bersama Jonah, okay?" kata Jericho, seperti sedang memelas.